Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Aku Bukanlah Pahlawan


__ADS_3

Di suatu tempat, terlihat 2 pahlawan sedang berlari menuju medan pertempuran.


"Siapa yang melawan monster tersebut?"


"Ludheer Bashil"


"Keadaan sekarang sangat gawat, bahkan kelas A ikut bertarung."


Nampak 2 pahlawan yang berlari sambil berdiskusi.


"Pahlawan dibagi menjadi 5 kelas. Dari kelas E yang terlemah sampai kelas A yang terkuat. Begitupun juga untuk sebuah monster." Tegas pahlawan laki-laki tersebut.


"Memangnya kenapa?" Tanya seorang gadis yang juga merupakan pahlawan.


"Jika monster dan pahlawan dengan kelas yang sama bertarung, salah satu dari mereka pasti akan mati, Ludheer Bashil satu satunya pahlawan kelas A di kota H. Jika ia mati terpaksa kita yang harus berhadapan dengan monster tersebut." Jawab laki-laki tersebut.


"Mengerikan, padahal kita cuma kelas C." Keluh gadis tersebut.


Mereka kemudian mempercepat langkahnya.


"Tolong. Tolong. Siapa pun kumohon tolong"


Mereka berdua pun berhenti saat mendengar teriakkan seorang anak kecil.


"Kenapa nak?" Tanya gadis tersebut.


"Ayahku" sambil menunjuk ayahnya yang berusaha untuk keluar dari reruntuhan bangunan.


"Dili, pergilah terlebih dahulu! biar aku yang membantunya" ucak pahlawan pria ke rekannya yang bernama Dili.


"Baiklah, aku duluan, Charlie" sahut Dili


Charlie kemudian menghampiri Jarvis.


"Bosan terus-terusan berbohong" keluh Charlie, namun karena suaranya yang pelan sehingga tidak ada yang mendengarnya.


"Hei, ada apa?" Bentak Charlie kepada Jarvis.


"Ayahku, tolong ayahku!" Kata Jarvis.


"Iya...iya...berisik" ucap Charlie sambil mendekati ayah Jarvis.


Charlie kemudian menendang tumpukan beton yang menimpah ayah Jarvis. Beton tersebut langsung terlempar. Charlie pun kemudian pergi meninggalkan Jarvis untuk menyusul Dili.


Melihat kejadian tersebut Jarvis kemudian menghampiri ayahnya. Tiba-tiba Jarvis menjadi diam dan kaku. Ayahnya ternyata telah tiada. Bukan karena pahlawan lambat menolong tetapi pahlawanlah yang membunuh ayahnya.


Ayah Jarvis menerima luka sobekan besar di perutnya. Hal ini terjadi karena Charlie menendang beton secara brutal, bukannya mengangkatnya secara pelan-pelan. Hempasan beton yang menindih perut ayah Jarvis malah menjadi senjata untuk merobek perutnya.


"Hik...hik….hikk…" Jarvis menangis tersedu-sedu.


***


Dili kemudian sampai di tempat sang monster. Langkah kakinya kemudian terhenti. Bukan karena untuk mengamati pertarungan, tetapi karena merasa takut.


"Ghooooaaaahhhhh" sekali lagi monster itu kembali mengaum.


Didepannya terlihat seorang pria berotot yang memegang pedang besar yang ternyata adalah Ludheer, pahlawan kelas A. Ludheer kemudian menghampiri monster dan menebasnya.


Slash!


Tebasan pedang gagal mengenai monster singa, monster singa pun membalas dengan melakukan cakaran, Ludheer kemudian melompat mundur..


Crack!


Cakar hanya mengenai tanah. Ludheer kemudian melempar pedangnya ke monster, monster mulai menunduk dan berlari dengan 4 kaki. Monster berhasil menerkam. Gigi tajam berhasil bersarang di pundak kiri Ludheer.


"Aaaaaaahhhh.." jeritan Ludheer tak tertahankan.


Ludheer berusaha melawan, namun na'as lukanya bertambah parah. Dengan susah payah, Ludheer berhasil menyentuh dada monster.


"Aku berhasil menyentuhmu" ucap Ludheer kepada monster singa.


Tiba-tiba Ludheer dan monster singa terangkat ke udara. Semakin lama semakin tinggi.


Di sisi lain Dili yang melihat kejadian tersebut terheran-heran. Kemudian muncul Charlie di sampingnya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Charlie.


"Entahlah, mereka terangkat begitu saja" jawab Dili.


"Ini adalah kemampuannya" kata Charlie.


"Maksudmu?"


"Dari tadi kau pasti melihat pertarungan mereka. Ludheer memang memiliki otot yang besar, namun itu bukanlah sesuatu jika dibandingkan dengan atlet binaragawan"


"Hhmm, aku mulai paham. Seorang binaragawan pasti akan kesulitan jika menggunakan pedang besar itu, namun ia mampu mengangkat pedang besar itu dengan satu tangan layaknya sebuah sapu" Dili mulai paham dengan kemampuan Ludheer, berkat penjelasan Charlie.


"Kemampuannya adalah meringankan segala hal yang disentuh" ungkap Charlie.


Dilain sisi gigitan monster mulai kendur di bahu pahlawan itu. Ludheer kemudian menendang monster tersebut yang akhirnya gigitannya lepas seutuhnya.


Ludheer kemudian turun ke tanah dan mendarat perlahan. Berbeda dengan monster yang terus terangkat ke langit. Kemudian Ludheer menelpon seseorang.


"Halo. iya ini aku. Tolong kirim Marx 7 kesini. Apa… butuh waktu 5 menit. Baiklah. Aku keliru untuk membawa Marx 3. Iya aku tunggu" Ludheer kemudian menutup teleponnya.


"Baiklah…apa yang akan kita lakukan anak singa dalam kebun binatang" ucap Ludheer.


Ludheer kemudian melakukan peregangan. Iya pun melepaskan sepatunya.


"Ini menghambatku untuk menyentuh sesuatu" ucap Ludheer.


Ia pun kemudian pergi ke reruntuhan bangunan. Kemudian menunjuk monster di langit.


"Jatuh" kata Ludheer.


Monster pun jatuh denga sangat cepat ke tanah.


Boomm!


Monster masih dapat berdiri walaupun kurang stabil. Ludheer kemudian menendang beberapa bongkahan reruntuhan bangunan ke arah monster tersebut hingga mengenainya.

__ADS_1


Takk!


Boomm!


Takk!


Boomm!


Monster pun menjadi kesal. Kemudian meledakkan daerah disekitarnya. Serangannya pun semakin membabi buta. Melihat hal itu, Ludheer pun juga semakin liar. Ia menendang puing-puing bangunan. Dengan kemampuannya, ia dapat merubah berat benda yang ditendang menjadi ringan, namun ketika terlempar beratnya kembali. Pertarungan ketahanan pun terjadi.


Melihat hal itu, Charlie kemudian mengajak Dili berbicara.


"Apakah kau tahu berapa harga kepalamu?" Ucap Charlie.


"Eeeee" Dili yang mendengarnya hanya dapat melirik keheranan.


"100.000 dollar" Charlie menjawab pertanyaannya sendiri.


"Seorang mantan pacarmu ingin membunuhmu" lanjutnya.


Tiba-tiba sebuah belati mengarah tepat ke leher Charlie. Namun saat belati itu hendak Menusuk leher, belati itu seketika saja berhenti. Pemegang belati adalah Dili, yang berusaha melawan.


"Apakah kau tahu kemampuanku? Bukanlah peningkatan seperti yang kau ketahui. Aku hanya memerintah parasit di tubuhku untuk memperkuat bagian tubuh yang diinginkan" tutur Charlie.


"Parasit?" Heran Dili.


"Ohh aku lupa, ternyata ada parasit peledak di tubuhmu"


"Biadab"


"Hehehe... hahaa..haha"


Dili kemudian menangis, namun Charlie malah tertawa terbahak-bahak.


"Serang!" Perintah Charlie.


Tiba-tiba tubuh Dili bergerak sendiri. Ia berlari sangat cepat ke monster. Monster kemudian menusukkan kuku panjangnya ke perut Dili.


Jlaabh!


"Ughht"


Dili muntah darah, nampak di matanya terdapat air mata yang mengalir. Perasaan akan penghianatan rekannya.


"Meledaklah!" Perintah Charlie.


Seakan telah direncanakan. Tubuh Dili meledak. Tangan kanan monster singa akhirnya meledak tak bersisa. Namun itu belum cukup untuk membunuhnya.


"Gagal ya" ucap Charlie tanpa ekspresi.


Monster yang marah kemudian mendekati Charlie. Tapi serangnya terhenti. Karena muncul pedang raksasa.


"Akhirnya datang juga" ucap Ludheer menghampiri pedang tersebut.


Pedang tersebut sebenarnya tidak cocok disebut pedang. Ukuran yang terlalu panjang, besar dan berat. Gagang pedang seperti tongkat dengan panjang 2 meter, bilahnya 7 meter dan berat sekitar 3 ton. Kalau bukan Ludheer, mungkin tidak ada yang bisa menggunakannya.


Monster yang marah langsung menyerang.


Ludheer kemudian menebas monster tersebut. Monster itu kemudian menangkis serangan tersebut. Namun sial, tangan si monster langsung terpotong.


"Ghooooaaaahhhhh" monster yang marah kemudian mengaum, karena kedua lengannya telah tiada.


"Berakhir sudah" ucap Ludheer sambil menebaskan pedangnya secara vertikal ke monster.


Monster langsung terbelah dua, diikuti dengan hancurnya tanah tempat berpijak.


"Hebat kau"


"Tidak juga. Tapi apakah kau tahu siapa gadis yang menyerang monster tersebut?" Tanya Ludheer yang tidak memperdulikan pujian dari Charlie.


"Rekanku" jawab Charlie.


"Itu adalah pilihan yang dibuat olehnya. Kita tidak boleh meremehkan tekadnya" lanjut Charlie yang mana itu hanyalah sebuah kebohongan.


"Ohhh begitu yah. Gadis yang hebat." Ungkap Ludheer.


Kemudian keheningan terjadi. Sesekali Ludheer melihat ke kanan-kiri. Tiba-tiba dia bertanya.


"Siapa namamu nak?" Tanya Ludheer.


"Aku memang menghormati anda, tapi aku tidaklah semuda itu untuk dipanggil nak" ucap Charlie kesal


"Ohh maaf bukan kamu, tapi anak kecil yang ada di belakangmu dari tadi" ucap Ludheer sambil menunjuk anak kecil yang tidak lain adalah Jarvis.


Seketika itu juga Charlie sangat kesal karena ada jarvis di belakangnya. Raut mukanya menjadi merah hal ini terjadi karena jarvis bisa saja memberi tahu Ludheer bahwa ia melihat perbuatan charlie saat memanipulasi Dili.


Jarvis memang melihat segala sesuatu yang dilakukan oleh Charlie, namun karena rasa takutnya Jarvis menjadi diam.


"Apakah kau tidak apa-apa?" Ucap Charlie sambil ingin memegang kepala Jarvis. Tapi Jarvis tiba-tiba melompat mundur untuk mengambil jarak.


Perasaan kesal menghantui Charlie. Tiba-tiba Jarvis bicara dengan pelan.


"Aku akan diam" ungkap Jarvis.


Charlie kemudian menghentikan langkahnya.


'Dasar anak bodoh. Aku akan membunuhnya jika ada kesempatan' batin Charlie.


Pertarungan akhirnya berakhir dengan kerusakan dan korban di mana-mana. Jarvis pun juga melihat sekeliling, tampak ada beberapa pahlawan yang datang terlambat.


"Kalian terlambat" kata Ludheer.


"Pahlawan memang datang terlambat" ucap pahlawan yang baru saja tiba.


Mendengar hal itu Jarvis menjadi marah, namun tak bisa berbuat apa-apa.


"Baiklah karena monsternya sudah tidak ada maka pekerjaan kita selesai"


Perkataan dari pahlawan lain malah membuat Jarvis merasa jengkel. Awalnya Jarvis mengidolakan sosok pahlawan, tapi sekarang hanya ada kebencian.


Pahlawan wanita yang punya banyak waktu luang saat pertarungan berlangsung tidak mempedulikan teriakan di sekitarnya.

__ADS_1


Pahlawan yang membunuh rekannya sendiri.


Pahlawan yang datang pertama punya banyak kesempatan untuk menolong ayahnya. Malah mengabaikan ayahnya, karena terlalu fokus ke monster.


Pahlawan yang datang terlambat merasa bangga jika ia datang terlambat.


Pahlawan yang merasa pekerjaannya telah selesai, walaupun banyak korban yang butuh pertolongan pertama.


"Apakah kalian pahlawan?" Tiba-tiba Jarvis melontarkan sebuah pertanyaan.


Semua pahlawan saling memandang kemudian tertawa.


"Haaa ..haaa..aahaa"


"Haaa ..haaa..aahaa"


"Haaa ..haaa..aahaa"


Semua pahlawan tertawa terbahak-bahak, kecuali Charlie. Ia tahu bahwa itu adalah hinaan.


Duarrr!


Suara Guntur mengagetkan semua orang. Kemudian disusul dengan ruang dimensi yang robek di depan mereka. Para pahlawan biasa menyebutnya gerbang monster.


Srekk!


Aura membunuh yang kuat keluar dari dalam gerbang monster. Semua pahlawan merasa ketakutan. Monster yang ada di dalam gerbang jauh lebih kuat dari monster singa.


"Siapa diantara kalian yang terkuat?" Ucap sosok monster.


Monster tersebut berbentuk seperti manusia namun memiliki kulit putih pucat, rambut gondrong terurai, gigi taring yang dua kali lebih panjang dari gigi manusia, dan mata merah dengan pupil ular.


"Vampir" ucap Charlie


"Gawat, aku akan menahannya, kalian larilah!" Ucap salah satu pahlawan.


"Ayo lari, walaupun ia berbadan kurus, namun ia masihlah pahlawan kelas B" kata rekannya kepada yang lain.


Memang situasi tidak memungkinkan, satu-satunya pahlawan kelas A sudah kelelahan. Pahlawan kelas B tersebut menerobos ke vampir. Senjata yang digunakan adalah rantai yang keluar dari seluruh tubuhnya.


"Dia tidak pernah menggunakan kemampuan penuhnya, jadi dia selalu tertahan di kelas B, baru kali ini aku melihat ia menggunakan kemampuan penuhnya" kata pahlawan yang ikut lari sambil menengok kebelakang.


Puluhan rantai bergerak seperti ular yang kemudian menyerang vampir tersebut.


Duarr!


Vampir hanya melangkah namun kepala sang pahlawan pecah tak bersisa.


"Akhirnya" ucap vampir tersebut tidak jelas maksudnya.


Seluruh pahlawan meninggalkan tempat itu secepatnya. Jarvis yang melihat suasan tersebut merasa aneh. Seluruh pahlawan lari. Bahkan tak ada yang mau membantunya untuk lari. Semua warga melihat kejadian juga merasa tak bisa berbuat apa-apa.


Seluruh pahlawan melewati Jarvis begitu saja.


"Jangan menghalangi" ucap salah satu pahlawan yang mendorong tubuhnya.


"Aahggg!" Jarvis kesakitan sambil memegang lututnya yang berdarah akibat terjatuh.


Saat itulah muncul vampir di belakang Jarvis. Vampir itu kemudian memegang kaki Jarvis yang terluka. Kemudian membawa Jarvis seperti sebuah barang. Jarvis tambah kesakitan akibat perilaku yang tak biasa tersebut.


"Tolong" teriak Jarvis.


"Kumohon tolong aku" lanjutnya lagi.


Jarvis kemudian dibawa ke gerbang monster.


"Tolong"


[Jarvis]


"Tolong"


[Jarvis]


"Kumohon tolong aku" teriak Jarvis sambil menangis.


[Bangun Jarvis]


"Ha...ha...ha…" suara seorang pria yang baru bangun tidur seperti akan mati.


"Ada apa Jarvis" ucap seseorang di sampingnya.


"Tidak, hanya mengingat masa lalu" ucap orang tersebut yang ternyata adalah Jarvis.


***


12 tahun telah berlalu sejak insiden kemunculan monster singa dan vampir. Jarvis kini berumur 22 tahun. Ia berperawakan tinggi, kulit putih, rambut panjang yang diikat kebelakang. Nampak tubuhnya penuh luka dan memiliki fisik yang telah dilatih sangat keras. Walaupun otot dan bekas lukanya tersembunyi ketika ia mengenakan pakaian. Nampak seperti pria tinggi tak berisi.


"Apakah kau siap?" Ucap temannya.


"Iya, bagaimana denganmu Roy" ucap Jarvis.


Jarvis mengenakan stelan celana hitam, sepatu sport untuk lari, jaket berwarna biru gelap yang bertudung dan memakai masker gas. Ia kemudian pergi mengambil pipa besi di sebelahnya.


"Sekali kali panggil aku dengan nama lengkapku, Roy Mustang" ucapnya.


Roy hanya menggunakan celana pendek elastis. Tubuh Roy yang mirip para tentara, tiba-tiba meregangkan ototnya.


"Lihat otot ini, tapi sial, mereka tidak dapat melihatnya" ucap Roy.


Roy tiba-tiba menyalakan Radio.


"Dimohon agar semua pahlawan di kota T segera kelokasi kejadian, monster…" ucap seseorang di Radio yang terputus akibat Roy mematikannya.


"Saatnya bertempur, kita sudah dipanggil" ucap Roy.


"Yang dipanggil hanya Pahlawan. Aku bukanlah Pahlawan" ucap Jarvis.


"Iya iya"


Jarvis dan Roy kemudian berlari menuju lokasi kejadian.

__ADS_1


__ADS_2