Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Karena Teman Butuh Alasan


__ADS_3

Karena Ibaraki menghancurkan tiga senjata terkutuk, dari serpihan debu mayat Gheorg hanya menyisakan kapak kembar Timayos dan baju zirah Lord Khronos.


Ibaraki lalu mengambil keduanya. Ia kemudian melompat ke arah ras Elf yang ternyata ada Jarvis di situ.


"Kalian tak apa-apa?"


Ibaraki tampak kaget, dihadapannya banyak sekali ras elf yang tergeletak di tanah. Bahkan sebagian dari mereka terluka, tapi itu hanya luka gores dan memar akibat efek serangan Ibaraki.


Salah satu elf kemudian maju ke depan.


"Siapa kau?"


"Tidak penting, karena urusan disini telah kelar. Kami akan pergi"


Ibaraki berusaha untuk pamit. Ini sudah menjadi kesepakatan bahwa tak boleh mengumbar identitas mereka.


Tiba-tiba beberapa ras akhirnya bergabung dengan mereka.


Ras Dwarf dengan Athos datang dari arah Timur.


Ras Binatang bersama Hera yang menunggangi Vitoria yang berubah menjadi serigala.


Tiga ras kini berkumpul bersama dalam satu tempat.


Ibaraki yang melihat ras Dwarf langsung melemparkan baju zirah Lord Khronos.


Saat itu semua ras Dwarf yang melihat baju zirah itu dilemparkan ke hadapan mereka, menjadi kaget.


"Ini adalah warisan leluhur kami, dari mana kau mendapatkannya"


"Belanja di mayat seseorang"


Seakan ingin memberikan humor, Ibaraki langsung ketawa. Namun cuma ia sendiri yang tertawa. Yang lain memandangnya dengan tatapan berbeda.


"Apa dia hendak membuat lelucon?"


Hera berbisik ke Jarvis, namun Jarvis juga tak tahu.


Semua ras Dwarf langsung membungkuk memberi hormat tanda terima kasih. Salah satu dari mereka kemudian memakainya.


Namun Ibaraki tak menghiraukannya. Ia malah tertarik dengan Jarvis.


"Kenapa kau terluka?"


"Tidak apa-apa. Biasa terjadi"


Ibaraki lalu mendekati Jarvis, dipegangnya kepalanya kemudian menarik sebuah anak panah cahaya berwarna hijau kemudian menghancurkannya.


"Bagaimana kau bisa menariknya?"


Hera sangat penasaran dengan kemampuan Ibaraki.


"Kemampuan cahaya dari pedang Excalibur. Semua cahaya bisa di manipulasi oleh pedang ini"


Ibaraki lalu menunjukkan pedang Excalibur yang sudah dalam bentuk pedang biasa, bukan pedang cahaya.


"Akhirnya lukamu bisa disembuhkan"


Hera sangat senang, namun Jarvis malah heran melihat Hera yang terus saja kegirangan.


Ibaraki lalu menyembuhkan luka Jarvis.


"Padahal aku ingin menyembuhkan lukaku sendiri" kata Jarvis.


"Tidak boleh, kekuatan dari burung Phoenix tak boleh kau tunjukkan ke sembarang orang. Kau akan jadi target jika tak mendengar"


Nasehat Ibaraki membuat Jarvis sadar dengan kemampuan miliknya.


Kini Jarvis telah sembuh seutuhnya.


Tiba-tiba sebuah panah menembus perut Hera.


Dari samping terlihat para ras Elf menaruh rasa benci ke Hera. Jelas saja, Hera adalah ras Elf dengan rambut hitam, ini menandakan bahwa ia adalah elf terkutuk.


Dengan tombak yang dipegang Jarvis, ia lalu memukul seorang yang menembak Hera, tapi tombaknya berhasil ditahan oleh Athos.


"Ayo kita pulang"


Ibaraki lalu mengajak yang lainnya pulang. Suara tawa langsung terpancar dari wajah para prajurit ras Elf.


Ibaraki langsung menghentakkan pedangnya.


"Siapa yang masih tertawa akan kami bunuh"


Satu dari prajurit elf mendekati Ibaraki dengan lagak congkak.


Saat elf itu mendekati Ibaraki, kepalanya langsung terpenggal.


Jarvis yang memenggalnya dengan menggunakan tombak.

__ADS_1


Ras Dwarf dan ras binatang tak berani ikut campur. Kekuatan Jarvis dan yang lainnya telah mereka lihat saat menyelamatkan mereka. Tak akan ada kata menang jika melawan.


"Jika ada yang keberatan silahkan maju"


Ibaraki langsung mengancam ketiga ras tanpa terkecuali. Padahal banyak petarung dengan kemampuan kelas S disana.


Niat membunuh yang begitu kuat membuat mereka menjatuhkan senjatanya dengan sengaja, tanda mereka menyerah.


Ibaraki dan Athos lalu pergi sambil membuka gerbang. Sedangkan Jarvis berusaha merangkul Hera yang terkena panah.


Keempat orang itu akhirnya meninggalkan ketiga ras dengan perasaan katakutan yang berlebihan.


***


Di dalam makam naga, Jarvis menarik panah di perut Hera kemudian menyembuhkan tubuhnya dengan memanggil Alpha.


Dengan kemampuan api penyembuh, Hera berhasil terselamatkan.


"Kenapa kau menghalangiku tadi?"


"Jika kau yang seorang manusia mencoba melindungi Hera yang merupakan elf terkutuk. Seluruh ras elf akan menyerbu ras manusia. Bahkan jika kau menang, tak bisa dihitung jumlah korban dari pihak manusia"


Penjelasan Athos harusnya diterima oleh Jarvis, namun Jarvis terlihat masih bingung.


"Siapa elf terkutuk"


Jarvis tak mengetahui siapa yang dimaksud oleh Athos.


Athos lalu mulai menjelaskan bagaimana bisa Hera di sebut ras elf terkutuk.


Kini Jarvis hanya bisa mengusap kepalanya.


"Cuma karena warna rambut, apa mereka bodoh"


Mendengar keluhan Jarvis, Ibaraki lalu menghampiri.


"Bahkan aku yakin jika kau adalah teman pertamanya"


Jarvis kini merenung.


Sepintas ia teringat dengan perkataan Hera.


'Apa yang kau tahu tentangku'


Kata-kata itu kini terngiang di pikiran Jarvis.


"Jangan terlalu ribut"


Ternyata Hera telah sadar disamping Jarvis walaupun tubuhnya tak membiarkannya beranjak dari tempat itu.


"Maaf" kata Jarvis.


"Untuk apa?" Hera hanya bisa heran dengan maksud Jarvis.


"Entahlah"


"Dasar bodoh"


"Aku benar-benar tak tahu apa yang kau alami selama ini"


"Tenang saja, sudah biasa"


Mereka kini hanya diam kembali.


"Hey Jarvis"


"Ada apa?"


"Apa kau ingat ketika kita baru menjalin kontrak"


"Siapa yang bisa lupa jika nyawanya hilang setengah"


"Aku senang"


"?"


"Aku senang bukan karena kau menyelamatkanku, tapi aku senang karena kau yang telah menyelamatkanku"


"Sama"


Tiba-tiba Hera menjatuhkan air mata di pipinya. Tak tahu apa yang telah menimpanya, Jarvis hanya berusaha untuk menghiburnya.


Beberapa jam telah berlalu, Ibaraki lalu menghampiri Jarvis.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang?"


"Pulang"


"Tahan dulu, kau akan berlatih selama seminggu di sini melawan Athos sedangkan Hera akan ku ajari cara menggunakan Teori Kemampuan"

__ADS_1


Jarvis langsung kaget dengan ucapan Ibaraki. Sedangkan Ibaraki tersenyum dengan penuh ambisi.


"Kenapa kau membatu kami?"


"Unicorn, kekuatan kalian masih kurang untuk membantu kami menglahkan mereka"


Ternyata Ibaraki dan Athos juga mengincar kemenangan terhadap organisasi Unicorn.


***


7 hari telah berlalu.


Mereka akhirnya pulang ke tempat mereka masing-masing.


Di rumah Jarvis, Jarvis dan Hera kini disidang oleh Paula dan Roy.


"Aku sudah tak tahu lagi, kau meninggalkan misi selama seminggu hanya untuk latihan"


Roy merasa kecewa dengan Jarvis.


"Tidak masalah jika ia pergi selama seminggu atau tidak. Masalahnya adalah kenapa perempuan ini ada di sini"


Paula seakan tertekan, bagaimana mungkin musuh yang hampir membunuh mereka harus mereka kasihani.


Hera hanya berusaha tetap tenang, sedangkan Jarvis kini berusaha untuk tersenyum tapi tak bisa. Pinggir mulutnya terus saja bergetar akibat senyum yang dipaksakan.


"Cuma butuh alasan agar kami bisa memaafkanmu. Apa pembelaanmu"


"Dua petinggi monster siap membantu kita melawan Unicorn. Athos dan Ibaraki Doji"


Seketika Roy tak bisa berbicara. Ini sudah diluar ekspektasinya. Jangankan marah, sekarang ekspresi wajah Roy seakan bahagia.


Melihat itu, Paula tak mau kalah.


"Bukan berarti kami sudah senang jika kita mendapatkan dukungan dari petinggi monster, namun apa gunanya wanita ini ada di sini. Dia bahkan tak bisa menunjukkan kekuatannya. Padahal waktu itu dia hampir membunuh kita, apa kalian tak ingat"


Paula kini menyudutkan Hera. Hera yang disudutkan malah membuat suatu lelucon.


"Apa kau sedang hamil?"


Sontak hal ini membuat Jarvis dan Roy hampir kelepasan tertawa. Mereka berdua berusaha menahan tawanya.


"Apa maksudmu?"


Paula sangat marah, iya yakin jika belum pernah tidur dengan lelaki manapun.


"Jika bukan hamil, berarti benar dugaanku. Kau mengalami penggumpalan aura"


Semua orang yang ada di situ langsung heran maksud Hera, bahkan Jarvis sekalipun.


"Bisa jelaskan?"


"Jadi aku dan anak ini memiliki kemampuan yang sama, yaitu Pemegang. Senjata apapun yang berhasil di pegang akan mampu untuk dikendalikan. Namun ada batasannya, biasanya disebut penggumpalan aura"


Hera mulai menjelaskan, Paula mulai tertarik dengan itu.


"Apa itu penggumpalan aura?"


"Sesuatu yang menghambat seseorang menjadi Pembangkit"


Sontak saja Jarvis langsung tepuk jidat, Roy pun langsung kecewa mendengarnya.


"Apa maksudnya?"


Paula semakin tak mengerti. Roy lalu menjelaskan.


"Artinya kau memiliki kemampuan kelas S tapi kau tak bisa menggunakannya"


Rasa kekecewaan langsung muncul di benak paula. Merasa tak setuju dengan Roy, Hera mulai menjelaskan.


"Siapa yang bilang tidak bisa, hanya saja timbunan aura di perutnya harus di lebur"


"Apa kau bisa meleburnya?" Tanya Roy.


"Tergantung, jika ia bisa, aku juga bisa" kata Hera.


"Bisa jelaskan dengan lebih mudah?" Roy makin tak mengerti.


"Masalah seperti ini harus dibimbing oleh seorang guru. Masalahnya sekarang, aku tak melihat ada orang yang berpotensi atau mampu untuk menjadi guru dengan pengetahuan yang lebih hebat dariku" kata Hera.


Seketika Paula lalu beranjak dari tempat duduknya. Ia lalu pergi ke bawah dengan tergesa-gesa.


Setelah beberapa menit, ia kembali dengan beberapa cemilan dan teh hangat.


"Mau cemilan?"


Paula kini menawari Hera dengan beberapa cemilan.


Jarvis dan Hera akhirnya saling bertatapan, tanda mereka senang karena telah berhasil meyakinkan Roy dan Paula.

__ADS_1


__ADS_2