Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Aku Bodoh, Kau Lebih Bodoh


__ADS_3

Tak bisa dipungkiri, kesehatan adalah salah satu nikmat terbesar bagi setiap orang, tak terkecuali Jarvis.


Jarvis kini sedang memakai pakaian mirip tentara. Ia mengenakan celana cargo panjang berwarna hitam serta sepatu PDL tentara. Ia memakai baju kaos hitam lengan pendek yang ditutupi oleh rompi berwarna hitam.


"Kata om itu kesehatanku sudah pulih jadi aku harus cepat mencari kedua senjata itu"


Tawa keras Roy dan Paula membuat telinga Jarvis memerah.


"Sial, mereka terus menertawai ku"


Jarvis lalu membuat gerbang monster dengan pedang Gumiho.


Di Mesir, bekas pertarungan melawan Anubis. Reruntuhan bangunan Colosseum kini rata dengan tanah.


Mayat Anubis hanya menyisakan tulang belulang. Dagingnya sekarang habis dimakan monster lain. Dari atas tengkorak Anubis, Jarvis tengah duduk bersila.


Awalnya Jarvis bingung, mau mencari mulai dari mana. Namun ternyata yang dicari malah datang sendiri.


Jarvis kini sedang bersembunyi, karena ia sedang melirik seseorang yang bertarung dengan seekor monster kalajengking.


Kalajengking itu ukurannya sangat besar. Seukuran dengan seekor banteng. Di hadapannya sedang berdiri orang yang memakai mantel hitam.


Yang menjadi perhatian Jarvis bukanlah pertarungannya, melainkan senjata yang digunakan oleh orang itu.


Tombak dengan gagang berwarna hitam dengan bilah berwarna merah. Tombak itu adalah milik Jarvis.


Jarvis lalu menghampiri orang itu, ia menggunakan pedang yang digunakannya melawan Orgasheel.


Seketika ia lalu menebas monster kalajengking. Kalajengking itu langsung terpotong.


Jarvis lalu mengacungkan pedangnya.


"Siapa kau?"


Orang itu lalu membuka tudung mantelnya. Jarvis yang tadinya santai langsung waspada.


"Kau"


Orang itu adalah mantan Petinggi Monster, Kanjeng Ratu Kidul.


Wanita itu lalu melemparkan tombak itu ke Jarvis. Jarvis lalu menangkapnya.


"Ikut aku!"


Wanita itu lalu pergi yang diikuti oleh Jarvis. Walaupun takut, tapi Jarvis berusaha untuk mengikuti. Setelah beberapa lama, akhirnya mereka sampai di sebuah gua.


Dalam gua tersebut terdapat sebuah pedang hitam dengan aura mengerikan. Pedang itu adalah pedang dari taring Hidra, Primera.


"Kau bisa mengambilnya"


Jarvis lalu hendak mengambilnya, namun tiba-tiba wanita itu bersujud.


"Kumohon tolong aku"


Jarvis yang mendengar itu lalu cepat mengambil pedangnya. Lalu cepat memasukannya ke dalam ruang penyimpanan serta pedang Gumiho. Ditangannya hanya ada tombak dengan bilah yang agak panjang berwarna merah.


Ia lalu mengambil posisi kuda-kuda.


"Apa maksudmu?"


"Kumohon tolong aku"


"Apa kau sadar siapa yang kau minta tolong"


Wanita itu masih tetap diam.


"Malulah sedikit. Kau hampir membunuh kami, malah sekarang kau meminta tolong. Kau kira aku akan menerimanya"


"Aku sudah memberikan pedangnya"


"Sedari awal ini adalah pedangku" Jarvis mulai kesal.


Ketika Jarvis melihat lagi, sekarang ini mantan Petinggi Monster tidak memiliki kekuatan. Jadi sekarang dia yakin, bahkan tanpa menggunakan pedang kutukan, ia mampu menang.


Tiba-tiba Jarvis mencium bau menyengat, mirip bau bangkai.


Ia lalu masuk lebih dalam ke gua. Dilihatnya sebuah pelita yang menerangi bangkai seseorang.

__ADS_1


Tubuh itu sudah tidak memiliki bagian perut ke bawah. Tubuh itu dipenuhi oleh belatung. Ketika Jarvis melihatnya lebih jeli, ia masih hidup.


"Siapa dia?"


"Aku"


Jarvis menjadi heran.


"Itu tubuh asliku. Ini hanya kloning air"


Jarvis lalu melihat mayat itu dan merabanya.


"Apa yang terjadi"


"Aku kalah melawan Athos. Sekarang tubuhku seperti itu. Bahkan itu terbilang baik karena ia mengira bahwa aku telah mati"


Jarvis kemudian pergi keluar gua. Ia berpikir sejenak. Wanita yang didalam gua mulai putus asa.


Jarvis lalu lagi ke dalam gua.


"Jelaskan alasanmu sehingga aku harus menyelamatkanmu"


"Nyawaku sedang terancam, bahkan aku sudah tak tahu lagi kapan aku mati"


"Bukan itu yang ingin ku ketahui. Alasanmu hidup"


Wanita itu lalu menjelaskan.


"Aku adalah ras Elf, keturunan darah murni dari kerajaan" wanita itu lalu memperlihatkan telinga yang panjang.


Jarvis lalu percaya.


"Aku sebenarnya diusir. Aku tak masalah dengan itu. Tapi ketika aku di usir, salah satu anggota Unicorn berhasil mencuri perhatianku. Aku tak tahu apa yang direncanakannya"


"Jadi maksudnya kau ingin menyelamatkan Ras Elf-mu. Bahkan jika mereka mengusirmu"


Tatapan mata wanita itu lalu serius.


"Jadi begitu"


Jarvis lalu melirik ke arah mayat itu.


"Budak, lakukan kontrak budak"


"Apa maksudmu?"


"Kau punya buku arwahkan, milik Anubis?"


"Teruskan!"


"Jika kau terpilih sebagai pemegang buku selanjutnya. Kau dapat melakukan kontrak dewa kematian. Manusia biasa menyebutnya manipulasi arwah. Itu adalah kemampuan Anubis"


"Cara kerjanya"


"Aku juga tak begitu paham. Tapi aku yakin jika kau menjadikanku budak sebelum aku mati, aku bisa hidup lagi"


Jarvis yang mendengar itu lalu setuju. Ia kemudian memunculkan buku Anubis lewat Black Hole. Ini karena Jarvis berhasil mencuri buku itu dengan cara memasukannya ke Black Hole.


'Ternyata benar. Buku tanpa tuan. Buku ini tak mencederai tanganku lagi, sangat berbeda ketika pertama kali disentuh saat Anubis masih hidup' batin Jarvis.


"Bagaimana cara pakainya?"


Wanita itu lalu menjelaskan caranya.


Jarvis lalu memegang dada tubuh asli wanita itu dengan tangan kanan kemudian tangan kirinya memegang buku.


"Dengan ini aku mengajukan kontrak. Bangkitlah" kata Jarvis.


Seketika tubuh wanita itu lalu kembali utuh seperti tak terjadi apa-apa. Ia sekarang menjadi segar kembali, kekuatannya kembali melimpah. Sama seperti saat masa jayanya.


"Dengan kontrak ini, aku menyegel kekuatanmu"


"Brengsek, apa yang kau lakukan?"


"Kau pikir aku bodoh. Mana mungkin kau tahu cara menggunakan buku ini. Jika buku ini dapat digunakan seperti itu. Berarti ini hanyalah improvisasi, semua orang dapat menggunakannya"


Wanita itu lalu menyerang Jarvis, namun mudah bagi Jarvis untuk menghalaunya.

__ADS_1


Tiba-tiba kepala Jarvis pusing sementara, ia hampir jatuh, namun hanya sebentar ia kembali membaik.


"Apa yang kau lakukan?"


"Haa...haa...ha…"


"Sudah ku bilang, aku kenapa" Jarvis mulai marah.


"Haa… ha...haa…. "


Wanita itu terus tertawa terbahak-bahak.


"Sudah selesai"


"Sudah. Pphhh...pphhh… haa..ha..haa"


Wanita itu terus saja tertawa.


"Sepertinya aku lupa memberitahu. Jika Anubis, ia adalah monster abadi. Jadi dia bisa menggunakan buku itu sepuasnya. Namun berbeda denganmu, sepuluh tahun umurmu akan menjadi bayarannya untuk setiap nyawa yang kau kendalikan. Itulah namanya menjadi dewa kematian" kata wanita itu.


"..."


"Dewa kematian yang membunuh dirinya sendiri. Haa...haa...ha"


"Berhenti"


"Aku juga berbohong. Itu bukan kontrak budak, tapi kontrak kebangkitan. Haa...haa...ha"


Jarvis lalu membuka bukunya.


"Aku sekarang tak peduli lagi, kau bilang berapa tahun untuk setiap kali penggunaan"


"Jangan"


Jarvis lalu menunjuk pada wanita itu.


"Kau sekarang menjadi budak. Patuhi semua perintahku"


"Iya"


"Yes. Belum pernah aku sebahagia ini" kata Jarvis bahagia.


Muka wanita itu serasa masam dan kecewa. Sedangkan Jarvis kini punya senyum yang sangat lebar.


"Menunduk"


Wanita itu menunduk.


"Lompat"


Wanita itu langsung melompat"


"Berdiri, angkat satu kaki, jungkir, batuk, tertawa, menangis"


Wanita itu lalu mengikuti semua perintah Jarvis. Walaupun Jarvis kehilangan dua puluh tahun kehidupannya, ia merasa tak menyesal.


"Siapa namamu?"


"Kidul. Kanjeng Ratu Kidul. Penguasa lautan."


"Bukan itu yang kumaksud. Nama dari orang tuamu?"


"Ratu terakhir darah murni ras elf, Hera Vergenalice Mors De Albido"


"Terlalu panjang. Singkat!"


"HVMDA (Hera Vergenalice Mors De Albido)"


"Kukira Roy itu bodoh, ternyata kau lebih bodoh" kata Jarvis sambil menepuk jidatnya.


"Hera"


"Jarvis, Jarvis Curtis"


Jarvis mengulurkan tangannya yang kemudian dijabat oleh Hera.


"Tidak masalah menjadi bodoh dari siapapun. Karena aku tahu, seseorang yang lebih bodoh dariku itu kau"

__ADS_1


Jarvis yang sedari tadi menahan emosinya langsung menjitak kepala Hera dengan keras.


__ADS_2