
2 tahun sebelumnya.
Malam itu langit tampak berawan sehingga sulit untuk melihat walaupun sedang bulan purnama. Seseorang sedang berlari membawa dua pedang. Di lengan kirinya terdapat sebuah Odachi panjang sedangkan di tangan kanannya memegang sebuah katana. Ia mengenakan pakaian kimono Jepang hitam serta ramput sebahu yang diikat kebelakang. Didepannya berdiri puluhan orang dengan kemampuan yang berbeda-beda.
Ia lalu menerjang semua orang yang ada disitu, tapi salah satu orang yang berdiri paling belakang menembakkan sebuah ledakan api berbentuk pilar yang mengarah ke arahnya. Ia lalu menebas serangan tersebut dengan mudah. Pedang di lengan kirinya ditebaskannya secara horizontal ke arah semua lawannya, sebuah sayatan terbang yang cukup kuat berhasil memotong setiap tubuh lawan di hadapannya dalam satu serangan.
Kecuali pria yang berdiri paling belakang, ia berhasil menahannya walaupun merasa ketakutan. Pria yang memegang pedang kemudian melemparkan salah satu pedang di tangan kirinya ke arah bahu lawannya, sebuah Odachi kini bersarang di pria yang memimpin kelompok itu.
Saat awan kian menghilang yang menyebabkan bulan purnama menerangi seluruh tempat itu, ternyata yang tertusuk adalah Orgasheel. Di hadapannya berdiri seorang pria yang memegang pedang, Jarvis.
Orgasheel tampak ketakutan, karena nyawanya bisa diambil kapan saja. Jarvis kala itu melihatnya dengan ekspresi wajah yang terlihat kecewa. Jarvis melihat Orgasheel dari samping sambil memegang katana di tangan kanannya, serta pakaian yang penuh bercak darah.
"Membosankan, apa cuma segini kemampuanmu?"
Jarvis terlihat meremehkan Orgasheel, lantas hal ini membuat Orgasheel naik pitam. Ia lalu menyerang Jarvis, namun Jarvis lebih dulu menyambar mata kiri Orgasheel dengan katana, hal itu membuat Orgasheel bertambah ketakutan. Namun Jarvis tidak membunuhnya.
"Siapa namamu?"
"Orgasheel"
"Kau hebat, belum pernah ada orang yang selamat jika aku menggunakan Saber. Kau yang pertama"
Jarvis memuji Orgasheel sambil menunjuk pedang Odachi hitam di bahu Orgasheel. Jarvis lalu pergi meninggalkan Orgasheel.
"Temui aku jika kau telah layak dibunuh"
Mendengar itu, Orgasheel hanya bisa mengepalkan tangannya.
***
Kembali ke masa sekarang. Sebuah luka dalam kini diderita oleh Jarvis akibat tinjuan yang bersarang di dadanya. Jarvis tak kuasa menahan rasa sakit yang dideritanya sambil memegang dadanya.
"Cih.. apa cuma segini kemampuanmu?"
Jarvis tak mampu menjawab pertanyaan dari Orgasheel. Kini darah mengalir keluar dari mulutnya.
"Siapa namamu"
"Jarvis Kurtis"
Melihat Jarvis yang berbicara dengan darah yang keluar dari mulutnya, Roy berusaha untuk menghentikannya berbicara agar darah tidak keluar dari mulutnya.
"Sudah cukup, jangan berbicara terus Jarvis. Lukamu cukup parah"
"Diam kau"
Orgasheel yang risih dengan teriakan Roy berusaha menegurnya lalu membuat sebuah ledakan ke arah Roy, namun Roy masih dapat menahannya. Orgasheel lalu melihat Jarvis dengan mata penuh kekecewaan.
"Sungguh ironis, dulu kau berkata seperti itu juga"
"Kukira yang kau maksud ironis itu kau"
Orgasheel tampak bingung dengan perkataan Jarvis, kemudian Jarvis melanjutkan perkataannya walaupun darah masih belum berhenti keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Kukira kau membuat lengan kanak Ludheer buntung, sekarang lengan kananmu yang buntung"
"Aku tidak perlu lengan kananku untuk membunuhmu"
Orgasheel secara perlahan mulai mendekati Jarvis. Lengan kirinya kini menyala, bersiap untuk meledakkan Jarvis. Jarvis hanya bisa tertawa dengan penuh darah di mulutnya sambil melihat Orgasheel yang menghampirinya.
"Sudah kuduga, kau kuat sekali, aku tidak bisa membunuhmu tanpa menggunakan senjata itu"
"Perhatikan ucapanmu, seolah olah kau bisa mengalahkanku"
Jarvis lalu membuka ruang penyimpanannya.
"Sebenarnya aku tidak ingin menggunakannya, tapi apa boleh buat, daripada aku yang mati lebih baik kau yang mati"
Setelah berkata demikian, Jarvis lalu merogok ruang menyimpannya. Diambilnya sebuah kerambit dengan bilah berwarna merah dan gagang yang berwarna hitam.
"Dulu dikatakan pada zaman Viking masih berjaya, mereka adalah orang-orang yang ditakuti saat itu. Tetapi dilain sisi ternyata mereka juga menggigil ketakutan sebenarnya. Apakah kau tahu mengapa?"
Jarvis lalu berdiri dengan tegak, ia kemudian melepaskan seluruh pakaian bagian atasnya. Kini tampilannya mirip Orgasheel yang hanya memakai celana. Jarvis lalu menyambung perkataannya
"Bukan karena para petugas di lautan. Itu karena legenda 13 monster penghuni lautan, salah satunya adalah yang kupegang. Kerambit dari taring ikan Fangtooth. Satu-satunya ikan yang memiliki taring."
Orgasheel tidak mempedulikan perkataan Jarvis, ia terus melangkah sampai akhirnya betisnya tiba-tiba terluka.
"Luar biasa, orang yang memiliki teknik ini hanyalah seorang Vampir"
"Ohhh.. mungkin yang kau maksud itu guruku"
Melihat itu, Roy lalu pergi ke arah Paula kemudian merangkul pinggangnya dan membawanya pergi penjauh dari Jarvis. Paula yang merasa percaya dengan tindakan Roy tidak ingin melawan namun untuk beberapa alasan rasa penasarannya tidak bisa ditahan.
"Kau bisa mati jika berada di daerah tebasan milik Jarvis"
"Kukira ia hanya menggunakan senjata kecil"
"Itulah masalahnya, kerambit itu terbuat dari taring monster."
"Terus kenapa?"
"Umumnya kaum Vampir bisa memanipulasi darah, sedangkan manusia tidak. Namun Jarvis adalah seorang yang berhasil belajar seni membunuh dari seorang Vampir. Namun ada beberapa syarat bagi Jarvis untuk menggunakan kekuatan itu, ia harus menggunakan senjata yang terbuat dari monster."
Setelah merasa cukup jauh dari Jarvis, Roy lalu berhenti kemudian melanjutkan penjelasannya.
"Dengan kerambit yang terbuat dari gigi monster, semua makhluk hidup yang memiliki darah pasti akan tertebas"
"Kemampuan yang mengerikan"
Mendengar penjelasan Roy, Paula merasa merinding. Ia tidak menyangka ada orang yang memiliki lebih dari satu kemampuan, sedangkan untuk kasus Jarvis bahkan memiliki tiga. Selain tebasan, membuat Gerbang Monster, ternyata Jarvis juga bisa memanipulasi darah.
Kembali ke pertarungan Jarvis dan Orgasheel. Orgasheel agak menjauh dari Jarvis namun Jarvis malah mengikutinya. Orgasheel lalu membuat ledakan dari tangan kirinya, apu besar pun mengarah ke Jarvis tapi Jarvis yang berhasil mengantisipasinya kemudian menghisap ledakan dengan Black Hole. Di tangannya memegang pedang dan sebuah kerambit.
Jarvis lalu menyerang ke depan, sebuah sayatan terbang menuju ke lokasi Orgasheel, namun Orgasheel masih dapat menghindar. Kini ia melakukan serangan balik. Ledakan bertubi-tubi di arahkan ke Jarvis . Daerah sekitar kini penuh dengan api. Tiba-tiba dari arah belakang Jarvis terdapat sebuah ledakan, Jarvis lalu menghisapnya dengan Black Hole.
Orgasheel yang melihat itu menemukan sebuah celah.
__ADS_1
'jika diperhatikan, Jarvis hanya menggunakan Black Hole dengan pedang, berarti yang menjadi masalah hanyalah kerambit itu'
Orgasheel lalu menyerang membabi-buta tapi semua ledakan berhasil di redam oleh Jarvis, Orgasheel kemudian meninju Jarvis tapi Jarvis masih bisa menahannya dengan sebuah kerambit. Ternyata itu yang diinginkan oleh Orgasheel, ia lalu merampas kerambit milik Jarvis dan membuangnya. Ia lalu menendang Jarvis tepat ke ulu hati tapi Jarvis berhasil mengelak lalu merobek paha Orgasheel dengan kerambit.
"Bagaimana bisa?"
"Kerambit itu senjata ganda"
"Aku paham sekarang, taring monster jumlahnya empat, jadi kau masih menyembunyikan senjata lain. Tapi tersisa dua yang kau sembunyikan."
Orgasheel lalu menjauhi Jarvis, ia lalu melesatkan ledakan ke arah Jarvis. Sekali lagi serangan bertubi-tubi di arahkan ke Jarvis, namun Jarvis berhasil meredamnya. Sebuah ledakan berbentuk sinar laser kini menyerang pedang Jarvis, pedang itupun terlempar. Dengan sebuah ledakan yang besar ke arah pedang yang terlempar, walaupun tidak menghancurkan tetapi mampu untuk mengubur pedang itu agar tidak kelihatan lagi.
"Mati kau"
Orgasheel yang gembira karena kekuatannya tidak akan diredam lagi, melakukan serangan ledakan besar ke Jarvis yang tersudut. Namun Jarvis berhasil menghindar dengan menggunakan rantai yang ditancapkan ke dinding bangunan.
"Jadi senjata terakhirnya adalah Kusari Gama" Kata Orgasheel yang melihat senjata milik Jarvis.
Jarvis kini bergelantungan di dinding dengan rantai. Berbeda dengan kusari gama pada umumnya yang menggunakan sabit, di ujung rantai yang di pegang Jarvis terdapat sebuah belati dengan dua bilah yang matanya saling membelakangi. Belati itu yang menancap masuk ke dinding bangunan.
'Belatinya berwarna merah, itu pasti senjata dari taring monster. Dilihat dari jumlah dua bilahnya, pasti itu senjata terakhirnya. Dua taring dalam satu senjata' batin Orgasheel yang melihat senjata milik Jarvis.
Dilain sisi Jarvis yang melihat Orgasheel dari kejauhan mulai menyerang. Dihentakannya rantai yang dipegangnya hingga belati yang menancap di dinding lepas, ia lalu melemparkan belati tersebut ke arah gedung yang lain. Ini dilakukan mengingat bahwa daerah bawah sudah tidak memiliki tempat berpijak lagi akibat kobaran dimana-mana Jarvis lalu berayun ke arah Orgasheel.
Dihentakan lagi rantai yang dipegangnya, sehingga Jarvis dapat melancarkan serangannya berhubung karena Orgasheel sudah dekat. Sebuah belati dengan rantai mulai mengejar Orgasheel, namun Orgasheel menahannya dengan sebuah ledakan. Tapi pipi Orgasheel tiba-tiba terluka seperti terkena sayatan.
Ternyata Orgasheel berada di daerah serangan Jarvis. Walaupun tidak mengenainya langsung tapi pipi Orgasheel tetap terluka, ini berkat teknik manipulasi darah milik Jarvis. Orgasheel lalu berlari menjauh namun Jarvis tetap mengejar.
Kini mereka berdua telah dwkat dengan para pahlawan yang sedang menonton pertarungan mereka dari tadi. Melihat adanya peluang, Orgasheel lalu menembakkan sebuah ledakan besar ke arah gedung dekat para pahlawan, gedung kini mulai roboh hendak menimpa para pahlawan.
Melihat itu Jarvis lalu naik ke gedung yang bersebelahan dengan gedung yang hampir roboh, ia lalu melemparkan kusari gama miliknya, tiga tiang gedung berhasil ditembus.
"Roy, bantu aku!"
Jarvis berteriak meminta bantuan ke Roy karena ia tak mampu untuk menahan gedung yang roboh tersebut. Dengan lompatan kaki dari Roy yang berubah menjadi kaki monster kanguru, ia kini berada di samping Jarvis.
"Transformasi Behemoth"
Tubuh Roy kemudian berubah lagi, kini ia memiliki tubuh berotot mirip banteng. Penampakan Behemoth biasanya berbentuk banteng raksasa dengan tanduk raksasa yang berdiri dengan dua kaki, namun Roy agak berbeda. Bukannya di kepala, tanduk yang dimiliki Roy berada di kedua punggung tangannya. Roy lalu mengambil rantai yang dipegang Jarvis.
"Apakah rantainya tidak akan putus?"
"Tidak, ini terbuat dari bahan khusus jadi sulit untuk rusak, bahkan tergores pun akan memerlukan usaha ekstra"
Roy lalu menahan gedung yang akan roboh dengan kusari gama milik Jarvis. Hal ini membuat gedung yang roboh terlihat melambat, para pahlawan berhasil menemukan peluang untuk melarikan diri dengan selamat. Namun ternyata Orgasheel menyerang dari belakang, Roy yang di serang tak pindah dari tempatnya.
Sebuah ledakan besar terjadi, namun Roy masih baik-baik saja. Tubuhnya hanya berasap akibat ledakan. Disisi lain Orgasheel malah tersungkur ke tanah.
"Bagaimana bisa, seharusnya jaraknya cukup jauh"
Orgasheel tampak keheranan, ia nampak tak percaya dengan apa yang menimpanya. Sebuah sayatan besar mengenai kedua persendian lututnya sehingga ia tak bisa berdiri. Ternyata Orgasheel terkena serangan dari Jarvis walaupun jaraknya cukup jauh jika menggunakan manipulasi darah.
"Kau pasti heran"
__ADS_1
Jarvis lalu menghampiri Orgasheel sambil memperlihatkan belati lipat di tangannya. Ukuran bilahnya memang lebih panjang ketimbang bilah kerambit dan belati pada kusari gama miliknya.
"Senjata ke-lima, ikan Fangtooth memiliki 5 taring bukan empat. Juga ini adalah senjata dengan taring terpanjang"