
"eh, tidak, tidak papa nona lili. oh ya kenapa kau bisa tidur di taman? kau tidak langsung masuk kantor?" tanya Bian mengalihkan pertanyaan lili.
Lili, sedikit ragu untuk mengatakan apa yang terjadi, pagi tadi.
namun pada akhirnya ia mengatakan semuanya pada Bian.
"Apa, kau terluka nona Lili?" tanya Bian,
"Tidak, mungkin hanya sedikit memar, tidak perlu kahwatir ini hanya luka kecil," balas Lili, tenang.
namun Bian, terlihat kahwatir pada luka Lili, ketika mendengar ceritanya yang di lempar sepatu oleh pegawai kantor.
ia mengambil ponsel untuk mengirim pesan pada Dirga, tentang apa yang terjadi pada istrinya saat pertama kali datang ke perusahaan nya.
Lili, sedikit melirik Bian, yang sedang mengetik panjang di ponselnya.
tapi ia tidak terlalu perduli akan itu.
"Sekertaris Bian! menurutmu apakah Dirga, akan sangat marah nanti? astaga aku jadi takut untuk menemuinya," ucap Lili, dengan expresi takut.
__ADS_1
Bian, langsung berhenti mengetik dan berfikir sejenak untuk menjawab pertanyaan Lili, tentang bosnya.
"tentu saja tidak, nona Lili kan istri dari presdir," jawab Bian, datar lalu melanjutkan mengetik ke ponselnya untuk mengirim.
Ting. bunyi lift terbuka, mereka berjalan keluar dari Lift bersamaan.
" nona Lili, sebelum melapor pada presdir, aku akan menunjukan ruang kerjamu terlebih dahulu! ruang kerjamu tidak jauh dari ruang presdir! tempatmu sama-sama di lantai sepuluh!" jelas Bian, tegas memberi intruksi pada pegawai baru.
mereka sampai di ruang asiten presdir. tempat yang akan ia gunakan di kesibukannya nanti.
"silahkan, nona Lili, ini adalah ruang kerjamu dan yang di ujung sebrang itu ruangan, presdir dirga!" ucap Bian, menunjuk ruang kerja dirga.
Lili, mengangguk memahami semua yang di jelaskan oleh Bian.
"kau bisa membawa ini, untuk minta presdir dirga, menandatangani nya!"
Bian, memyerahkan setumpuk dokumen pada, Lili.
"oh, baiklah skertaris Bian!" ucap lili mengikuti perintah bian.
__ADS_1
"baiklah, jika nona Lili, sudah paham semuanya! kalau begitu aku akan tinggal dulu, semangat untukmu nona Lili," ucap bian, memberi semnagat pada Lili, dan berjalan pergi.
"tunggu, skertaris bian!" lili berlari kecil, menghampiri Bian.
"ada apa, nona lili? apa ada yang tidak kau pahami," tanya Bian, datar.
"tidak, tidak! aku sudah mengerti semuanya! hanya saja.. emm, apakah Dirgantara, benar tidak akan marah padaku, nanti, karena aku tidak menemuinya pagi tadi? aku takut dia marah!" ucap lili, gelisah dan takut.
"kau tidak perlu khwatir nona lili. presdir tidak akan marah! jika kau melakukan pekerjaanmu dengan baik," jelas bian meyakin kan Lili.
Lili, merasa tidak yakin pada ucapan Bian.
"Emm.. apa kau yakin itu skertaris bian? bahwa dirga tidak akan marah padaku!" tanya Lili, dengan ragu.
"Eh? emm.. ya, a-aku yakin itu nona Lili, baiklah sebaiknya kau segera keruangan presdir. aku pergi dulu," bian yang juga tidak yakin dengan ucapannya, ia bergegas pergi meninggalkan Lili.
melihat expresi Bian, ia semakin yakin bahwa Dirga, akan marah padanya nanti. ia berjalan pelan menuju ruangan kerja, Dirgantara.
setelah di depan pintu, ia memberanikan diri untuk mengetuknya.
__ADS_1
ia mengetuk berulangkali namun tidak ada jawaban.
BERSAMBUNG....