
Setahun telah berlalu sejak Jarvis ditangkap, ia kini sudah mulai membiasakan diri dengan rutinitas yang bagaikan neraka itu.
Kini tiba saatnya mereka untuk memilih, Kamui dan Hanz mulai berpikir siapa yang akan mereka pilih. Saat yang lain mulai berpikir, Jarvis kelihatan mulai gelisah.
Saat Hanz menoleh ke Jarvis, ia melihat Jarvis dalam keadaan yang aneh. Nafasnya mulai memburu, pandangannya seperti seorang yang ketakutan, juga lengan dan kaki yang dari tadi gemetaran. Hanz lalu memanggil Jarvis.
"Jarvis"
"Jarvis, apa kau mendengarkan ku"
Hanz kemudian berteriak.
"Jarvis"
Saat panggilan ketiga barulah Jarvis mulai tersadar.
"Ada apa?"
"Seharusnya aku yang bertanya begitu, kau kenapa?"
"Aku tidak apa-apa"
Kamui yang kurang peka dengan situasi, mulai mengganti topik pembicaraan.
"Siapa yang akan kalian pilih? aku masih bingung"
Hanz hanya bisa melotot melihat Kamui. Kamui yang tidak peka malah heran.
"Aku juga bingung"
Jarvis hanya menjawab pertanyaan Kamui, bukannya pertanyaan dari Hanz, padahal Hanz yang bertanya dahulu. Mereka akhirnya melihat situasi. Jarvis lalu membuka diskusi.
"Sepertinya mereka adalah monster yang sangat kuat. Aku sepertinya paham dengan kemampuan dari monster di atas"
"Apakah kau yakin" Kamui penasaran.
"Sedikit, namun lebih mending untuk dipertimbangkan dari pada tidak sama sekali"
"Tolong jelaskan"
Hanz yang juga penasaran ingin mendengarkan penuturan dari Jarvis.
"Ada beberapa nama dari mereka yang sama persis dengan nama dari legenda. Misalnya saja Diablo, walaupun kita baru mengetahui wujudnya seperti apa, namun semua orang tahu bahwa Diablo itu anak dari Raja Iblis, Lucifer. Ada lagi, monster yang berwujud gadis cantik itu, dalam legenda Yunani namanya sering digunakan sebagai gambaran monster yang akan membuat pelaut tertarik lalu memakannya"
"Siren?"
"Betul, ternyata legenda itu benar adanya karena sosok Siren berada tepat di depan kita"
Siren yang punya telinga yang peka lalu melihat kelompok Jarvis, mata mereka bertiga bertemu dengan mata Siren. Siren lalu memperlihatkan pada mereka bertiga wujud aslinya. Sontak saja Jarvis dan yang lainnya merasa ketakutan.
Walaupun wujud aslinya hanya diperlihatkan ke mereka bertiga, namun ini sangat membuat Siren tertawa seram, walaupun tidak ada yang menyadarinya. Wujud siluman air dengan muka keriput, hanya kulit membungkus tulang. Serta penuh dengan sisik dan sirip di sekujur tubuh, serta taring yang panjang.
Jarvis lalu perpaling, juga menyuruh Kamui dan Hanz ikut memalingkan wajahnya.
"Jangan melihatnya"
"Aku sangat ketakutan, tak kusangka tubuhnya seperti itu"
Hanz yang kuat ternyata bisa ketakutan juga. Hanz lalu melirik ke arah salah satu petinggi monster.
"Sepertinya aku akan memilih dia"
Hanz lalu menunjuk monster dengan ukuran yang kecil namun penuh dengan bulu, Diablo.
Merasa tidak mau tertinggal, Kamui lalu memilih juga. Tekad yang ingin menjadi kuat membuat Kamui ingin memilih monster yang sangat kuat.
"Aku akan memilih monster yang diperkenalkan terlebih dahulu"
Maksud kamui adalah Athos, raja raksasa. Dengan karisma yang terpancar membuat Kamui memantapkan pilihannya.
Kini hanya Jarvis yang belum memilih, ia tampak gelisah. Ia lalu menghembuskan nafasnya.
"Sepertinya aku harus memilih juga. Kalau begitu aku akan memilih monster yang membawaku kesini tahun lalu"
Yang dimaksud Jarvis adalah Ibaraki Doji, oni penjaga Gerbang Rashomon. Walaupun ia berkata demikian, tubuh Jarvis seakan berkata lain.
__ADS_1
"Apakah kau baik-baik saja"
Hanz kembali merasa khawatir ke Jarvis.
"Aku akan berbohong jika ku jawab baik-baik saja"
"Masih belum terlambat, kau masih bisa merubah pilihanmu"
"Ini keputusanku, aku akan bertaruh"
Sesaat setelah semua orang telah menentukan pilihan. Anubis lalu memberi perintah.
"Berdirilah kalian di depan petinggi yang kalian pilih"
Mendengar itu semua orang lalu berbaris sesuai dengan pilihan mereka. Karena Anubis tidak ikut serta dalam pelatihan dan hanya sebagai pengawas, maka hanya ada sembilan petinggi yang akan melatih anak-anak tersebut.
Ketika anak-anak berbaris di hadapan Ibaraki Doji, ia lalu bertanya kepada seorang anak yang berdiri paling depan.
"Mengapa kau memilihku?"
Anak yang ditanya agak kesulitan untuk menjawab pertanyaan tersebut.
"Karena anda tidak terlalu menyeramkan ketimbang yang lain"
BOOM!
Suara kepala yang meledak mengagetkan semua orang di situ. Anak-anak tampak ketakutan tapi mereka seakan tertahan oleh sesuatu sehingga mereka tidak bisa bergerak. Ia lalu bertanya kepada seorang anak yang berada di urutan kedua.
"Mengapa kau memilihku?"
Tak mampu menjawab pertanyaan sebab diliputi rasa kekhawatiran yang besar, anak itu terlihat ketakutan.
Lagi-lagi kepala anak itu juga meledak. Ibaraki Doji kemudian bertanya ke anak selanjutnya.
"Mengapa kau memilihku?"
"Karena kau sangat kuat"
"Darimana kau tahu aku kuat?"
Kini mereka tahu harus memberikan alasan yang memuaskan.
"Mengapa kau memilihku?"
"Karena aku ingin kuat"
Kepala anak itu juga meledak. Tak ada jawaban yang mampu untuk memuaskan hasrat petinggi tersebut.
Para petinggi monster yang lain tidak melakukan hal yang sama yang dilakukan Ibaraki Doji. Mereka benar-benar memberikan kesempatan kepada seluruh anak untuk mengikuti mereka.
Sedangkan para anak yang melihat kebengisan Ibaraki Doji merasa ketakutan. Tidak sedikit yang merasa bersyukur karena tidak berada di barisan tersebut.
Kamui dan Hanz yang melihat kengerian di depan mereka tak bisa berbuat apa-apa. Karena terlalu sering melihat anak seusianya mati oleh monster, pemandangan di depan mereka menjadi hal yang lumrah.
Namun untuk beberapa alasan mereka tampak khawatir. Jelas saja, sebab Jarvis yang merupakan salah satu dari teman mereka kini diambang Kematian. Walaupun kejadiannya di depan mata kepala mereka sendiri, namun mereka tak mampu berbuat apa-apa.
Saat ini tubuh anak-anak berserakan tanpa kepala. Kini lebih dari dua puluh anak-anak yang mati. Saat itulah tiba saatnya Jarvis berbicara.
"Mengapa kau memilihku?"
Bukannya menjawab pertanyaan dari Ibaraki Doji, Jarvis malah memberikan peringatan.
"Aku hanya ingin membunuhmu, lebih baik kau membunuhku sekarang"
Sontak hal ini membuat semua yang mendengarnya menjadi khawatir. Dengan jawaban yang sederhana, Ibaraki akan membunuh. Namun sekarang Jarvis memberikan jawaban yang nyeleneh dengan tatapan mata yang serius.
Tapi ada keanehan pada Ibaraki, ia tidak membunuh Jarvis. Ia lalu mengangkat tangannya lalu melebarkan telapak tangannya. Saat tangannya dijatuhkan, semua anak yang berada di belakang Jarvis langsung mati penuh luka kecuali Jarvis.
"Aku memilihmu"
Ibaraki ternyata memilih Jarvis sebagai muridnya. Walaupun Jarvis telah dipilih, namun ia merasa kecewa dan marah. Puluhan mayat anak-anak kini berserakan di sekitarnya.
Ibaraki lalu membawa Jarvis menjauh dari yang lainnya dengan menggunakan gerbang monster. Kini mereka hanya berdua saja.
"Awalnya aku ingin membunuh semua anak itu, tapi aku melihatmu, aku berubah pikiran. Hanya perlu satu murid yang akan aku latih"
__ADS_1
Yang dimaksud Ibaraki adalah semua anak yang memilikinya. Jarvis hanya bisa mendengar karena tubuhnya tak mampu untuk bergerak seakan ditahan oleh sesuatu padahal ia tak diikat atau dipegang.
"Namaku Ibaraki Doji, biasanya kalian memanggilku vampir padahal aku adalah Oni penjaga Gerbang Rashomon. Mulai sekarang kau akan dilatih untuk menguasai kemampuanku."
Ibaraki lalu menunjuk gerbang monster yang digunakannya tadi.
"Kau akan mempelajari itu juga, kemampuan itu, seluruh petinggi monster menguasainya. Jadi itu belakangan"
Ibaraki lalu mengambil pedangnya, ternyata sebuah monster raksasa muncul dari belakangnya.
"Yang akan kuajarkan kepadamu adalah teknik manipulasi darah. Semua vampir mampu menggunakan teknik ini. Namun teknikku sedikit berbeda"
Monster itu lalu menerjang Ibaraki.
"Perluasan Tebasan, Pelepasan Pertama, Tanpa Bilah"
Sekilas Ibaraki hanya melepaskan pedang dari sarungnya namun monster yang menyerang langsung tertebas di leher tanpa sebab.
"Dengan teknik ini, kau bisa membunuh siapapun baik itu monster atau manusia selama mereka mempunyai darah"
Teknik ini adalah teknik yang digunakan Jarvis saat melawan Orgasheel. Walaupun teknik ini memiliki kekurangan pada jarak tebasannya, namun sangat berbahaya bagi musuh. Semakin panjang bilahnya semakin luas daerah tebasannya.
Sesaat kemudian ternyata mereka dikepung oleh monster dengan berbagai bentuk, Jarvis mau memperingati namun ia tidak bisa. Tubuhnya seakan bukan miliknya, bahkan untuk berbicara sekalipun.
"Pelepasan kedua adalah teknik yang digunakan untuk memanipulasi darah indra lawan, Marionette. Teknik hipnotis terkuat. Berbeda dengan ilusi, yang hanya mengacaukan beberapa Indra lawan, ini dapat mengacaukan seluruh Indra lawan, bahkan untuk mengendalikan seluruh monster. Teknik ini juga ku gunakan padamu"
Ternyata benar kata Ibaraki. Monster yang mengepung mereka ternyata adalah monster yang dipanggilnya. Juga Jarvis yang sedari tadi tidak mampu bergerak juga dipengaruhi oleh kekuatan Marionette.
"Teknik ketiga adalah teknik pembunuh massal. Membunuh siapapun dalam radius perluasan"
Ibaraki lalu mengangkat pedangnya kemudian menebas kosong di depan Jarvis dengan lembut namun bertenaga.
"Perluasan Tebasan, Pelepasan Ketiga, Ruang Operasi"
Seketika itu juga seluruh monster yang ada di situ langsung mati terbelah dua, seakan mengikuti arah pedang Ibaraki yang menebas secara vertikal.
"Teknik ini adalah teknik milik vampir"
Ibaraki sudah sering dipanggil vampir oleh petinggi monster yang lain, jadi dia tidak mempermasalahkan mau dipanggil apa sekarang.
"Namun sekarang teknik ini adalah milikmu. Namun bagi manusia ada batasnya. Pelepasan pertama harus menggunakan senjata dari tubuh monster. Pelepasan kedua harus menggunakan senjata yang panjang dan harus dari tubuh monster. Kalau pelepasan ketika harus menggunakan pedang dari tubuh monster."
Jarvis sekarang paham, ia hanyalah manusia biasa namun sekarang ia harus mampu untuk membuat teknik itu menjadi miliknya.
'Aku harus menguasai teknik tersebut, sehingga bisa lepas dari situasi ini'
Jarvis seakan merencanakan sesuatu, ia ingin agar bisa pergi dari tempat ini. Karena keadaan sekarang tidak ada bedanya dengan seorang yang dijajah, atau bahkan budak.
'Aku bahkan tidak minta pamit ke Kamui dan Hanz. Ini cukup membuatku depresi. Bagaimana kabar kalian? Tunggu aku'
Jarvis yang melamun memikirkan sesuatu tiba-tiba tersadar dengan sendirinya sebab ia langsung jatuh. Bukannya mengeluh ia malah senang.
"Akhirnya"
Jarvis sangat senang sebab tubuhnya yang dari tadi tidak bisa bergerak sekarang mampu untuk bergerak lagi.
Ibaraki kemudian berjalan mendekati seekor harimau yang mati dengan taring yang panjang, ia lalu mencabut salah satu gigi taring monster itu.
"Apa yang kau lakukan?"
Rasa penasaran Jarvis tak kuasa menahannya. Ibaraki yang melihatnya hanya tersenyum.
"Menempa pedang"
Setelah berkata seperti itu, Ibaraki langsung mengeluarkan kekuatan petir. Kekuatan petir adalah ciri khasnya. Ia lalu memusatkan kekuatan petir ke dalam taring harimau.
Saat kekuatan petir perlahan-lahan memudar, nampak sebuah pedang sirasaya dari taring monster, mulai dari gagang hingga ujung bilah yang merupakan gigi taring monster harimau yang dikikis.
Pedang itu lalu dilemparkan ke Jarvis, Jarvis pun menangkapnya.
"Untuk hidangan pembuka latihan kita, bagaimana dengan duel maut?"
Seakan tahu maksud Ibaraki, Jarvis lalu mengangkat pedangnya, ia seakan bersiap dengan sesuatu yang tidak terduga. Dari kejauhan datang seekor harimau yang merupakan anak dari harimau yang dilihat Jarvis tadi.
"Pertunjukan dimulai"
__ADS_1
Harimau kemudian menyerang Jarvis namun Jarvis tak tinggal diam, ia juga langsung menyerang harimau tersebut.