
Hari pertama menjadi hari yang cukup melelahkan dan sangat tragis. Para anak yang diculik dipukuli agar mereka diam. Perilaku yang sangat berbeda dengan perilaku manusia pada umumnya.
Kamui hanya bisa membelalak melihat para anak yang dipukuli hingga mereka diam. Luka lebam bekas pukulan menjadi ciri khas anak-anak.
Setelah 3 jam berlalu, tak ada lagi suara tangis. Para anak-anak berhasil menahan rasa sakit yang teramat sangat hebat itu.
Para monster kemudian memungut mayat anak-anak yang mati akibat tidak bisa bertahan. Cara memungutnya terbilang ekstrim. Setiap mayat yang diambil, dilemparkan ke dalam sungai. Karena kekuatan monster semut yang kuat, itu menjadi hal yang mudah, seperti melempar bola bisbol.
Mayat anak-anak yang meninggal kini beterbangan di atas langit, mirip hujan mayat. Ini karena mereka langsung dilemparkan oleh para monster semut pekerja. Mayat mereka dilemparkan ke arah ratu semut.
Ratu semut berukuran besar daripada para Sumut pekerja. Di sampingnya ada juga berbagai monster dengan jenis yang berbeda-beda, namun mereka terlihat hormat padanya. Ini karena ia adalah salah satu petinggi monster.
Mayat anak-anak yang jatuh di hadapan ratu semut langsung dimakannya, pemandangan itu membuat kengerian yang tak berujung. Saat ia telah selesai menyantap puluhan mayat, para monster yang berada di belakangnya langsung maju untuk menyantap mayat itu.
Walaupun sang ratu memakannya dengan santai, tapi itu membuat anak-anak yang masih hidup tampak ketakutan. Namun mereka tidak menyangka yang menunggu di belakang ratu lebih biadab. Para monster menyantap mayat tersebut dengan rakusnya.
Jarvis yang melihat Kamui merasa frustasi dan panik, langsung menegurnya.
"Tenanglah!"
"Bagaimana bisa tenang, nyawa kita sekarang ini ditangan mereka"
"Justru itulah kau harus tenang, kita mungkin langsung dibunuh oleh ketololanmu"
Kamui memikirkan sejenak perkataan Jarvis, ia merasa jika apa yang di ucapkan Jarvis ada benarnya. Bisa saja mereka langsung dibunuh cuma karena seseorang yang tidak bisa menenangkan dirinya.
Mereka yang masih hidup hari itu telah berubah pola pikirnya. Mereka akan tetap hidup selama menuruti perkataan monster.
Hari kedua, anak yang diculik merasa sangat kelaparan. Tidak ada yang masuk di perut mereka sejak kemarin, ditambah rasa perih dari luka yang diterima. Bahkan ada beberapa anak yang kesehatannya terganggu.
Sebagian dari mereka mengalami demam tinggi. Ini karena mereka tidak memiliki tempat tidur yang layak. Mereka hanya tiduran di tanah, tanpa alas, tanpa selimut, dengan hawa dingin yang menusuk.
Salah satu petinggi monster melangkah di kerumunan anak-anak. Ia lalu mengangkat kedua tangannya, diikuti oleh cahaya kuning yang menyelimuti seluruh anak yang terluka. Perlahan namun pasti, luka mereka membaik, bahkan menghilang tanpa bekas.
Luka di sekujur tubuh Jarvis dan Kamui akhirnya hilang. Tubuh mereka kini menjadi mulus kembali. Walaupun begitu, mereka masih memiliki satu masalah yang belum terpecahkan. Tubuh mereka sangat lemas, tak kuasa menahan rasa lapar.
Diambang kekhawatiran akan makanan, ternyata beberapa semut pekerja berusaha menarik dua ekor paus raksasa. Paus itu diberikan kepada anak-anak yang kelaparan.
"Silahkan dimakan, itu hidangan untuk kalian"
Walaupun terlihat sebagai makanan yang layak, namun mayoritas anak merasa jijik jika memakan makan mentah. Beberapa anak kemudian menghampiri ikan paus tersebut. Salah satu anak mengambil kayu yang agak runcing, dicungkilnya daging ikan itu. Ia mencungkil di daerah bekas luka serangan monster, ini untuk memudahkannya mengambil daging.
Ia lalu berpapasan dengan Jarvis dan Kamui.
"Jika kalian tidak cepat, dagingnya bisa habis"
Mendengar itu, Jarvis dan Kamui lalu pergi jug untuk berebut daging. Walaupun mereka belum yakin mau diapakan daging ikan ini nantinya.
"Daging ini mau kita apakan?"
"Ikuti saja anak yang tadi"
Mendengar usulan Jarvis, Kamui kemudian melihat sekeliling untuk menemukan anak tadi. Anak itu berperawakan tinggi dibandingkan anak seusianya dengan rambut yang berantakan.
"Itu dia"
"Ayo kesana"
Jarvis dan Kamui kemudian menghampiri anak tersebut.
"Namaku Jarvis dan ini temanku Kamui, bolehkah aku tahu siapa namamu"
Jarvis kemudian memperkenalkan diri. Disebelahnya ternyata Kamui merasa agak kecewa.
'Sopan sekali, padahal saat kami berkenalan ia tak sesopan itu
Batin Kamui yang merasa cukup teriris dengan perlakuan jarvis.
Di lain sisi, anak yang diajak berkenalan malah terlihat marah.
__ADS_1
"Apa mau kalian?"
"Tidak ada"
"Jangan bohong"
"Kami hanya ingin makan"
Jarvis mengutarakan maksudnya. Anak kecil itu kemudian mengambil dagingnya.
"Apa yang kalian pikirkan? Apa kalian pikir dalam kondisi seperti ini kita masih sempat memasak makanan? Makan mentah saja!"
Anak itu tidak mau memperkenalkan diri, ia lalu memakan mentah daging ikannya. Jarvis yang melihat itu merasa tidak akan bisa melakukannya. Namun ternyata bukan cuma mereka. Anak yang lain ternyata memakan daging ikan yang masih mentah.
Jarvis dan Kamui akhirnya memakan daging itu. Rasa daging yang hambar serta tekstur daging yang keras, juga aroma dari daging yang menusuk. Ini menyebabkan mereka muntah sesekali jika memakannya. Namun apa boleh buat, itulah makanan satu satunya yang bisa mereka makan.
Hari ketiga, mereka dibangunkan dengan cara dipukuli. Salah satu monster berperawakan anjing yang merupakan salah satu petinggi berteriak dengan keras.
"Berbaris!"
Semua anak hanya bisa menutup telinganya, suara keras seakan memecahkan gendang telinga. Para monster langsung memukuli mereka semua karena tidak langsung bergegas jika diperintah.
Akhirnya mereka mulai berbaris, namun karena mereka masih anak-anak, peraturan baris berbaris masih belum mereka ketahui. Hantaman demi hantaman sekali lagi mereka dapatkan.
Kegaduhan terjadi di mana-mana, tubuh mereka penuh luka, sakit yang teramat sangat namun mereka tetap dipertahankan untuk berbaris.
Hari ketujuh, para semut kembali membawa makanan berukuran raksasa, kali ini gurita yang cukup besar. Anak-anak langsung menyerbunya. Mereka melahap gurita itu mentah-mentah.
Kamui yang mengambil gurita tersebut merasa sangat bahagia.
"Kau kenapa?"
Jarvis mulai heran dengan semangat yang aneh dari Kamui.
"Biasanya orang tuaku menyajikan makanan mentah seperti gurita, walaupun tidak sebesar ini. Namun rasanya lumayan enak"
"Begitu yah, pantas saja"
"Bisakah kalian pergi, jangan mengikutiku terus"
Jarvis dan Kamui pura-pura tidak mendengar. Anak itu pun pergi meninggalkan mereka. Sebaliknya mereka terus menerus mengikuti anak itu.
Tibalah saatnya mereka kembali berbaris. Salah satu monster kemudian berteriak.
"Berbaris!"
Ternyata dalam jangka yang sesingkat itu, mayoritas dari mereka telah mampu untuk berbaris dengan cepat. Mungkin karena dorongan ketakutan, sebab mereka yang terlambat atau lambat merespon akan dipukuli. Walaupun mereka akan tetap disembuhkan, namun rasa sakit yang diterima tak bisa begitu saja terlupakan.
"Mulai hari ini kalian akan diberi pelatihan, siapapun yang menolak akan langsung dibunuh"
Siapapun yang mendengarnya pasti akan langsung gemetar, bukan karena latihannya tetapi monster itu berbicara tentang kematian yang seakan-akan itu adalah sesuatu yang lumrah.
"Latihan pertama kalian adalah mengambil batu di atas bukit itu lalu membawanya kembali kesini"
Seharusnya ini adalah pekerjaan yang mudah, namun banyak anak yang mengeluh. Jelas saja, ini karena jarak yang ditempuh berkisar 5 Km. Monster tersebut juga menambahkan.
"Kalian harus membawa batu yang ukurannya lebih besar dari kepala kalian"
Tanpa ada intrupsi, pertanyaan, atau bahkan tindakan perlawanan, sebagian dari mereka kemudian pergi ke bukit. Jarvis dan yang lainnya masih diam di tempat. Anak yang berambut berantakan kemudian pergi.
"Apa kalian mau tetap tinggal? Anak yang lain sudah banyak yang pergi"
Jarvis dan Kamui lalu menyusul anak itu.
"Jangan buat aku repot"
"Tidak akan"
Perjalanan panjang yang melelahkan menempuh jarak 5 km, walaupun ini adalah jarak yang lumayan dekat untuk berolahraga, namun jika melihat siapa yang melakukannya, juga denganedan yang tidak mendukung.
__ADS_1
Mesir terkenal akan daerah yang gersang dan panas, namun tidak untuk sekarang ini. Sekarang telah banyak pepohonan yang Tumbuh, sehingga anak-anak tidak terlalu merasakan panas.
Perjalanan yang cukup melelahkan, banyak anak yang beristirahat di tengah jalan. Namun dengan keegoisan salah seorang dikelompok Jarvis, Jarvis dan Kamui merasa enggan untuk tidak berhenti dan terus memaksakan diri untuk melangkah.
Beberapa jam telah berlalu mereka terus-menerus melangkah hingga akhirnya mereka sampai di puncak bukit. Karena bukit itu banyak bebatuan jadi mudah untuk mencari batu yang diinginkan.
"Akhirnya sampai juga"
Melihat Jarvis yang kelelahan, anak yang berambut berantakan memutuskan untuk beristirahat.
" kita istirahat sejenak, sampai kekuatan Jarvis pulih"
Mereka akhirnya beristirahat sejenak, anak berambut berantakan memutuskan untuk memperkenalkan diri.
"Namaku Hanz"
Jarvis dan Kamui yang mendengarnya merasa bingung.
"Kukira kau tidak akan memperkenalkan diri"
Kamui merasa aneh jadi dia berbicara seperti itu. Hanz kemudian menghilangkan rasa khawatir Kamui.
"Untuk melakukan sesuatu sepertinya kita harus bekerjasama. Adakalanya nanti kita saling membutuhkan. Jadi aku ingin memperjelas sesuatu"
Jarvis dan Kamui mendengarkan dengan serius. Hanz melanjutkan perkataannya.
"Kalau berbicara kemampuan, aku jago berkelahi, bahkan aku ragu ada anak disini yang mengalahkanmu jika berkelahi"
"Sombongnya"
Jarvis menimpali maksud Hanz.
"Apa kau bilang"
"Tidak ada, he he."
Jarvis kemudian tertawa kecil lalu batuk perlahan, ia lalu memperkenalkan diri.
"Namaku Jarvis, Jarvis Kurtis. Kalau masalah kemampuan aku mungkin yang paling pintar"
Jarvis juga berusaha untuk sombong, tetapi perkataannya di balikan oleh Kamui.
"Kukira cuma Hanz yang sombong, ternyata kau juga"
Jarvis merasa kesal tapi ia tetap melanjutkan.
"Dulu aku peringkat 1 di sekolahku, bahkan beberapa kali memenangkan lomba matematika dan sains. Sekarang saja aku sudah belajar pelajaran sekolah menengah padahal aku masih sekolah dasar. Jika kita ingin berkelompok, mungkin aku bisa menyusun rencana untuk kedepannya"
Hanz yang mendengarnya menjadi takjub.
"Benarkah! Kau hebat sekali, padahal aku yang paling bodoh di sekolahku"
Kamui dan Jarvis seakan mau ketawa tapi takut dipukuli oleh Hanz, karena ia jago berkelahi. Jarvis kemudian menambahkan penjelasannya.
"Kalau hobi aku punya satu, aku suka menamai barang barangku, seperti kursiku di rumah namanya Bogem, WC kunamakan Sifilis, kalau buku kunamakan Koob, atau pulpenku yang kunamakan…."
Kamui dan Hanz merasa ada kelainan dengan argumen Jarvis. Ternyata benar kata orang, di atas orang pintar pasti ada orang gila, orang yang selalu benar.
Kamui lalu memotong pembicaraan Jarvis kemudian memperkenalkan diri.
"Aku Kamui Murakashi, kalau berbicara tentang kemampuan, mungkin ini bisa sepertinya"
Kamui lalu memajukan tangannya, tangannya kemudian mengeluarkan hawa panas.
"Kata ayahku, aku memiliki kemampuan Rubah Api Berekor Sembilan, jadi aku bisa menciptakan hawa panas dan juga tenaga yang besar. Walaupun sebenarnya tingkat lanjutan dari kemampuan ini adalah evolusi rubah berselimut api"
Jarvis lalu bertanya.
"Apakah kau sudah menguasai kemampuanmu"
__ADS_1
"Kata ayahku, ini baru kekuatan awal, bahkan aku tak bisa memunculkan satu ekor dari sembilan ekor"
Ternyata Kamui dari awal telah memiliki kemampuan layaknya manusia evolusi.