
Kemampuan penyembuhan dari pedang Excalibur sangat luar biasa. Semua orang yang terluka sudah sembuh total.
Tidak hanya itu, Chen Chao yang kehilangan tangannya, akhirnya utuh kembali ketika potongan tangan yang patah didekatkan di sampingnya.
Lain halnya dengan Jarvis. Jika yang lain bahagia dengan tubuh mereka yang pulih. Di hadapan Jarvis kini berdiri sekumpulan monster yang dibangkitkan.
"Karena mereka tidak memiliki darah, teknikku pasti akan gagal"
Jarvis lalu menyerang monster itu. Tapi tiba-tiba tubuh Jarvis tersungkur. Kekuatan petir hitamnya telah menghilang, karena mencapai batasnya.
Ia lalu mencoba berdiri, namun kakinya gemetaran akibat kelelahan berlebih.
Nafasnya mulai tak teratur. Mukanya mulai pucat.
Saat semua monster yang dibangkitkan menyerang Jarvis, tubuh mereka kemudian terpotong oleh sebuah cahaya. Potongan itu kemudian menjadi abu.
Ternyata yang menebas monster itu adalah ulah Ibaraki sendiri. Ia menggunakan pedang cahaya. Pedang itu adalah wujud sebenarnya dari pedang Excalibur.
Sosok Ibaraki lalu menghampiri Jarvis dengan pedang cahaya di tangan kanannya dan tombak darah di tangan kirinya.
Dengan tombak darah itu, ia lalu menusuk jantung Jarvis. Jarvis berusaha mencabut tombak itu, tapi lama-kelamaan seluruh bagian tombak darah itu masuk kedalam tubuh Jarvis melalui jantung.
Jarvis merasakan sakit yang luar biasa. Ia berusaha menahan sakit dengan cara menekan jantungnya.
Matanya tiba-tiba mengeluarkan darah, lama-kelamaan darah dimatanya digantikan dengan perubahan pupil mata yang berwarna merah.
Akhirnya Jarvis menerima kekuatan Mata Merah dari bimbingan tak langsung Ibaraki Doji. Ia lalu terkapar tak sadarkan diri di tanah.
Ibaraki lalu mengangkat tangannya.
"Aku menyerah"
***
Setelah hampir setengah jam pingsan, Jarvis akhirnya terbangun.
Cahaya mulai merembes ke matanya. Di sekelilingnya berkerumun temannya yang merasa khawatir.
Ia lalu melihat sekitar.
"Apa yang terjadi? kukira aku sudah kalah"
"Gurumu mengaku kalah"
__ADS_1
Sontak saja Jarvis kaget dengan ucapan Hanz. Walaupun awalnya ia merasa tak mampu menang, nyatanya ia berhasil meraih kemenangan.
Diwaktu yang sama, ternyata Roy menunggu Jarvis sadar.
"Apa kau bisa berdiri?"
"Iya"
"Kalau bertarung?"
"Aku butuh beberapa menit untuk menstabilkan kondisiku"
"Bagaimana dengan teknik petir hitammu?"
"Kurasa aku bisa menggunakannya sekali lagi"
Dalam benak Jarvis, jika ia menggunakan petir hitam, bisa-bisa dia akan kehilangan nyawanya. Kekuatannya kini sangat minim, apalagi untuk menggunakan kekuatan yang memiliki efek samping berbahaya.
Jarvis juga menyadari sesuatu.
'Kenapa guru menyerah. Padahal jika ia mau, membunuhku tidaklah sesulit itu'
Jarvis lalu memegang dada dan pundaknya.
Jarvis yang merasa telah disembuhkan melirik ke Charlotte, namun seakan tahu apa maksud Jarvis, ia menjawab pertanyaan sebelum ditanya.
"Bukan aku yang menyembuhkan lukamu. Tubuhmu sudah pulih sebelum kami membawanya"
Dalam benak Jarvis tak bisa menerka apa yang diinginkan gurunya.
'Lagi lagi ia menolongku, apa tujuannya. Padahal ia bukanlah iblis yang ramah'
Kendati Jarvis yang berfikir serius, Hanz mulai membuyarkan lamunannya.
"Jarvis"
"Ahh, iya, ada apa?"
"Apa matamu memang Semerah itu"
Ternyata pupil mata milik Jarvis berwarna merah menyala. Sangat mirip dengan mata yang dimiliki oleh Ibaraki Doji.
"Ternyata begitu. Ini perbuatannya"
__ADS_1
Jarvis lalu menunjuk salah satu matanya.
"Mata ini adalah mata merah. Guruku pasti melakukan sesuatu agar aku bisa membangkitkan mata ini. Mata yang digunakan untuk memanipulasi darah"
Siapapun yang mendengarnya pasti kaget, pemimpin mereka kini memilih kekuatan baru yang didapatkan dari pertarungan sebelumnya. Jarvis lalu melihat telapak tangannya.
'Dengan mata ini, aku dapat melakukan perluasan Tebasan tanpa memenuhi syarat'
Kamui lalu memberikan pedang ke Jarvis. Pedang itu adalah pedang dari taring Hydra, Primera.
"Ini pedangmu, tadi aku memungutnya"
Jarvis lalu mengambilnya.
"Terima kasih"
Jarvis lalu menyimpan pedang itu ke dalam ruang penyimpanan miliknya. Ia lalu mengambil 2 pedang pedang di ruang penyimpanan.
2 katana berhasil ditarik dari ruang miliknya. Pedang berwarna hitam, Gumiho. Juga pedang berwarna perak bercorak emas, Imogi.
Jarvis lalu mengetes kedua pedang itu sambil mengayunkan secara perlahan.
'Sesuai dugaanku, pedang yang tidak ditempa dengan tubuh monster pasti tidak akan bisa menggunakan Perluasan Tebasan, tapi itu tidak berlaku jika kau memiliki Mata Merah'
Jarvis akhirnya dapat menggunakan Perluasan Tebasan hanya dengan senjata yang dipegangnya, tanpa mempedulikan syarat yang diperlukan.
Di sudut podium, sesosok monster berjalan menuju arena. Semua orang tampak ketakutan. Ia adalah Anubis.
'Tersisa satu pertarungan lagi. Aku tak menyangka aku akan ikut dalam permainan yang membosankan ini'
Anubis kini memasuki arena dengan perasaan jengkel.
'Bahkan aku tak menyangka Ibaraki sampai mengaku kalah. Jika dia tidak memiliki kekuatan sebesar itu, dia pasti telah ku bunuh'
Perasaan jengkel yang berlebihan kini membanjiri batinnya.
Pertarungan terakhir adalah Anubis melawan Roy.
____________________________
SEKEDAR INFO:
Pertama-tama author meminta maaf kepada para pembaca karena publikasi karya yang lambat. Ini karena beberapa hari ini kesehatan yang kurang baik.
__ADS_1
Author juga mengucapkan terima kasih kepada para pembaca dan berbagai pihak yang mensupport sehingga karya ini dapat terus dinikmati.