Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Elf Buangan Terkuat


__ADS_3

Kini pasukan Jarvis dan Hera siap membombardir musuh.


Ketika Hera dan Jarvis melihat lawannya, mereka seakan tak percaya.


Ribuan Orc dengan kemampuan, ukuran, serta wujud yang berbeda telah berada tepat di hadapan mereka.


Salah satu orc berwarna hitam dengan ukuran raksasa sedang mencungkil tebing bebatuan, kini bongkahan tebing seukuran bukit dilemparkan ke arah ras binatang.


Seekor burung hitam berbalut api biru langsung menerjang bongkahan itu. Sebuah ledakan api biru di udara membuat bongkahan itu hancur bertaburan.


Burung Phoenix itu lalu menerjang musuh di depannya. Pasukan Orc langsung dibakarnya.


Tak terima dengan itu, orc yang berwarna hitam langsung mengambil pedang di punggungnya. Satu tebasan berhasil mengenai burung itu. Tubuhnya yang merupakan Hollow langsung hancur tak bersisa setelah tubuhnya terbelah dua.


"Dia komandan pasukan, dua petarung kelas S kami berhasil dikalahkannya"


Sekedar ingin menginfokan kepada Hera dan Jarvis, gadis berambut putih berusaha untuk menghampiri.


"Terima kasih. Apa kau tahu beberapa informasi lagi" Hera menanggapinya.


"Orc dibedakan dari warna, bukan ukurannya. Orc berwarna hijau adalah prajurit, merah adalah jendral Orc, sedangkan hitam adalah komandannya. Walaupun kita hanya berurusan dengan satu komandan, jangan merasa lega, kekuatannya sangat mengerikan" kata gadis itu.


"Siapa namamu?"


Hera mulai penasaran dengan gadis di hadapannya.


"Vitoria"


"Vitoria, kemenangan, lumayan juga untuk nama seorang petarung wanita"


Hera mulai memujinya.


"Namaku Hera Vergenalice Mors De Albido. Panggil saja aku Hera"


Vitoria langsung tahu identitas dari Hera hanya dari nama lengkap yang diwariskan ke anggota keluarga.


'Ras Elf, terlebih lagi nama seorang anggota keluarga kerajaan' batin Vitoria.


Penampilan Hera memang tidak meyakinkan sebagai ras Elf. Elf biasanya memiliki pakaian yang bersih, berwarna cerah, dan berkualitas tinggi, namun pakaian Hera malah pakaian kusut berwarna hitam.


Jika bukan karena telinga Hera yang panjang, Vitoria pasti akan meragukan identitasnya.


Hera lalu memperkenalkan pria yang bersamanya.


"Kalau dia, namanya Jarvis"


Jarvis yang mendengarnya malah risih.


"Kalau sudah ceritanya, ayo bantu aku"


Ternyata naga Jarvis sisa dua. Naga itu mati melawan komandan Orc.


"Bangkitlah!"


Seketika naga dan burung Phoenix yang hancur kembali utuh dan siap bertempur kembali.


Hollow adalah arwah monster yang akan bangkit kembali jika diberi perintah. Mereka adalah pasukan abadi.


Kini Jarvis telah berhasil mengendalikan mereka.


Di lain sisi, Hera agak marah dipanggil oleh Jarvis bertarung. Ia lalu melihat Vitoria.


"Jika kita menang, boleh ku panggil adik"


Vitoria tak bisa berkata apa-apa. Di saat pertarungan sedang berlangsung, Hera terus saja mengajaknya bicara. Sekarang malah ingin menjadi saudaranya.


"Karena kau tak menjawab, kau pasti setuju"


Senyum tampak di wajah Hera yang membuat Jarvis tambah jengkel.


"Ada apa denganmu, cepat bantu. Mereka akan segera menyerbu. Dari tadi mereka hanya melihat komandannya bertarung, seakan itu hanya pemanasan. Namun sekarang mereka semua sudah bersiap bertarung"


Omelan Jarvis benar-benar keras. Lawan yang kuat akan datang namun Hera hanya keasyikan berbicara dengan Vitoria.


Hera lalu memegang dua pedang dengan keras.


"Apa yang kau tahu tentangku?"


Hera lalu menyerbu Orc yang jumlahnya ribuan.


"Ada apa dengannya?"


Jarvis malah tambah heran melihat tingkah aneh Hera. Untuk beberapa alasan Jarvis mengabaikannya.


Tak mau ketinggalan, Jarvis juga menyerbu, diikuti oleh setiap monster yang ia panggil.


Dua kubu akhirnya berbenturan, ribuan Orc melawan monster laut dan naga.

__ADS_1


Jarvis lalu menaiki burung Phoenix untuk menyerang.


"Kecepatan burung ini tak normal, terlalu cepat"


Burung itu lalu membakar semua orc yang dilewatinya.


"Hollow pertama yang membuatku takjub, bahkan lebih cepat dari naga"


Jarvis berusaha untuk berdiri, namun tak sesuai dengan ekspektasinya. Ternyata lebih mudah berdiri di punggung burung Phoenix.


Api penyembuh ternyata memiliki fungsi lain. Ia dapat memberikan tekanan pada kaki Jarvis sehingga kaki Jarvis tak tergelincir.


Jarvis sangat kagum dengan kemampuan burung itu.


"Mulai sekarang namamu Alpha"


Lagi-lagi Jarvis memberikan nama pada sesuatu yang tak perlu. Itu sudah menjadi kebiasaannya.


Alpha menerjang orc yang besar, karena warnanya merah, berarti orc itu adalah Jendralnya. Sebuah ledakan berhasil membakar kepala orc itu.


Saat itu Jarvis melompat ke pundak monster itu. Dengan tombak di tangannya, ia lalu menikam leher monster itu.


"Tebasan ketiga, ruang operasi"


Seketika monster itu langsung terpotong kepalanya.


Dengan tombak di tangannya, Jarvis lalu memutar tombak itu ke kiri dan kanan. Putaran itu diperkuat dengan teknik tebasan Jarvis.


Semua monster yang ada di sekitarnya langsung terpotong hanya menggunakan tombak.


Salah satu monster dengan ukuran yang besar hendak meninju Jarvis, tapi tangan monster itu langsung terpotong. Yang memotong tangan itu adalah Hera.


Hera lalu menuju ke kaki monster itu, satu tebasan berhasil memotong kaki kanan monster, tak sampai di situ, ia lalu memotong kaki kiri yang tersisa. Monster itu lalu roboh tepat di hadapan Jarvis. Jarvis lalu menusuk dahinya. Monster itu langsung mati seketika.


Semua monster yang dipanggil Jarvis dan Hera sedang mengamuk menghancurkan orc di hadapannya.


Bukannya terdesak, komandan Orc malah menancapkan pedangnya sambil duduk di atas mayat seekor gajah raksasa.


Merasa diremehkan, Hera semakin mempercepat pergerakannya. Jumlah musuh yang dibantainya semakin banyak.


Komandan Orc yang sedari tadi bersantai kini akan memasuki medan pertempuran.


Hera lalu menegur Jarvis.


"Jarvis" teriak Hera.


Karena posisi mereka yang agak berjauhan, jadi mereka harus berbicara sambil berteriak.


"Kita bagi tugas"


"Maksudmu apa?"


Hera lalu menghampiri Jarvis.


"Aku yang akan melawan komandannya, kau yang akan melawan semua bawahannya"


"Mustahil, kita serang dia bersama setelah ada kesempatan"


Hera lalu mengumpulkan aura hijau di tangannya.


"Apa kau tahu syarat menjadi petinggi monster. Petinggi monster bukanlah gelar yang dapat dimiliki oleh siapapun, bahkan jika itu orang kuat sekalipun"


Jarvis mulai memperhatikan penjelasan Hera.


"Setiap petinggi bisa berasal dari ras apapun jika syaratnya terpenuhi"


"Apa itu?"


"Memiliki kemampuan yang tak seorangpun dapat memilikinya"


Hera lalu menenggelamkan kedua pedang Jarvis di dalam cairan hitam yang dibuatnya. Sekarang tangan Hera berusah mengumpulkan cahaya hijau dari seluruh pepohonan.


"Aku menjadi petinggi monster bukan karena tombak trisula, tapi busur pertama di dunia. Busur yang diciptakan ras Elf jauh sebelum manusia menemukan cara berburu menggunakan Busur dan panah. Busur yang ditempa ras Dwarf dan raja Elf pertama yang terbuat dari pohon Yggdrasil, Chilia Fota"


***Note: Chilia Fota \= Seribu Cahaya


Seketika muncul panah yang terbuat dari kayu di tangan Hera. Bentuk panah itu sangat sederhana, bahkan sepintas itu terlihat seperti panah kelas bawah. Tak memiliki daya tarik apapun.


Salah satu monster langsung menyerangnya, namun monster itu menerima luka berlubang di dadanya.


Hera lalu menarik benang busurnya tanpa menggunakan anak panah. Sebuah energi hijau yang berasal dari pepohonan di sekelilingnya kini berubah menjadi cahaya hijau panjang yang melekat di busur, mirip anak panah.


DUARR!!


Lebih mirip petir, serangan itu sangat cepat, sangat nyaring, sangat besar, dan sangat kuat.


Pasukan Orc yang berada tepat di hadapannya langsung hancur. Sebuah kawah berapi muncul dari tembakan itu. Hingga menyebabkan tak ada makhluk yang hidup dari jalur tembakannya.

__ADS_1


Hera lalu maju ke arah komandan Orc. Ia lalu mengambil posisi menembak, sebuah rune hexagram muncul dari busur itu.


Kini busur itu di arahkan ke komandan Orc, seketika serangan skala besar menerjang orc itu. Melihat bahaya datang, orc itu mencoba menangkisnya tapi padangnya langsung hancur.


Jarvis yang kini harus melawan semua prajurit orc tersebut, harus menggunakan cara lain agar lebih efisien.


Ia lalu membuka Ruang Penyimpanan, ditariknya sebuah Kusarigama. Senjata ninja yang memiliki rantai serta benda tajam di ujungnya.


Berbeda dengan Kusarigama pada umumnya yang menggunakan sabit, di ujung rantai yang di pegang Jarvis terdapat sebuah belati dengan dua bilah yang matanya saling membelakangi. Belati itu adalah taring dari ikan Fangtooth.


Di tangan kanannya terdapat tombak, sedang di tangan kirinya terdapat Kusarigama. Umumnya Kusarigama dan tombak adalah senjata dengan dua tangan, sehingga mustahil digunakan bersamaan oleh seseorang


Namun Jarvis malah menggunakan kedua senjata itu bersamaan.


Tombak diputar dengan menggunakan jari sehingga menciptakan serangan yang sangat cepat. Ditambah dengan Kusarigama yang dilemparkan ke monster sehingga mampu membunuh dalam jarak jauh.


Perpaduan yang mustahil kini digunakan Jarvis.


Jarvis lalu merantai salah satu kaki orc besar kemudian menjatuhkannya. Ia lalu menusuknya dengan tombak.


Orc dengan jumlah banyak memutuskan untuk mengerumuninya, bahkan tak sedikit yang melompat untuk menindih Jarvis.


"Teknik Perluasan Tebasan, Pelepasan Pertama, Tanpa Bilah"


Jarvis akhirnya menggunakan teknik manipulasi darah.


Seketika semua monster langsung terkena tebasan yang entah dari mana datangnya.


Di saat Jarvis sedang sibuk, Hera berusaha mengalahkan komandan Orc seorang diri.


Tak memberikan jeda ke monster di hadapannya, Hera terus meenembaknya. Tapi dengan tubuh yang sangat keras Hera hanya mendaratkan tembakan dengan luka biasa.


Bahkan dengan regenerasi sel monster orc, hal itu malah membuat Hera lebih menggencarkan tembakannya.


Sebuah panah ia arahkan ke atas kepala komandan Orc itu, tapi ia dapat menghindari serangan tersebut. Anak panah itu hanya terbang ke atas langit. Ia lalu memukul Hera dengan tinjunya. Namun sebuah ledakan menghancurkan tangannya.


Ternyata Hera telah berpindah tempat dengan panah yang dilesatkannya.


Dari jarak sepuluh ribu kaki, Hera akan menembak.


"Chilia Fota, hancurkan semua yang ada di depanmu"


Seketika dari atas langit, sebuah rune hexagram muncul. Tak hanya satu, tiba-tiba rune itu semakin banyak.


Rune hexagram dengan tiga lapis, siap ditembakkan oleh Hera.


DUARR!!


Ledakan yang sangat besar menghancurkan tubuh komandan Orc seketika. Bahkan bekas panahnya membuat lubang sebesar lapangan dengan kedalaman tak bisa dilihat hanya dengan mata, terlalu dalam.


Ketika masih di udara, Hera melancarkan serangan kedua. Rune hexagram tiga lapis kini menyatu menghasilkan rune hexagram dengan ukuran yang jauh lebih luas.


"Chilia Fota, biarkan mereka semua berdoa di depanmu"


Layaknya sebuah mantra, Hera memberikan sebuah sugesti ke busurnya.


Seketika dari atas langit muncul anak panah dari cahaya berwarna hijau dengan jumlah yang sangat banyak. Bahkan orang yang melihatnya akan menerka jika jumlahnya melebihi ribuan.


Panah itu langsung dilesatkannya.


Layaknya sebuah bom atom, kekuatannya tak terbendung. Semua orc langsung mati tak bersisa.


Namun saat semua or telah mati, serangan itu masih membabi-buta. Jumlah yang baru dihempaskan tak sampai dari sepertiga anak panah cahaya itu.


Jarvis lalu membuat Neneng dari tubuh naga yang diperintahnya untuk melindungi tubuhnya agar tak terkena serangan itu.


Akhirnya serangan itu berakhir.


Tapi tiba-tiba terlihat sebuah rune raksasa yang baru.


"Jarvis, lari!"


Ternyata Hera tak mampu menahan serangan itu.


Mendengar itu, Jarvis lalu mengambil bukunya dengan cepat dari ruang penyimpanan.


"Aku menyegel kekuatanmu"


Bukannya menghindar, Jarvis malah menghadang serangan tersebut.


Ribuan anak panah melesat ke arahnya.


Seketika semua anak panah itu menghilang ketika hendak mengenai Jarvis. Namun ada satu anak panah yang berhasil tembus menyambar kepala, tepat di atas telinga kanan Jarvis.


Jarvis langsung terhempas, untungnya ia masih sadarkan diri.


Hera akhirnya terjatuh karena kehilangan kekuatannya. Jarvis lalu memerintahkan Alpha untuk menangkapnya.

__ADS_1


Kini tubuh Hera mendarat di tubuh Alpha, burung Phoenix milik Jarvis.


__ADS_2