Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Menyambung Tali Yang Putus


__ADS_3

Darien berhasil menahan semua serangan tombak darah, namun sekarang perisai itu tak bisa digunakan lagi karena telah rusak parah akibat benturan.


Jarvis sekarang tahu, nyawa Ludheer sangat penting. Ia sekarang adalah pahlawan kelas S.


Mereka lalu terus berlari ke gerbang monster. Satu persatu mereka berhasil melaluinya.


Bartolomeo yang paling terakhir, sebab ia berusaha menyelamatkan yang lain dari belakang. Sarung tinju besinya sekarang hancur.


Kini mereka berhasil keluar dari gerbang monster.


Seharusnya mereka disambut bahagia oleh pahlawan yang berkumpul di luar. Namun mereka semua terkejut.


Bagaimana bisa tujuh pahlawan kelas A mengalami banyak cedera. Ditambah satu pahlawan yang tak sadarkan diri.


Ini bukan kegagalan, tapi gerbang monster yang terlalu kuat. Begitulah pikir mereka.


"Apa itu tadi?" Pikir Bartolomeo.


"Sepertinya itu darah" jawab Isaac.


"Darah?"


"Aku berhasil mendapatkan potongan tombak itu"


Isaac lalu menunjukan rombak yang terbuat dari darah.


"Apakah ada monster yang memiliki kemampuan semengerikan ini?"


Eun Jie merasa jika itu adalah perbuatan monster.


"Kurasa juga begitu"


Darien juga merasa kalau itu adalah monster.


Lain halnya dengan mereka, Jarvis merasa jengkel dengan diskusi mereka.


'Apa mereka bodoh, jelas saja itu adalah perbuatan seseorang. Bahkan salah satu dari mereka'


Sebenarnya yang bodoh adalah Jarvis, bagaimana mereka bisa tahu, mereka tak memiliki kemampuan Manipulasi Darah untuk mengetahui hal tersebut.


Walaupun Jarvis dapat mengetahui jika ada penghianat diantara mereka, ia masih belum mengetahui siapa itu.


Tiba-tiba Mu Won dari Guild Squadron datang. Mu Won lalu menghampiri Ludheer. Ia lalu berusaha menyembuhkan lukanya.


Perlahan-lahan Ludheer mulai sadar ketika lukanya disembuhkan.


Jarvis lalu bertepuk tangan seorang diri. Yang lain merasa heran, kecuali mereka yang berada di dalam gerbang monster. Mereka pun ikut bertepuk tangan.


Setelah lukanya pulih, Ludheer kemudian berdiri.


"Aku ingin berbicara denganmu"


Ludheer menatap tajam ke Jarvis.


"Tidak di sini"


Jarvis lalu pergi keluar dari gedung yang diikuti oleh Ludheer. Saat mereka diluar, Jarvis lalu duduk di bawah pohon sambil berteduh. Ludheer pun juga ikut duduk. Sekarang hanya mereka berdua.


"Pasti mengenai kekuatanku?"


"Iya"


"Sebenarnya aku memiliki kemampuan buku kontrak dari dewa kematian"


Tentu saja ini hanyalah bualan Jarvis. Buku itu didapatkan dari pertarungannya melawan Anubis.


"Buku itu bisa melakukan kontrak dengan apapun, hanya saja setengah dari nyawa penggunanya pasti akan direnggut. Itulah bayarannya"


Ludheer terkejut dengan bualan Jarvis yang terlihat serius.


"Tapi itu adalah rahasia, semua orang bisa melakukan kontrak dengan buku itu. Selama aku masih hidup" kata Jarvis.


"Apa jadinya jika kau mati" tanya Ludheer.


"Kontrakmu dengan pedang itu akan hilang"


Ludheer lalu melihat pedangnya.


"Masih ada lagi. Aku masih penasaran, mengapa kau menyembunyikan kekuatanmu"


"Kontrak buku ini tak terbatas. Bayangkan saja jika dalam satu Guild melakukan kontrak dengan beberapa pedang seperti itu"


Keringat dingin bercucuran di muka Ludheer. Ini bukan lagi kekuatan, tapi tanggung jawab yang begitu besar.


"Berarti buku itu berbahaya"


"Iya"


"Apa bisa dihancurkan?"


"Tidak boleh, nanti aku bisa mati. Juga ada satu hal lagi. Kau telah kehilangan setengah nyawamu"


"Tak apa-apa"


Jarvis lalu berdiri.


"Aku pergi. Tolong rahasiakan ini"


"Tunggu dulu"

__ADS_1


"Ada apa lagi"


Terlihat Jarvis mulai malas meladeninya.


"Kau kelas apa?"


"Apa itu?"


"Kekuatanmu berada di kelas berapa?"


Jarvis lalu memegang dagunya.


"Mungkin E" kata Jarvis sambil tersenyum kemudian pergi meninggalkan Ludheer.


Ludheer kemudian berbaring di bawah pohon.


'Apakah betul hanya kelas E'


***


Keesokan harinya.


Pengumuman nama guru yang berhasil lolos ujian. Hanya ada lima orang yang dibutuhkan.


Terlihat Jacob berusaha mencari seseorang.


Ia terus mencari, sesampainya ia di teras samping bangunan, terlihat Jarvis yang telah bangun dari tidurnya. Ia tidur hanya beralaskan kardus.


"Kenapa kau tidur di sini?"


"Aku tak memiliki tempat tinggal"


"Kalau begitu, kau tidur di apartemenku saja"


Jarvis langsung menjabat tangan Jacob.


"Setuju"


"Apa yang setuju, ini hanya kesepakatan sepihak. Aku hanya menawarkan"


"He...he...he…"


Jarvis hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa keperluanmu ke sini?"


"Mencarimu"


"Kenapa?"


"Kau lulus"


"Ada apa?"


"Tidak apa-apa"


"Seharusnya kau bahagia"


"Sudah tadi"


"Jadi kau sudah tahu"


"Kau terlambat"


Tiba-tiba seseorang datang menghampiri Jarvis sambil membawa koper.


"Kami ingin berbicara empat mata"


Ia adalah Ludheer yang meminta izin kepada Jacob.


"Silahkan" Jacob lalu pergi.


Ludheer lalu membuka kopernya.


Itu ternyata adalah alat pengukur kekuatan. Koper yang berisi layar serta setengah bola hitam menempel di situ.


"Coba kau taruh tanganmu di bola ini"


Jarvis yang tak tahu apa itu hanya menuruti perintah Ludheer. Ia lalu menaruh tangannya.


Seketika tulisan muncul di layar.


"Kelas A"


Ludheer sepertinya sudah tahu akan begini. Sedangkan Jarvis sudah bersiap menyerang Ludheer. Ia mengaktifkan kekuatan tebasan ditangannya. Tangan yang siap memenggal kepala Ludheer.


'Sepertinya aku harus meminta maaf ke Paula' batin Jarvis.


"Inilah yang ku khawatirkan. Kekuatanmu akan terekspos"


Ludheer mulai menjelaskan. Sepertinya Jarvis mulai paham situasinya.


"Bahaya juga yah"


Jarvis berusaha terbawa suasana. Ia lalu meniadakan kekuatannya.


"Maka dari itu aku datang"


Ludheer berusaha membantu Jarvis. Ia lalu membuka kain di dalam sakunya.

__ADS_1


"Ini adalah batu Rubi. Batu Rubi berfungsi untuk mengacaukan kinerja alat ukur kekuatan. Ini ambillah, sekarang ini milikmu"


"Kenapa?"


"Walaupun tak seberapa, itu rasa terima kasihku" kata Ludheer.


Jarvis lalu mengambil batu itu.


'Baru pertama kali aku melihat seseorang yang memiliki kemampuan kelas A tapi ia mencoba menyembunyikannya' batin Ludheer.


Tiba-tiba suara speaker yang keras sampai di tempat mereka.


"PANGGILAN DITUJUKAN KEPADA SAUDARA JARVIS KURTIS AGAR SEGERA MENUJU SUMBER SUARA"


Jarvis lalu paham, ini saatnya para calon guru dilantik.


Jarvis kemudian pergi ke sumber suara. Dihadapannya terdapat sebuah pintu. Jarvis tahu bahwa itu adalah tempat menilai kemampuan seseorang.


"Aku tak butuh ini"


Jarvis hanya memasukkan batu Ruby ke dalam kantong celananya.


Matanya tiba-tiba berubah warna menjadi merah.


Jarvis kemudian membuka pintu itu. Jarvis lalu melihat seseorang menggunakan alat yang mirip dengan yang dipakai oleh Ludheer. Ia lalu menggunakan kemampuannya.


"Jarvis Kurtis, Kelas E, camkan itu!"


Sosok mata Jarvis seakan memberi perintah.


"Baik"


Orang di hadapannya akhirnya terpengaruh. Terlihat dari matanya yang juga berwarna merah.


Ketika orang itu selesai membuat laporan, Jarvis menyadarkannya kembali.


"Silahkan lewat sini"


Jarvis lalu masuk ruangan khusus, di situ berdiri Charlie dan empat orang lainnya yang juga lulus.


Dari penampilan orang pertama, ia adalah penyihir.


Orang kedua menggendong pedang panjang di belakangnya serta memiliki otot yang besar.


Orang ketiga adalah satu satunya wanita, ia memiliki mata kucing.


Orang keempat adalah pria berkacamata, ia berpakaian serba merah. Ia pengguna api.


Orang yang dihipnotis Jarvis kemudian memberikan secarik kertas kepada Charlie.


Charlie kemudian membacanya.


Nama : Jarvis Kurtis


Usia : 22 tahun


Alamat : Kota T, distrik 4


Jenis kelamin : Laki-laki


Profesi : Manajer Kafe


Pengalaman mengajar : (tidak ada)


Kemampuan khusus : (tidak ada)


Pengalaman Pahlawan : (tidak ada)


Kelas kemampuan : E


Ketika Charlie membacanya, siapapun pasti berpikir ada yang aneh.


Namun berbeda dengan Charlie.


"Data ini memang benar. Walaupun begitu, ia menjadi guru sebab jalur rekomendasi" kata Charlie.


Jarvis yang mendengarnya malah heran. Bukankah dia lulus sebab kemampuannya bertarung. Tapi Jarvis tidak mempermasalahkannya.


"Siapa yang merekomendasikannya?" Kata pria berkacamata.


"Ludheer Bashil, Jacobus Ambroos, dan Eun Ha, adik Eun Jie"


Siapapun yang mendengarnya pasti heran. Nama yang mereka sebut adalah beberapa nama yang memang ahli di bidangnya.


"Abaikan saja, kita lihat nanti apakah ia bisa mengajar di sekolah ini atau tidak" salah seorang yang membawa pedang besar kemudian berkomentar.


Tawa lepas langsung meledak di seluruh ruangan. Mereka kemudian menertawakan Jarvis. Tapi Jarvis tidak mempermasalahkannya.


Masalahnya adalah orang yang berada di hadapannya, yaitu Charlie, kepala sekolah pahlawan. Itulah yang membuat Jarvis bersabar.


"Pertama ku ucapkan selamat karena menjadi guru di sekolah ini"


Charlie lalu memberikan arahan kepada guru baru yang ada di situ.


Sejam kemudian, mereka baru bisa keluar dari ruangan itu.


"Apa-apaan itu, ceramah saja tak sampai selama itu"


"Aku juga tak habis pikir"

__ADS_1


Beberapa guru mengeluh, namun berbeda dengan Jarvis. Ia tampak biasa-biasa saja.


__ADS_2