
Jarvis masih ingat dengan wajah pahlawan yang membunuh ayahnya secara tak bertanggung jawab.
Sosok yang membunuh ayahnya kini telah berdiri tepat di hadapannya. Ia lalu mengulurkan tangannya.
"Aku Charlie, Anda?"
"Jarvis Curtis"
"Jarvis Curtis sang Penebas" kata Charlie percaya diri.
Jarvis kaget dengan ucapan Charlie. Rahasia yang lama di sembunyikan telah terbongkar.
Roy yang berada di samping Paula kini mengeraskan kaki dan tangannya, bersiap untuk bertarung.
Jarvis lalu melepaskan tangan Charlie, ia lalu mengangkat tangan kanannya tepat di wajah Charlie. Ia memperagakan seseorang sedang menembakkan pistol tepat di jidat.
"Door"
Jarvis hanya ingin membuat kaget pria itu, namun hal tak terduga terjadi.
Beberapa orang berkemampuan super telah mengepung Jarvis. Mereka semua mengarahkan senjatanya ke Jarvis. Ada tongkat, belati, pedang, serta tongkat sihir.
Jarvis tak bisa bergerak dibuatnya. Walaupun begitu ia tersenyum.
"Jika aku sang Penebas, kau sudah mati"
PUK!
Suara tepukan tangan dari Charlie membuat semuanya langsung bubar.
"Maaf atas gangguannya"
Charlie berusaha ramah ke Jarvis. Jarvis langsung duduk di kursi.
"Ada perlu apa?"
"Aku ingin kau menjadi pengajar di sekolah pahlawan"
Jarvis yang mendengarnya merasa terpukul. Ia yangg benci dengan pahlawan, tidak akan mungkin mau untuk mengajar di sekolah itu.
"Kenapa kau ingin menjadikanku pengajar, aku bukan manusia evolusi, jadi tidak memungkinkan untuk memiliki kemampuan khusus"
"Kami tahu itu"
'Kami?'
Benak Jarvis kini yakin, ia telah diawasi oleh beberapa orang.
"Kami menginginkan pengajar yang mampu mengalahkan para murid tanpa memiliki kemampuan layaknya pahlawan" kata Charlie.
Jarvis pernah melawan para murid pengguna kemampuan untuk membantu Aland yang sering di-bully, ia berhasil menang tanpa menggunakan kemampuannya. (**Episode 6)
"Aku menolak"
"Ini bukan permohonan"
"Apa kau mengancamku?"
Charlie lalu pergi meninggalkan Jarvis, sebelum ia keluar, ia berbalik.
"Pertimbangkan saranku. Juga mengenai tadi, jika kau Penebas, sang Penebas tak akan mampu mengalahkanku"
Charlie lalu pergi meninggalkan Kafe serta diikuti oleh pengikutnya.
Jarvis lalu menghampiri Roy dan Paula.
"Memang kurang ajar, apa mereka pikir aku pengguna kekuatan"
__ADS_1
Paula yang mendengarnya langsung paham. Mereka diawasi oleh seorang terlatih. Paula tahu bahwa Jarvis memiliki kemampuan, namun ia berkata seperti itu, jelas bahwa kini mereka diawasi.
Kini mereka selalu berceloteh tentang kemampuan yang tak mereka miliki.
Dengan teknik persembunyian yang hebat, ternyata salah seorang sedang mengawasi mereka.
Jarvis dan yang lainnya lalu melakukan aktivitas seperti biasa tanpa menimbulkan kecurigaan apapun.
Untuk merubah suasana, juga memperkuat identitas mereka, Paula mulai berceloteh.
"Anuh, maaf"
"Ada apa?" Kata Roy.
"Sebenarnya aku adalah seorang pahlawan, kukira aku yang mereka datangi"
"Apaaa, tidaak, aku tertipu" suara Jarvis terdengar lebai sambil menunjukkan ekspresi layaknya banci.
"Hei Jarvis, apa kau tahu selama ini" tanya Roy yang sedang berpura-pura.
"Iya"
Mereka terus bercanda gurau, seakan mereka tak menyembunyikan apapun.
Jarvis lalu memperkuat keyakinan orang yang memata-matai mereka.
"Selama mereka tak melihat tombakku, itu akan baik-baik saja"
"Ohh tombak itu" kata Roy.
"Tombak?" Paula tak paham.
"Jika pahlawan atau manusia evolusi tak ada, Jarvis mungkin akan menjadi pengguna tombak terkuat di dunia" Roy berusaha untuk menyombongkan Jarvis.
Kini orang yang memata-matai mereka telah berhasil memperjelas tujuannya. Jarvis tak memiliki apapun yang dibutuhkan sebagai manusia evolusi. Ia hanyalah manusia biasa yang memiliki kemampuan beladiri terbaik.
Tiga jam telah berlalu, Jarvis dan Paula sedang melayani pelanggan. Sedangkan Roy hanya duduk saja tak membantu apapun.
"Akhirnya ia pergi" kata Roy
"Jadi kau juga tahu, Roy" kata Paula.
"Sebenarnya itu hal mudah jika dipelajari. Jarvis menggunakan teknik darah, sehingga siapapun yang berdarah di sekitarnya akan diketahui. Sedangkan aku menggunakan penciuman serigala Nemea, aku mampu membedakan bau siapapun. Namun aku menemukan bau orang asing di tempat ini, walaupun kita hanya bertiga"
"Kalian hebat, padahal aku tak merasakan apapun"
"Masa?"
"Sungguh"
Paula kini merasa perlu bertambah kuat, ia tak ingin tertinggal dari mereka.
Jarvis lalu pergi ke tempat tombaknya disimpan, Paula dan Roy lalu mengikuti.
"Walaupun tak terlihat apa-apa, tapi ruangan ini sudah di acak-acak"
Jarvis lalu menuju ke lemari pakaian. Ia lalu mengambil tombak terbungkus di belakang lemari itu.
"Aku menaryh benang sehelai di kain pembungkus tombak, namun ia menaruhnya lagi, sehingga terpikirkan bahwa ini tidak pernah disentuh. Namun jebakan kedua ternyata terbukti"
Jarvis lalu melihat kain dengan simpulnya.
"Tombak ini sangat tajam" kata Jarvis.
Roy sangat tahu itu, tombak itu pernah menancap punggungnya ketika ia berubah menjadi serigala Nemea tanpa ada masalah.
Jarvis lalu membuka kain itu. Ia lalu memperlihatkan goresan kecil di bagian dalam pembungkus tombak.
__ADS_1
"Coba perhatikan! Kain ini tergores dua kali, padahal aku menggunakannya baru pertama" lanjut Jarvis.
Jika senjata lain mungkin tidak akan memberikan dampak seperti ini, sebab tombak itu terlalu tajam. Tombak dari paruh Elang Penembak.
Jarvis lalu duduk di kasur.
"Kita tidak bisa mundur" kata Jarvis.
"Tahan sebentar"
"Ada apa Roy?"
"Menurutku ini kesempatan emas. Kita bisa menemukan beberapa anggota Unicorn jika kau menjadi pengajar di sekolah itu" kata Roy.
Paula lalu memberi arahan.
"Sepertinya kau masih belum bisa langsung menjadi pengajar. Ia tak memberikan nomor yang perlu dihubungi"
"Seleksi para pengajar baru. Tiga hari dari sekarang" kata Roy.
"Dari mana kau tahu?"
"Sudah lama aku memantau pergerakan Charlie. Ia adalah terget kita"
"Terus dimana seleksinya?"
"Di kota U, tiga hari dari sekarang. Kau akan pergi ke sana untuk melakukan tes. Jangan gunakan kemampuan apapun. Kau mengerti Jarvis"
"Siap"
***
Tiga hari telah berlalu, terlihat Jarvis dan Eun Ha sedang berada di atas mobil. Jarvis meminta bantuan ke Eun Ha karena ini adalah kotanya. Jadi Eun Ha yang akan mengantarkan langsung Jarvis ke tempat seleksi.
"Aku tak menyangka kau punya mobil pribadi" kata Jarvis yang iri.
"Punya? Bahkan aku punya 4 di bagasi" kata Eun Ha sambil menyetir.
"Orang kaya pasti enak"
"Makanya, jadi orang kaya"
"Kaauuuu"
Jarvis terlihat emosi sambil mengepalkan tinjunya.
Eun Ha hanya tertawa kemudian menambah kecepatan mobilnya.
Tibalah mereka di tempat tujuan. Jarvis lalu keluar dari mobil.
Dihadapannya kini berdiri banyak pengguna kekuatan. Ada yang bertubuh besar, ada yang membawa busur, dan berbagai ciri khas lainnya dari pahlawan.
Jarvis hanya berpakaian yang mirip ketika ia pergi ke Mesir untuk mencari senjatanya.
Jarvis kini sedang memakai pakaian mirip tentara. Ia mengenakan celana cargo panjang berwarna hitam serta sepatu PDL tentara. Ia memakai baju kaos hitam lengan pendek yang ditutupi oleh rompi berwarna hitam.
Ia lalu bersiap memasuki gedung.
"Jarvis" Eun Ha memanggil.
"Aku punya kakak, baik-baiklah dengannya"
"Ok"
Jarvis hanya berkomentar walaupun tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Eun Ha.
Kini ia siap dalam seleksi guru calon pahlawan.
__ADS_1
Pembunuh ayahnya, anggota Unicorn, serta salah satu alasan mengapa Jarvis benci dengan pahlawan, ia adalah Charlie, kepala sekolah di tempat ini.