
tidak lama ia kesal dengan Bian. pintu ruangan nya kembali di ketuk.
belum sempat ia menjawab untuk mempersilahkan masuk.
seorang wanita cantik dan sexsi berambut coklat sebahu dengan dres hitam tak berlengan. masuk begitu saja.
terkejut melihat wanita yang ia kenal, sudah lama tidak melihatnya, kini tiba-tiba ada di hadapannya.
"Untuk, apa kau kesini," cetua dirga dengan expresi tidak senang.
wanita, itu berjalan mendekati Dirga, dan memluk manja.
"Dirga! aku sangat merindukanmu, aku baru saja tiba dari jepang aku langsung kesini untuk bertemu denganmu!
tiga tahun tidak bertemu, aku sangat merindukanmu, Dirga!"
Dirga, mendorong wanita, itu untuk menjauhinya.
"Aku sedang sibuk! keluar sekarang!" tegas, Dirga. dingin
"kenapa kau bersikap dingin padaku. kita adalah teman sejak kecil, aku sudah lama menyukaimu! kenapa kau tidak pernah bersikap baik denganku, Dirga," ucap wanita itu, menunjukan expresi sedih.
seorang wanita yang tiba-tiba datang dan mengaku sebagai teman kecilnya, yang tidak lain adalah ane, wanita yang sejak dulu menyukai Dirgantar.
"menyingkirlah, Ane, jika ada yang melihat, mereka akan salah paham!" dirga kembali mendorongnya kali ini lebih keras.
Ane, tidak terima dengan perlakuan Dirga, ia terus berusaha mengambil hati nya.
"Dirga, apa kau masih mencintai nya?kenapa kau tidak pernah bisa mencintai aku! bukankah dia sudah menghianatimu, kenapa kau masih belum melupakan dia! Dirga, perasaanku sungguh tulus untukmu!" Ane, meraih tangan Dirga, dan meyakinkan nya, bahwa ia benar-benar mencintai nya.
merasa kesal, dengan ucapan dan sikap Ane, dirga menepis tangannya.
"CUKUP! jaga sikapmu. dengan kau bersikap seperti ini, itu sangat tidak pantas, sebagai seorang gadis dari keluarga terpandang!" bentak, Dirga. membuat Ane, tersentak dan pucat.melihat expresi dinginnya.
Lili, yang saat itu masih berada di ruang istriahat, ia terbangun dengan kaget, mendengar bentakan keras, Dirga.
"Astaga.. ada apa ini? siapa yang sedang bertengkar, suaranya keras sekali?" Lili, terduduk lemas di atas ranjang akibat terkejut.
ia kelabakan, menoleh ke sana kemari mencari keributan yang terjadi. namun ia tersadar kalau ia masih berada di ruangan Dirga.
__ADS_1
"Hah, ternyata aku ketiduran saat dirga mengoleskan obat! Hhhh.. kenapa dia tidak membangunkan ku!" gumamnya, segera beranjak dari ranjang.
ketika ia sedang merapihkan rambut dan bajunya, ia mendengar suara seorang wanita dari ruang kerja.
"eh, seperti ada suara wanita sedang bertengakar?" Lili, berjalan ke arah pintu untuk mengintip, agar rasa penasarannya hilang.
Lili, terbelalak melihat, wanita sexi sedang memeluk suaminya di dalam kantor.
"Hah? apa-apaan, Dirgantara, ini sudah ada dua wanita cantik di rumah, masih saja dia berselingkuh di luar! cih, menyebalkan. sial sekali ia menjadi istri nya." ia memaki, Dirga, dengan pahit.
ia terus menyaksikan, keributan di ruangan yang berbeda.
"Dirga! aku hanya ingin kau mencintaiku! aku tidak menginginkan apapun darimu, bisa kah kau mencoba untuk bersama denganku?" Ane, bersikeras, merayu Dirga.
semakin kesal dan jengkel, dengan sikap Ane, Dirga. mencengkaram ke dua pundak, Ane.
ketika ia ingin menyert Ane, keluar.
ia tidak sengaja melihat Lili, sedang mengintip di balik pintu. Dirga, langsung melepaskan tangannya dan mendorong, Ane.
ia bersikap seakan, tidak mengenal Ane, agar Lili, tidak salah paham dengannya.
"Nona, jaga sikapmu! jika tidak ada kepentingan, silahkan pergi." seru Dirga, tegas.
Tidak bisa menahan emosinya lagi, akhirnya ia menelfon, Bian, untuk membawa Ane, keluar dari kantornya.
"Dirga, apa yang kau lakukan? aku tidak mau pergi, aku ingin bersamamu!" Ane, menarik tangan, Dirga.
tidak lama Bian, datang dan langsung masuk kedalam, saat mendengar keribitan di ruang presdir.
"bawa, dia keluar dan jangan biarkan. siapa pun yang tidak berkepentingan masuk ke kantor tanpa seijinku!" tegas dirga, kesal melihat Ane, menggelayuti.
Bian, sedikit heran dengan wanita itu yang tiba-tiba ada di kantor dan berani mendekati bos hya.
"siapa wanita ini? berani sekali dia menempel pada tuan Dirga," gumam bian, penasaran.
"apa lagi yang kau tunggu, Bian! cepat bawa dia pergi dari sini," bentak, dirga kesal, melihat Bian, melamun.
Bian, berjalan cepat mengahmpiri, Ane, yang terus menggalyut pada Dirga.
__ADS_1
ketika Bian, iangin meraih tangan wanita itu, ia terkejut saat, Ane, menoleh ke arahnya. lalu ia menarik kembali tangannya.
"Astaga no-nona, Ane!" seru Bian terkejut, melihat wanita yang sangat ia kenal dengan buruk.
semakin keasal dengan Bian, yang bertele-tele, Dirga, menunjukan expresi mode full nya.
Bian, kelabakan melihat aura membunuh pada bos nya. ia
bergegas membawa, Ane, keluar dari ruangan dirga.
Ane, berontak tak mau pergi, sampai akhirnya, bian memaksanya untuk keluar dengan panik.
sesaat ruangan itu hening.
Lili, yang sejak tadi menyaksikan keributan itu, menghela nafas panjang, dengan keteggngan saat ia saksiakan seperti menonton filem.
"Hah.. kenapa aku yang tegang? siapa wanita itu sebenarnya, kelihatannya Bian, juga mengenal baik dia?" gumamnya, bertanya di benak.
Lili, terjengakan, ke luar saat Dirga, membuka pintu.
Lili merintih sakit, karena, punggungnya yang terluka, terkena hantuk lantai.
"Sedang apa kau di sini?" tanya, Dirga. membungkuk memdekati Lili, dengan curiga.
"eh, itu? a-aku.. aku sedang? oh, a-aku sedang membersihkan pintumu ini, dia terlihat sangat kotor!
j-jadi aku membersihkannya," jawab Lili. panik beralsan.
Dirga, mengerutkan kening, mendengar alsan konyolnya. ia menarik tangan Lili untuk berdiri, dan melingkari pinggang Lili, dengan tangannya.
"apa kau mendengar semuanya?" tanya dirga, datar.
"me-mendengar, apa? aku tidak mendengar apapun sungguh!" mengangakat dua jari agar suami nya percaya.
Dirga, hanya menghela nafas dan tersenyum kecil, melapaskan Lili.
"rapihkan bajumu! kita akan pulang ke rumah." seru, Dirga, datar.
lili menghela nafas lega, karena Dirga. tidak curiga dengannya.
__ADS_1
ia bergegas merapihkan diri lalu berjalan mengikuti dirga.
BERSAMBUNG..