Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Gumiho dan Imoogi


__ADS_3

Waktu terus bergulir. 10 detik lagi.


Berkat instruksi dari Paula,Jarvis kemudian berlari sambil memegang smartphone. Sedangkan Paula terus menjelaskan.


"Aku akan meminjamkanmu pedang ayahku, Marx 1 dan Marx 2. Ia tidak pernah menggunakannya karena tidak cocok dengan kemampuannya"


7 detik lagi.


Sambil memegang smartphone, Jarvis tetap mendengarkan sambil berlari yang diikuti Roy, walaupun mereka telah dekat dengan para petugas dan pahlawan.


"Marx 1 adalah berlian hitam, salah satu material terkeras di dunia. Sedangkan Marx 2 adalah pedang dari logam paling beracun di dunia, Keduanya adalah jenis katana"


4 detik lagi.


Ketika sudah sampai di tempat para petugas dan pahlawan yang melakukan barikade, tiba-tiba saja salah satu pahlawan langsung mencegat Jarvis. 


Yang membuat hal ini aneh, Jarvis tetap berlari tanpa mempedulikan pahlawan yang mencegatnya. Sesaat sebelum sebuah tinju seorang pahlawan hendak bersarang di muka Jarvis, pahlawan itu dihempaskan oleh Roy.


3 detik lagi.


Jarvis langsung melompati barikade yang dibuat oleh para pahlawan dan petugas. Sedangkan Roy berusaha melindungi Jarvis yang berlari.


2 detik lagi.


Roy dan Jarvis telah berhasil melewati barikade. Ketika melihat Jarvis telah berada di daerah yang aman, Roy yang berlari, tanpa berhenti ia melompat sambil berbalik. 


Di hadapan Roy kini berdiri para pahlawan yang siap bertarung dengannya. Memang Roy lebih kuat dari Jarvis, namun karena Jarvis yang menjadi kunci keberhasilan penyelamatan, ia yang berusaha  memisahkan para pahlawan yang berusaha ikut campur. Jarvis terus berlari tanpa berbalik.


1 detik lagi.


"Jangan khawatir, aku baik-baik saja"


Jarvis yang heran maksud Paula, kemudian berhenti berlari karena tempat yang dijanjikan telah sampai.


0 detik


Tiba-tiba salah satu lantai bagian atas gedung tempat Paula meledak. Bersamaan dengan itu sebuah koper jatuh dari sebuah ledakan. Melihat hal itu, Jarvis lalu menangkapnya.


Dengan kemampuan yang Jarvis miliki, ia memotong koper menjadi beberapa bagian tanpa merusak isi didalamnya. Pecahan koper mulai bertebaran. Saat itulah Jarvis terpukau dengan isinya.


Terlihat dua pedang katana muncul dari dalam koper. Ia pun lalu memegang kedua pedang tersebut. Salah satu katana dengan gagang dan bilah berwarna hitam, terbuat dari berlian hitam. Sedangkan pedang yang lainnya berwarna perak bercorak emas.


"Pedang terkeras dan pedang beracun, mengesankan"


Sesaat ketika Jarvis terkesima dengan pedang yang dipegangnya, tiba-tiba Paula menelpon.


"Apakah kau suka?"


"Ahhh bikin kaget saja"


Jarvis kaget oleh teguran Paula. 


"Ku kira kau mati"


"Apakah kau berharap aku mati?"


"Ohhh sangat"


"Dasar kau"


Mendengar itu Jarvis lalu tersenyum.

__ADS_1


"Syukurlah kau baik-baik saja"


"Ternyata kau bisa lembut juga"


"Eehhh" 


"Bagaimana pedangnya?"


"Sebenarnya ada dua hal yang kau salah dalam menjelaskannya"


"Apa itu?"


"Pertama, pedang ini tidak di pinjamkan. Sekarang pedang ini milikku"


"Tidak boleh, pedang itu masih…"


"Pokoknya ini pedangku. Kemudian yang kedua, pedang ini bukan Marx 1 dan Marx 2. Tapi yang pedang yang hitam bernama Gumiho sedangkan pedang beracun ini bernama Imoogi. Dua penjaga Rashomon."


Jarvis dengan bobroknya menamakan pedang yang diberikan Paula. Hal ini membuat Paula merasa malu sambil memukul jidatnya. Ia baru tahu jika bos tempatnya adalah orang yang aneh jika berurusan dengan pedang.


Berbeda dengan Paula, Roy lalu mengomentari pendapat Jarvis.


"Wooiii goblok, legenda Gumiho dan Imoogi berbeda dengan legenda Rashomon. Malah di sangkut pautkan."


"Jangan mengacaukan rasa bahagiaku"


"Iya iya"


"Memang harus begitu"


Setelah berkata demikian, Jarvis kemudian berwajah serius. Roy kemudian menasehati.


"Hati-hati"


Jarvis lalu pergi meninggalkan Roy. Sedangkan Paula menutup sambungan telepon yang ternyata ia sudah berteloportasi ke dalam Kafe. Kini Paula hanya bisa melihat pertarungan lewat berita.


Jarvis hanya bisa berlari sendirian. Saat ia di depan gedung tempat Ludheer di tahan, ia menghentikan larinya dan berjalan mendekati pintu. 


Di lantai teratas gedung, terlihat Ludheer sedang duduk di lantai sambil bersandar di dinding. Walaupun dalam keadaan tidak terikat, namun Ludheer tidak mampu untuk banyak bergerak apalagi berusaha untuk melarikan diri, mengingat luka yang dideritanya sangat parah.


Di samping Ludheer terlihat Orgasheel yang berdiri dengan tangan yang bersilangan. Ia tetap berpose seperti itu, seraya menunggu seseorang. Selang beberapa menit berlalu, lantai di depan mereka tiba-tiba runtuh.


Lantai yang runtuh tersebut tampak seperti rusak karena sebuah benda yang tajam. Melihat hal itu, Orgasheel kemudian melangkah maju melihat apa yang terjadi, walaupun untuk beberapa alasan ia sudah menduga apa yang telah terjadi. 


Jelas saja, di bawah lantai yang runtuh tersebut tampak seorang pria dengan 2 pedang di kedua tangannya. Melihat hal itu, Orgasheel malah tertawa.


"Haa...haaa...haaaa. Akhirnya kau datang juga. Haa..haa...haa"


Mendengar tawa keras Orgasheel, Jarvis hanya diam dengan tatapan serius menengok ke atas. Jarvis kemudian memotong salah satu tiang bangunan bagian dalam. Saat tiang itu jatuh, tepat mengenai lubang yang berada di atasnya.


Kini tiang tersebut menjadi sebuah penghubung antara lantai tempat Jarvis dan lantai tempat Orgasheel. Jarvis lalu menaiki tiang dan berjalanp secara perlahan, kedua tangannya menggenggam pedang dengan sangat erat.


"Aku sudah datang, lepaskan dia"


Jarvis yang melihat Ludheer yang duduk tak berdaya merasa iba. Ia lalu meminta Orgasheel untuk melepaskannya. Orgasheel yang mendengar permintaan dari Jarvis kemudian menyingkir dari jalur Jarvis dan Ludheer. Jarvis lalu mendekati Ludheer, namun tiba-tiba sebuah tangan hendak mencekik Jarvis dari belakang. 


Di tempat Roy, kini ia bertarung dengan beberapa pahlawan. Mereka berusaha untuk menumbangkan Roy. Roy juga tampak kesulitan namun ia masih dapat menanganinya. 


Saat Roy hendak melakukan serangan balik, tiba-tiba bagian atas gedung yang dimasuki Jarvis meledak. Walaupun itu sebuah ledakan namun dari luar itu terlihat hanya meledakkan satu sisi dari suatu bangunan. Roy menyadari bahwa itu bukan api biasa tapi api dari seorang musuh. Jelaslah bahwa pertarungan telah dimulai.


Di dalam gedung nampak Jarvis menggendong Ludheer. Ia berhasil mendapatkannya. Sesaat kemudian serangan kedua dari Orgasheel dilancarkan ke arah Jarvis. Jarvis lalu melompat sambil tetap memegang Ludheer dan dua pedangnya. Ledakan kedua pun terjadi.

__ADS_1


Keadaan saat ini membuat Jarvis tidak bisa menyerang dan bertahan di waktu yang sama. Ia lalu pergi bersembunyi, sambil memegang Ludheer. Hal ini membuatnya jengkel. Ia lalu bertanya kepada Ludheer.


"Apakah kau bisa berpegangan di bahuku?"


"Bisa"


Ludheer yang sempoyongan sebenarnya hampir tidak memiliki kekuatan lagi. Namun ia tetap berusaha untuk membantu. Jadi saat ini Ludheer kini digendong oleh Jarvis. Walaupun posisi gendongannya tidak begitu bagus melihat Jarvis yang tidak memegangnya. Kini Jarvis bisa lebih fokus.


Di tangannya Jarvis kini terlihat dua pedang katana. Ludheer yang melihat pedang itu merasa terpukul. Ini karena dua pedang katana yang dipegang Jarvis adalah miliknya.


"Dari mana kau mendapatkan pedang itu"


"Ku curi"


Mendengar itu, Ludheer hanya bisa terdiam. Ia lalu memberitahukan sesuatu ke Jarvis. 


"Pedang itu ada pelacaknya. Jika kau ingin menghilangkannya, pelacak itu ada di dalam gagangnya. Sekarang pedang itu milikmu"


Jarvis sangat terkejut dengan perkataan Ludheer.


"Kenapa?"


"Aku ingin hidup"


Sekarang Jarvis paham apa yang dimaksud Ludheer. Dengan harga sebuah nyawanya, Ludheer akan memberikan pedang yang dipegang Jarvis. Mengingat mereka adalah musuh, janji untuk tidak saling serang jika mereka bertemu adalah sesuatu yang mustahil. Jarvis hanya bisa tersenyum.


Kini Jarvis keluar dari tempat persembunyiannya, ia masih tetap menggendong Ludheer sambil memegang pedang. Di tangan kanannya terdapat Gumiho dan di tangan kirinya Imoogi. Di depannya terlihat Orgasheel yang dari tadi menunggunya keluar.


Orgasheel lalu berusaha meledakkan Jarvis, namun sebuah ledakan berhasil dihindari. Tanpa menunggu waktu yang lama, Jarvis membuat serangan balik yang pertama. Sebuah sayatan mengarah ke leher Orgasheel.


Orgasheel lalu meledakkan tubuhnya. Ledakkan bertubi tubi terlihat dari luar. 


Daerah di sekitarnya kini terbakar. Jarvis berhasil lari dengan melompat keluar gedung. Kini ia dan Ludheer  jatuh dari ketinggian. Sambil memegang Ludheer, Jarvis lalu membuat Gerbang monster di bawahnya. Sesaat mereka hampir mati jatuh ke tanah, mereka berhasil selamat ketika memasuki Gerbang Monster.


Di tempat Roy tiba-tiba sebuah Gerbang Monster muncul di depan mereka. Sesaat setelah itu Jarvis dan Ludheer keluar dari situ. Hal ini sontak membuat yang lainnya heran. Jarvis lalu melepaskan Ludheer secara perlahan hingga ia tidak merasa terlalu kesakitan. 


Saat semua pahlawan fokus pada Ludheer, Jarvis lalu bergegas ke arah Roy. 


"Halangi mereka"


Sebuah perintah dari Jarvis membuat Roy bersiap tempur. Berhubung karena Ludheer telah diselamatkan, para pahlawan tergerak hatinya untuk melakukan serangan bersama ke Orgasheel.


Namun yang dikhawatirkan Jarvis dan Roy adalah nyawa mereka. Mereka hanya akan mengantarkan nyawa mereka jika akan pergi ke medan pertempuran Jarvis dan Orgasheel. Disamping itu, mereka hanya akan menjadi beban. Jika satu dan dua mungkin Jarvis masih bisa menyelamatkannya, tapi jika jumlahnya lebih dari sepuluh, bisa jadi hal serupa yang terjadi ke Ludheer akan menimpa Jarvis.


Jarvis lalu berlari menuju ke lokasi Orgasheel. Sedangkan Roy tetap tinggal di tempat, ia harus berusaha untuk menahan para pahlawan.


Saat Jarvis baru memasuki gedung, Orgasheel langsung menyergap. Ledakan pun kembali terjadi. Saat mereka sangat dekat, Jarvis mulai menebas tapi Orgasheel menangkisnya, sesaat kemudian Orgasheel lalu membuat ledakan. Jarvis menjauh untuk menghindari serangannya. 


Serangan ledakan yang membabi-buta membuat seseorang akan sulit untuk melihat. Di kesempatan yang sedikit itu, tiba-tiba Jarvis sudah ada di belakang Orgasheel. Ia lalu menebaskan pedangnya namun hanya bisa merobek sedikit perut Orgasheel.


"Bagaimana bisa seseorang membuat itu"


Orgasheel tampak kaget melihat sebuah Gerbang Monster di belakang Jarvis. Ternyata Jarvis menggunakan kekuatannya untuk berpindah tepat di belakang Orgasheel. Orgasheel yang panik akan membuat ledakan berikutnya.


"Sayatan Ruang, Dekorasi Ruang Penyimpanan" ucap Jarvis.


Terlihat sebuah lubang kecil di kedua ujung pedang di tangannya. Orgasheel lalu memunculkan ledakan yang menewaskan banyak pahlawan, sebuah pilar api. Namun kini pilar apinya bukannya mengarah ke atas, tetapi mengarah ke depan, tepat ke arah Jarvis. 


Jarvis mengangkat tangan kanannya yang di arahkan ke depannya. Sedangkan tangan kirinya ke bawah. Sebuah ledakan kini munuju ujung pedang sebelah kanan. Jarvis ternyata mampu untuk menghisap sebuah ledakan ke dalam ruang dimensi.


"Tingkat lanjut dari ruang penyimpanan, Black Hole"

__ADS_1


Jarvis lalu memberi tahu Orgasheel kemampuannya. Seketika itu juga Orgasheel mengingat sesuatu.


"Ini buruk, kukira hanya mitos, ternyata benar adanya. Manusia yang menerima pelatihan dari para petinggi monster. Mampu untuk membuat Gerbang Monster" kata Orgasheel yang kaget dengan ucapan Jarvis.


__ADS_2