
mendapati ketukannya tidak di jawab, Lili, perlahan membuka pintu dengan hati-hati.
ia mengintip ke dalam untuk memastikan.
"Eh, kemana dia? kenapa tidak ada orang di dalam?" ia sejenak berfikir lalu ia mendapat alasan untuk tidak melapor hari ini.
"bagus, sekali. ini bisa di jadikan alasan! jika nanti ia bertanya.
kenapa tidak datang menemuiku. ehem.. aku jawab saja, kau tidak ada di ruanganmu saat aku ke sana! hihihi cerdas kau Lili." gumamnya dengan banyak alsan yang sudah ia simpan.
ketika ia ingin menutup kembali pintu dan berjalan mundur, ia di kejutkan oleh suara Dirga, yang sudah berada di belakangnya.
"Sedang apa kau di depan pintu?" tanya Dirga, sampai membuat Lili terjengkit kaget.
Lili sangat terkejut mendengar suara dirga dari belakang punggungnya.
"T-tuan, Dirga! kenapa kau ada di sini?" ucap Lili, panik.
Dirga, mengerutkan kening mendengar pertanyaan Lili.
"apa kau bodoh! seharusnya aku yang bertanya. sedang apa kau di depan ruang kerjaku! apa kau mengintip," tanya Dirga, memojokan Lili. sampai ia panik
"t-tidak, tidak. aku tidak mengintip! aku.. ini, memeberikan dokumen ini, untuk di tanda tangani," ucap Lili. gugup dan mendapat alasan jelas.
Dirga, menatap dingin Lili, lalu ia masuk keruangan nya begitu saja, meninggalkan Lili, di luar pintu.
Lili kesal melihat sikap dirga yang sombong.
__ADS_1
"hey.. kau apa kau tidak mendengar ucapanku? kau sangat tidak sopan presedir Dirgantara, yang terhomat dan dingin seperti es balok!" cetus Lili kesal.
"Apa sudah selesai mengoceh nya! jika sudah, cepat masuk dan letakan dokumen yang ada di tanganmu itu di meja!" ucap Dirga, datar.
Lili, keasal melihat dirga mengacuhkan nya. ia masuk dengan kesal lalu meletakan dokumen yang ia bawa itu di meja.
"Sudah, kalau begitu aku.." kalimatnya terhenti ketika Dirga, menyuruhnya membuaka baju.
"Buka, bajumu!" ucap dirga, santai menyuruh Lili, melepas pakaiannya.
"A-apa? apa yang kau katakan!?" Lili tercengang.
"Aku menyuruhmu melepas baju! apa kau tuli," cetus Dirg, dengan wajah datar.
Lili, terpaku diam dengan ke gilaan yang akan di lakukan oleh, Dirga.
"kau yang melepaskan, atau aku yang melepasnya!" ucap dirga masih dengan wajah datar.
"tidak ada yang melepasnya, Dirgantara, bodoh!" Ia berlari menuju pintu, namun langkahnya terhenti dengan ancaman Dirga.
"Jika kau berani kabur, aku akan memberi pelajaran untukmu. saat di rumah nanti!" ancamnya.
Lili, berhenti tak berkutik.
ia memutar tubuhnya, dengan geram mengepal tangan.ketika melihat senyum licik Dirga.
"K-kau.. kau benar-benar sudah gila Dirgantara! apa kau tidak berfikir bahwa ini di kantor, jika ada yang melihatku melepas pakain di sini.
__ADS_1
orang-orang akan mengira aku wanita murahan yang menggoda pria kaya! aku akan menjadi perbincangan orang-orang nanti," teriak Lili, sangat kesal memarahi, suami gila nya.
Dirga, mengernyitkan dahi, mendengar apa yang baru saja Lili, katakan.
ia beranjak dari duduknya untuk mendekati Lili.
"Apa, kau bodoh Lili wijaya! apa kau pikir aku menyuruhmu melepas baju maka aku akan melakukan itu, di sini?" Dirga, menarik kerah kemeja, Lili, lalu perlahan ia melepas kancing kemejanya, dengan senyum penuh arti.
Lili dengan cepat menjauh dari Dirga.
"La-lau.. apa yang ingin kau lakukan? menyuruhku melepas ba.." ucapnya terhenti.
"jangan membuatku kesal, cepat lepas bajumu! atau aku akan merobeknya."
melihat expresi Dirga, marah.
ia pun terpaksa melepas pakaiannya dengan kesal.
"Dirgantara Gila! huh." ucapnya mengatai tanapa takut.
Dirga, sedikit tercengangan melihat Lili, mengatainya tanpa takut. ia tersenyum kecil melihat ke kesalan istrinya.
"sebelum aku melepas bajuku, aku akan menutup jendela dan mengunci pintu agar, tidak seorangpun yang bisa melihat!" Lili, menutup jendela dan mengunci pintu.
Dirga, menepuk keningnya melihat, tingkah konyol Lili.
"Apa kau benar-benar berfikir aku akan melakukan itu!?"
__ADS_1
BERSAMBUNG...