
Hera akhirnya terjatuh karena kehilangan kekuatannya. Jarvis lalu memerintahkan Alpha untuk menangkapnya.
Kini tubuh Hera mendarat di tubuh Alpha, burung Phoenix milik Jarvis.
Burung itu lalu terbang ke arah Jarvis. Sesampainya di sana, Hera langsung turun.
"Apa kau tak apa-apa?"
Hera langsung menghampiri Jarvis yang menerima luka di kepalanya.
"Ya, aku baik-baik saja"
"Tidak, kepalamu terkena panah. Ini berbahaya"
Jarvis yang merasa baikan ternyata dalam kondisi buruk. Hera kemudian mencungkil sesuatu dari luka Jarvis di kepala. Itu terlihat seperti cairan hijau bercahaya.
"Panah itu tertinggal di kepalamu. Jika kau mengaktifkan kekuatanku, panah itu akan aktif dan melubangi tengkorak kepalamu"
Hera yang khawatir tampak menjelaskan secara hati-hati.
"Kenapa kau mengungkapkannya, bukannya bagus jika kau sudah tak dikendalikan lagi"
"Intinya aku sudah memberitahumu, jadi tak perlu lagi mengaktifkan kekuatanku"
"Apa kau akan baik-baik saja"
"Ini lebih baik"
Hera lalu pergi meninggalkan Jarvis.
"Dasar perempuan aneh"
Jarvis lalu pergi ke arah Alpha untuk menyembuhkan lukanya. Dengan api biru di kepala Jarvis, Alpha berusaha untuk menyembuhkan Jarvis.
'Tak sembuh'
Jarvis tampak kaget, kekuatan penyembuhan tak aktif di bekas luka Jarvis.
Hera lalu menegurnya, walaupun ia kehabisan stamina. Tampak ia berusaha duduk sambil meluruskan kakinya.
"Percuma, sekali terkena panah Chilia Fota, seseorang yang memiliki kekuatan terkutuk, tak akan bisa disembuhkan"
"Kekuatan terkutuk?"
"Buku Arwah dan pedang Primera"
Jarvis seakan syok berat mendengarnya.
"Tak habis pikir" kata Jarvis.
"Iya memang" Hera mengomentarinya.
"Seharusnya tak begini"
"Maaf, ini salahku"
"Kenapa aku baru menyadarinya"
"Tidak apa-apa, kita pasti punya cara menyembuhkannya.
"Bukan itu maksudku"
"Lalu apa?"
Ternyata Hera dan Jarvis dari tadi membahas masalah yang berbeda.
"Ternyata aku punya pedang Primera, jika tahu aku pasti dapat mengalahkan komandan Orc seorang diri"
__ADS_1
"Kau ternyata melupakan pedang itu. Padahal aku berpikir tadi, kenapa kau tak menggunakannya"
Jarvis terus mengeluh karena ia melupakan pedang terkutuk miliknya. Sedangkan Hera hanya bisa terus menertawakannya.
Tiba-tiba Jarvis terpikirkan oleh Athos. Jarvis telah mengetahui sebagian dari kekuatan gurunya, namun ia tak tahu kekuatan Athos.
"Hera, apa kau tahu kekuatan Athos?"
Hera yang ditanya malah menggigil, terlihat sangat jelas ia sangat ketakutan ketika Jarvis bertanya tentang kekuatan milik Athos.
"Maaf, jangan dipikirkan, abaikan saja pertanyaan tadi"
Tapi sangat jelas jika Hera berusaha untuk menjawabnya. Ia lalu mengatur pernapasannya agar dapat lebih tenang.
"Kemampuan miliknya biasa-biasa saja, ia memiliki kemampuan untuk membesarkan tubuhnya, bahkan tak ada yang dapat dikatakan ia memiliki ukuran tubuh terbesar di dunia, maka ia dipanggil raja raksasa. Namun bukan itu masalahnya"
Tiba-tiba ia merapatkan tangannya, kemudian menggenggam satu sama lain. Terlihat jelas jika tangannya kembali gemetaran.
"Setiap petinggi bisa menciptakan domain spesial yang tak bisa dimiliki oleh siapapun. Bahkan jika seluruh ras di dunia ini dikumpulkan"
Jarvis telah melihat kemampuan domain spesial milik Hera berupa panah pertama di dunia. Ia juga melihat gerbang Rashomon milik Ibaraki yang mampu menghilangkan kematian.
Tangan Hera kembali gemetaran, Jarvis lalu memegang tangannya agar tak gemetaran. Ketika mulai membaik, Hera kembali melanjutkan.
"Aku tak tahu kemampuan domain spesial miliknya. Tapi ia bisa menciptakan neraka untuk lawannya"
"Sudah cukup"
Jarvis sebenarnya masih penasaran, tapi ia terpaksa menghentikan Hera bercerita. Terlihat jelas jika Hera trauma berat melawan Athos.
Ini jugalah alasan ketika Athos menegur Hera, Hera langsung mati kutu.
'Apakah Athos bisa menang' batin Jarvis.
Seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Jarvis, Hera lalu menanggapinya.
"Jika kau berpikir bahwa Athos akan kalah, lebih baik hilangkan pikiran itu. Aku malahan khawatir dengan sosok yang menjadi lawannya" kata Hera.
Di suatu tempat, terlihat Ras Dwarf yang akan melawan ras orc. Tampak dua ras yang heran dengan munculnya sesosok monster yang hampir mirip seperti orc, namun perawakannya lebih mirip manusia. Ia adalah Athos.
Athos berdiri di antara ras orc dan ras Dwarf yang hendak berperang.
Athos lalu berubah menjadi raksasa, sekumpulan orc yang lebih rendah darinya dihancurkan hanya dengan tendangan.
Dengan gada besar berduri, Athos menerjang musuh dengan mudahnya. Tak seperti Jarvis dan Hera yang mati matian melawan musuhnya, Athos menghancurkan musuh dengan mudahnya.
Puluhan nyawa Orc hilang hanya dalam satu kali hantaman. Kekuatannya terlalu besar.
Ras Dwarf yang melihat pertarungan Athos tampak ketakutan. Musuh disapu rata oleh kebengisan Athos.
Seketika gunung mulai bergerak, lalu gunung itu mulai terangkat. Kini wujud komandan Orc menampakkan dirinya.
Tubuh komandan Orc sangat besar, bahkan gunung yang terangkat adalah punggungnya ketika ia tidur di medan perang.
Orc itu lalu maju, dengan cepat ia berhasil meninju wajah Athos.
Athos yang ditinju tak bergeming dari tempatnya. Ia malah tersenyum lebar hingga gigi kuningnya kelihatan.
"Kau berhasil memukulku"
Athos lalu merapatkan kedua telapak tangannya.
'Tidak aktif'
Aktivasi kekuatan domain spesial milik Athos tak bekerja. Komandan Orc tampak tertawa puas.
"Selama tak menyentuhmu, kau tak bisa menggunakan kekuatanmu. Kenapa ada petinggi monster yang lemah seperti ini, bahkan aku lebih kuat. Haa...haa..haa"
__ADS_1
Tawa orc itu membahan di udara. Ternyata ia menggunakan besi pelindung di tinjunya.
"Menyerang tanpa menyentuh, kau kira bisa mengantisipasinya. Itu lebih sulit dari yang kau pikirkan"
Athos kemudian mengeraskan genggaman tangannya di gada berduri. Dengan sangat cepat Athos berhasil melangkah mendekati komandan Orc, namun komandan Orc itu berusaha berlari.
CRACK!!
Tiba-tiba kaki Orc itu lepas. Darah mengucur deras dari pahanya. Ia tak tahu apa yang mengenai kakinya.
"Sudah ku bilang itu lebih sulit dari yang kau pikirkan"
Dari bawah tanah terdapat capit raksasa yang berhasil memotong kaki Orc itu.
Monster bawah tanah itu lalu menggetarkan tanah kemudian menghancurkannya. Dari balik tanah yang hancur terlihat jelas wujudnya.
Itu adalah ekor Athos dengan bentuk kelabang dengan kepala berbentuk kepiting.
"Aku berhasil menyentuhmu"
Athos lalu merapatkan tangannya.
"Kematian tak berbatas"
Domain spesial milik Athos kini aktif, namun tak terjadi sesuatu yang istimewa.
"Dengan ini aku berhasil menjeratmu"
Orc itu kini tak melawan, berbicara pun ia enggan.
"Kau pikir bisa melawan. Indramu akan bergerak sangat cepat, sedangkan tubuhmu akan melambat"
Tubuh orc itu kini tak bisa bergerak. Di hadapannya kini Athos terlihat sangat lambat, bahkan ia harus menunggu beberapa tahun hanya untuk melihat Athos mengangkat galanya.
Athos yang mengangkat galanya lalu memukul tubuh orc itu.
"Nikmati penderitaan seribu tahunmu"
Tubuh orc itu kini di pukul. Dari kaki tangan hingga beberapa bagian tubuh yang tidak menyebabkan ia mati seketika.
Dalam penglihatan orc itu, dunia seakan melambat.
"Sudah berapa tahun aku begini. Bahkan seribu tahun tak bisa menjamin. Kapan pukulan itu mengarah ke kepalaku. Rasa sakit ini sungguh tak tertahankan. Ayo cepat bunuh aku, hancurkan kepalaku, jantungku, apapun itu. Biarkan aku mati sekarang"
Ternyata orc yang tak bergerak telah mengalami serangan ini selama ribuan tahun padahal Athos cuma memukulnya beberapa kali.
"Membosankan"
Athos lalu memukul kepala orc itu dengan gada berduri, kepalanya langsung hancur berserakan.
"Ini belum selesai"
Ia lalu melihat ke kerumunan orc yang belum di bantainya sambil tersenyum sadis.
Ia lalu membuka gerbang monster dengan ukuran raksasa. Dari situ muncul pasukan raksasa miliknya.
"Ada makanan, kalian pasti laparkan. Usahakan berbagi, jangan rakus"
Seolah berbicara dengan sangat lembut, namun tersirat jika itu adalah suatu hal yang keji. Kini pembantaian ras raksasa ke ras orc dimulai.
Ras Dwarf kini sangat ketakutan, bagaimana mereka akan melawan monster yang mengerikan ini.
Namun Athos hanya melambaikan tangan ke ras Dwarf, seakan ia menunjukan sesuatu yang ramah.
"Apa ia baru saja menyapa kita"
"Entahlah! Semoga saja begitu"
__ADS_1
Dua orang ras Dwarf tak bisa menerka apakah Athos adalah musuh atau bukan.
Sekarang hanya tersisa Ibaraki Doji yang berusaha menyelamatkan Ras Elf dari salah satu petinggi monster, raja Orc.