Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Kebenaran Dari Video


__ADS_3

Setelah pelantikan, Jarvis langsung pergi dari sekolah pahlawan.


Tak disangka Jacob ternyata menunggunya dengan mobil.


"Silahkan naik"


Tanpa basa-basi Jarvis langsung naik.


Setelah berjalan sekitar tiga kilometer. Mereka akhirnya sampai di sebuah gedung apartemen mewah.


"Kau tinggal di sini?"


"Hebatkan?"


"Bukan hebat lagi kalau begini"


Jarvis sangat takjub dengan tempat tinggal Jacob.


Mereka lalu menuju apartemen Jacob.


***


Di Kafe milik Jarvis, terlihat Roy sedang mengacak-acak lemari Jarvis.


Saat ia membuka laci, terlihat beberapa berkas, Roy lalu mengambilnya.


"Bantu aku membawanya!"


Paula yang tepat berada di sampingnya, bukannya melarang justru ikut membantu memberantaskan kamar Jarvis.


Walaupun siang, mereka tidak membuka Kafe. Alasannya karena fokus pada insiden yang menimpa Jarvis 12 tahun lalu.


"Sebenarnya aku beberapa kali menanyakan tentang saat ia di culik oleh monster. Dia terus menolak membahas kejadian itu. Hingga suatu hari ia bercerita"


"Bercerita apa?"


"Ringkasnya orang tuanya dibunuh. Ibunya dibunuh oleh monster sedangkan ayahnya dibunuh oleh pahlawan"


"Mustahil"


"Itulah sebabnya kita mencari tahu siapa pembunuhnya. Dia tak mau bilang"


Saat Roy mencari, tiba-tiba Paula menemukan sesuatu tanpa sengaja. Ia melihat bingkai lukisan yang aneh.


"Kenapa Jarvis menulis sesuatu di sini"


"Menulis apa?"


Paula lalu mengambil lukisan itu, lukisan bulan berwarna merah.


"Lukisannya terbalik"


"Dari mana kau tahu?"


"Sepintas itu mirip awan, tapi bukan. Itu gunung"


Saat Paula membalikkan bingkai lukisan, gantungannya ditaruh di bawah. Tiba-tiba lukisan itu memiliki tulisan tersembunyi yang sekarang terlihat.


DARK WEB


Kamaitachi


hero_killer


Roy yang melihat tulisan itu kebingungan, tak mengerti apa yang ditulis oleh Jarvis.


"Apa itu?"


"Sala satu akun situs terlarang dunia"


"Apa kau bisa membukanya"


"Bisa"


Paula lalu mengambil laptopnya.


"Smartphone ini mengganggu, tolong pegang sebentar"


Paula memberikan smartphone miliknya ke Roy.


Ia kemudian mengaktifkan dan membuka situsnya.


"Tak kusangka Kamaitachi sangat terkenal di dunia bawah"


Kamaitachi adalah nama akun Jarvis. Namun karena Roy yang kurang update informasi, ia jadi serba tak tahu.


"Dunia bawah?"


"Komunitas para penjahat. Mulai dari penipu, pembunuh, hingga *******"


Paula terus mencari sesuatu, apa yang ada di akun Jarvis.


"Ketemu"


"Apa?"

__ADS_1


"Sayembara senilai USD$ 1.000.000 bagi barang siapa yang bisa mendapatkan video 12 tahun lalu atas penyerangan monster di kota H"


"Sayembara senilai USD$ 1.000.000 bagi barang siapa yang bisa mendapatkan video 12 tahun lalu atas pembunuhan warga sipil oleh pahlawan di kota H"


"Sayembara senilai USD$ 1.000.000 bagi barang siapa yang bisa mendapatkan video 12 tahun lalu atas pembunuhan Pahlawan oleh pahlawan di kota H"


Paula terus membaca postingan Jarvis di DARK WEB. Ia lalu melihat video.


"Apakah ada yang mengirimkan Video"


"Setiap postingan dikirimi video"


"Cepat nonton satu persatu"


Roy sudah tak sabar untuk melihat video itu.


"Namun untuk setiap postingan dikirimi banyak video. Tapi setiap postingan hanya satu orang yang direspon untuk pembayarannya"


"Jadi …"


"Seperti yang kau pikirkan"


Paula mampu mengutak-atik akun Jarvis karena itu adalah kemampuannya. Kemampuannya adalah pengguna, apapun yang dipegangnya dapat digunakan semaksimal mungkin.


Setiap video adalah rekaman CCTV, jadi pengambilan gambarnya tak terlalu bagus. Namun video itu masihlah lebih baik ketimbang tak ada sama sekali.


Sekarang mereka membuka video pertama.


[***Catatan: Cerita dari Bab 1 dan Bab 2]


Tampak kota benar-benar diporak-porandakan. Terlihat Ludheer Bashil dan monster singa dengan kemampuan peledak saling bertarung. Atas usaha yang begitu lama, Ludheer Bashil berhasil menang.


"Tak kusangka akan melihat ayah yang masih belum beruban"


"Ayahmu kuat juga"


"Siapa dulu"


"Tapi aku lebih kuat" kata Roy.


Paula merasa jengkel dengan Roy. Ia langsung membuka video kedua.


Dalam video terlihat dua orang sedang berlari, seorang pria dan wanita.


"Itu kepala sekolah pahlawan"


Roy menunjuk pria itu.


"Aku tahu"


'Walaupun sudah lama, aku masih ingat wajahnya. Perempuan itu Dili Queen, kakakku' batin Paula.


Ia tak kuasa menahan rindu, telah lama kakaknya telah tiada. Sekarang ia melihat sesosok kakaknya yang bertugas menjadi pahlawan.


Charlie dan Dili kemudian menjumpai Jarvis yang masih kecil. Mereka berniat menolongnya. Namun karena usul Charlie, Dili berangkat duluan.


"Tak kusangka Jarvis seimut itu dulu"


Paula berusaha bercanda ke Roy, sebab Roy terlalu serius di video ini.


Tiba-tiba saja Charlie menendang beton yang menindih seseorang, ia adalah ayah Jarvis.


Seketika tubuh ayah Jarvis terkoyak.


"Padahal ia bisa mengangkat beton itu secara perlahan"


Roy sangat kesal.


"Itu di sengaja"


"Dari mana kau tahu?"


"Charlie sempat melirik mayat ayah Jarvis. Logikanya jika pahlawan, pasti merasa bersalah, sedangkan Charlie malah tersenyum dibelakang Jarvis"


Tiba-tiba smartphone milik Paula yang dipegang oleh Roy langsung remuk.


Paula berusaha tak marah. Ia tahu bahwa ini bukan lagi masalah sepele.


"Kau harus menggantinya nanti"


Nada yang keluar dari mulut Paula tak kasar sehingga Roy langsung sadar diri.


"Ohh maaf"


"Tak apa-apa"


Paula lalu membuka video Ketiga. Roy lalu menjauh.


"Apa kau tak ingin melihatnya?" tanya Paula.


"Tidak, bisa-bisa rumah ini hancur jika aku marah"


Paula lalu membuka dan menonton video itu.


Paula lalu melihat Charlie dan Dili berdiri berdampingan. Saat itulah terjadi pertengkaran di antara mereka. Jelas sekali jika Dili berusaha melindungi diri.

__ADS_1


Dili akhirnya dikendalikan kemudian diledakkan oleh Charlie. Tubuhnya hancur berserakan.


Paula lalu menutup mulutnya, pipinya dibasahi oleh air mata.


"Dia...hik…..hik…dia...hik…hik"


Paula akhirnya menangis tak karuan.


"Ada apa?"


Roy lalu menghampiri Paula.


"Dia…"


Paula mengusap cairan dari hidungnya.


"Dia kakakku"


Roy lalu melihat video itu.


Tak bisa dibayangkan, satu orang berhasil menghancurkan kehidupan dua temannya. Roy sangat marah sekarang.


"Ini bukan lagi masalah dia anggota Unicorn atau bukan" kata Roy.


Paula terus menangis. Roy lalu menghiburnya.


"Tenanglah, mungkin ini karmanya. Kita bertiga ditakdirkan untuk bertemu. Kita punya alasan masing-masing untuk membunuhnya"


Paula lalu menyapu air matanya. Ia kemudian serius, lalu berdiri menghadap Roy.


"Biarkan aku yang membunuhnya"


"Tidak bisa, kau bukan tandingannya. Jangan ceroboh. Memangnya nyawamu kau anggap apa? Jangan mati konyol"


Paula lama merenung.


"Untuk pertama kalinya aku merasa benci dengan kemampuanku"


Muka Paula kini lesu.


"Menurutmu begitu?"


"Lalu bagaimana lagi"


"Sebenarnya aku punya guru yang hebat. Ia mampu meningkatkan kemampuanku. Awalnya hanya kelas A, sekarang menjadi kelas S. Walaupun sebenarnya aku lebih kuat darinya" kata Roy.


Paula mulai mendengarkan.


"Apakah kau ingat dengan perubahan serigala waktu itu" lanjut Roy.


"Iya"


"Serigala itu memiliki kulit yang sangat keras. Apa kau yakin aku bisa memakannya"


Paula kini mulai paham.


"Harus menggunakan metode lain"


Jawaban Paula tepat sasaran.


"Benar" kata Roy sambil memberikan jempolnya.


Roy lalu memunculkan sesuatu berwarna hitam seperti lumpur di tangannya. Lumpur itu mempunyai mulut dengan gigi mengerikan.


"Benda kecil ini dapat menelan mayat monster dengan ukuran apapun." Kata Roy.


"Hebat"


"Iya kan"


"Apa aku bisa belajar kepada gurumu"


"Kenapa kau tanya aku?"


"Karena kau membahasnya"


Paula mulai tersulut emosinya.


"Langsung tanya secara langsung ke orangnya"


"Memangnya dia mau"


"Dia pasti mau"


"Kenapa kau seyakin itu"


Paula mulai memelas.


"Dia orang yang kau kenal"


"Siapa?"


Paula mulai penasaran.


"Jarvis" kata Roy.

__ADS_1


__ADS_2