Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Bahkan Jika Itu Membunuhmu


__ADS_3

Hera kini berhadapan dengan 2 orang.


Ia merasa jengkel, maka ia memanggil jumlah pasukan yang lebih banyak lagi.


Ia juga memanggil salah satu hewan prasejarah.


"Titanoboa, datanglah!"


Seketika itu juga tanah bergetar. Genangan air hitam di satu tempat berubah menjadi merah.


Dari situ keluar ular raksasa.


Jika lipan Sebastian seukuran kereta api, ular itu lima kali lipat lebih besar.


Ular itu lalu menerjang Hanz, tapi ditahan oleh Sebastian dengan ledakan.


Dari ledakan tiba-tiba muncul Hanz lalu memukul kepala ular tersebut dengan tinju.


Ular yang dipukuli tidak menerima dampak apa-apa.


"Hanz, cobalah serius sedikit!"


Hanz yang diteriaki oleh Hanz berpikir sejenak.


'Padahal aku sudah memukulnya dengan serius'


Ular itu lalu menerjang Hanz, namun Hanz tak pindah dari tempatnya. Akhirnya ular itu menelan Hanz.


"Hanz!"


Karena panik, Sebastian lalu memanggilnya.


Di dalam perut ular, Hanz masih hidup.


"Kalau tidak bisa dari luar, maka harus dari dalam"


Hanz lalu membuat api di seluruh tubuhnya.


"Padahal aku tidak suka teknik ini"


Sekujur tubuh Hanz terbakar, dengan api yang cukup besar, ia menciptakan duri dari bagian tubuhnya.


Seluruh pakaiannya akhirnya robek karena duri serta terbakar karena api. Kini ia bugil di dalam perut ular.


Hanz lalu tertawa puas.


"Padahal belum sempurna"


Perut ular tiba-tiba langsung meledak. Seluruh badannya juga ikut terbakar.


Dampak ledakan juga menyebabkan Sebastian terpental jauh.


Hera lalu mendekati Hanz.


"Jadi begitu. Seseorang pasti akan meledakkan dirinya sendiri jika ia terdesak. Namun kau pengecualian"


Maksud dari Hera bahwa Hanz mampu untuk meledakkan diri tanpa melukai dirinya. Sebuah ledakan yang akan menghancurkan segala disekitarnya.


Hera terus mendekat hingga ia akhirnya berada di belakang Hanz. Hanz lalu berbalik namun terlambat, sebuah tombak berhasil menusuk Hanz.


Tak bisa menerima kenyataan, Sebastian lalu menyerang Hera. Ia lalu memaksimalkan kecepatan terbang sayap besinya.


"Lambat"


Ternyata Hera sudah berada di samping, ia lalu menikam Sebastian. Tapi kali ini agak berbeda. Hera malah menangkapnya sebelum terjatuh.


Hera lalu melemparkan tubuhnya ke tubuh Hanz. Tubuh mereka kini saling tertindih.

__ADS_1


"Makan mereka!"


"Tiba-tiba mulut monster hiu besar muncu hendak memakan mereka. Seketika itu juga tubuh hiu itu terbelah.


Dari tubuh hiu itu yang berbalut petir hitam, Jarvis berdiri di atasnya.


"Gerhana Petir"


Sebuah tebasan petir yang sangat kuat dan cepat menerjang Hera. Hera lalu menahannya.


Sayatan terbang serta tombak trisula saling berbenturan.


"Apa kau yakin bisa menahannya"


Jarvis seakan mengejek. Namun Hera ternyata bisa menahannya.


Tiba-tiba tubuh Hera terpental jatuh. Dari atas langit, tubuh monster yang memakai celana berhasil meninju Hera ke bawah.


Walaupun kekuatan tinjuan itu sangat kuat, namun belumlah cukup untuk mengalahkan Hera.


"Bagus Roy"


Kamui merasa senang. Ia lalu melirik ke Nagi. Nagi sedang mendengar sesuatu dari dalam tanah.


"Apakah masih lama?"


Nagi yang tidak berbicara hanya memberi isyarat dengan ibu jari dan jari telunjuk yang hampir bersentuhan.


Kamui lalu menarik napasnya sebelum berteriak.


"Sebentar lagi"


Jarvis yang mendengarnya hanya mengangkat jempolnya.


Charlotte yang tahu situasi lalu pergi menolong Hanz dan Sebastian.


Ia akhirnya terbaring tanpa tenaga, tanpa kemampuan.


Roy lalu menghampirinya. Melihat mangsa empuk, Hera lalu datang siap membunuh.


Jarvis yang masih sadar malah menunjuk Hera.


"Apa kau yakin tidak ingin lari"


Ternyata bukan Hera yang ditunjuk oleh Jarvis, melainkan suara gemuruh dari langkah kaki yang sangat besar.


Akhirnya Athos telah dekat dengan tempat pertarungan. Hera lalu mengambil kuda-kuda bersiap bertarung.


"Kami berhasil memanggilnya. Apa kau yakin bisa mengalahkannya"


Mendengar itu, Hera lalu menerjang Athos dengan segala kekuatannya.


***


Beberapa menit sebelumnya.


Semua orang telah diselamatkan oleh Paula dengan kemampuan barunya. Semua orang tampak senang kecuali Nagi.


Nagi merasa ada sesuatu yang mengganjal di telinganya.


"Nagi kau kenapa?" tanya Jarvis.


Kini Jarvis sudah dalam kondisi lelah. Ia melepaskan kekuatan petir hitamnya.


Kamui yang tahu bahasa isyarat Nagi kemudian menjadi penerjemah Nagi.


"Tidak apa-apa, hanya telingaku yang selalu berdenging"

__ADS_1


Jarvis merasa ada sesuatu yang janggal. Tak sengaja ia melihat genangan air yang terus bergetar.


"Nagi, coba dekatkan telingamu ke tanah!"


Saat Nagi mendekatkan telinganya ke tanah, mukanya langsung pucat.


"Raksasa" kata Kamui yang membaca isyarat Nagi.


Nagi lalu mengangkat 3 jarinya.


"Tiga menit lagi"


Jarvis yang mendengar Kamui mulai khawatir. Ia lalu melihat pertarungan Hanz dan Sebastian melawan Hera. Senyum jahat tercipta di mukanya.


"Harus ada yang menjadi tumbal, yaitu dia. Bukan kita"


Jarvis melirik ke Hera. Ia lalu melanjutkan penjelasannya.


"Jadi, Jika monster itu datang, kalian harus senang dan bahagia"


Dengan muka tanpa dosa, Jarvis malah menyuruh semuanya bahagia disaat lawan telah datang. Jelas saja yang lain merasa heran.


"Aku sudah sampai batasku. Jika aku menggunakan kekuatanku lagi maka mungkin aku sudah tak mampu berdiri lagi"


Namun itu hanyalah ucapan semata. Ternyata Jarvis malah menggunakan sisa kekuatannya untuk menyelamatkan Hanz dan Sebastian.


Ketika ia melihat Hanz tertikam, ia lalu berusaha mengeluarkan kekuatan.


***


Kini Athos telah sampai dengan tubuh besarnya, namun dihadang oleh Hera. Ia lalu memukulnya dengan gala besi namun dapat ditahan dengan menggunakan trisula.


Dua kekuatan yang berbenturan menyebabkan daerah disekitarnya hancur.


"Leviathan"


Seekor naga raksasa seketika muncul dari cairan hitam yang dibuat oleh Hera.


Naga itu lalu menerkam Athos. Athos yang digigit lalu membanting naga itu ke tanah.


Bantingan itu malah membuat gelombang yang menyapu bersih daerah sekitar.


Paula berusaha untuk berdiri, ia lalu memindahkan Jarvis, Roy, Sebastian, dan Hanz tepat di sampingnya. Sekali lagi, Paula jatuh tersungkur akibat kelelahan.


Karena berada di dalam dinding, mereka akhirnya dapat bertahan dari gelombang pertarungan petinggi monster.


Athos lalu menangkap Hera, dengan sigap Hera lalu menusuk tangan Athos, tapi tak berhasil. Hera kemudian dilempar jauh ke sebuah gunung.


Gunung itu lalu hancur, Athos lalu membuat sebuah bola energi di mulutnya, ia lalu mengembalikannya ke Hera. Gunung itu akhirnya meledak yang mengakibatkan gelombang udara panas yang sangat kuat.


Tembok yang dibuat oleh petarung generasi ketiga mulai retak, namun mereka menambalnya dengan kemampuan mereka. Segala upaya dilakukan agar tembok itu tidak hancur.


Athos lalu melompat ke arah Hera, pertarungan mereka terus berlanjut.


Di sisi Jarvis dan yang lainnya, mereka mulai lega, kecuali Roy.


"Sekarang musuh terakhir, bagaimana kita mengatasinya"


Roy memandang dinding yang tiba-tiba retak besar. Yang muncul adalah monster bertubuh manusia berkepala anjing, Anubis.


Anubis kini mengalami luka yang serius di lehernya, namun itu tak menghambatnya.


Roy lalu berteriak.


"Kerahkan seluruh kemampuan kalian, bahkan jika itu membunuhmu"


Mereka lalu maju mengeroyok Anubis.

__ADS_1


__ADS_2