
Sepulang dari sekolah, Jarvis melihat beberapa murid yang berada di halaman belakang gedung tersebut. Halaman tersebut sangat luas. Ternyata Jacob memberi pengajaran ke murid yang mendatanginya.
Jarvis kemudian melihat Jacob mengajari beberapa murid menggunakan pedang. Terlihat ada sekitar tujuh orang di sana.
'Bukankah dia bilang jika kemampuannya adalah penguatan tubuh' batin Jarvis.
Terlihat Jacob berusaha untuk melatih murid agar mampu menggunakan teknik tebasan yang kuat.
"Jadi akan ku perlihatkan cara menggunakan tebasan aura"
Jacob lalu memegang pedang besar, ia lalu mengangkat pedangnya. Pedang itu kemudian berselimut aura. Satu tebasan berhasil menghancurkan tanah di depannya.
Jarvis yang melihat itu malah tidak puas.
'Teknik tebasannya salah'
Jarvis lalu menghampiri Jacob. Ia merasa tidak enak jika tak memberitahukan kesalahannya.
Semua orang bertepuk tangan terhadap kemampuan pedang Jacob yang kuat. Namun tidak dengan Jarvis. Jarvis terus mendekat ke arah Jacob.
"Teknikmu salah"
Jacob memberikan ekspektasi yang tinggi ke Jarvis, jadi jika Jarvis berkata demikian, mungkin saja itu benar.
Namun tidak dengan para murid. Para murid merasa jengkel dengan Jarvis. Bahkan salah satu murid hendak menegurnya namun ditahan oleh teman di sampingnya.
Jarvis lalu hendak mengambil pedang Jacob.
"Boleh ku pinjam"
"Silahkan"
Sebuah pedang besar kini berada di tangan Jarvis. Ia lalu memposisikan dirinya dalam mengayunkan sayatan terbang yang biasa ia pakai.
"Pertama-tama angkat pedangmu agar mudah mengumpulkan aura"
Jarvis lalu mengangkat pedangnya.
"Saat menebas ke depan, usahakan salah satu kakimu maju selangkah"
Jarvis lalu melangkahkan kaki kanannya.
"Ayunkan pedang ketika semua aura terkumpul di pedang sudah cukup kuat"
Jarvis lalu mengayunkan pedangnya.
Bukannya daya penghancur kuat yang muncul, malah suara tawa.
Para murid tertawa terbahak-bahak sebab tak ada apapun yang spesial dari tebasan pedang Jarvis.
Jarvis lalu memberikan pedang itu ke Jacob.
"Sekarang giliranmu"
Perintah itu seakan memberi tahu Jacob, ada sesuatu yang berbeda dari tebasan milik Jarvis.
'Terlalu lembut namun bertenaga'
Jacob yang terkesan berusaha melakukan hal yang sama
"Ada dua kelemahan dari tebasanmu tadi. Pertama kuda-kuda. Kuda-kudamu terlalu longgar"
Jarvis mulai menjelaskan. Sambil menjelaskan, ia mencari sesuatu. Terlihat rantai jelek bekas pelatihan yang kini hendak dibuang. Jarvis lalu memungutnya.
__ADS_1
"Kedua adalah cakupan aura. Jumlah aura yang terkumpul harus pas. Tak boleh kurang, tenaga yang dikeluarkan akan sedikit. Juga tak boleh lebih, tanganmu bisa hancur hanya dalam satu kali tebasan"
Jarvis lalu melilit bilah pedang milik Jacob dengan rantai.
"Rantai ini akan mengatasi kekurangan kedua. Bukan pedang yang akan memutuskan rantai ini, tapi aura yang kuat dari bilah pedang"
Jacob mulai paham. Para murid kini mulai menaruh harapan pada penjelasan Jarvis. Belum pernah mereka mendapatkan materi seperti ini.
Jacob bersiap menebas. Pedangnya kemudian diangkat, Jarvis lalu mengencangkan kekuatan lilitan rantai. Rantai yang dililitkan oleh Jarvis di pedang kemudian dililitkan lagi di kakinya kemudian melilitkannya ke tangannya. Kaki dan tangan Jarvis kini sebagai Laras senapan yang akan menembakkan peluru.
"Jika rantai ini putus, disitulah saat kekuatan aura pada pedang berada pada kondisi yang paling stabil" teriak Jarvis.
Jacob lalu mengeluarkan auranya. Memang agak lama dari saat Jacob mengayukan pedang auranya tadi, namun terlihat jumlah aura di pedang Jacob mulai besar.
Perlahan Jacob melangkahkan salah satu kakinya kedepannya. Posisi yang telah siap menebas.
Rantai tiba-tiba putus akibat meleleh oleh aura dari pedang Jarvis.
Sebuah tebasan aura berhasil dilancarkan oleh Jacob. Tebasan itu terus bergerak menghancurkan apapun di hadapannya.
Saat itulah Jacob mulai panik akan kekuatannya sendiri. Kekuatan tebasannya terus melaju. Seketika ada seseorang yang berhasil menghentikan serangannya.
"Terima kasih Jarvis"
"Tak masalah"
Ternyata Jarvis yang menghentikannya dengan sebuah tombak hitam bermata merah.
Jarvis lalu menghampiri Jacob.
"Terlalu lemah, terlalu lambat, tebasanmu masih harus diasah lagi. Bahkan lariku lebih cepat dari tebasanmu"
Jacob hanya tertawa.
"Kelas E"
Jarvis lalu pergi meninggalkan Jacob beserta para muridnya.
Saat Jarvis pergi, semua murid masih tak bisa percaya dengan sosok hebat dengan kemampuan kelas E.
Jacob sempat melihat sepintas apa yang terjadi.
"Tombak itu datang menghampiri Jarvis"
Semua murid kaget mendengarnya.
"Kemampuan untuk menarik senjata dari jarak jauh adalah kemampuan seorang kelas A. Bagaimana ia bisa menguasainya?"
Jacob masih bingung dengan kemampuan Jarvis. Apalagi para murid yang berada di situ.
Kesan guru tak becus kini hilang di benak mereka, para murid akhirnya mengakuinya sebagai guru yang handal.
Walaupun begitu, cuma ada 7 murid di tempat itu.
Di lain sisi, Jarvis terus melihat tangannya sambil berjalan.
'Tak kusangka teknik menarik benda dari jarak jauh akan berhasil jika menggunakan aura petir hitam'
Terlihat di telapak tangan Jarvis muncul beberapa percikan kecil dari petir hitam.
'Sepertinya aku mulai terbiasa menggunakannya'
Kini senyum cerah menghiasi wajahnya.
__ADS_1
Tiba-tiba kepalanya mulai berdenyut. Jarvis lalu memegang kepalanya.
'Ini bukan efek samping kemampuanku. Apa sebenarnya yang terjadi'
Saat itulah ia melihat sepintas bayangan Hera yang sedang dicekik oleh seseorang. Ini terjadi karena Jarvis telah menjalin kontrak dengan Hera.
Walaupun Hera adalah seorang mantan Petinggi Monster, tidak dapat dipungkiri jika ia telah kehilangan kemampuannya.
Jarvis lalu membuka gerbang monster, ia lalu menggunakannya berpindah ke pintu gua.
Tubuh Jarvis lalu memunculkan aura petir hitam.
Ia lalu menyerang ke dalam. Di hadapannya kini terlihat Hera dengan beberapa luka serta ada dua orang yang menyudutkannya, bahkan salah satu diantaranya mencekik leher Hera.
Satu hantaman kuat dari tombak berhasil melukai lengan itu. Jarvis lalu merangkul Hera kemudian membawanya berlari keluar gua. Disaat merasa telah lolos, Jarvis tiba-tiba dikepung.
Di hadapannya, seseorang siap menunju dengan lengan penuh darah.
"Tangannya tak terpotong"
Kata Jarvis yang ternyata di dengar oleh orang itu.
"Sudah bagus kau bisa melukainya"
Hera menimpali keluhan Jarvis. Ini berarti mereka sangat kuat.
Satu ayunan pedang yang sangat kuat berasal dari atas.
"Excalibur" kata orang itu.
'Serangan itu kan…"
Jarvis seakan mengenali serangan tersebut.
DUARR!
Ledakan yang sangat kuat berhasil menghancurkan apapun yang ada di situ.
Beberapa menit kemudian.
Mereka akhirnya tak bertarung, malahan berbaikan.
"Haa...ha..ha…. Aku tak menyangka kejadiannya akan seperti itu. Itu pasti karmamu Hera"
"Diam kau Athos"
Athos terus tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Hera sangat kesal namun ia tetap berusaha untuk menahannya.
Hera sedang memperban luka Jarvis. Jarvis terkena serangan langsung dari gurunya, Ibaraki Doji.
Ternyata orang yang menyerang Hera adalah Ibaraki Doji dan Athos. Dua petinggi monster.
"Tak kusangka kau akan melakukan kontrak dengannya menggunakan Buku Arwah milik Anubis" kata Ibaraki.
"Jadi nama buku itu adalah Buku Arwah" Jarvis baru tahu itu.
Namun ada beberapa hal yang membuat Jarvis merasa penasaran, mengapa mereka berdua ingin membunuh Hera.
Seakan tahu apa yang akan ditanyakan oleh Jarvis, Ibaraki lalu berbicara.
"Kami berencana mengambil Tombak Trisula"
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Merampok Makam Naga"