Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Menjarah dan Melindungi


__ADS_3

Makam Naga adalah tempat yang paling dicari oleh orang banyak. Disamping memberikan kekayaan juga memiliki beberapa artefak yang sangat kuat. Walaupun demikian ada satu masalah yang harus dipertimbangkan jika ingin menjarah makam, naga yang menjaga makam tersebut.


Kini Athos dan Ibaraki akan pergi menjarah makam Naga.


"Kutahu jika makam itu dijaga naga, namun apakah kalian tak bisa mengalahkannya. Bukannya kalian itu kuat"


Jarvis seakan tak ingin memberi mereka tombak trisula.


"Bukan itu masalahnya"


"Lalu apa"


"Itu rahasia" Athos tak bisa memberitahu Jarvis alasannya.


Ibaraki yang duduk terpisah dari mereka kemudian bergabung.


"Sebenarnya ada jantung naga yang akan menambah kekuatan monster yang memilikinya"


"Jadi kalian ingin memiliki jantung naga itu"


"Tidak, kami berencana untuk melindunginya" kata Ibaraki.


"Melindungi dari apa?"


"Apakah kau tahu jika banyak bicara itu bisa membunuhmu"


Ibaraki lalu mengeluarkan aura membunuh yang kuat ke Jarvis.


Jarvis yang mendengarnya hanya tersenyum.


"Terus apa maksudmu tadi tentang menjarah makam, sekarang melindungi makam. Tidak konsisten" Jarvis berusaha untuk tetap kuat walaupun ditindih oleh hawa membunuh.


"Kau bisa mengambil apapun di makam itu kecuali jantung naga" Ibaraki memulai penawaran.


"Sepakat"


Jarvis terlihat senang mendengarnya. Tapi raut muka Hera tampak kecewa.


"Kenapa kau yang setuju, aku yang harusnya menolak. Aku yang memiliki tombak trisula itu"


"Apa kau mau melawan tuanmu?"


"Sial, kenapa aku menjalin kontrak dengan pria setan ini" keluh Hera.


"Itu berkah untukmu" Jarvis mulai memanasinya.


Hera malah tambah naik pitam.


PAKK!


Ibaraku lalu menepuk tangannya. Seketika muncul gerbang monster yang jauh lebih besar dari milik Jarvis.


"Ayo kita berangkat" kata Ibaraki.


"Aku masih belum memiliki tombakku, kemampuan yang kumiliki sudah hilang. Jarvis harus mengembalukan kekuatanku"


Seketika Jarvis langsung panik.


"Apakah kau gila, masak aku harus mengurangi masa hidupku hanya untuk ini. Tidak mau"


Athos yang kepanasan telinganya mendengar omelan Jarvis dan Hera akhirnya angkat bicara.


"Jika sudah menjalin kontrak, kau tak perlu khawatir lagi dengan itu"


Maksud Athos adalah masalah pengurangan masa hidup dari kekuatan Buku Arwah. Sekali kontrak terjalin, sang pemilik buku dapat mengontrol siapapun yang menjalin kontrak tersebut.


Jarvis yang telah paham langsung memberikan izin kepada Hera untuk menggunakan kekuatannya.


"Kau ku izinkan melepas kekuatanmu"


Seketika tubuh Hera berbalut aura hitam mengerikan. Mengingat Hera adalah mantan Petinggi Monster, jadi kekuatannya sangat besar.


"Apa kau yakin ingin memamerkan kekuatanmu kepada kami?"


Athos menggertak Hera, seketika Hera langsung ciut. Seketika aura Hera yang mengerikan langsung berkurang.


Hera lalu memalingkan muka, takut bertatapan dengan Athos. Namun tak sengaja ia melihat Jarvis tertawa cekikikan.


Hera lalu mengeluarkan tombaknya.


"Apa kau ingin menghajarku" kata Jarvis sambil menunjuk Athos.


"Tidak, aku hanya ingin mengeluarkannya"


Jarvis kembali cekikikan tak karuan. Muka Hera berubah jadi merah, tanda ia sedang menahan amarahnya.


Mereka lalu memasuki gerbang monster.

__ADS_1


Seketika Jarvis yang baru pertama kali melihat pemandangan ini tampak ngeri.


Tanah gersang berapi seketika membakar sedikit pakaian Jarvis. Dari kejauhan sudah nampak bangunan bagaikan istana


Terlihat ada beberapa tulang naga berserakan. Namun bukan itu yang menjadi masalahnya.


Di atas mereka terlihat ratusan naga dengan ukuran yang sangat besar, bahkan lebih besar dari milik Eun Ha, tampak beterbangan di atas langit.


Gerombolan naga itu seakan memberikan izin untuk menziarahi makam Naga.


"Makam naga sebenarnya tidak hanya ini, bahkan lebih banyak dari pada yang kalian tahu. Namun ini adalah makan naga terkuat. Jantungnya menjadi incaran banyak orang"


Ibaraki mulai menjelaskan.


"Hera, apa kau siap melepaskan tombak itu. Kepemilikan tombak itu sekarang berpindah tangan"


Ibaraki mulai memantapkan keputusan yang diberikan ke Hera.


"Aku siap"


Hera lalu memberikan tombak trisula kepada Ibaraki.


Ibaraki lalu pergi ke istana itu dengan kecepatan petir.


Setelah beberapa saat, seketika tanah gersang berapi itu berubah. Mulai dari apinya yang padam, lalu tanah gersang berubah menjadi tanah yang subur. Tak menunggu waktu lama, beberapa tanaman tumbuh dengan sangat cepat.


Kini tempat itu yang dulunya adalah tanah gersang berapi kini berubah menjadi hutan belantara yang subur.


Ibaraki lalu datang menghampiri mereka.


"Hey Jarvis, apa kau sudah mengambil sesuatu"


"Apa yang ingin ku ambil, tak ada apapun disini"


"Itu" kata Ibaraki sambil menunjuk kerangka naga.


"Maksudmu tulangnya? Memang menggiurkan tapi tak ada yang mampu menempanya"


Jarvis merasa tidak puas, namun bagaimana lagi. Ia akan mengalah kali ini.


"Bukan tulang, tapi arwah"


"Arwah?"


Jarvis mulai penasaran dengan saran gurunya.


Jarvis yang mendengarnya malah tambah tidak puas.


"Ayo kita pulang. Tak ada apapun disini. Aku tak ingin kehilangan separuh umurku"


Tiba-tiba terdengar suara petir dilangit. Sebuah gerbang besar mulai muncul dari pusat petir.


"Rashomon?"


Jarvis baru kali ini melihatnya secara langsung. Biasanya gurunya hanya mengatakan kemampuannya.


"Setiap petinggi monster memiliki kemampuan domain spesial. Itu adalah syarat dalam menjadi petinggi monster. Kemampuanku adalah Meniadakan Kematian"


Seketika Jarvis langsung paham.


"Maksudmu …"


Jarvis mulai sedikit gemetaran.


"Benar, kau bisa melakukan kontrak dengan arwah melalui Buku Arwah, tanpa mempedulikan nyawamu sekarang"


Jarvis lalu membuka bukunya. Ia lalu membuat kontrak.


"Mau ku ajari?"


Hera ingin memberikan bantuan, sebab Jarvis baru kali ini melakukan kontrak dengan arwah.


"Tidak perlu"


Jarvis lalu maju ke bangkai naga di depannya.


'Pikirkan satu kata pemicu mereka dapat mematuhiku'


Jarvis mulai melakukan uji coba.


"Berlututlah!"


Tak ada respon.


"Hiduplah!"


Lagi-lagi tak ada respon.

__ADS_1


"Bangkitlah!"


Seketika aura hitam jahat menyelimuti tubuh Jarvis.


"Apa ini?"


Jarvis merasa ketakutan, belum pernah ia mengalami ini selain dari para petinggi monster.


"Tenanglah, mereka mengujimu"


Ibaraki mulai memberikan bimbingannya.


Jarvis lalu memantapkan tekadnya.


"Bangkitlah!"


Tiba-tiba aura itu menyerang Jarvis lagi, namun sekarang tak membuat Jarvis ketakutan. Aura itu kini menjadi energi bagi Jarvis.


Disaat yang sama, Jarvis melihat ada empat naga dan satu burung bangkit dari gundukan tulang.


Empat naga memiliki warnah hitam kemerahan, dengan bentuk yang hampir mirip. Ada juga burung berwarna hitam yang diselimuti oleh api biru.


Mereka lalu menghadap Jarvis dengan sopan, seakan mereka adalah hewan peliharaan Jarvis.


Jarvis merasa senang, ia lalu memandang gurunya.


"Aku berhasil"


Jarvis merasa bersemangat.


"Dasar lemah"


"Payah"


Athos dan Hera malah mengejek Jarvis.


"Jika Anubis, dia bisa membangkitkan semua arwah yang ada di sini"


Di saatyang lain mengejeknya, Ibaraki melihatnya berbeda.


"Kurasa dia beruntung"


"Apa maksudmu" Athos tak setuju.


"Ia berhasil membangkitkan Burung Phoenix" kata Ibaraki.


Mereka semu lalu mendengar penjelasannya.


"Burung Phoenix adalah burung penyembuh. Dengan apinya ia bisa menyerang sekaligus menyembuhkan. Juga dikatakan jika burung ini memiliki kecepatan yang luar biasa, bahkan lebih cepat dari naga"


Ibaraki seakan tampak puas dengan apa yang di bangkitkan Jarvis.


"Ada satu hal yang harus kau tahu"


Ibaraki mulai mengingatkan Jarvis.


"Mereka adalah arwah, tak ada yang bisa melihat bentuk aslinya kecuali mereka yang memiliki kekuatan kelas S, bahkan kelas A hanya dapat merasakannya"


Jarvis mulai paham dengan kemampuannya.


"Sekarang kau bisa membangkitkan dan menggunakan mereka kapanpun tanpa takut kehilangan masa hidupmu. Kau sudah menjalin kontrak"


Ibaraki lalu menutup gerbang Rashomon.


Athos terus memegang kepalanya, ia seakan mengingat sesuatu.


"Ini pertama kalinya aku melihat Hollow"


"Hollow?"


"Manusia menyebut arwah sebagai hantu, kamu menyebutnya sebagai Hollow"


Jarvis lalu mendapat ide.


"Sekarang mereka kunamakan Pasukan Hollow"


Kebiasaan Jarvis menamai sesuatu tak kunjung reda.


Athos malah menanggapinya dengan positif.


"Pasukan Hollow, menarik"


Ibaraki lalu mengingatkan mereka.


"Karena urusan kita disini sudah kelar, sebaiknya kita pergi"


"Akhirnya kita pulang" kata Hera yang mulai suntuk di makam Naga.

__ADS_1


"Tidak, pertarungan baru saja di mulai" Ibaraki menegaskan.


__ADS_2