
Di dunia ini terdapat beberapa ras selain ras manusia. Keberadaan mereka jarang diketahui oleh manusia.
Tiga diantaranya sedang bertarung sekarang melawan salah satu petinggi monster. Alasannya adalah untuk melindungi jantung Naga.
Ras pertama adalah Ras Dwarf. Ras ini umumnya memiliki ciri seperti manusia pada umumnya, tapi memiliki tubuh yang relatif kecil serta umur yang panjang. Pekerjaan mereka adalah membuat suatu barang. Namun yang paling mengerikan dari mereka adalah kemampuan dalam membuat senjata.
Ras kedua adalah Elf. Memiliki rupa menawan, telinga runcing dengan rambut berwarna selain hitam. Jika rambut berwarna hitam, mereka menganggapnya sebagai kutukan. Kemampuan mereka adalah berburu, jadi panah dan pedang sudah menjadi bagian dari tubuh mereka. Mereka selalu bersembunyi di hutan.
Ras ketiga adalah Ras binatang. Walaupun disebut binatang, namun mereka memiliki penampilan layaknya manusia. Hanya saja ada beberapa perbedaan, seperti telinga dan ekor. Mereka dapat berubah menjadi binatang utuh jika sedang marah atau terancam.
Ketiga ras ini berusaha untuk menghadang pasukan dari salah satu Petinggi Monster. Karena jumlah dan kekuatan yang besar dari musuh, pertempuran mereka tidak dalam satu tempat.
Musuh yang mereka hadapi adalah orc.
Di sebuah hutan, terlihat pepohonan hancur berserakan. Hutan yang seharusnya penuh pepohonan, kini menjadi sebuah lapangan luas tempat peperangan.
Salah satu ras, yaitu ras binatang kini disudutkan. Banyak dari mereka mulai kelelahan, terluka, bahkan ada beberapa yang sudah tak bernyawa.
Pertarungan yang berat sebelah. Terlihat salah satu dari Ras binatang mulai ditiduri oleh orc, ini karena rupa mereka. Mereka memiliki penampilan yang menarik, bahkan tidak kalah saing dengan ras Elf.
Akibat salah seorang orc yang melakukan tindakan tak senonoh, temannya yang lain juga mengikuti kelakuannya. Kini beberapa Ras binatang dilecehkan.
Tak terima diperlakukan seperti itu, mereka yang ditiduri langsung bunuh diri.
Salah satu dari mereka kemudian maju. Kepala beberapa orc yang meniduri ras binatang langsung terkoyak akibat sebuah cakaran.
Tubuh rubah berwarna putih seharusnya mendominasi pertarungan. Tapi tubuhnya langsung di hantam oleh pedang besar.
Salah satu orc berwarna merah telah menebasnya. Umumnya orc berwarna hijau, namun sekarang berwarna merah. Orc ini adalah salah satu komandan dalam pasukan mereka.
Hampir saja rubah itu mati. Karena terkena tebasan di punggung, tubuhnya kembali seperti semula. Mulai dari bentuk kemudian wujudnya. Kini terlihat bahwa ia hanyalah gadis remaja berambut putih dengan telinga dan ekor rubah.
Ia berusaha menahan sakitnya.
"Kalian pasti akan membayarnya"
Gadis itu tampak sangat marah dengan komandan Orc. Namun orc tersebut langsung menusuk kakinya.
"Coba kau ulangi"
Gadis itu langsung meludah tepat di wajah Orc itu. Tak terima diludahi, orc itu langsung mengangkat pedangnya, siap melakukan serangan terakhir.
Tiba-tiba tubuhnya terkena sebuah tombak berwarna hitam berbilah merah. Tak lama kemudian ada seekor ular raksasa yang memakan orc itu.
Gadis rubah tak tahu apa yang terjadi. Ia lalu meliht sekeliling. Semua orang ternyata telah terbakar oleh api biru. Ia lalu panik. Bahkan seketika ada percikan api biru di bekas lukanya.
Tanpa pikir panjang ia berusaha memadamkannya dengan berguling di tanah, tapi tak membuahkan hasil. Api itu tak bisa padam.
Sampai akhirnya ia menyadari sesuatu, lukanya mulai pulih disertai dengan nyala api biru.
Tak hanya dia, semua orang yang terkena api biru langsung pulih.
Saat ia melihat ke atas, ada api yang terus terbang di atas langit, beberapa percikan api berjatuhan mengenai mereka semua.
Ternyata itu adalah arwah burung Phoenix yang terbang sambil menyembuhkan ras binatang yang terluka.
Tampak di hadapannya ada pria dan wanita yang sedang berselisih.
Yang satu adalah perempuan dengan 2 katana di tangannya. Ia memiliki telinga agak panjang. Sedangkan pria memiliki rambut panjang, sambil memegang buku arwah.
"Kalau bukan tombakku, kau tak bisa menyuruh ular itu untuk menelannya"
__ADS_1
"Bahkan tanpa tombak itu, ularku sangat kuat, bahkan temanmu hampir mati dulu"
"Kau kira kau masih kuat"
"Apa?"
Ternyata yang berselisih adalah Hera dan Jarvis. Hera kini membawa dua pedang Jarvis, Gumiho dan Imoogi karena senjatanya sudah tidak ada.
Tak terima diremehkan, Hera malah beradu mulut dengan Jarvis.
"Apa kau mau bertarung?"
"Ohhh, kau pikir bisa menang tanpa tombak trisula"
"Aku ini kuat"
Hera dan Jarvis yang telah sampai di tempat orc merah tadi malah terus berselisih.
Jarvis dan Hera lalu bertanya ke gadis itu.
"Menurutmu siapa?"
"Siapa yang terkuat diantara kami?"
Gadis itu malah bingung. Saat itu Jarvis malah heran melihat gadis di hadapannya. Jarvis lalu memegang ekor gadis itu.
"Ternyata memang ekor"
"Aaahhh"
Gadis itu langsung teriak. Muka merah langsung nampak. Hera lalu menarik Jarvis. Ia lalu berbisik.
"Jangan sentuh ekornya. Sama saja kau menyentuh pantatnya"
"Maaf"
Gadis itu ternyata menerima permintaan maaf Jarvis dengan anggukan.
Karena penasaran gadis itu langsung bertanya.
"Siapa kalian?"
***
10 menit sebelumnya.
"Pertarungan baru saja dimulai" Ibaraki mulai mengingatkan mereka.
"Pertarungan apa? Kukira telah selesai"
Jarvis mulai heran. Athos yang dari tadi diam mulai menjelaskan.
"Sekarang ini ada tiga ras yang berusaha melindungi jantung naga. Mereka sedang bertarung melawan salah satu petinggi monster. Raja para orc"
Jarvis langsung merinding. Jarvis mengingat saat melawan salah satu orc dengan kemampuan yang tinggi. Bahkan dengan jumlah pahlawan Kelas A yang banyak, masih belum cukup untuk mengalahkannya.
"Apa mereka bisa menang"
"Mustahil. Alasannya karena setiap ras mengirim anggota hanya memiliki 2 kelas S. Padahal setiap ras memiliki banyak sekali yang lebih kuat dari itu" Athos mulai menjelaskan.
"Aku akan melawan raja Orc yang merupakan petinggi monster. Kalian urus sisanya"
__ADS_1
Tak mau ribet, Ibaraki langsung mendeklarasikan diri bertarung melawan Raja Orc.
"Kalau begitu, Ibaraki akan pergi menyelamatkan Ras Elf yang bertarung dengan petinggi monster. Aku akan melawan tangan kanannya, ia sekarang bertarung dengan Ras Dwarf. Lalu kalian berdua akan melawan tangan kirinya, ia sekarang berhadapan dengan ras binatang" Athos mulai mengatur pertarungan.
Jarvis lalu memberikan tombaknya ke Hera.
"Sekarang kau tak punya senjata kan?"
"Sebenarnya aku tak terlalu mahir menggunakan tombak, hanya saja kekuatan tombak trisula sangat besar, jadi tidak terlalu nampak kalau aku tak lihai menggunakannya"
Mendengar keluh Hera, Jarvis berpikir sejenak. Ia lalu membuka Ruang Penyimpanan.
"Kalau pedang?"
"Aku bisa"
Jarvis lalu mengeluarkan pedang yang digunakannya untuk melawan Orgasheel.
"Ayo berangkat"
Jarvis terlihat bersemangat.
"Tunggu dulu" Ibaraki menahannya.
"Apa lagi"
"Jika kalian ditanya siapa kalian, jawab dengan alasan apapun. Tapi jangan membocorkan jika kalian ada sangkut pautnya dengan petinggi monster. Sejatinya kita ini musuh bagi mereka"
Yang lain mulai paham.
Satu jentikan dari Ibaraki, tiba-tiba 3 gerbang monster muncul di hadapan mereka. Ketiga gerbang tersebut mengarah ke tiga ras yang berbeda.
Mereka lalu masuk ke dalam.
***
Kembali ke situasi sekarang.
Karena penasaran gadis itu langsung bertanya.
"Siapa kalian?"
"Pelindung jantung Naga" kata Jarvis mulai serius.
Gadis itu langsung menangis mendengarnya.
"Terima kasih"
Hera lalu menghiburnya.
"Kalian bisa istirahat sekarang. Sisanya serahkan pada kami"
Hera lalu menusuk tanah dengan pedang. Seketika tanah berubah menjadi hitam, diwaktu yang sama muncul puluhan monster dengan ukuran dan jenis berbeda. Semua monster yang muncul adalah monster dari lautan.
Tak mau kalah. Jarvis lalu mengaktifkan kekuatan bukunya.
"Keluarlah!"
Seketika muncul 4 naga serta seekor burung Phoenix terbang di atas langit. Karena yang dikeluarkan oleh Jarvis adalah hantu jenis monster atau Hollow, hanya beberapa orang yang dapat melihat langsung wujudnya.
Kini pasukan Jarvis dan Hera siap membombardir musuh.
__ADS_1
Ketika Hera dan Jarvis melihat lawannya, mereka seakan tak percaya.
Ribuan Orc dengan kemampuan, ukuran, serta wujud yang berbeda telah berada tepat di hadapan mereka.