
Pahlawan adalah pekerjaan yang menggiurkan, tidak hanya gaji yang tinggi, juga status ketenaran yang menyaingi artis dalam industri media.
Maka tak sedikit pengguna kekuatan yang mendaftar sebagai pahlawan.
Hal ini dilakukan agar dapat menemukan pahlawan yang menjanjikan.
Pendaftaran pahlawan terbagi menjadi dua, melakukan tes atau rekomendasi.
Kebanyakan orang akan memilih tes karena tak memiliki akses sehingga dapat direkomendasikan. Namun ini tak berlaku untuk sekolah pahlawan.
Sekolah pahlawan akan memberikan rekomendasi untuk setiap muridnya yang lulus. Mereka dianggap sebagai orang yang berhasil.
Untuk lulusannya banyak yang menduduki pahlawan ranking B , C dan D. Bahkan hanya sedikit yang masuk ke ranking E. Ini menyatakan bahwa sekolah pahlawan sangat menjanjikan.
Namun hanya segelintir orang yang bisa masuk di sini. Alasannya sederhana, biaya yang dibebankan terlalu tinggi.
Salah satu yang menjadi daya tarik kota U adalah akademi pahlawan. Calon pahlawan dibina agar bisa menjadi pahlawan profesional.
Kini Jarvis yang bukan seorang pahlawan berusaha masuk ke dalam sekolah pahlawan.
Saat ia memasuki gedung yang akan ditempati untuk menyeleksi para guru, ia sedikit risih. Tak ada yang mampu mengalahkannya, namun jika ia tak menggunakan kekuatan, ia menjadi yang terlemah.
Mereka kini digiring ke sebuah Aula yang luas. Salah satu orang berdiri di atas panggung untuk berbicara.
"Apa kabar kalian semua? Aku Jacobus Ambroos, pengawas ujian kali ini" kata pria itu.
"Kalian pasti tahu apa tujuan kami mendatangkan kalian" lanjutnya.
'Berarti bukan cuma aku' batin Jarvis.
"Mulai sekarang, seleksi akan dilakukan bagi calon guru di sekolah pahlawan. Silahkan lihat ke samping kiri"
Semua orang langsung melihat ke samping kiri. Terlihat dua buah besi besar melengkung tak bersentuhan. Besi itu hampir membentuk sebuah lingkaran.
"Itu adalah gerbang monster buatan para ilmuwan kami. Kalian akan bertarung dengan monster di dalam sana. Kami akan menilai kalian"
Besi itu kemudian bercahaya, menghasilkan sebuah gerbang monster. Para calon guru serta pengawas lalu masuk ke dalam.
'Ini bukan di bumi, ini di mana?'
Jarvis yang bukan merupakan pahlawan, baru kali ini memasuki gerbang monster selain yang dibuatnya.
Jarvis lalu membuka kain pembungkus tombak. Ia sadar bahwa mereka yang jumlahnya banyak masihlah kalah jumlah dengan monster yang mengelilingi mereka.
Jarvis lalu melihat keatas.
'Jadi begitu. Ini dunia lain'
Jarvis yang melihat ke langit mendapati dua bulan yang ukurannya sangat besar dari ukuran bulan yang biasanya.
Jarvis lalu melihat yang lain.
'Sepertinya mereka sudah terbiasa'
Jarvis lalu menghembuskan napas. Ia lalu memegang erat tombaknya.
__ADS_1
'Tanpa kekuatan, bisakah aku melakukannya' batin Jarvis.
Tiba-tiba Jacob memberikan arahan ke mereka.
"Syarat untuk menjadi guru hanya satu. Buktikan jika kalian pantas"
Jacob lalu pergi meninggalkan mereka. Sebagian orang langsung bersiap bertarung. Namun tak sedikit yang masih bingung maksud Jacob.
Kini segerombolan monster hijau menyerang mereka. Monster itu mirip manusia namun sedikit kerdil dan berotot.
Jarvis lalu berusaha bertahan, seekor monster kemudian menyerangnya. Ia lalu menusuk monster itu dengan tombaknya.
'Lemah, monster ini lemah'
Jarvis merasa ini akan mudah, namun ia melihat semua orang malah kesusahan dengan monster tersebut.
"Hati-hati goblinnya ada yang menggunakan pedang"
Terlihat ada seorang pahlawan yang ingin menjadi guru berusaha untuk memperingati yang lainnya.
Jarvis yang mendengarnya sekarang tahu, monster di hadapannya adalah goblin.
Salah satu goblin berusaha menyerang Jarvis dengan pedang tapi ditangkis Jarvis dengan tombak. Pedang itu lalu terpotong oleh mata tombak.
'Baru kali ini aku menggunakan tombak ini dengan serius, karena benci dengan namanya' batin Jarvis.
Jarvis terus menebaskan tombak itu ke setiap goblin, semua gobin yang menyerangnya menerima luka yang parah hingga harus mati saat itu juga.
Jarvis terus menebaskan tombaknya.
Jarvis lalu memutar tombak itu ke udara, lalu memutarnya ke kanan-kiri hingga semua goblin langsung kalah.
"Beratnya terlalu pas"
Jarvis kini melemparkan tombak itu ke salah satu goblin yang berusaha menerkam salah satu orang.
Seketika tombak itu lalu menerjang goblin itu hingga tombak itu menembus tubuhnya.
'Terlalu stabil'
Jarvis akhirnya sadar, tombak yang dipegangnya merupakan tombak yang luar biasa.
Kini pertarungan telah selesai. Semua goblin yang menyerang mereka berhasil dikalahkan.
Jarvis lalu mengambil kembali tombak itu. Ia kemudian memutarnya untuk membuang darah dari tombak itu.
Kini Jarvis berhasil menunjukan keahlian tombaknya tanpa menggunakan kemampuan tebasannya.
Dari atas bukit, Jacob dan para guru melihat kelihaian Jarvis menggunakan tombak.
"Dia hebat juga" kata salah seorang guru.
"Walaupun sehebat itu, tapi dia tak memiliki kemampuan spesial. Itu sama saja sia-sia. Dia sudah gagal bahkan sebelum mengikuti tes ini"
Jacob merasa kemampuan Jarvis tidak memenuhi kriteria dari menjadi guru di sekolah pahlawan. Ia lalu berdiri yang diikuti oleh beberapa orang dibelakangnya.
__ADS_1
"Di sini sudah tidak perlu lagi dilihat, lebih baik mengawasi mereka yang mengambil inisiatif untuk berburu bos"
Ternyata beberapa calon guru ada yang telah pergi mencari bos dari monster ini. Ini dianggap penting, sebab mereka akan mendapatkan penilaian tinggi jika mereka dapat mengalahkan bosnya.
Tentu saja ini menjadi pertimbangan bagi para pengawas ujian agar pengawas memperhatikan mereka yang punya inisiatif tersebut. Bahkan para pengawas sudah tak tertarik lagi dengan mereka yang mengalahkan para goblin biasa.
Saat mereka pergi, ternyata Jarvis mengawasi pengawas tersebut. Pengawas diawasi, itulah yang dilakukan Jarvis.
Ketika para pengawas pergi, Jarvis membuntuti mereka. Karena kebanyakan calon guru yang mengikuti ujian telah kelelahan melawan goblin, mereka tidak mempedulikan area sekitarnya, sehingga Jarvis berhasil memisahkan diri dari kerumunan tersebut.
Diwaktu yang sama, Jacob yang sedang berlari ditanya oleh temannya.
"Sebaiknya kita berpencar, tidak memungkinkan untuk mengawasi mereka jika harus berkelompok. Sebab mereka juga terbagi dalam beberapa kelompok"
"Setuju" kata Jacob.
Mereka semua bersiap menerima perintah.
"Berpencar"
Akhirnya mereka berpencar.
Jacob yang sedang berlari seorang diri tak sadar jika Jarvis mengikutinya dari belakang.
Jacob terus berlari, tiba-tiba ia melihat sesosok monster yang ukurannya jauh lebih besar sedang bertarung dengan beberapa orang. Ia lalu memantaunya.
"Orc" kata Jacob.
Sesosok monster berwarna hijau dengan tubuh berotot serta ukuran yang mirip seperti gorila. Memiliki postur tubuh mirip manusia. Itu adalah orc.
Terlihat ada beberapa orang yang menggunakan perisai besar berusaha menahan hantaman gala besar dari orc tersebut.
Diwaktu yang sama, salah seorang pemegang pedang langsung menebas lengan monster itu, namun terlalu dangkal. Mereka terus melawan monster itu.
Jacob yang mengawasi memberi komentar.
"Kenapa ada orc di sini?" Kata Jacob.
Tiba-tiba Jarvis muncul di belakangnya.
"Memang apa masalahnya?"
"Seharusnya ini sarang goblin jadi perlu mencari bos goblin. Tapi itu adalah orc, seharusnya monster …"
Belum sempat Jacob selesai berbicara, ia lalu kaget, ternyata yang berbicara dengannya adalah seorang calon guru.
"Bagaimana kau ada di sini?" Kata Jacob.
Jarvis lalu bergerak maju, ia mengangkat tombaknya.
"Apakah itu penting sekarang?"
Jarvis lalu melempar orc itu dengan tombaknya. Kepala orc itu langsung tembus dengan mata tombak, ia lalu jatuh bersimbah darah.
"Mustahil, kukira kau tak memiliki kemampuan layaknya pahlawan?" Jacob takjub dengan kemampuan Jarvis.
__ADS_1
"Memang benar, terus kenapa?" Jarvis membalasnya dengan percaya diri.