
beberapa menit berlalu.
Dirga sibuk mengecek dokumen yang di serahak oleh Lili, tadi.
suara ketukan pintu. memecah konsentrasi nya.
"Masuk!" jawab, Dirga.
orang yang mengetuk pintu adalah Bian, ia tidak juga masuk saat di persilahkan masuk,
"Maaf. presedir, aku tidak bisa membuka pintup!" bian. berusaha memutar-mutar gagang pintu sambil mendorongnya, ia pikir pintu itu rusak.
"Apa, kau anak kecil skertaris Bian! bahkan membuka pintu saja kau tidak bisa," ucap, Dirga datar, dan masih terfikus dengan pekerjaan nya.
" presedir! se-sepertinya.. pintunya terkunci dari dalam?" balas bian,
terkejut dan teringat kalau pintu memang terkunci oleh Lili, ia tersenyum kecil, menghela nafas.
"wanita bodoh, ini benar-benar," gumam dirga,
beranjak dari kursi, untuk membuka pintu yanh terkunci.
bian, masuk dengan pertanyaan yang membuatnya penasaran.
"presdir, kenpa anda mengunci pintu dari dalam? tidak biasanya presedir mengunci pintu!?" tanya bian, polos.
__ADS_1
Dirga, mengernyitkan kening mendengar pertanyaan dari Bian.
"tidak sengaja terkunci," jawabnya, datar.
" apa kau kesini, hanya untuk menanyakan ini, bian!" ucap, Dirga, dengan expresi datarnya.
"Eh, ehemm ini.. sebenarnya, nona Lili tidak ada di ruangannya? aku sudah mencari di seluruh kantor, juga tidak bisa menemukannya!" ucap Bian, panik ketika memberi kabar Lili, hilang, namun ke panikan nya berubah bingung, ketika melihat expresi datar dan acuh, Dirga.
Bian, tampak kebingungan dengan. reaksi Dirgantara, yang biasa saja dan tidak seperti biasanya.
"ehem.. presedir! apa kita perlu menyuruh pengawal untuk mencari nona Lili?" ucap, Bian, gugup.
"tidak perlu!" balas dirga, dengan tenang, kembali dengan ke sibukannya lagi.
ia bergumam sendiri, dengan seribu pertanyaan di benaknya .
"hmm.. ada apa dengan, presedir? ia terlihat biasa saja, ketika mendengar kabar nona Lili menghilang?" bian sangat penasaran dengan perubahan dari sang bos.
ia kembali melanjutkan gumaman nya. "bukankah, presedir, menyukai nona Lili. tapi kenapa ia tidak kahwatir? apa mungkin selama ini aku saja yang terlalu jauh berfikir, kalau presdir menyukai nona Lili, padahal sebenarnya tidak! hahhh.. kasian sekali nona Lili, akan bernasib sama seperti nona erlin dan lisa,"
bian yang termenung dan mengubah-ubah expresinya. ia tidak sadar jika dirgantar sejak tadi memperhatikan nya.
"apa kau akan terus seperti itu bian, dengan expresi bodohmu itu! sedang berfikir apa kau di sana?"
Bian, tersentak. mendengar suara dingin sang bos.
__ADS_1
"Eh, ti-tidak, tidak papa presedir.
aku akan keluar," bian berjalan keluar dengan panik.
mengerti dengan e bingungan sekertaris nya itu. Dirga, dengan sangat santai mengatakan Tentang Lili.
"kau terlihat bingung bian! tidak perlu mencarinya, dia ada di ruang istirahatku, sedang tidur!" jelas dirga. datar, ia menyenderkan tubuhnya ke kursi kerjanya.
Bian, sangat terkejut, ketika Dirga, mengatakan bahwa Lili ada di ruang itirahatnya, yang tidak pernah seorang pun, di ijinkan memasukinya, kecuali tukang bersih-bersih.
"hah? nona Lili, ada di ruang istirahat presedir? hmmm.. pantas anda sangat tenang saat mendengar kabar nona Lili, hilang, ternyata ia ada bersamamu presedir, itu berarti ketika pintu terkunci.." Bian, mengehntikan kaliamatnya dengan cekikikan, melirik dirgantara.
kesal dan malu, dengan pikiran kotor sekertarisnya. ia sangat geram.
"Bian! apa kau masih ingin bonus akhir tahunmu!" ancamnya, dengan bonus.
Bian, panik ketika membicarakan bonus. ia merubah expresinya seketika.
"ampun presedir, jangan kau lakukan itu, bonusmu sangat berharga! aku akan pergi, aku tau ke hadiranku menggangu kesenangan presedir! ehem.." bian, keluar sambil kembali menggoda bosnya .
"Bian! aku tidak akan memeberimu bonus akhir tahun!" teriak dirga, geram pada skertaris nya yang konyol itu.
Bian,melarikan diri melihat expresi dirga yang memerah karena kesal dengannya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1