
Tiba-tiba suara gemuruh petir terdengar keras. Jarvis tahu siapa itu. Walaupun niatnya ingin kabur namun Jarvis menghentikan niatnya. Sejalan dengan perkataan Roy, jika ingin mengetahui seberapa kuat gurunya maka sekaranglah saatnya.
Petir terus menyambar dari langit, sesaat kemudian sebuah petir berkelok menyerang 5 kepala naga. Kepala naga tersebut langsung terpotong, walaupun ukurannya sangat besar.
Dengan pedang di tangannya, Ibaraki Doji berhasil menyelamatkan nyawa Athos. Namun tak berselang lama serangan dari kepala naga mengincar Athos lagi, tapi Ibaraki dapat memotong langsung tujuh kepala naga.
Kemampuan yang sangat mengerikan. Hanya dengan kemampuan petir dan teknik manipulasi darah, Ibaraki dapat memotong langsung kepala naga tersebut.
Merasa terdesak sebab berusaha melindungi Athos, Ibaraki langsung memotong udara di depannya. Sebuah gerbang monster raksasa berhasil dibuat. Ia lalu melempar tubuh Athos yang besar itu ke dalam gerbang monster, yang disusul olehnya.
Melihat itu Jarvis serasa menemukan sesuatu.
"Sebuah tebasan yang menciptakan gerbang monster dengan sangat cepat. Teknik itu akan ku kuasai"
Setelah berkata seperti itu Jarvis lalu menyusul Roy yang sedari tadi menunggu di pintu masuk gerbang monster yang dibuatnya.
Kini akhirnya Jarvis bebas, dengan janji untuk membebaskan semua gladiator nantinya. Hanya jika kekuatannya telah cukup untuk melawan tiga petinggi monster. Sebab petinggi yang lain hanyalah bawahan dari petinggi yang sebenarnya.
***
Kembali ke masa sekarang.
Di dalam Kafe, Roy ternyata menambahkan cerita dari Kamui tentang bagaimana saat ia berhasil melarikan diri dari Unicorn atas bantuan Jarvis.
Yang baru mengetahui cerita ini, Paula dan Eun Ha tak bisa berkata apa-apa. Sedari awal ternyata generasi pertama memang bertujuan untuk menyelamatkan generasi selanjutnya.
"Kini Jarvis pergi sendirian ke Colosseum. Menurut pendapatku, ia sebenarnya tidak berencana atau sekedar menunda rencana pembebasan para gladiator. Namun karena pertarungannya dengan Orgasheel, ia menerima luka yang cukup parah"
Ternyata Kamui penasaran dengan organisasi Unicorn. Bahkan ia tak mengenali Orgasheel, orang yang bertarung dengan Jarvis.
"Orgasheel?"
"Sepertinya akan lebih baik jika diperlihatkan langsung"
Roy lalu berdiri, ia lalu bergegas ke arah pintu. Paula yang melihatnya kemudian menegurnya.
"Kau pergi kemana?"
"Pergi jalan-jalan"
Paula lalu memberi kode ke arah Kamui dan Eun Ha untuk mengikuti Roy. Mereka akhirnya pergi ke suatu tempat. Sebenarnya Paula tak ingin pergi ke situ namun ia hanya ingin mendengar lebih jauh lagi rencana Roy.
Di sekitaran kota tempat kaki mereka berhenti, berserakan puing-puing bangunan. Ini adalah bekas pertarungan Jarvis dan Orgasheel. Ada beberapa gedung yanng sudah rata dengan tanah.
"Apakah kalian pernah melihat jejak pertarungan semengerikan ini? Ini adalah bekas pertarungan Jarvis dan Orgasheel"
Mata Kamui dan Eun Ha melotot tak karuan. Mereka seakan tak percaya jika pemimpin mereka akan didesak sampai sejauh ini.
"Apakah ketua menang"
"Ketua siapa yang kau maksud"
"Maksud Eun Ha adalah Jarvis. Kini ia sudah menjadi ketua kami"
Roy telah menduga hal ini. Ia tahu dari dulu bahwa ada beberapa orang yang memang setia mengikutinya. Ia lalu membenarkan pertanyaan Eun Ha.
"Roy berhasil menang, walaupun hasilnya beda tipis"
"Aku tahu pasti begitu"
Kamui merasa yakin jika Jarvis yang akan menang. Namun Roy yakin jika ini hanya masalah kecil dari masalah yang akan mereka hadapi.
"Sebenarnya Jarvis telah menyiram bensin dalam kobaran api"
Yang lain mulai mendengarkan dengan serius. Roy lalu menambahkan.
"Yang menjadi lawan Jarvis masihlah lemah. Kelompok Unicorn diketuai oleh seorang dengan kemampuan Ranking S, bahkan aku dan Jarvis waktu melihat pertarungan pemimpin Unicorn 2 tahun lalu merasa takut"
"Hanya melihat saja?" Kaget Paula.
"Iya, cuma melihat pertarungan. Kami merasa ketakutan"
__ADS_1
"Tak kusangka Ranking S benar-benar ada" Kamui mulai berpikir serius sambil menggosok dagunya dengan ibu jari dan jari telunjuk.
"Memang jumlah mereka sangat sedikit di dunia. Namun keberadaan mereka benar adanya. Sebagai contoh cerita raja Arthur yang menguasai Britania atau seorang juru selamat yang mampu membelah lautan hanya dengan memukul tongkatnya di bibir pantai. Itu karena ranking mereka sangat tinggi"
Roy terus memberikan pengetahuannya kepada mereka. Walaupun terbilang mustahil, namun mereka harus menerima kenyataan itu bagaimanapun juga. Roy lalu memberitahu kabar buruk yang akan menimpa mereka.
"Masalah sebenarnya yang akan kita hadapi adalah para petinggi monster. Walaupun sudah dipastikan jika petinggi monster yang memonopoli Colosseum hanya tiga, tapi mereka beranking S."
Kamui jadi penasaran. Sebenarnya siapa yang dimaksud 3 petinggi tersebut.
"Apakah kau bisa memberi tahu kami, siapa saja itu?"
"Menurut penyelidikan yang kulakukan dua tahun lalu, ada tiga petinggi. Pertama Athos si raja raksasa, kedua adalah guru Jarvis, Ibaraki Doji. Dan yang terakhir adalah Anubis, monster yang mengendalikan arwah atau jiwa"
Eun Ha terlihat penasaran.
"Ibaraki Doji dan Athos, siapa mereka?"
"Kau memang baru 2 tahun menjadi gladiator, jadi kau belum pernah melihat mereka. Mereka adalah monster yang sangat kuat. Untung saja kini mereka telah lama menghilang, jadi hanya tinggal Anubis saja yang merupakan petinggi monster"
Melihat kekhawatiran Kamui yang telah hilang, Roy lalu meyakinkannya lagi.
"Memang Anubis adalah petinggi monster namun ia memiliki kelemahan"
"Apa itu?"
"Rahasia"
Eun Ha agak marah dengan Roy. Ia merasa perlu tahu apa yang akan mereka hadapi.
"Kenapa kami tidak boleh tahu?"
"Jika ku beri tahu, itu bukan lagi rahasia"
Bukannya menjawab pertanyaan dari Eun Ha, Roy malah membalasnya dengan sebuah guyonan.
Kamui lalu mempertegas kembali apa tujuan mereka mencari Roy.
"Kenapa menanyakan pertanyaan yang sudah pasti"
Jawaban Roy penuh dengan keteguhan. Ia yakin bahwa ini adalah titik balik mereka. Kamui kini yakin, ia bisa kembali membawa Roy ke Colosseum sekarang.
Mereka lalu pergi ke tempat yang sepi tanpa seorang pun dan tanpa kamera pengawas di manapun.
"Jarvis hanya memberikan waktu 2 jam, Sekarang telah masuk ke menit terakhir dalam 2 jam tersebut"
Tiba-tiba sebuah Gerbang Monster muncul di depan mereka. Mereka berempat langsung masuk.
Dihadapan mereka kini berdiri para petarung yang dipimpin oleh Jarvis di barisan depan. Walaupun mereka berdiri, hanya Jarvis seorang yang duduk santai di atas batu.
Paula lalu menghampiri Jarvis, ia lalu melambaikan tangan, tanda menyapa. Bukannya senang, Jarvis malah heran.
"Kenapa ada anak anjing di sini?"
"Siapa yang kau sebut anak anjing?"
"Kau"
"Bukannya namamu mirip nama anjing"
"...."
"Pookie"
"Sudah kubilang namaku Paula queen"
"Bukannya kau yang bilang kalau namamu Pookie"
"Kau butuh operasi Telinga"
"Oohh begitu. Bagaimana kalau kau juga operasi bibir dan lidah, bicaramu terlalu menusuk"
__ADS_1
"Dasar kau"
Paula yang marah langsung menjambak rambut Jarvis yang panjang. Jarvis hanya bisa menahan sakit. Anggota Jarvis hanya bisa melihat tingkah konyol ketuanya. Orang yang mereka ikuti, kalah dengan seorang wanita.
Paula kemudian melepaskan genggamannya kemudian mengelus rambut Jarvis. Paula kemudian menundukkan kepala Jarvis agar mata mereka tak bertatapan.
"Terima kasih"
Tanpa menjawab, Jarvis hanya mengangkat jempolnya, sambil melihat kebawah.
Sebagai perusak suasana, Roy hanya bisa mendengar pengakuan Jarvis.
"Apakah kita bisa menang?"
"Percaya padaku"
Tak main-main, Jarvis benar-benar membuat Roy terkesima.
"Berarti persiapannya telah selesai"
"Aku berani jamin itu"
Rencana yang hanya diketahui oleh Jarvis dan Roy telah berhasil mereka persiapkan. Sisanya tinggal mengeksekusi perihal rencana tersebut.
Para bawahan Jarvis hanya bisa melongo mendengar rencana mereka yang ambigu.
***
Di tempat lain, Hanz yang seorang diri ternyata pergi menemui seseorang. Di hadapannya berkerumun para gladiator dari generasi ketiga. Jumlah mereka sangat banyak. Lebih banyak dari jumlah yang diketuai oleh Jarvis.
Rashomon adalah organisasi yang terbentuk oleh gladiator generasi pertama dan kedua. Jumlah mereka puluhan orang. Namun dihadapan Hanz berdiri para gladiator generasi ketiga. Jumlah mereka sampai ratusan.
Jumlah ini terbilang realistis mengingat bahwa mereka adalah gladiator yang baru saja diculik pada tahun ini. Walaupun Jumlahnya banyak, namun kualitas tempur mereka masih terbilang belum berpengalaman.
Sangat jauh berbeda dengan generasi kedua yang sudah sering bertarung dengan monster sambil mempertaruhkan nyawa. Apalagi dengan generasi pertama yang telah diajarkan langsung cara bertarung dari para monster yang sangat kuat.
Salah satu petarung muncul dari kerumunan itu. Ia adalah satu-satunya generasi pertama yang tidak berkelompok dengan Jarvis. Namanya Sebastian Wesley.
"Mau apa kau datang kesini? "
"Apakah kau bergabung dengan kami?"
Dengan tawaran dari Hanz, sontak membuat semua orang tertawa terbahak-bahak. Hanz hanya melihat dengan tatapan serius. Setelah puas tertawa, Sebastian lalu menolak mentah-mentah ajakan Hanz.
"Pergi kau Hanz, kami tidak ingin bergabung denganmu"
"Syukurlah kalau begitu. Kalau begitu kuberi peringatan. Jangan kau mengganggu pertarungan kami nanti"
"Apa kau sedang mengancamku?"
"Menurutmu?"
Sebastian yang mulai emosi kemudian memunculkan kemampuannya. Ia menjatuhkan berbagai senjata dari atas langit yang entah terbang dari arah mana. Jenis senjata bermacam-macam, mulai dari pedang, tombak, perisai dan lainnya. Semua senjata itu merupakan kualitas terbaik.
Semua senjata yang datang itu menancap tepat di sekeliling Sebastian. Pakaian yang dipakai Sebastian kini berubah menjadi baju Sirah kualitas terbaik dengan warna emas bercampur perak. Di belakangnya terbentang sayap besi.
'Sebastian Wesley, gladiator dengan kemampuan Penempa. Semua senjata dan baju Sirah miliknya adalah hasil dari penempaannya'
Hanz sangat terkesan dengan kemampuan Sebastian. Apalagi jika Sebastian mampu untuk membuatkan senjata kepada Jarvis. Namun semua itu harus pupus, sebab jelaslah bahwa Sebastian menolak ajakan Hanz.
Hanz yang telah ditolak, membalikkan badan. Ia ingin pergi menjauh dari tempat itu.
"Mau pergi kemana kau"
"Sekarang aku tidak punya urusan dengamu"
Merasa dirinya dipermalukan didepan anak buahnya, Sebastian lalu menyerang. Sayapnya digunakan untuk terbang rendah dengan kecepatan tinggi, sebuah tombak di tangan kanannya dan perisai di tangan kirinya. Namun dengan santainya Hanz menahan serangan tersebut.
DUARRR!!!
Benturan keras terjadi antara keduanya.
__ADS_1
"Sudah ku duga, kau Ranking S kan, Hanz"