
6 tahun telah berlalu Sejak Jarvis diculik. Ini menandakan sudah 5 tahun telah berlalu sejak Jarvis berguru pada Ibaraki Doji.
Di sekitaran berdirinya Piramida raksasa Mesir, terlihat banyak sekali muncul gerbang monster. Walaupun disebut gerbang monster namun yang keluar bukan monster melainkan para remaja yang diculik bersama Jarvis 6 tahun lalu. Mereka kini mampu untuk memunculkan gerbang monster sesuka hati, berkat pelatihan yang diberikan.
Kini mereka memiliki penampilan yang berbeda dari pada biasanya, lebih mirip seperti penampilan para pahlawan. Ada yang membawa pedang, panah, tombak, ada juga yang mengangkat gala besar, ada yang berotot, serta berbagai ciri khas lainnya yang menandakan bahwa mereka kini adalah seorang manusia evolusi.
Walaupun mereka terisolasi dari kehidupan manusia, namun pakaian mereka memiliki pakaian yang bila dijual pasti sangat mahal. Pakaian yang mereka kenakan adalah pakaian yang berbahan dasar kulit monster. Jenis pakaian yang sering digunakan oleh para pahlawan saat bekerja atau bertarung.
Di suatu batu yang besar, tempat Jarvis dan yang lainnya sering berkumpul, terbuka salah satu gerbang monster, keluar seorang pemuda dengan gesture yang tinggi berisi, dengan rambut acak menjadi ciri khasnya. Ia adalah Hanz.
Hanz kemudian mengambil posisi duduk di atas batu besar yang sering digunakan oleh Jarvis duduk. Ia memperhatikan daerah sekitar, melihat banyaknya gerbang monster yang terbuka serta para remaja yang keluar dari gerbang tersebut.
"Kemana mereka, lambat"
Hanz mulai kesal jika ia harus menunggu temannya sampai.
Hari ini adalah hari dimana mereka telah selesai melakukan latihan dari para petinggi monster. Hari ini juga adalah pertama kalinya mereka dikumpulkan setelah 5 tahun masa pelatihan. Tubuh para anak-anak kini menjadi para remaja yang berkarisma.
Menunggu lama ternyata membuahkan hasil. Didekat Hanz kini muncul seorang pria dari gerbang monster. Tubuhnya hampir mirip dengan Hanz.
'Apakah dia Jarvis, tapi wajahnya sedikit berbeda'
Hanz tidak bisa mengenali orang yang menghampirinya.
"Lama tak berjumpa"
Hanz yang ditegur tidak membalas teguran dari pemuda itu. Pemuda tersebut tidak mempermasalahkannya sebab ia kurang peka. Ia lalu melihat sekeliling.
"Apakah Jarvis belum datang"
Hanz yang mendengarnya malah penasaran dengan sosok yang berada di dekatnya.
"Siapa?"
Pemuda itu menjawab pertanyaan Hanz dengan sedikit berbeda. Ia mengeluarkan api dari tangannya. Kemudian ia tersenyum.
"Kalau api, aku juga bisa"
Hanz lalu memunculkan api di tangannya.
"Hebat, jadi kemampuanmu api yah"
Tak terima di anggap biasa saja, Hanz lalu meretakkan batu yang didudukinya dengan menggunakan jari telunjuk kanan yang ditekannya kebatu.
"Bahkan kau juga bisa melakukan itu"
Hanz yang seharusnya mengetahui identitas seseorang didepannya malah berpikir keras.
'Siapa anak gila ini, sok kenal sekali'
Hanz cuma bisa menduga-duga namun tidak ada yang dapat terbersit di pikirannya.
Salah satu gerbang monster muncul didekat mereka, yang keluar adalah pemuda dengan pakaian Kimono Jepang serta rambut yang diikat ke belakang.
"Sial. Akhirnya sampai juga. Kukira aku tak akan mampu"
Pemuda itu lalu menatap 2 orang di depannya.
"Hanz, Kamui, kalian banyak berubah yah"
Hanz yang pertama kali melihat pemuda yang baru muncul langsung tahu bahwa pemuda itu adalah Jarvis, namun ia tak menyangka bahwa pemuda yang datang lebih awal ternyata Kamui.
'Ternyata Kamui, badannya sudah bukan timbunan lemak lagi'
Batin Hanz yang terpingkal-pingkal melihat perubahan Kamui.
"Lama tak bertemu"
"Yah, lumayanlah"
Hanz kemudian agak penasaran dengan kemampuan Jarvis. Ia lalu bertanya ke Jarvis.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, apa kemampuanmu?"
"Kemampuanku lumayan banyak"
Mendengar itu, Kamui dan Hanz menjadi takjub dengan jawaban Jarvis.
"Hebat, seperti apa contohnya"
"Kalau beri contoh mungkin agak susah, tapi kalian pasti tahu. Aku dilatih Kendo, Iai-Jutsu, Ken-Jutsu, Karate, Tae Kwon Do, apa lagi ya? Banyaklah"
"Kalau itu, siapa pun bisa belajar. Maksud kami kemampuanmu setelah jadi manusia evolusi?"
"Aku bukan manusia evolusi"
"Jangan bohong, semua orang sudah punya kekuatannya masing-masing, jangan kau sembunyikan, apa kau tidak menganggap kita ini teman?"
Jarvis termenung sebentar. Ia hanya berusaha mengakali Hanz dan Kamui masalah kemampuan, sebab ia memang bukanlah manusia evolusi.
'Aku bukanlah manusia evolusi, tapi aku punya teknik yang diajarkan guruku, Perluasan Tebasan yang merupakan teknik pedang terkuat. Jika itu yang dimaksud, mungkin mereka akan menerimanya. Ini hampir mirip seperti yang dikatakan guru'
Ternyata sebelum bergabung dengan Hanz dan Kamui, ia telah ditegur oleh gurunya.
Sejam sebelumnya.
Jarvis yang sehabis mandi di danau yang penuh dengan mayat monster berusah untuk memakai pakaian yang diberikan oleh Ibaraki Doji. Kini mereka berada di Jepang, jika mempertimbangkan gunung Fuji yang berada di belakang mereka.
"Kau akan didiskualifikasi jika kau terlambat datang. Kau tahu sendiri kan konsekuensinya. Juga jika ada yang bertanya tentang kemampuanmu, jawab saja dengan salah satu teknik manipulasi darah, Perluasan Tebasan. Sebagai contoh pelepasan kedua, Marionette. Kau tinggal menjawab kekuatanmu adalah Ilusi."
"Nanti kupikirkan. Tempat pertemuannya di mana?"
"Mesir, di Piramida raksasa, tempat Anubis"
"Berarti dari Asia, Eropa, hingga Afrika. Lumayan jauh."
"3 Benua. Apakah kau bisa?"
"Jangan meremehkanku"
Jarvis yang mulai membuka gerbang monster, mendengar perkataan dari Ibaraki.
Inilah alasannya mengapa banyak monster yang masih dapat masuk ke dalam Benua Baru yang dibuat oleh manusia, walaupun sudah terisolasi dari dunia sekarang. Sebab ada campur tangan dari pihak petinggi monster, karena jika melihat monster kelas A, jarang yang memiliki kekuatan sekuat itu untuk membuat Gerbang Monster lintas benua.
Jarvis sekarang tersadar dari lamunannya. Ia sebenarnya mau membohongi temannya, tapi karena rasa saling percaya, ia berterus terang.
"Aku benar-benar hanya manusia biasa, namun aku mewarisi kekuatan guruku. Teknik manipulasi darah. Sebagai contoh…"
Jarvis lalu memegang bahu Kamui, lalu bahu Kamui tiba-tiba terkoyak tanpa sebab. Seluruh badannya kini penuh darah. Di sisi Hanz ia sangat terkejut dengan peristiwa di depannya.
"Jangan khawatir"
Ternyata bahu Kamui tidak terkoyak, namun ternyata itu hanya ilusi.
"Teknik manipulasi darah, dengan memanipulasi darah di mata dapat menciptakan ilusi sempurna. Tidak hanya itu, aku betul-betul dapat menghancurkan apapun selama memiliki darah di tubuh lawan"
"Lagi lagi kau berbohong, tidak mungkin ada orang yang memiliki kekuatan sebesar itu. Pasti kekuatanmu adalah ilusi"
"Iya, tebakanmu benar. Ilusi sempurna adalah kemampuanku"
Jarvis hanya bisa mengikuti apa yang dikehendaki oleh temannya. Ia sebenarnya tidak ingin memberi tahu kemampuannya tapi temannya ngotot ingin tahu. Namun setelah mereka diberi tahu apa kekuatannya, mereka malah tidak percaya.
Jarvis sebenarnya penasaran dengan kemampuan Hanz, ia lalu bertanya.
"Bagaimana denganmu Hanz, karena Kamui sudah menjelaskan kemampuannya pertama kali"
"Batu membara"
"Batu membara?"
"Aku bisa menciptakan batu, juga dapat membuat api, hebat kan?"
Jarvis agak penasaran dengan kemampuan Hanz.
__ADS_1
"Bisa kau tunjukkan?"
Hanz lalu menciptakan batu dari tangan kirinya sedangkan ditangan kanannya ia membuat api. Karena penasaran, Jarvis lalu memegang batu di tangan kiri Hanz.
'Ini bukan batu, tekstur serta kepadatannya agak berbeda, lebih mirip logam. Juga api ini agak aneh, terlalu panas bahkan dijarak sedekat ini. Apakah mungkin itu kekuatannya, tidak mungkin, jika ia benar benar memilikinya maka ia yang terkuat'
Batin Jarvis seakan berkecamuk, tak mampu untuk menebak kemampuan Hanz, namun ada satu kemampuan yang berada di benak Jarvis, walaupun ia masih ragu sebab akan menjadi suatu masalah besar jika orang lain tahu apa itu, apalagi bagi petinggi monster. Hanz akan dibunuh karena dapat mengancam mereka.
Namun untuk melepaskan keraguannya, ia lalu meminta batu milik Hanz.
"Batu itu, bolehkah aku memilikinya"
"Ambil saja, aku tidak butuh"
Hanz lalu memberikan bongkahan batu itu ke Jarvis. Ukuran batunya sebasar kepalan tangan. Dari raut muka Jarvis terlihat aneh, ia merasa kecewa.
"Ada apa?"
"Ukurannya terlalu kecil"
Ternyata Jarvis menginginkan bongkahan yang lebih besar. Hanz yang langsung paham maksud Jarvis lalu membuat bongkahan seukuran kepala manusia.
"Apakah segini cukup"
"Yah, terima kasih"
Jarvis yang merasa bahagia lalu mengambil batu itu. Ia lalu membuka gerbang monster.
"Aku pergi sebentar"
"Mau ke mana?"
"Tunggu saja, nanti ku beri tahu"
Akhirnya gerbang monster yang dibuat Jarvis telah sempurna untuk dilalui. Ia lalu masuk ke dalam gerbang monster itu.
Hanz dan Kamui yang ditinggalkan melihat gerbang yang dibuat oleh Jarvis dengan tatapan takjub.
"Apakah kau melihatnya?"
"Apa maksudmu Hanz?"
"Gerbang yang dibuat oleh Jarvis agak lambat, menurutmu kenapa yah, padahal kita dapat membuatnya lebih cepat"
"Mungkin perkembangannya lambat, padahal sudah memiliki kemampuan khusus"
"Padahal seharusnya siapa pun yang sudah memiliki kemampuan khusus dapat dengan mudah membuat Gerbang Monster, sebab mempelajari kemampuan khusus yang kita miliki terlebih dahulu akan memudahkan kita dalam membuat gerbang monster nantinya"
Dari penjelasan Hanz mempertegas bahwa siapapun yang memiliki kemampuan khusus atau sebagai manusia evolusi akan mampu membuat gerbang monster. Namun ternyata dalam pemahaman mereka ada kasus menyimpang yang memimpa Jarvis.
Jarvis tak memiliki kemampuan layaknya manusia evolusi lainnya namun ia mampu membuat gerbang monster. Ini berkat latihan Manipulasi Darah dari gurunya.
**"
Di belahan benua Asia, negara tak berpenghuni, Jepang. Salah satu kuil terlihat sudah hancur. Di depan kuil duduk bersila Ibaraki Doji.
"Apa yang membuatmu datang ke sini kembali?"
Ternyata di depan Ibaraki Doji, ada seorang pemuda yang menghampirinya. Ia adalah Jarvis.
"Bisakah kau buatkan aku tongkat dengan batu ini"
"Batu? Kau pasti salah paham. Itu bukan batu biasa, melainkan batu meteor"
Jarvis sebenarnya tidak terkejut dengan penjelasan Ibaraki.
'Sesuai dugaanku, ini batu meteor. Jika melihat ada sensasi panas saat pertama kali dibuat. Jadi aku benar, kemampuan sebenarnya dari Hanz adalah meteor. Lumayan mengerikan'
Ibaraki yang melihat Jarvis berpikir serius, berusa membuyarkan pikiran Jarvis.
"Kalau pedang aku akan membuatkanmu, tapi jika tongkat aku menolak"
__ADS_1
Mendengar itu Jarvis lalu pergi.
"Tidak masalah, lagipula tujuan awalku hanyalah memastikan sesuatu"