
Ketika gelam malam kian memudar berkat fajar di tepi pantai. Nampak lubang besar muncul di atas langit, itu adalah gerbang monster. Saat itu kebetulan tidak ada orang yang menyaksikan kejadian tersebut.
"Ahhhh"
"Awas kita jatuh"
"Kyaaaak"
Berbagai teriakan terjadi di atas langit, tempat gerbang monster muncul. Terlihat 5 orang pahlawan jatuh ke dalam laut. Gerbang Monster langsung menghilang.
"Sial, kukira aku akan mati" ucap seorang pahlawan yang memegang pedang.
"Seharusnya aku yang bilang begitu, Greed" keluh seorang pahlawan yang memakai pakaian penyihir.
"Kau kenapa, Paula?" Tanya Greed.
"Tidak apa-apa, hanya ingin pulang lebih awal" kata gadis penyihir yang bernama Paula.
Paula kemudian berenang ke tepian pantai, disusul oleh Greed dibelakangnya. Sedangkan tiga pahlawan yang lain masih sibuk mendiskusikan sesuatu.
Sekitar 300 meter dari tempat mereka berada, Jarvis dan Roy juga ternyata keluar dari gerbang monster di atas atap gedung. Bedanya mereka keluar dari gerbang monster dengan cara berjalan secara santai.
"Tangkapan besar" ucap Roy spontan.
"Kira-kira berapa harga untuk senjata itu?" Tanya Jarvis.
"Entahlah, namun pasti besar" jawab roy
"Sebenarnya aku hanya akan mengambil satu senjatanya, tapi ia tiba-tiba melempar pedang besar. Melihat adanya kesempatan, pedang besarnya juga ku ambil" ucap Jarvis sambil garuk kepalanya yang tak gatal.
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam gedung lewat pintu di atap gedung. Gedung itu hanya memiliki dua lantai. Lantai pertama adalah sebuah Kafe dengan nama "Green Blue". Sedangkan untuk lantai dua adalah tempat hunian, hampir mirip dengan apartemen.
"Istirahatlah di dalam. Aku ingin membuka Kafe" kata Jarvis sambil menunjuk kamar kosong.
Roy kemudian pergi ke kamar. Jarvis kemudian melakukan beberapa persiapan seperti menyapu, menyusun tata letak meja dan kursi, serta melihat apakah semua jenis kopi telah tersedia. Semua ini ia lakukan karena ia tidak memperkerjakan orang lain. Takutnya identitasnya malah terbongkar.
***
waktu berlalu dengan cepat. Waktu kini menunjukkan jam 09.00.
Di sudut taman, seorang gadis sedang duduk sendirian. Iya sesekali sedang melihat ke kanan maupun ke kiri. Tiba-tiba datang seorang Pria.
"Maaf nona Paula, anda dipanggil oleh tuan" kata seorang pelayan keluarga.
Tanpa banyak bicara, pria itu pergi ke suatu tempat, di ikuti oleh Paula. Setelah berjalan beberapa saat, mereka melihat Kafe di seberang jalan, dengan nama "Green Blue".
Ting! Ting! Ting!
Suara bunyi lonceng menggema di sudut ruangan ketika pintu di buka. Akibat lonceng yang di letakkan di atas pintu.
Terlihat beberapa orang sedang duduk santai sambil sesekali menyeruput secangkir kopi. Di depannya terlihat seorang pria tinggi dengan rambut panjang terikat ke belakang. Ia sedang membuat kopi untuk pelanggan yang lain.
Paula dan pelayanan keluarga kemudian mencari tempat yang kosong dan menempatinya.
"Kapan Paman datang?" tanya Paula.
"Tunggu sebentar lagi, nona!" Jawab sang pelayan sopan.
"Permisi, tolong buku menunya!" Kata Paula dengan sedikit mengeraskan suaranya ke barista kafe.
Sang barista yang tidak lain adalah Jarvis menghampiri mereka dan menyerahkan buku menu. Karena yang menjalankan Kafe hanya Jarvis seorang. Jadi selain barista, ia juga menjadi pelayan. Saat itulah muncul sosok yang ditunggu Paula dan pelayanannya. Sosok 2 pria masuk kedalam kafe.
Sosok satunya adalah pahlawan kelas A, Ludheer Bashil. Di sampingnya terdapat pemuda dengan badan tegak. Postur tubuhnya hampir mirip dengan Jarvis. Namun ia memiliki rambut pendek dan anak panah di belakangnya dan busur di tangan kirinya.
"Ohh Tuhan, tidak mungkin. Itu Ludheer Bashil, pahlawan kelas A dan di sampingnya ada anaknya Horta Bashil." Seorang merasa takjub ketika melihat mereka berdua.
Melihat hal itu, Ludheer sangat terkejut. Ia kemudian berusaha untuk tetap tenang. Ia yakin, identitasnya belumlah terbongkar.
Mereka kemudian duduk di tempat Paula duduk. Banyak orang yang meminta foto bersama, meminta tanda tangan, bahkan ada yang langsung memeluk sang pahlawan. Semua itu dilakukan karena mereka sangat mengagumi sosok yang ada di depan mereka.
Tiba-tiba Horta Bashil berbicara dengan lantang.
"Saat ini kami akan membahas sesuatu yang rahasia. Jadi mohon untuk keluar dari ruangan ini beberapa menit."
Anehnya semua orang kecuali Jarvis yang mendengar situasi tersebut langsung paham, mereka kemudian pergi ke luar Kafe. Horta yang melihat Jarvis dengan santainya melap beberapa gelas tanpa menghiraukan ucapannya. Horta menjadi marah, ia pun menegur Jarvis.
"Apakah kau tidak melihat bahwa kami akan melakukan diskusi rahasia?" Bentak Horta.
"Apakah kau tidak melihat bahwa aku sedang sibuk melap gelas untuk pelanggan" ucapan Jarvis sedikit meniru Horta.
"Kami para pahlawan berusaha untuk melindungi kalian, bisakah kalian juga melindungi privasi kami." Ucap Horta.
"Jangan munafik, kebanyakan manusia evolusi berprofesi sebagai pahlawan karena gaji yang diterima sangat tinggi" balas Jarvis.
"Kira-kira gaji kalian sebulan dan harga bangunan ini, lebih mahal mana?" lanjut Jarvis sambil menyindir.
Semua orang terdiam, kata-kata Jarvis sangat menusuk untuk para pahlawan. Pahlawan memang memiliki gaji yang cukup tinggi. Ini yang menyebabkan banyak orang yang tergiur menjadi pahlawan.
"Ternyata kau pintar membuat orang marah, anak muda" Ludheer tiba-tiba berbicara sambil melirik ke arah Jarvis.
"Terima kasih atas pujiannya" ucap Jarvis
Buakk!
Meja di depan mereka telah hancur, akibat tinjuan Ludheer.
"Itu bukan pujian" katanya.
__ADS_1
Jarvis kemudian membuat ruang penyimpanan tanpa disadari oleh siapapun. Ia memasukkan tangannya ke dalam ruang penyimpanan lalu mengambil belati lipat dan menaruhnya kedalam sakunya. Ia kemudian menghampiri para pahlawan.
"Apakah begini cara pahlawan saat berkompromi, terlalu sombong. Silahkan keluar" kata Jarvis marah sambil menunjuk pintu.
Tiba-tiba ada seseorang muncul dari lantai atas.
"Ahh, maaf. Temanku memang sedikit pemarah." Sambil berusaha mendorong Jarvis ke luar.
"Apa yang kau lakukan Roy?" Berusaha untuk tetap tidak terdorong.
"Silahkan lanjutkan diskusinya" kata Roy ke para pahlawan sambil mendorong Jarvis.
Saat Roy telah berhasil mengeluarkan Jarvis dari kafe, ia kembali masuk. Ia pun menghampiri para pahlawan.
"Maaf atas ketidak nyamanannya" kata Roy.
"Terus terang saja, sebenarnya ia membenci pahlawan. Ayahnya mati oleh seorang pahlawan di depan matanya saat masih kecil. Ibunya juga mati karena pahlawan belum juga datang saat penyerangan monster" lanjutnya.
Semua pahlawan menjadi diam. Roy kemudian meninggalkan mereka, namun saat ia hendak keluar dari pintu, ia kemudian berhenti.
"Ohhh aku lupa. Saat pahlawan kemudian datang, salah satu dari mereka berucap 'pahlawan memang datang terlambat' ironis bukan" Roy lalu pergi meninggalkan mereka.
Saat Roy di luar, di depannya terlihat Jarvis sedang berdiri sambil menyilangkan tangannya.
"Dasar perusak suasana" kata Jarvis mengeluh.
"Bukan waktu yang pas, lain kali saja" kata Roy menasehati.
"Mereka akan membahas sesuatu" kata Jarvis.
"Kita pergi ke taman!" Kata Roy mengajak Jarvis.
Tanpa menunggu jawaban Jarvis, Roy langsung berjalan ke arah taman. Jarvis kemudian mengikutinya.
"Kita akan menguping pembicaraan mereka" ucap Roy.
"Aku menaruh alat penyadap di dalam kamar" lanjutnya.
"Terlalu jauh. Apa bisa kedengaran?" Tanya Jarvis.
"Seharusnya tidak, tapi dengan kemampuanku, aku bisa mengeraskannya" jawab Roy sambil mengubah tangannya menjadi tangan monster yang penuh lubang.
***
Di dalam Kafe terlihat 4 orang sedang duduk dengan serius.
"Sebelum memulai pembahasan, sebenarnya aku ingin melakukan sesuatu" kata Ludheer menghadap ke arah pelayanan keluarga.
"Professor Joseph, sebenarnya aku ingin meminta maaf, Marx 5 dan Marx 7 berhasil dicuri" kata Ludheer.
"Tidak apa-apa, kedua senjata itu masih bisa dibuat lagi" kata pelayan keluarga yang ternyata adalah professor Joseph.
"Bilah pedang Marx 7 terbuat dari Tungsten. Jadi ketahanannya sangat keras. Tapi yang lebih keras adalah gagangnya. Gagang pedang pasti akan patah jika harus menahan bobot 3 ton, apalagi ukuran gagangnya sebesar gagang sapu. Tapi Marx 7 tidak. Itu karena gagang pedang Marx 7 terbuat dari salah satu logam terkeras di dunia. Bahannya adalah berlian hitam seberat 4 kg. Lebih mahal dari harga bangunan pencakar langit."
Semua yang mendengarnya membelalakkan mata. Itu bukanlah harga yang murah atas kehilangan Marx 7. Bahkan Ludheer Bashil hanya bisa memegang kepalanya.
"Yang berlalu biarlah berlalu. Aku mengumpulkan kalian di sini untuk membahas dua buronan berbahaya" kata Ludheer.
"Dari berbagai musuh yang pernah ku hadapi. Mereka sangat berpengalaman, tapi bukan itu yang menjadi masalahnya. Kemampuan mereka mirip monster. Sang pemakan dapat merubah tubuhnya menjadi apapun yang telah dimakannya. Sang penebas dapat membuat Gerbang monster. Horta, aku ingin kau untuk membantuku melawan mereka. Kemampuanmu mungkin setara dengan sang pembuat gerbang monster."
"Baik ayah" kata Horta percaya diri.
Kemudian Ludheer melirik ke arah Paula
"Sedangkan Paula Quinne, pemerintah ingin penjelasan darimu?"
"Penjelasan apa?" Paula terheran-heran.
"Pemerintah mencurigai adanya orang dalam yang membantu setiap aksi mereka" ungkap Ludheer.
"Hal ini diperkuat adanya bukti bahwa terdapat 5 pahlawan yang diselamatkan oleh sang Penebas dengan menggunakan gerbang monster dan masih hidup" ucap Ludheer.
"Ini tidak mungkinkan paman, kenapa aku dicurigai. Ini bohongan kan?" Paula menjadi panik sambil meminta penjelasan.
"Aku sebenarnya mempercayaimu, tapi kita tidak punya bukti, namun mereka memilikinya. Dalam rekaman di pinggir jalan, terlihat sang penebas berhasil menyelamatkan kalian dari belasan monster" Kata Ludheer.
"Jadi bagaimana kabarnya?" Horta malah penasaran dengan sang penebas.
"Ia malah berhasil mengalahkan semua monster" kata Ludheer.
"Mustahil"
"Tidak mungkin"
Seru Horta dan Paula hampir bersamaan. Kemudian Ludheer mengepalkan tangannya.
"Mulai sekarang dan seterusnya, sampai Paula dapat membuktikan bahwa ia bukanlah sekutu dari para buronan itu, izin pahlawanmu akan dicabut. Kau tidak akan diizinkan menggunakan kekuatanmu. Bahkan rekeningmu di blacklist." Ucap Ludheer.
Mendengar itu Paula hanya bisa diam tak berkutik. Tanpa ia sadari, tetesan air telah jatuh dari matanya. Ia kemudian mengusapnya, namun air matanya masih belum berhenti. Melihat hal itu Ludheer kemudian merangkulnya.
***
Di suatu taman nampak dua orang pria sedang duduk serius mendengarkan sesuatu. Salah satu dari mereka kemudian memulai pembicaraan.
"Seharusnya ini sudah cukup"ucap Roy sambil menghilangkan kekuatannya.
"Dari pembicaraan mereka, kita dapat menarik kesimpulan" ucap Roy kembali.
__ADS_1
Roy pun memulai penjelasannya.
"Pertama masalah harga barang curiannya. Mendengarnya sajaembuat bulu kudukku merinding. Harganya lebih mahal dari gedung, jadi kalau dijual berapa nolnya yah?"
"Roy, sepertinya aku menginginkannya" ucap Jarvis.
"Menginginkan apa?" Tanya Roy heran.
"Pedang dengan bahan logam terkeras, berlian hitam"
"Begitu yah, aku punya kenalan seorang penempa, kita bisa membuat pedangnya lusa" kata Roy sambil mengangkat jempolnya.
"Syukurlah, dengan begitu aku tidak akan tertinggal" Jarvis merasa yakin bisa menyusul kekuatan Roy.
"Mustahil, butuh waktu 100 tahun" kata Roy sombong.
"kita lihat saja nanti" Jarvis optimis.
"Jangan mimpi di siang hari" Roy berbicara sambil mengangkat jari tengahnya.
"Dasar aneh"
"Ohh iya, masalah kedua yang perlu di perhatikan adalah gadis tang kehilangan izin pahlawannya. Aku yakin itu pasti gara-gara kau?" Kata Roy.
"Jangan bahas masalah itu. Itu tidak ada hubungannya denganku. Aku hanya menyelamatkannya. Coba bayangkan jika aku tidak melemparkannya ke gerbang monster, ia pasti sudah mati" kata Jarvis sedikit kesal.
"Baiklah, kita anggap itu bukan salahmu"
"Sudah ku bilang itu bukan salahku"
"Dasar keras kepala"
Mereka kemudian berhenti sejenak, lalu Roy memulai kembali pembicaraan.
"Diantara kedua masalah itu, kita memiliki masalah yang lebih serius" ucap Roy kembali serius.
"Apa itu?" Jarvis juga mulai serius mendengarkan.
Jarvis memang mengakui kepintaran Roy, walaupun terkadang Roy biasa bertingkah aneh. Apalagi Roy memasang wajah yang lebih serius dibandingkan kedua masalah yang telah dibahas tadi.
"Kita membutuhkan sebuah nama" ungkap Roy.
"Nama?" Kata Jarvis heran.
"Apakah kau tidak dengar, mereka memanggil kita pemakan dan penebas" kata Roy.
Mendengar itu Jarvis langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia merasa otak temannya mulai tidak beres.
"Kenapa kau pergi? Nama itu sangat penting" ucap Roy percaya diri.
Jarvis lalu berhenti.
"Nama seperti apa?" Kata Jarvis bertanya ke Roy.
"Yah, namaku dan namamu. Roy dan Jarvis" kata Roy dengan ekspresi bangganya.
"Dasar bodoh, apakah kau ingin identitas kita terbongkar. Kukira yang kau maksud adalah julukan, malah lebih buruk lagi" kata Jarvis.
"Cocok, kita membutuhkan sebuah julukan, agar terdengar keren. Otakmu encer juga" kata Roy memuji Jarvis.
Namun Jarvis malah tambah sakit kepala, otak temannya sudah mulai bermasalah. Namun ia masih menghargai keputusan temannya.
"Menurutmu nama seperti apa yang cocok?" Kata Jarvis.
"Dua pangeran tak tertandingi, bagaimana, baguskan?"
"Nama apa itu"
"Kalau begitu, raja dari segala dewa"
"Aneh, ganti!"
"2 Tuhan"
"Kau pasti masuk neraka"
"Dua pria tak laku-laku"
"Ganti"
"R terhebat dan J yang mirip kotoran" Roy mulai emosi karena sarannya selalu ditolak
Namun hal itu malah membuat Jarvis berhenti.
"Bagaimana dengan JOKER, ada huruf J dan R di katanya. Terus untuk yang terkuat yaitu kau kita menggunakan nama JOKER MERAH sedangkan aku menggunakan nama JOKER HITAM" Jarvis mulai menjelaskan.
"Aku setuju" Kata Roy sambil memberi dua jempol ke Jarvis.
Jarvis kemudian mulai melangkah untuk melanjutkan perjalanannya sambil tersenyum. Tiba-tiba Roy berbicara.
"Bagaima jika Joker Merah yang menggetarkan langit"
"Tidak"
"Atau Joker Merah pembawa bencana"
"Tidak"
__ADS_1
Roy terus memberikan idenya kepada Jarvis, namun selalu ditolak.