
Kota T adalah kota yang ramai, terkenal akan objek wisata pasir putihnya juga karena memiliki salah satu taman bermain terbesar di dunia.
Namun kali ini penampakkan kota sedikit berbeda dari biasanya. Para wisatawan yang berlalu lalang kini tergantikan oleh para pahlawan dan petugas. Mobil yang lewat kebanyakan adalah mobil patroli dan mobil ambulans.
Suara ceria para warga kini telah berubah menjadi isak tangis, jeritan, dan teriakan minta tolong. Bahkan beberapa bangunan hancur terbakar. Kota T kini berubah menjadi lautan api.
Di sudut jalan dalam sebuah Kafe, Jarvis dan Roy kini membatu. Sedangkan Paula hanya bisa menangis histeris. Siaran langsung TV di sudut ruangan menampilkan sosok pahlawan yang nyawanya telah berada di ujung tanduk.
***
1 jam sebelumnya.
Orgasheel berusaha menembakkan panah ke arah Ludheer dan Horta, namun Ludheer berhasil menghindari panah sesaat setelah ia melemparkan tubuh Horta. Sesaat ketika ia melihat arah belakangnya nampak anak panah melesat menuju ke lokasi ayah dan anak yang dilindunginya tadi.
Tanpa berpikir panjang ia berusa menuju ke orang di belakangnya, berusaha melesat lebih cepat. Panah yang ditembakkan kini meledak. Terlihat seorang ayah dan anaknya masih selamat tetapi mereka terlihat histeris.
Didepan mereka terlihat Ludheer yang hampir kehilangan kesadarannya sambil berdiri. Lengan kanan Ludheer kini telah hancur akibat ledakan.
Melihat hal itu, Orgasheel kemudian menghampiri Ludheer dan memukulnya. Hanya butuh satu tinjuan, Ludheer telah tergeletak di bawah tanah.
Orgasheel lalu menghampiri orang yang diselamatkan oleh Ludheer. Mereka hanya bisa merinding ketakutan.
"Panggilkan reporter!"
Perintah Orgasheel kepada orang tua yang terus memeluk anaknya. Namun karena ketakutan ia tidak bisa bergerak. Orgasheel lalu mengangkat lengannya, diikuti oleh nyala api di telapak tangannya.
"Cepat pergi atau kau mau jadi Barbeque?"
Tanpa pikir panjang orang itu lalu memeluk anaknya kemudian pergi berlari sambil membawa anaknya.
Tak berselang lama karena sudah dalam keadaan yang gaduh, reporter dan kameraman telah tiba di hadapan Orgasheel. Orgasheel dengan santainya duduk di atas tubuh Ludheer yang terkapar.
Tanpa menunggu perintah, reporter mengambil posisi untuk mewawancarai Orgasheel. Sedangkan kameraman sudah siap untuk merekam.
"Berita terkini, di kota T kini dilanda kekacauan. Kita sekarang berada di…."
"Berikan miknya!"
Tanpa bisa membuat laporan, terlebih nyawa mereka juga dipertaruhkan. Reporter hanya bisa diam ketika Orgasheel memotong laporannya.
"Tes satu dua, satu dua. Jadi aku akan langsung ke intinya. Pemilik kemampuan tebasan, aku menunggumu di gedung itu"
Orgasheel kemudian menunjuk sebuah gedung yang masih kokoh. Kemudian ia melanjutkan ucapannya.
"Jika kau tidak datang, dia mati. Jika Tim penyelamat datang dia mati. Jika pahlawan yang datang dia juga mati. Jadi hanya kau yang bisa datang. Haaa….haa...haaaa."
Tawa dari Orgasheel jadi jadi penutup ucapannya. Ia lalu menghancurkan mik di tangannya. Orgasheel kemudian berdiri sambil menarik kaki Ludheer.
Sontak hal ini membuat geram siapapun, sebab pahlawan yang mereka hormati malah ditarik tanpa perasaan. Karena kamera masih menyala, hal inipun diketahui oleh banyak orang termasuk Paula.
Di dalam Kafe tempat Paula bekerja, terlihat Jarvis sedang menutup Kafenya. Roy sedang berusaha menenangkan Paula. Paula menjadi sangat syok, tubuhnya kini tak kuasa menahan tangisannya. Melihat itu Jarvis memulai pembicaraan.
"Paula berhenti! Tidak akan ada yang berubah jika kau terus menangis"
"Sontak hal itu membuat Paula naik pitam.
"Kau senangkan melihatnya begitu"
"Hei tenangkan dirimu!"
"Jangan munafik, kau benci kan dengan ayahku. Karena kau bertengkar kemarin"
Sontak hal itu membuat Jarvis terpancing. Ia lalu mengambil kursi dan melemparkannya tepat di samping Paula.
"Tenanglah! Aku tidak membencinya, cuma hari itu kami berbeda pendapat. Lagipula dia pernah menolongku"
Paula kemudian menjadi sedikit tenang lalu menyimak perkataan Jarvis. Jarvis kemudian berjalan mendekati televisi yang tergantung di dinding. Ia lalu duduk bersila di lantai sambil menengok ke arah televisi. Ia kemudian melanjutkan perkataannya.
"12 tahun lalu, di kota H pernah terjadi insiden penyerangan monster singa dan vampir. Kalau bukan karenanya aku pasti mati waktu itu. Tidak mungkin aku membencinya kan?"
__ADS_1
"Maaf"
" Tidak apa-apa, mungkin aku akan marah jika aku berada di posisimu"
Jarvis kemudian tersenyum yang membuat Paula juga ikut tersenyum. Paula kemudian sedikit bercerita.
"Sebenarnya Ludheer bukanlah ayah sedarahku tapi hanya sebatas ayah angkatku. Walaupun begitu ia tetap kuanggap seperti keluarga yang berharga. Namun biasanya aku hanya bisa memangilnya paman"
Paula kemudian mulai berbicara sambil berlinang air mata.
"Ingin sekali rasanya aku memanggilnya ayah walaupun hanya sekali"
Setelah berkata demikian, Paula kemudian menangis namun kali ini ia menangis tanpa di tenangkan oleh siapapun. Suasana pun menjadi sedikit suram karena tangisan Paula.
Setelah beberapa saat Paula kemudian berhenti menangis, ia lalu berucap.
"Kunci keselamatan ayah hanya ada pada buronan biadab itu"
"Buronan biadab?"
Roy menjadi heran dengan maksud dari perkataan Paula.
"Iya, buronan biadab. Ini sesuatu yang mustahil jika nyawa ayahku diberikan kepada penjahat itu"
"Begitu yah, lagipula orang yang menyandra ayahmu hanya ingin bertemu dengan orang itu"
"Sial, Kenapa harus penjahat itu. Penjahat menolong orang, mustahil"
Sambil menangis Paula mengeluarkan perkataan yang membuat Jarvis dan Roy sakit hati. Jelas saja orang yang dicari Orgasheel yaitu sang penebas yang tidak lain adalah Jarvis. Kini suasana menjadi hening. Mereka tetap memantau keadaan hanya lewat televisi yang berada di sudut ruangan.
Roy kemudian memulai pembicaraan.
"Jarvis, apakah kau bisa mengalahkannya?"
"Entahlah, kalau tanpa pedang aku pasti kalah tapi dengan pedang, peluangnya tidaklah nol"
Jarvis menjawab pertanyaan Roy dengan menggosok lehernya yang tidak pegal. Roy yang bertanya kepada Jarvis membuat Paula terbelalak terheran-heran. Jarvis kemudian bertanya balik.
"Biasanya sehari"
"Kalau begitu, lebih baik kita merampok toko pedang"
Setelah mengucapkan itu, Jarvis kemudian berdiri. Paula yang melihat tingkah laku mereka kemudian menyadari sesuatu.
"Kalian…"
"Apakah penting membahas itu sekarang?"
Jarvis yang memotong pembicaraan Paula berjalan ke atas lantai dua yang diikuti oleh Roy. Tak tinggal diam, Paula berusaha mengikuti mereka. Sesampainya di atas lantai dua, dilihatnya pemandangan yang tidak asing.
Roy kini bertelanjang dada, hanya memeakai celana karet. Sedangkan Jarvis memakai jaket Hoodie. Saat Jarvis ingin memakai masker gasnya, Paula tiba-tiba berbicara.
"Kalian mau pergi ke mana?"
"Jalan-jalan" kata Jarvis.
"Lebih baik kau rahasiakan hal ini, kami berani jamin ayahmu kembali" tambah Roy dengan senyum lebarnya.
Mendengar hal itu Paula berinisiatif untuk ikut.
"Aku akan ikut"
"Jangan, cukup aku dan Jarvis yang pergi"
"Berbicara semanis apapun tentang menyelamatkan seseorang, penjahat tetaplah penjahat. Kau jangan terlibat"
Setelah Jarvis berkata demikian, ia pun lalu memakai maskernya. Dengan kemampuan Jarvis ia lalu membuat Gerbang monster. Mereka pun hilang dari pandangan Paula.
Saat itu Paula teringat dengan perkataan Jarvis dan Roy.
__ADS_1
[Jarvis, apakah kau bisa mengalahkannya?]
[Entahlah, kalau tanpa pedang aku pasti kalah tapi dengan pedang, peluangnya tidaklah nol]
"Pedang, ohh iya pedang. Kata Jarvis ia memerlukan pedang"
Paula kemudian merogok dompetnya. Di dalam dompetnya terdapat sebuah cincin.
"Cincin teleportasi. Apakah tidak apa-apa jika ku gunakan saja kemampuan ku"
Paula tampak ragu saat akan menggunakan kemampuannya. Lalu ia menampar kedua pipinya dengan tangannya.
"Sekarang atau tidak sama sekali"
Paula lalu menendang pintu kamar Jarvis, ia sedang mencari sesuatu.
"Ketemu"
Sebuak jaket Hoodie kini di genggamannya. Ia lalu memakainya. Ia juga menemukan sebuah kain dan memakainya juga. Kini tampilannya sudah tidak bisa dikenali lagi.
"Teleportasi ke gudang senjata milik ayah"
Saat itu ia tiba-tiba menghilang.
Di sebuah ruangan yang nampak sunyi, berbagai senjata ada di situ. Mulai dari senjata tumpul, senjata tajam, hingga senjata api. Saat itu tiba-tiba muncul sesosok manusia menggunakan Hoodie.
Paula kini sampai di tempat tujuannya. Ia lalu berlalu lalang mencari sesuatu. Saat itulah ia kemudian terhenti di sebuah pintu khusus.
"Seharusnya ini pintunya, aku pernah diajak untuk melihat berbagai senjata oleh ayah. Tempat penyimpanan senjata khusus kesukaan ayah"
Saat Paula membuka pintu itu, sesuatu yang di carinya telah di dapat. Ia lalu mengambil senjata itu lalu memasukkannya ke sebuah tabung kaca berisi air. Tak puas sampai di situ ia kemudian mencari sesuatu lagi, di dapatkannya roket peluncur senjata.
Ia lalu masukkan tabung kaca tersebut ke dalam roket. Walaupun di sebut roket, namun ukurannya terbilang kecil. Hanya berukuran diameter 25 cm dan panjang 250 cm. Kini roket itu siap di luncurkan.
"Ahhhh… sial aku tidak bisa menggunakannya. Dasar bodoh… bodoh.. bodoh"
Paula lalu mengambil koper dan menaruhnya mengisinya dengan sesuatu. Ia Kemudian menghilang kembali.
***
Di sisi Jarvis dan Roy, mereka kini berada di tempat kejadian. Puluhan petugas sedang memantau keadaan.
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Cukup memantau dulu"
"Apakah kau bisa mengambilnya"
"Yap, selama kau bisa menghalangi yang lainnya"
Ternyata mereka sedang bersembunyi untuk mencuri pedang salah satu pahlawan. Dengan Jarvis sebagai eksekutor dan Roy sebagai pendamping sehingga misi pencurian berhasil.
Sesaat kemudian smartphone milik Roy berdering.
"Dasar bodoh, bunuh smartphone mu!"
"Iya iya"
Bukannya menonaktifkan, Roy malah mengangkat panggilannya.
"Ada apa Paula"
Ternyata orang yang menelpon adalah Paula.
"Aku punya pedang, sekarang aku berada di gedung dekat tempat ayah ditahan. Sekarang berikan smartphonenya ke Jarvis."
Roy lalu memberikan smartphone miliknya ke Jarvis.
"Sekarang aku sedang diburu oleh pahlawan lain. 10 detik. Itu waktu yang bisa ku berikan"
__ADS_1
Tanpa menunggu aba-aba Jarvis berlari yang diikuti oleh Roy yang telah paham situasinya.
10 detik lagi sebelum senjata baru milik Jarvis terungkap.