
ke esokan harinya jeni Lili dan Dirga sudah bersiap untuk pergi, ke jepang. untuk bertemu dengan keluaraga besar Dirgantara.
"jeni, ayo cepat nanti kita terlambat! tidak perlu membawa barang terlalu banya," dengan suara sedikit keras Dirga, memanggil, jeni yang masih di dalam kamar.
"iya ka, sebentar. oke, ayo ka aku sudah siap!" balas jeni, yang sudah keluar dari kamarnya sambil menyeret satu koper kecil.
mereka pergi bersama untuk menaiki mobil yang sudah di siapkan, oleh paman han.
"silahkan, tuan nyonya dan nona muda!" seru paman Han, yang membukakan pintu untuk tuannya.
dan mobil siap berangkat.
perlahan mereka menjauh dari rumah.
perjalanan ke jepang hanya menempuh waktu 5 jam dari kediaman Dirgantara.
selama perjalanan mereka bercanda untuk menghilangkan kejenuhan.
"sayang, apa kau gugup?!" tanya Dirga. peduli, ia menggengam erat tangan Lili agar ia nyaman.
"ah, ya. sedikit sayang! aku takut. keluaragamu tidak menerimaku nanti," balas, Lili. tersenyum masam.
Dirga menghela nafas panjang dengan ke kahwatiran istrinya. ia memeluk lembut Lili, agar yakin ia bisa mengahadapi keluarganya, nanti.
"kak Lili, tenang saja, nene ayah ibu pasti menyukai kaka! karena aku sudah mengirim foto, ka Lili dan memuji kaka di depan mereka, hehe. apa yang jeni suka tidak mungkin tidak jeni dapatkan!" ucap jeni dengan senyum unjuk gigi, ia membanggakan dirinya sendiri.
Lili, tertawa melihat jeni yang seperti anak kecil.
"terimakasih, jen. kau membuatku percaya diri sekarang!" jeni membalas terimaksih Lili, dengan senyum lebarnya.
setelah lama di perjalanan mereka pun sampai di bandara jepang dan sudah ada supir dari keluarga dirga yang menjemput mereka.
"silahkan tuan nyonya dan nona muda! kita akan berangkat sekarang, nyonya besar sudah menunggu," ucap sang sopir yang usianya lebih tua dari paman han.
__ADS_1
setelah dua jam mereka sampai di kediaman tuan tara, ayah dari Dirga.
Lili sedikit terkejut, melihat rumah keluarga dirga bahkan lebih besar dari rumah dirga.
"astaga, sayang! kenapa aku jadi merasa takut untuk masuk ke dalam!" bisik Lili gugup sampai menggengam erat tangan Dirga.
dirga hanya tersenyum kecil melihat istrinya,sangat gugup sampai tangannya terasa dingin.
"kau tidak perlu takut sayang! mereka adalah orang yang baik, tidak pernah memandang rendah orang lain, tapi jika ada yang berbuat jahat ingin memisahkan kita! aku percaya kau bisa mengatasinya sayang!" ucap dirga menenangkan dan meyakinkan Lili.
Lili hanya menjawab dengan mengangguk berat, ia mengikuti Dirga masuk kedalam.
para pelayan sudah berjejer di setiap pinggir jalan, untuk menyambut sang tuan besar.
"selamat datang! tuan nyonya dan nona muda," sambut para pelayan serentak.
Lili terus berjalan mengikuti dirga. hingga berhenti di ruang keluarga di mana, ruangan itu terlihat lima orang. yang sudah duduk di kursinya masing-masing, dengan tatapan berbeda-beda saat melihatnya. Lili sedikit melirik Jeni dan Dirga, untuk melihat reaksi mereka.
melihat jeni yang terlihat sangat gembira langsung berlari memeluk seorang wanita, yang sudah sangat tua, yang tidak lain adalah sang nenek. nyonya besar di rumah itu.
"hahaha, jeni kecil nenek juga merindukanmu! duduk lah di samping nenek, Dirga, kemarilah apa di sampingmu itu adalah, Lili, istrimu? kemari nak," tanya sang nenek dengan senyum ramah meminta dirga dan Lili mendekat.
Lili tersenyum kaku dengan ke gugupannya.
"benar nek! dia adalah istri ku Lili wijaya. sayang ini nenek dan di sebalah kanan nenek adalah ayah dan ibuku. lalu sebelah kiri nenek adalah tante mery dan sepupu ku alin!" Dirga. memepekenal kan keluarganya satu-persatu pada Lili.
sepontan Lili, memberi salam pada nenek ayah ibu tante dan sepupu Dirga dengan sangat sopan.
Lili di sambut hangat oleh nenek dan ke dua orang tua dirga, tapi tidak dengan tante dan sepepunya yang terlihat sangat tidak suka pada Lili.
"Dirga, apa kau tidak ingin mempertimbangkan keputusanmu. untuk menikahi nona Lili, secara resmi? apa kau tidak akan menyesal nanti! menurutku, Rena. jauh lebih baik dan terpandang!" ucap sang tante, dengan sangat ketus. melirik dengan pandangan benci.
Lili sangat terkejut dan canggung. mendengar apa yang di ucapkan tante mery, ia sangat kesal dengan ucapan tante mery, namun ia berusaha terus tersenyum dan tidak terpancing dengan ucapan tante mery.
__ADS_1
jeni yang juga mendengar ucapan. tante mery, ia kesal dan membalas dengan ketus.
"jika, tante lebih menyukai wanita itu. kenapa tidak tante nikahkan saja dia dengan alin! kak dirga tidak cocok dengan wanita siluman! dia hanya cocok dengan seorang bidadri, ya itu kak Lili," balas jeni, menatap sinis pada tante dan sepupunya itu.
"KAU, lancang sekali bicara kasar dengan orang yang lebih tua! ibu lihat cucu ke sayangmu sangat tidak terdidik!" bentak tante mery kesal, menunjuk jeni.
merasa tersinggung dengan ucapan sang adik ipar, ibu jeni marah dan kesal.
"mery, jika kau ingin memarahi putriku. silahkan saja, tapi jangan kau menghinanya.."
"CUKUP.." sang nenek bicara dengan suara tinggi, untuk menghentikan keributan yang terjadi.
"Hari, ini adalah hari bahagia untuk kepulangan Dirgantara, kenapa kalian tidak berfikir dewasa sebagai orang tua. jika ingin bertengkar, kalian pergi dari ruangan ini." bentak sang nenek yang adalah nyonya besar di rumah itu. semua orang, terdiam saat melihat sang nenek marah.
dan hanya Dirga, yang berani tersenyum melirik setiap orang yang berada di ruangan itu menciut.
sejak dulu, hanya Dirga, yang tidak bergeming dan tertawa setiap sang nenek atau kakenya marah.
melihat Dirga, tertawa kecil. sang nenek, terlihat kaget lalu tersenyum.
ia merasa bahagia, melihat Dirga, kembali seperti dulu.
sang nenek melirik, jeni. yang tertunduk takut. pada sang nenek.
"Hah.. Jeni, tidak baik bicara seperti itu. pada orang yang lebih tua, kau sudah besar sekarang harus bisa menjaga sikap dan ucapanmu!" sang nenek dengan lembut mengusap-usap kepala jeni yang menekuk wajahnya.
"benar apa yang di katakan nenek. tidak baik bicara sepertu itu dengan tantemu! ayah dan ibu tidak pernah mengajar kanmu seperti itu cepat minta maaf pada tante!" seru sang ayah, sedikit memarhi jeni.
Jeni, tidak bergeming dari tempatnya. ia terus tertunduk takut juga kesal terhadap tantenya.
"huff. sudah-sudah, jeni, Lili. kalian ikut nenek ke kebun belakang! di sana banyak sekali macam-macam buah. yang sudah masak bantu nenek untuk memetik nya," ucap sang nenek. berjalan dengan pelan di iringi jeni dan Lili.
melihat Lili mengambil hati sang ibu. mery dan alin sangat tidak suka melihat nenek sangat akrab pada Lili.
__ADS_1
BERSAMBUNG..