Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Perburuan Pedang Suci


__ADS_3

Di luar gerbang monster, terlihat Jacob berusaha memberi penjelasan ke mereka yang langsung diusir ke luar gerbang monster.


"Sudah kubilang, ada segerombolan orc di dalam sana. Paling tidak kita membutuhkan tiga pahlawan kelas A untuk mengalahkannya"


"Jangan bohong"


Salah satu pendaftar merasa di bohongi mengingat keputusan yang diambil oleh Jacob terlalu cepat.


"Dia benar, gerbang ini terdistorsi. Jadi bukan cuma goblin yang ada di dalam"


Orang yang berbicara adalah seorang pahlawan hebat. Walaupun tangannya hanya tinggal satu.


"Mengapa ada pahlawan kelas A kota H ada di sini"


Jacob tak percaya jika ada Ludheer Bashil dihadapannya.


"Berikan kami hak gerbang monster itu ke Guild Hunter. Kami akan membinasakan semua monster itu" kata Ludheer.


"Tidak boleh, kami yang akan menerimanya"


Salah satu anggota Guild lain marah. Sekarang beberapa guild besar berkumpul disini membahas masalah tentang kepemilikan gerbang monster.


Hal ini dilakukan karena monster yang ada di dalam sangat kuat. Tak mampu untuk menuntaskannya, satu-satunya pilihan bagi sekolah pahlawan adalah memberikan hak kepemilikan ke guild.


Namun sekarang beberapa guild berkumpul, satu alasannya. Mereka menginginkan sebuah Pedang Suci Rebellion.


Tiba-tiba salah seorang gadis maju ke depan, ia adalah Eun Jie.


"Aku adalah salah satu guru di sini. Jika ingin mendapatkan pedang itu harus menunjukkan kelayakannya dalam membasmi monster"


"Apakah itu sekarang penting?"


"Tentu saja. Apakah kau melihat ini, jumlah pahlawan Kelas A berkumpul disini ada tujuh. Ini hanya kontes bukan misi penaklukan lagi namanya"


Eun Jie menerangkan, semua orang langsung setuju dengan keputusan itu.


Ia lalu masuk ke dalam gerbang monster, yang diikuti oleh semua anggota guild yang berkumpul.


Saat hendak masuk, tangan Ludheer ditahan oleh Jacob.


"Ada beberapa orang yang masih bertarung dengan monster selamatkan mereka"


Ludheer hanya mengangguk. Ia lalu masuk ke dalam gerbang monster diikuti oleh Jacob.


Jarvis yang berhasil kabur dari monster akhirnya bisa bernafas lega saat ia melihat ada beberapa pendaftar yang akan pulang lewat gerbang monster. Ia lalu berbaur dengan mereka.


Saat mereka hendak keluar, tiba-tiba muncul sosok pahlawan dari beberapa guild yang akan bertarung untuk menaklukkan gerbang ini.


Tak butuh waktu lama, dihadapan Jarvis berkumpul beberapa pahlawan. Kemampuan mereka di atas rata-rata.


Saat itu Jacob juga muncul, ia kini berpapasan dengan Jarvis.


"Ini sudah lebih dari dua menit. Sepertinya aku terlambat"


Jarvis menegur Jacob sambil menunjukan posisi jari membentuk V.


Dalam hati Jacob, ia sangat senang atas keselamatan Jarvis. Namun karena profesionalismenya ia berusaha menahannya.


"Siapa namamu?"


"Jarvis pak"

__ADS_1


Ludheer yang mendengar suara itu lalu berbalik.


"Rupanya kau mendaftar sebagai guru, kukira kau benci pahlawan. Apa tujuanmu"


Sebenarnya Ludheer cuma mempermainkannya. Ia tak menaruh dendam ke Jarvis saat perselisihan di Kafe. Namun Jarvis menanggapinya serius.


"Aku akan merevolusi sistem pahlawan yang seperti sampah" kata Jarvis.


Seketika Ludheer teringat dengan kejadian sebelum masuk ke gerbang. Mereka bertengkar tentang kepemilikan gerbang monster, namun tak memperhatikan beberapa orang yang membutuhkan bantuan mereka disaat orang lain butuh.


Ludheer hanya tersenyum ke Jarvis.


"Kutunggu itu"


"Pak Ludheer, kau memang pahlawan"


Beberapa orang langsung tertawa mendengar itu, bagaimana bisa pahlawan kelas A dikatakan begitu. Namun Ludheer menganggap itu berbeda.


Ludheer tahu jika Jarvis sangat benci dengan pahlawan, sebab baginya tak ada sosok pahlawan sesungguhnya. Namun Jarvis berkata seperti demikian, itu merupakan pujian terbaik yang diterimanya selama menjadi pahlawan.


"Terima kasih"


"Ahh tidak perlu, aku yang harusnya berterima kasih"


"Kenapa?"


"Anakmu sekarang jadi pembantuku"


Maksud Jarvis adalah Paula.


"Aku tahu itu"


Ternyata Ludheer mengawasi mereka, namun karena Jarvis dan Roy yang telah terbiasa diawasi, itu menjadi hal yang mudah.


Kini beberapa pahlawan Kelas A dengan jumlah tujuh orang yang diikuti oleh setiap anggotanya. Mereka siap bertempur.


Dari kejauhan tampak pedang hitam raksasa berdiri kokoh siap menebas mereka.


Jarvis yang menyembunyikan kekuatannya hanya bisa menonton.


"Siapa mereka?"


Jarvis bertanya kepada Jacob.


"Mereka adalah pahlawan kelas A. Jika ada mereka, semua akan baik-baik saja"


Jacob mulai menjelaskan ke Jarvis siapa saja mereka.


Pertama adalah Ludheer Bashil, kalau ini Jarvis sudah kenal. Jadi penjelasan Jacob terbilang membuat Jarvis mengantuk.


Yang kedua adalah seorang dengan badan besar serta sarung tinju besi. Ia adalah Bartolomeo. Petinju terkuat kelas A.


Ketiga memiliki sepasang pedang panjang lentur di tangannya. Panjang pedang itu sekitar lima meter, namun karena lentur, ia menggulung kemudian menaruhnya di pinggangnya. Namanya adalah Patrick.


Keempat bernama Isaac Berton tidak bisa dinilai dari penampilannya. Ia memakai setelan kantor. Tak ada ciri bahwa ia adalah pahlawan kelas A. Namun ternyata ia dapat menciptakan benang yang sangat kuat.


Kelima adalah seorang Penempa. Ia bisa menciptakan sebuah senjata yang kuat jika ia membuatnya. Namanya Darien.


Orang kelima ini sebenarnya tak membuat Jarvis tertarik sebab ia pernah melihat menempa yang lebih baik dari Darien, yaitu Sebastian.


Orang keenam adalah seorang penembak jitu. Dibelakangnya terdapat sebuah senapan besar modifikasi. Larasnya yang panjang seakan menjadi ciri khas dari senjata itu. Ia adalah Gustave, Penembak jitu dari sekolah pahlawan.

__ADS_1


Terakhir adalah seorang wanita dengan rambut putih. Ia memiliki kemampuan Es. Ia dijuluki ratu kota T, Eun Jie.


Saat melihatnya Jarvis langsung tahu itu adalah wanita yang dikejarnya dulu sampai sekarang.


Mereka langsung bersiap untuk menghajar monster di hadapannya.


Ludheer lalu mengeluarkan senjata terbarunya.


"Marx Eight"


Tiba-tiba muncul sebuah besi silinder yang mengelilingi pergelangan tangan Ludheer.


"Menteleportasikan Marx 9"


Seketika muncul senjata, Marx 9 adalah senjata berupa perisai.


Jarvis yang melihatnya dari belakang tak sengaja melihat angka yang tertera.


'10 ton'


Jarvis kaget melihatnya. Itu lebih berat ketimbang pedang yang dipakainya bertarung dulu.


Ternyata monster itu menebaskan pedangnya, tapi Jarvis dapat menahannya dengan perisai tersebut.


"Pertukaran, Marx 10"


Marx 9 langsung menghilang digantikan oleh Marx 10. Karena Ludheer hanya memilik satu tangan, ia tak bisa menggunakan Marx 9 dan Marx 10 secara bersamaan.


Ditangan Ludheer kini memegang senjata. Untuk senjata Marx 10, agak terlihat aneh.


Sebuah pedang atau tombak, itulah yang terbesit di pikiran Jarvis ketika melihatnya.


Sebuah senjata mirip pedang, memiliki bilah dan gagang. Tetapi untuk bilahnya tidak tajam, melainkan bulat, hanya saja ujungnya yang runcing.


Jika disebut tombak malah aneh sebab gagangnya terlihat lebih pendek.


Ludheer lalu memposisikan badannya untuk melemparkan Marx 10.


'Dilempar?'


Jarvis terus mengamati. Dilihatnya Ludheer melempar senjata itu. Sebuah daya dorong kuat, mirip sebuah ledakan berhasil mendorong monster selangkah.


Melihat adanya kesempatan, semua pahlawan kelas A berusaha menyerang monster yang berdiri sambil memegang pedang suci. Kini perburuan pedang suci akan dimulai.


Di sisi Jarvis, ia seakan penasaran.


"Kenapa pahlawan berusaha mati-matian untuk mengalahkan monster itu?"


Tanya Jarvis ke arah Jacob.


"Untuk mendapatkan pedang suci"


Jarvis mulai melirik pedang yang dipegang oleh monster orc yang dilawannya tadi.


___________________________


Note:


Untuk episode ini dan kedepannya, RANKING diganti menjadi KELAS.


Lebih tepat jika begini.

__ADS_1


__ADS_2