
Di kediaman keluarga besar Dirgantara
"Nenek, nenek! ada kabar bahagia, ka Lili sini cepat!" seru Jeni dengan semangat menarik Lili dan mendudukan nya di sampaing nenek yang sedang membaca koran di ruang tengah.
"Ada apa nak! kenapa kau terlihat sangat senang?" tanya sang nenek, segera meletakan korang yang ada di tangannya lalu tersenyum lembut pada Lili yang sudah berada di sampingnya.
"Nenek, dengarkan baik-baik ya aku akan memebri sebuah berita bahagia! ehem, sebentar lagi nenek akan punya cicit! yeee..ka Lili sedang hamil nek," dengan sangat bahagia Jeni memberi tahukan kabar bahagia pada sang nenek.
"ah, benarkah! Lili kemari nak, nenek sangat senang mendengarnya kau harus menjaga ke sehatanmu dan jangan terlalu lelah! anak ini kelak akan menjadi penerus ayahnya!" ucap sang nenek dengan lembut menasehati Lili sambil mengusap-usap perutnya.
Dirga yang juga mendengar nasehat neneknya, ia mendekat duduk di samping Lili.
"Tentu nek, aku akan menjaga Lili dan calon bayi kami benarkan sayang!" Dirga mencium kening Lilu dengan lembut memeluknya.
saat mereka sedang berbincang dengan kebahagian yang baru mereka dapat.
tante Mery bersama Rena. yang baru dari kebun belakang memetik buah, mereka masuk dan ikut nimbrung dengan keceriaan yang mereka lihat. Rena yang saat itu melihat Lili masih berda di samping dirga membuatnya kesal tapi ia berusaha tenang.
"ehem! ada apa ini, seprtinya kalian sangat bahagia!" seru tente Mery yang berjalan mendekati Dirga dan yang lainnya.
"Mery! kau juga harus dengar kabar bahagia ini, kemari mendekatlah," ucap sang nenek melambaikan tangannya. menyuruh tante Mery duduk bersama.
__ADS_1
"ah, baiklah! ada kabar gembira apa sebrnarnya bu? kalian terlihat sangat bahagia!" tanya tante mery dengan sangat penasaran
Rena yang berada di antara mereka, ia juga sangat penasaran dan menanti-nanti kabar bahagia apa yang membuat keluarga Dirgantara sangat bahagia.
"kabar bahagianya kita sebentar lagi akan mendapat anggota keluarga baru! Lili sedang hamil!" ucap sang nenek bicara dengan sangat bahagia.
sontak rena sangat terkejut mendengar kabar Lili sedang hamil hingga ia menjatuhkan keranjang buah yang ia bawa hingga semua mata menatap ke arahnya, membuatnya sangat gugup.
Jeni melihat reaksi Rena saat mendengar Lili hamil, membuatnya tidak suka.
"heh, ada apa, sepertinya kau sangat terkejut mendengar kak Lili hamil!" ucap Jeni sinis.
"ah, t-tidak. maafkan aku membuat kalian terkejut, keranjangnya sangat licin hingga lepas dari tanganku! ah Lili, aku ikut bahagia mendengar kau hamil. kau harus menjaga baik-baik calon anakmu ini." ucap rena dengan cepat mengalihkan suasana dan mendekat memeluk Lili dengan kebencian yang ia rasakan saat mendengar Lili hamil.
"Jika mau memberi selamat tidak perlu memeluk! ucapan perhatianmu pada kak Lili, adalah ancaman untuknya. jadi benar katamu kak Lili harus menjaga baik-baik bayinya dari iblis berwajah dua seprtimu!" cetus Jeni dengan sangat kasar bicara pada Rena.
sampai semua yang ada di ruangan itu tercengang termasuk Dirga.
"Jeni! jaga cara bicaramu! kau sangat tidak sopan, aku tau kau sangat menghawatirkan Lili, tapi kau juga tidak boleh berkata kasar pada Rena!" tegas Dirga memberi nasehat pada jeni.
"heh, apa kak Dirga masih belum sadar dengan kebusukan hati wanita ini! kaka Lihat saja wajah sok polosnya itu adalah palsu. aku sangat yakin jika dia merencana kan hal jahat pada kak Lili, setelah dia mendengar kak Lili hamil." balas Jeni menatap sinis Rena yang memasang expresi wajah tidak bersalah.
__ADS_1
sang nenek mencoba menangkan cucu-cucunya agar tidak bertengkar.
"Jeni, nak dengar nenek, itu tidak baik bicara kasar pada orang yang lebih tua! jika ayahmu dengar kau akan di hukum oleh ayahmu nanti!" ucap sang nenek mencoba menenangkan jeni.
"Tidak nek! wanit ini pantas mendapat makianku, oh ya nona Rena apa kau tau tadi saat di mall kak Lili, hampir di celakai oleh dua orang pria! seprtinya perbuatn ini di sengaja oleh seseorang. untung aku cepat mengetahuinya, sepertinya dalang dari kejahatan itu sangat terkejut melihat kak Lili baik-baik saja saat ini! benar tidak nona Rena!" ucap jeni menatap sinis pada Rena yang saat itu terlihat sangat panik. mendengar Jeni membahas tentang pereman suruhannya..
"ah, lihat kan kak Dirga! dia panik itu berarti dua orang pereman tadi, dia yang menyuruhnya!" seru Jeni dengan ketus menunjuk rena.
Rena samaki panik dan gugup. ia mencoba menenagkan dirinya agar tidak di ketahui bahwa ia yang merencanakan kejahat pada Lili.
"j-jeni, apa yang kau katakan? aku tidak mengerti pereman? pereman apa aku tidak tahu?" dengan expresi bingung tidak bersalah Rena menutupi kebusukan nya.
Melihat keributan semakin melebar Dirga sangat marah dengan Jeni.
"CUKUP! jeni, kau kembali ke kamarmu! tadi saat kau menyelamatkan Lili, kau terluka biarkan pelayan yang membantu mengobati lukamu!" tegas Dirga melerai perdebatan jeni.
Jeni tersentak kaget dengan bentakan kaka nya, ia pergi dengan sangat kesal.
"Sayang! kau istirahatlah dulu ada yang ingin aku bicara kan dengan ibu!" ucap Dirga dengan lembut, membantu Lili berdiri.
Dirga dan ibunya pergi ke ruang keluarga.
__ADS_1
sedangkan Rena masih terdiam tak bergeming dari tempatnya, menatap punggung Dirga dari kejauhan.
BERSAMBUNG..