
Tubuh Kamui kini terkulai di tanah. Melihat temannya pingsan Hanz lalu datang menghampirinya. Ia lalu memegang tangan Kamui.
"Jarvis, tangkap"
Jarvis yang mendengarnya malah ikut terbawa suasana.
"Ok siap, LEMPAR"
Hanz lalu memutar tubuh Kamui, setelah mendapatkan momentum terbaik, Kamui lalu dilemparkan ke arah Jarvis seperti sebuah boneka.
Jarvis yang melihat tubuh Kamui datang, ia lalu menahan tubuhnya dengan kaki. Sontak saja Kamui menerima luka baru akibat perbuatan Jarvis dan Hanz.
Semua orang yang melihatnya tercengang, sikap mereka berdua sungguh kurang ajar. Temannya setengah mati bertarung, mereka malah memperlakukannya seperti itu.
"Charlotte, apa kau bisa menyembuhkannya?"
"Hahhh, kalau membunuhnya aku bisa"
Charlotte yang diperintahkan untuk menyembuhkan Kamui malah risih. Ia seakan tak mau menyembuhkannya. Namun akhirnya ia malah menyembuhkannya.
Chen Chao dan Eun Ha tampak bingung mengapa Kamui diperlakukan seperti itu.
"Apa kalian tidak tahu mengapa mereka marah?"
Roy yang kebetulan berada didekat mereka mempertanyakan sesuatu. Hal ini malah membuat yang ikut mendengarkan menjadi heran.
Sejenak berpikir, tak ada yang mampu menerkanya. Roy lalu menjelaskan.
"Kamui memiliki kekuatan yang cukup besar. Namun ia hanya memiliki kemenangan tipis. Biasanya aku dan Jarvis akan menyusun rencana apa yang akan kami lakukan agar misi pencuria… tidak, maksudku misi menangkap pencuri berhasil, kami pasti menyusun rencana"
Dari penjelasan Roy, banyak yang berbisik bisik.
'Dia tadi bilang mencuri'
'Mencuri'
'Apa, mencuri'
'Kurasa yang dia maksud adalah mencuri'
Roy yang tak mendengar mereka mulai menambahkan penjelasannya.
"Kamui memiliki kekuatan yang cukup besar, namun karena ia bertarung dengan sembrono, akhirnya ia menang tipis atas lawannya. Jika menyusun rencana, mungkin tidak akan separah ini"
Setelah berkata demikian, Eun Ha dan Chen Chao lalu paham, memang perlu adanya koordinasi antara semua pihak, sebab ini bukanlah pertarungan individu melainkan kelompok.
***
Waktu pertarungan ketiga akan dimulai.
Hanz telah bersiap di tempatnya. Dia memilih untuk bertarung di luar Colosseum, sebab akan membahayakan yang lainnya jika mereka terlalu dekat.
Di depan Hanz telah muncul sesosok monster yang ukurannya seperti anak kecil. Namun tubuhnya penuh dengan bulu. Namanya Diablo.
Diablo kemudian memperbesar tubuhnya. Sekarang telah terlihat wujud asli sebenarnya dari Diablo. Dengan tubuh kekar serta wujud yang lebih mirip manusia, ia memandang Hanz ke bawah.
"Dengan kemampuanmu itu, kau tak akan mampu mengalahkanku"
"Berarti kita berpikiran sama"
Hanz lalu mengangkat tangannya. Ia teringat dengan perkataan Jarvis yang menyuruhnya untuk tidak menahan diri lagi jika bertarung.
Hanz kemudian menyeringai sambil melihat ke arah Diablo.
"Makanya aku akan menggunakan kemampuan yang belum pernah kau lihat"
Setelah berkata demikian, udara menjadi panas. Semua orang yang menonton merasa sulit untuk bernafas. Rasa sesak yang berlebihan yang mereka rasakan belum pernah mereka alami.
Kamui yang tadinya pingsan mulai tersadar akibat pertolongan pertama dari Charlotte. Ia lalu melihat sekeliling, di hadapannya kini banyak orang yang menjadi aneh.
Ada beberapa yang sesak napas, bibir mulai pecah-pecah, dan berbagai gejala kepanasan lainnya.
Saat itulah Kamui sadar bahwa yang lainnya merasakan panas yang teramat sangat. Berbeda dengan Kamui yang sedari awal telah mampu memanipulasi api, jadi panas seperti ini tak berasa baginya.
__ADS_1
Semua orang akhirnya melihat keatas.
Sebuah bongkahan batu meteor jatuh tepat mengarah ke Diablo.
Diablo berusaha menghindar namun terlambat karena kakinya telah hilang.
"Jarvis memang yang terbaik dalam hal jarak gerbang monster namun tak ada yang mampu mengalahkanku dalam membuat gerbang monster yang sangat besar"
Ternyata Hanz menjebak Diablo untuk fokus ke meteor yang jatuh, sedangkan dalam kesempatan itu ia membuat Gerbang Monster yang mengunci pergerakan kakinya.
"Terima kasih selama ini, anda adalah guru terbaik"
Hanz lalu memberikan hormat kepada Diablo yang ternyata adalah gurunya sendiri. Saat masih kecil, Diablo yang merawat dan melatihnya beserta anak-anak lainnya.
"Kurang ajar"
Diablo sangat marah ke Hanz.
Posisi bungkuk Hanz yang memberi hormat seakan tak sejalan dengan apa yang terjadi kepada Diablo. Tubuhnya kini terkena sebuah bongkahan meteor.
Ledakan besar terjadi di tempat pertarungan hanz. Semua orang berusaha menghindar dari hempasan gelombang meteor yang jatuh.
Dari balik pertarungan Hanz tak mengalami cedera apapun, sebaliknya tubuh Diablo kini hanya menyisakan bongkahan tulang belulang yang berada di dalam sebuah kawah besar dari ledakan batu meteor.
Pertarungan ketiga telah dimenangkan oleh Hanz.
Seharusnya dalam sebuah pertarungan 5 lawan 5, hanya perlu memenangkan 3 pertarungan agar bisa berhasil. Nyatanya syarat yang diajukan oleh Anubis adalah meraih 5 kemenangan dari 5 pertarungan.
Dalam kepulan asap, bekas mayat Diablo, muncul sosok misterius yang menghampiri Hanz.
"Pertarungan berikutnya aku ingin kau memanggil Jarvis"
Hanz merasa tubuhnya tak bisa bergerak. Ini baru pertama kali ia rasakan. Rasa ketakutan berlebih, bahkan Diablo tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sosok di hadapannya.
"Jika aku menolak, apa kau aka.."
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, kepala Hanz langsung terpotong. Dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri tubuhnya kini jatuh yang diikuti oleh kepalanya yang juga jatuh ke tanah.
Setelah itu pandangan Hanz menjadi gelap, tiba-tiba saja ia tersadar kembali.
Ternyata Jarvis sudah ada di sampingnya.
Karena ia juga memiliki kemampuan yang sama maka ia dengan mudah melepaskannya.
Dalam momen yang singkat itu, Hanz merasa ketakutan. Tubuhnya merinding disertai dengan keringat dingin yang mulai mengguyur tubuhnya.
"Apa kau tidak apa-apa?"
"Iya"
Walaupun ditanya seperti itu oleh Jarvis, tubuh Hanz seakan tak bisa menahan rasa gemetarnya.
Jarvis lalu menebas udara, seketika itu juga muncul gerbang monster yang mengarah langsung ke podium Colosseum.
Hanz berusaha untuk masuk ke gerbang itu, sebelum masuk Hanz berbalik melihat Jarvis.
"Jangan mati"
Jarvis hanya mengangkat jempolnya. Hanz lalu masuk ke gerbang monster tang dibuat oleh Jarvis.
"Apakah dramanya sudah selesai"
Orang yang berkata demikian adalah guru Jarvis, Ibaraki Doji.
"Menurutmu?"
"Jangan kaku begitu, ayo duduk"
Ibaraki menyuruh Jarvis duduk saat ia juga mengambil posisi duduk. Jarvis lalu ikut duduk.
"Apakah ini pilihanmu?"
"Entahlah, hanya saj aku tak ingin mereka terus berada disini"
__ADS_1
Dengan ucapan yang penuh keseriusan, Jarvis lalu memegang erat pedangnya.
"Apa kau sudah memberikan nama pedangmu?"
"Sudah"
Pedang yang dimaksud Ibaraki adalah pedang yang dipegang Jarvis, yang diberikan oleh Hanz. Pedang Shirasaya lurus berwarna hitam, namun sedikit tambahan simpul Sageo dengan 3 rumbai bulu berwarna merah.
"Pedang itu telah memiliki nama"
Jarvis lalu melihat pedangnya.
"Namanya?"
"Primera, artinya pertama. Pedang itu adalah senjata pertama yang berhasil memotong kepala Tifon, Naga berkepala seratus"
Yang dimaksud Ibaraki adalah saat ia melawan seekor naga yang berusaha membunuh Athos. Saat itu Ibaraki berhasil memotong beberapa kepala naga tersebut.
"Tidak buruk, Primera, nama yang cukup bagus"
"Itu bukan aku yang menamainya, melainkan salah satu dari petinggi monster, raja raksasa, Athos"
Kini Jarvis paham siapa yang memberikan nama kepada pedang yang digunakannya.
"Guru, aku memiliki sebuah permintaan"
"Apa itu?"
"Jika aku kalah, kumohon selamatkan mereka"
Jarvis lalu bersujud meminta dengan sangat tulus.
"Secara tak langsung, kau ingin aku melawan Anubis dan semua monster yang ada di sini"
Jarvis tak menjawab, ia tetap bersujud.
"Kumohon"
"Aku akan menyelamatkan mereka, itu janjiku"
"Terima kasih"
"Tidak apa-apa. Ada satu hal lagi yang kau harus tahu"
"Apa itu?"
"Pedang yang kau pegang bukanlah pedang biasa, pedang itu memiliki kemampuan untuk meniadakan regenerasi sel yang dikena. Jadi tak ada makhluk yang mampu untuk menyembuhkan diri atau disembuhkan jika sudah terkena pedang itu"
Jarvis sangat kaget, pedang yang dipegangnya sangatlah berbahaya.
"Tanpa menunggu lama, Jarvis tarik pedangmu!"
Ini menandakan pertarungan akan segera dimulai. Jarvis lalu bangkit dari sujudnya. Ia lalu menarik pedangnya.
Sarung pedang di tangan kirinya sedangkan pedang di tangan kanannya. Ia mulai bersiap.
Sambaran petir menggetarkan langit, udara kian mencekam. Ibaraki Doji lalu berdiri dari duduknya.
Sebuah hantaman petir yang sangat besar berada tepat di belakang Ibaraki.
Di belakang Ibaraki muncul sebuah patung besar berbentuk naga dan harimau. Posisi naga dan harimau yang berusaha menjaga sebuah pedang panjang dengan rantai yang melilit tubuhnya serta pedang itu.
Pedang itu memiliki tampilan yang elegan, panjang namun ramping. Tanpa emas atau permata namun memiliki tampilan yang sangat elegan dan mewah. Memiliki warna biru transparan yang dibalut dengan bilah ganda berwarna hitam.
"Nama pedang ini adalah Excalibur. Pedang yang digunakan oleh raja Arthur dulu. Salah satu dari 12 pedang terkuat dalam sejarah manusia"
Pedang itu lalu dipegang, seketika itu juga petir dilangit menyambar hanya satu tempat. Ketika pedang itu ditarik, wujud pedang raksasa yang terbuat dari gumpalan petir tepat berada di atas langit.
Ibaraki lalu mengayunkan pedangnya yang diikuti oleh hantaman pedang raksasa yang menyelimuti seluruh langit.
Jarvis lalu menggunakan kemampuannya, sayatan kali ini berbeda dengan yang biasanya ia pakai. Wujud sayatan terbang biasanya berwarna putih kebiruan, namun dengan menggunakan pedang hitam di tangannya, aura hitam keunguan berhasil keluar dari pedang tersebut.
Sebuah sayatan terbang berwarna hitam keunguan melesat tajam ke arah petir raksasa. Petir itu berhasil dibelah.
__ADS_1
Tak tinggal diam, Ibaraki lalu memposisikan pedangnya di samping kirinya sedangkan Jarvis melakukan kuda-kuda teknik Iai.
Mereka lalu maju, hantaman keras dari dua pedang yang bertemu membuat dua aura hitam dan biru saling bertabrakan.