
Di Masa lalu Colosseum adalah tempat yang digunakan oleh para gladiator bertarung. Namun sekarang kegunaan Colosseum agak berbeda, tempat tersebut digunakan untuk pertarungan antara para manusia evolusi. Namun yang membuat ini mengerikan adalah tidak ada Colosseum yang ada di pemukiman manusia.
Colosseum sekarang berada di daerah monster, kawasan yang telah ditinggalkan oleh para manusia sebab jumlah monster yang terlalu banyak. Colosseum ini digunakan oleh para monster tingkat atas untuk menonton pertunjukan, pertarungan manusia evolusi. Manusia evolusi sekarang ini menjadi budak para monster.
Kini Jarvis telah sembuh dari lukanya, ia pergi Colosseum untuk melihat apa yang terjadi. Mukanya terlihat biasa saja namun tangannya terlihat berdara akibat mengepalkan tangannya terlalu kuat. Dihadapannya terlihat para monster yang
"Sejak kau pergi, tidak ada yang berubah, pertarungan masih saja terus berlangsung"
Charlotte mulai menjelaskan, Jarvis mulai mengendurkan kepalan tangannya. Charlotte mulai menambahkan.
"Sekarang yang bertarung di arena adalah petarung generasi ketiga"
"Generasi ketiga?"
"Iya, generasi ketiga. Generasi pertama hanya tersisa 4 orang, karena pertarungan waktu itu adalah pertarungan sampai mati. Jika menghitungmu, jumlahnya ada 5 orang"
"Terus bagaimana dengan generasi kedua?"
"Kalau generasi kedua sudah tidak diberlakukan pertarungan sampai mati"
"Kenapa bisa?"
"Berkat gurumu, ia mencabut peraturan pertarungan sampai mati"
Jarvis sangat keheranan mendengar penjelasan dari Charlotte.
"Seperti bukan dirinya saja" kata Jarvis.
"Aneh juga, padahal ia kami anggap sebagai monster yang paling berbahaya dari yang lainnya"
"Jadi berapa jumlah keseluruhan para budak gladiator disini" tanya Jarvis.
"Kalau generasi pertama ada 4 orang"
"Berarti 5 denganku"
"Iya, sedangkan untuk generasi kedua ada 88 orang, tapi kalau untuk generasi ketiga sekarang ini belum diketahui. Jumlah mereka sekitar 300 lebih tapi terus berkurang hampir setiap hari" Charlotte menjelaskan dengan perasaan sedih.
"Kenapa bisa?"
"Kau itu banyak tidak tahu yah. Jadi begini, petinggi monster merasa kurang puas jika tak ada yang mati, jadi arena gladiator diisi bukan hanya para manusia evolusi tetapi terkadang monster juga. Jadi pertarungan tak akan berhenti sampai salah satu dari mereka mati, karena mereka pasti akan saling bunuh"
"Jadi begitu yah. Aku pergi dulu"
"Kemana?"
"Menyapa teman"
Jarvis lalu pergi meninggalkan Charlotte. Ia pergi ke daerah kerumunan yang agak aneh di luar Colosseum. Dilihatnya seorang pria yang berusaha menantang pria di depannya. Pertarungan pun terjadi namun orang yang ditantang hanya menggunakan satu tinjuan untuk menjatuhkan lawannya.
"Siapa lagi? Ayo maju sekaligus."
Mendengar itu semua orang berusaha menerjangnya namun sekali lagi mereka terhempas hanya dengan satu serangan. Sekumpulan penantang merasa terpuruk, mereka pun lari terbirit-birit. Lelaki yang ditantang berbalik mengambil pedang yang diletakannya.
Semua orang yang babak belur berlarian menjauhi melewati Jarvis, Jarvis lalu dengan segera menangkap tangan salah satu dari mereka.
"Ada apa?"
"Apakah kau tidak tahu, ia adalah Hanz, salah satu dari generasi pertama"
Pemuda yang ditangkap lengannya berhasil melepaskan diri dari Jarvis, namun Jarvis memang agak mengendurkan pegangannya. Jarvis lalu menghampiri Hanz. Hanz yang melihat seseorang mendekat kemudian bersiap untuk bertarung.
"Percuma saja, kau tidak akan bisa..."
"Bisa apa?"
Hanz yang melihat Jarvis tampak kaget, ia lalu mendekati Jarvis.
"Aku tidak mengenalimu tadi"
__ADS_1
"Wajar, sudah 2 tahun. Kau masih belum berubah.
"Biasa saja"
"Seingatku kau bukanlah pemegang pedang, kenapa kau sekarang menggunakan pedang"
"Ikut aku!"
Hanz lalu mengajak Jarvis pergi menjauh dari keramaian. Hanz lalu membuka gerbang monster, mereka pun masuk kedalam.
"Walaupun harusnya kita saling berbahagia karena lama tak bertemu. Namun sekarang bukan waktu yang tepat."
Jarvis yang mendengar itu mulai serius. Hanz kemudian mengambil pedang dan menaruhnya di depan Jarvis.
"Saat gladiator menjadi nomor satu di generasinya, ia berhak memiliki 1 dari 10 harta milik para petinggi monster. Kudengar kau menyukai pedang gurumu, jadi aku memilih pedang ini"
"Apakah tidak apa-apa?"
"Ambil saja"
Jarvis lalu mengambil pedang yang dipegang oleh Hanz. Pedang itu adalah pedang sirasaya lurus berwarna hitam. Hampir mirip seperti tongkat jika diperhatikan sekilas. Jarvis lalu menarik pedang itu dari sarungnya, kini bilahnya terlihat. Bilah pedang itu berwarna hitam dengan mata berwarna ungu corak api.
"Ini adalah pedang yang terbuat dari taring Hydra. Sangat hebat, terima kasih Hanz"
"Sama-sama. Tapi itu akan menjadi utang, aku menjaganya selama du tahun dan belum pernah memakainya dalam pertarungan. Pedang itu memang cocok untukmu"
Jarvis tersenyum sekaligus takjub dengan pedang yang di pegangnya.
"Pedang ini bahkan lebih kuat dar Saber dulu, baiklah aku akan menamakannya Saber Hydra."
"Jangan memberi nama pada pedangmu jika di depanku."
"Kenapa? Ini kan keren"
"Keren pantatmu"
Hanz dan Jarvis kemudian keluar dari gerbang monster.
"Termasuk kau, jumlahnya ada 5. Itupun hanya dari generasi pertama."
"Begitu yah. Lalu berapa orang yang bisa menggunakannya dengan jarak lintas benua"
"Hanya kau"
Jarvis lalu termenung, ia lalu menyimpan pedang yang dipegangnya ke dalam ruang penyimpanan dimensi miliknya. Hanz hanya bisa kagum melihat Jarvis. Teknik yang digunakannya untuk menyimpan pedang baru dilihatnya.
"Bisakah kau menemaniku ke dalam arena Colosseum" pinta Jarvis.
"Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan. Baiklah aku ikut"
Hanz akhirnya mengikuti keputusan Jarvis. Di tengah arena Colosseum, terlihat dua orang pemuda sedang bertarung. Namun mereka tiba-tiba berhenti, dari arah pintu arena Colosseum terlihat Jarvis dan Hanz yang datang. Mereka kini berada di tengah arena.
Jarvis lalu mengambil jarak dua langkah di depan Hanz. Ia kemudian berteriak keras ke arah parah petinggi monster.
"Aku ingin menantang kalian."
Seorang petinggi monster, berbentuk seperti singa namun berdiri dengan kedua kakinya. Ia langsung menghancurkan area di sekitarnya.
"Berani sekali nyalimu Jarvis."
Monster itu ternyata masih mengingat Jarvis. Disisi lain para manusia yang melihat hal itu tak bisa berkata-kata. Salah satu petinggi kemudian mengetahui apa yang diinginkannya.
"Sediakan pertunjukan yang menarik bagi kami, maka kami akan memberikan apa yang kau inginkan"
"Apakah kau bodoh atau tuli, aku di sini menantang kalian" kata Jarvis sambil mengorek kupingnya.
Monster yang mengamuk tersebut kemudian menuju ke Jarvis.
"Jika kau bisa menggoresku maka akan ku kabulkan permintaanmu"
__ADS_1
Tanpa menunggu aba-aba, Jarvis langsung menyerang menggunakan 2 pedang, Gumiho dan Imoogi. Semua mata terbelalak. Mereka Jarang melihat pertarungan seperti itu di Colosseum. Para petinggi monster Langsung berdiri, sedangkan untuk para manusia berusaha untuk tetap tenang.
Di hadapan mereka kini hanya terlihat sebuah percikan dan beberapa tanah yang hancur tiba-tiba. Sebuah sayatan besar keluar dari pedang dan mengarah ke arah monster namun monster tidak menghindar. Sebuah sayatan terbang telah gagal untuk melukai tubuh monster itu.
"Apakah kau tidak tahu aku, raja binatang buas, Holdem. Kau bukanlah apa-apa bagiku"
Holdem lalu menyerang Jarvis, Jarvis kini terlempar ke arah para gladiator. Seorang gladiator kemudian menegurnya.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Tidak apa-apa, cuma di gigit semut"
Setelah itu Jarvis kemudian berdiri tegak sambil memegang kedua pedangnya. Serangan yang kuat berhasil membuat jidat kiri Jarvis terluka. Darah kemudian mengalir keluar yang menyebabkan ia harus menutup mata kirinya. Jarvis lalu mengambil posisi, ia lalu melompat ke arah Holdem tapi Holdem juga menyerangnya dengan cakar.
Sesaat sebelum cakar berhasil menyentuh Jarvis, Jarvis telah mengaktifkan ruang penyimpanan. Cakar beserta lengan Holdem masuk ke ruang penyimpanan.
"Aku akan mengambil lenganmu"
Jarvis lalu menonaktifkan kemampuannya. Seketika itu juga darah berhamburan.
"Gagal yah, padahal aku ingin memotong lenganmu"
Lengan Holdem memang tidak terpotong, karena terlalu kuat namun jika dilihat dari kerusakan yang diakibatkan, lengan Holdem ternyata telah tercabik cabik.
"Apa keinginanmu?"
Holdem tampak tidak terlalu mempermasalahkan lengannya yang penuh luka.
"Bebaskan semua orang yang ada di Colosseum ini!"
"Apakah kau bercanda?"
"Apakah aku terlihat bercanda?"
Mendengar itu, monster yang bertarung dengan Jarvis pergi menjauh, sambil berjalan ia juga meregenerasi lengannya. Jarvis juga telah menyimpan pedang yang digunakannya.
Salah satu petinggi monster berkepala anjing kemudian memasuki arena. Sebuah tepukan tangan berhasil menggema di setiap telinga siapa pun yang ada di Colosseum. Ia kemudian memaparkan maksudnya.
"Kami tidak peduli kau membawa mereka semua, membunuh mereka atau melakukan kudeta"
"Apa ini terlihat sebagai kudeta"
"Sekumpulan budak tidak boleh melawan tuannya"
"Baiklah tuan anjing"
Semua orang kaget dengan apa yang diucapkan Jarvis, mereka tahu bahwa itu adalah hinaan bukan sanjungan. Sedangkan para monster merasa geram mendengarnya. Petinggi monster itu kemudian menepuk tangannya untuk yang kedua kalinya, tapi suaranya sangat nyaring hingga membuat beberapa orang berusaha untuk menutupi telinganya.
"Kami hanya menginginkan pertunjukan. Bagaimana jika lima vs lima, lima orang dari perwakilan kalian sedangkan lima lagi dari kami"
Mendengar itu Hanz merasa cukup percaya diri.
'Akhirnya ia terpancing, berarti hanya butuh 3 kemenangan' batin Hanz.
"Kau salah Hanz, 5 pertarungan dan 5 kemenangan. Jika kalian bisa melewatinya kalian akan bebas"
Perkataan petinggi monster sontak membuat Hanz tercengang, sebab apa yang dipikirkan olehnya dapat diketahui oleh monster tersebut. Sedangkan untuk para manusia gladiator merasa tertekan. Hal ini juga menyebabkan banyaknya pihak yang menolak negosiasi tersebut, sekarang mereka hanya bisa berharap Jarvis akan menolaknya.
"Sepakat" kata Jarvis sambil mengajaknya bersalaman.
Monster yang melihatnya hanya bisa diam, kemudian berbalik meninggalkan Jarvis, dengan perasaan jengkel.
"Gagal yah" ucap Jarvis lesu.
Hanz kemudian menghampiri Jarvis.
"Ada apa?"
"Sudah terbukti, kekuatannya adalah sesuatu yang berkaitan dengan suara atau pendengaran. Ia mampu mendengar kata hatiku" kata Jarvis.
__ADS_1
"Sebenarnya aku hendak memotong tangannya jika berhasil bersalaman, tapi gagal" lanjutnya.
Hanz cukup terkejut dengan ucapan Jarvis karena ia juga mengalaminya. Mereka pun pergi meninggalkan arena Colosseum. Saat akan sampai di pintu keluar, mereka dicegat oleh para gladiator. Mereka terlihat kecewa bercampur marah terhadap Jarvis. Jarvis yang melihat itu tampak jengkel, ia pu mengeluarkan 2 pedang yang digunakannya tadi.