Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Hari Pertama


__ADS_3

Makanan adalah suatu kebutuhan yang harus didapatkan oleh setiap manusia. Apa jadinya jika seseorang yang terasingkan oleh makanan yang layak malah disuguhkan dengan hidangan yang lezat. Hal ini terjadi di depan Roy dan Paula.


Paula terlihat mondar-mandir membawa makanan dan minuman, sedangkan Roy hanya bisa duduk sambil melihat dua orang yang sedang makan dengan lahap di depannya. Kamui dan Eun Ha makan dengan rakusnya, piring yang menumpuk telah menutupi kepala mereka.


"Bahkan segelas kapucino yang seharusnya diminum beberapa kali agar menikmati cita rasa khasnya, malah diminum sekaligus"


Paula merasa harga dirinya sebagai Barista jatuh. Seorang barista bersusah payah membuat satu gelas kopi yang nikmat, malah dihabiskan dalam satu kali tegukan.


"Mereka kebal juga, seharusnya sekarang sudah berefek"


Roy agak bingung dengan maksud Paula.


"Apa maksudmu"


Paula lalu mendekatkan jari telunjuknya di bibirnya. Ia lalu menjawab dengan singkat pertanyaan Roy.


"Obat sakit perut"


Roy hanya bisa menepuk jidatnya. Beberapa kali ia mengusap kepala dan wajahnya, tanda bahwa ia sedang gelisah.


"Mereka tamunya Jarvis"


"Kenapa kau tidak memberi tahu dari tadi"


"Kau tidak bertanya, lagi pula perbuatamu ini jika di ketahui Jarvis pasti…"


"Jarvis sendiri yang mengajariku"


"Ehh?"


"Katanya kalau ada pelanggan yang bikin repot, beri saja obat sakit perut"


"Dasar anak itu"


Paula juga mulai panik, ia lalu menyuruh Roy untuk menegur mereka berhenti.


"Cepat tegur mereka agar berhen…"


"THUUUUUTH!"


suara kentut dari Eun Ha menghentikan perkataan Paula.


Eun Ha lalu pergi dengan terburu-buru mencari WC. Baru saja ia memegang gagang pintu WC, Kamui juga mulai sakit perut. Eun Ha yang melihatnya langsung masuk ke dalam WC dengan cepat agar tidak di dahului oleh Kamui.


Kamui lalu menggedor pintu WC tersebut.


"Hei, cepat sedikit, sudah di ujung tanduk sekarang"


Eun Ha yang risih mulai menjawab.


"Tunggu dulu, aku baru mulai"


Paula dan Roy merasa bersalah melihat tingkah mereka.


"Sebenarnya siapa mereka?"


"Teman Jarvis saat masih menjadi gladiator"


"Gladiator?"


"Budak para monster, petarung yang berusaha untuk tetap hidup"


Paula menjadi kaget dengan ucapan Roy, ia masih merasa masih belum mengenal Jarvis lebih baik.


Sesaat setelah Eun Ha keluar dari WC, Kamui langsung masuk ke dalam dengan terburu-buru. Melihat Eun Ha yang telah keluar, Roy lalu memanggilnya.


"Bisakah kau ceritakan tentang Jarvis?"


"Maaf, kalau itu aku tidak tahu"

__ADS_1


"Kenapa, bukannya kau mengenalnya"


"Aku mengenalnya baru sebentar, tapi Kamui bisa. Ia dan Jarvis adalah generasi pertama sedangkan aku generasi kedua"


"Generasi, apa maksudmu saat Jarvis pergi, kalian kemudian ditangkap oleh para monster?"


"Kurang lebih seperti itu"


Roy yang mendengarnya tersulut amarahnya. Ia hendak menghantam meja di depannya namun sesaat ia menahannya karena pasti akan diomeli oleh Jarvis.


Saat Kamui keluar dari WC, Roy lalu memberitahu maksudnya ke Kamui.


"Bisakah kau ceritakan tentang Jarvis? Ia terlalu menutup dirinya jika membahas masalah itu"


"Baiklah aku akan menceritakannya, tapi sebelum itu aku akan memperkenalkan diriku, dan maksud kedatangan kami kesini"


Kamui dan Eun Ha mulai memperkenalkan diri mereka, mereka juga mengungkapkan bahwa mereka telah membentuk organisasi bernama Rashomon. Namun ketika ia memberi tahu bahwa Jarvis hendak menantang para petinggi monster, Paula lalu tersulut amarahnya.


"Pergi kalian!"


"Paula tenanglah!"


Roy lalu menegurnya.


"Kubilang pergi"


Entah kenapa cara berbicara Paula mulai terisak, matanya mulai berkaca-kaca.


"Paula tenanglah! Kami memang sudah merencanakan ini dari dulu jauh sebelum kau datang ke sini."


Paula yang mendengar Roy mulai menahan diri.


"Apa yang terjadi pada kalian itu tidak ada hubungannya dengan Jarvis, jika Jarvis berhasil melarikan diri itu salah kalian karena tidak mampu untuk melarikan diri juga"


Kamui dan Eun Ha merasa pendapat Paula terlalu menusuk, sebab harapan mereka yang terlalu besar ke Jarvis. Tetapi mereka menahannya.


Tanpa mempedulikan siapapun, mau didengar atau tidak, Kamui yang awalnya disuruh untuk bercerita oleh Roy, mulai bercerita dari lubuk hatinya tanpa dorongan siapapun.


Semua yang ada di situ mulai mendengarkan. Bahkan Eun Ha juga, ia merasa yang di alaminya berbeda dengan yang di alami generasi pertama, bahkan dari awal cerita Kamui sudah ada beberapa perbedaan.


Eun Ha yang diculik oleh para monster kala itu sudah dalam keadaan sudah cukup dewasa. Jadi ia mampu untuk beradaptasi berbanding terbalik dengan generasi pertama yang masih anak kecil.


Eun Ha juga berpikir yang mengatur kehidupan mereka adalah para gladiator generasi pertama, jadi masih mending karena mereka diperlakukan selayaknya manusia walaupun yang membuat mereka gelisah hanyalah latihan dan pertarungan di arena namun berbeda dengan generasi pertama. Mereka sudah dijadikan budak pembunuh sejak kecil.


Kamui melanjutkan ceritanya


"Saat itu...


***


12 tahun lalu.


Di kota H, setelah pertarungan Ludheer dan monster singa telah selesai, suasana kembali mencekam akibat kemunculan salah satu petinggi monster.


Duarrr!


Suara Guntur mengagetkan semua orang. Kemudian disusul dengan ruang dimensi yang robek di depan mereka. Para pahlawan biasa menyebutnya gerbang monster.


Srekk!


Aura membunuh yang kuat keluar dari dalam gerbang monster. Semua pahlawan merasa ketakutan. Monster yang ada di dalam gerbang jauh lebih kuat dari monster singa.


"Siapa diantara kalian yang terkuat?" Ucap sosok monster.


Monster tersebut berbentuk seperti manusia namun memiliki kulit putih pucat, rambut gondrong terurai, gigi taring yang dua kali lebih panjang dari gigi manusia, dan mata merah dengan pupil ular.


"Vampir" ucap Charlie


"Gawat, aku akan menahannya, kalian larilah!" Ucap salah satu pahlawan.

__ADS_1


"Ayo lari, walaupun ia berbadan kurus, namun ia masihlah pahlawan kelas B" kata rekannya kepada yang lain.


Memang situasi tidak memungkinkan, satu-satunya pahlawan kelas A sudah kelelahan. Pahlawan kelas B tersebut menerobos ke vampir. Senjata yang digunakan adalah rantai yang keluar dari seluruh tubuhnya.


"Dia tidak pernah menggunakan kemampuan penuhnya, jadi dia selalu tertahan di kelas B, baru kali ini aku melihat ia menggunakan kemampuan penuhnya" kata pahlawan yang ikut lari sambil menengok kebelakang.


Puluhan rantai bergerak seperti ular yang kemudian menyerang vampir tersebut.


Duarr!


Vampir hanya melangkah namun kepala sang pahlawan pecah tak bersisa.


"Akhirnya" ucap vampir tersebut tidak jelas maksudnya.


Seluruh pahlawan meninggalkan tempat itu secepatnya. Jarvis yang melihat suasan tersebut merasa aneh. Seluruh pahlawan lari. Bahkan tak ada yang mau membantunya untuk lari. Semua warga melihat kejadian juga merasa tak bisa berbuat apa-apa.


Seluruh pahlawan melewati Jarvis begitu saja.


"Jangan menghalangi" ucap salah satu pahlawan yang mendorong tubuhnya.


"Aahggg!" Jarvis kesakitan sambil memegang lututnya yang berdarah akibat terjatuh.


Saat itulah muncul vampir di belakang Jarvis. Vampir itu kemudian memegang kaki Jarvis yang terluka. Kemudian membawa Jarvis seperti sebuah barang. Jarvis tambah kesakitan akibat perilaku yang tak biasa tersebut.


"Tolong" teriak Jarvis.


"Kumohon tolong aku" lanjutnya lagi.


Jarvis kemudian dibawa ke gerbang monster.


"Tolong"


Setelah melewati gerbang monster, Jarvis seakan tak bisa berbicara. Dihadapannya terlihat sebuah Piramida besar, jelaslah bahwa ia berada di Mesir walaupun tidak segersang dalam buku pelajaran yang ia baca. Daerah yang telah lama tidak dihuni oleh manusia.


Namun yang membuat Jarvis tercengang adalah ribuan anak kini menghiasi tempat tersebut. Mereka semua menangis, karena mereka tidak bisa pulang, terlebih lagi dengan pengawasan berbagai monster yang sangat sangat ketat.


Jarvis lalu dilemparkan ke kerumunan anak tersebut, alhasil tubuhnya kini penuh dengan bekas luka akibat pendaratan yang tidak mulus. Seharusnya anak yang dibuang seperti itu harusnya menangis, namun Jarvis tidak menangis. Matanya kini penuh dengan sorotan mata yang telah kehilangan niat untuk hidup.egie


Suara teriakan monster dan suara para manusia yang diculik sulit untuk dibedakan lagi. Teriakan monster membahana di mana-mana yang membuat Isak tangis anak-anak semakin menjadi-jadi.


Hari pertama, para monster akhirnya berhasil menculik ribuan anak manusia. Mereka di cambuk, dipukuli, ditendang, dan berbagai kekerasan lainnya. Hal ini untuk membuat rasa takut berlebih kepada monster.


Monster tersebut berwujud seperti semut, berdiri dengan kedua kakinya, juga dengan tubuh hampir 2 kali lebih besar dari tubuh orang dewasa. Memiliki lengan yang panjang, itu digunakan untuk mencambuk anak-anak. Monster semut inilah yang menjadi pekerja dalam mendisiplinkan anak-anak.


Salah satu anak menangis berlebihan, ia memiliki bekas luka di lututnya. Walaupun cuma luka lecet bagi orang dewasa, namun bagi anak kecil, hal itu seperti luka yang fatal. Sesaat kemudian anak itu di cambuk oleh monster.


Anak yang di cambuk malah menangis semakin menjadi jadi. Pukulan kembali dilayangkan.


"Diam!"


Monster tersebut memberikan perintah ke anak yang dicambuknya. Anak itu kemudian ditendang. Lalu diperintahkan untuk diam.


"Diam!"


Bukannya diam, seorang anak yang dipukuli pasti menangis. Ini merupakan pendisiplinan yang salah. Sesaat kemudian salah satu anak merangkul anak tersebut, anak yang dirangkul dan yang merangkul kemudian dipukuli lagi.


Tapi ada perbedaan sejak tadi, kedua anak ini sudah tidak menangis lagi. Bukan karena keduanya telah mati dipukuli, melainkan salah seorang anak berusaha menahan anak yang dirangkulnya dengan cara mencekik lehernya. Ternyata yang mencekik adalah Jarvis.


Sesaat setelah monster pergi meninggalkan mereka berdua, anak yang gemuk marah ke Jarvis sambil terbatuk-batuk karena berusaha menstabilkan pernapasan.


"Dasar brengsek, apa yang kau lakukan?"


Tanpa berkata dan hanya memberikan bahasa isyarat, Jarvis menyuruhnya diam dan melihat sekeliling. Betapa kagetnya anak gemuk itu melihat pemandangan di sekitarnya.


Seluruh anak yang menangis dipukuli hingga diam, ada yang berusaha menahan tangisannya walaupun telah dipukuli. Namun tidak sedikit juga yang dipukuli hingga meninggal. Darah kini berserakan dimana-mana.


Jarvis lalu mencairkan suasana.


"Namaku Jarvis, namamu?"

__ADS_1


"Aku Kamui Murakashi"


Ternyata anak gemuk itu adalah Kamui saat masih kecil, sangat jauh berbeda dengan perawakan ia yang telah dewasa yang berbadan tinggi tegap.


__ADS_2