Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Sunyi Dibalik Senyum


__ADS_3

Sudah seminggu sejak Jarvis melakukan kontrak dengan Hera.


Terlihat di depan pintu gua, sebuah gerbang monster buatan Jarvis terbuka, Jarvis lalu keluar sambil membawa beberapa ikan kaleng dan roti yang terbungkus plastik.


"Apa itu?" Hera penasaran dengan apa yang dibawa oleh Jarvis.


"Ikan kaleng dan roti"


"Ikan?"


"Ikut saja, nanti kau juga tahu"


Jarvis lalu masuk kedalam gua. Kebetulan ada api, jadi Jarvis langsung memasak ikan itu dengan cara membakar langsung dengan kaleng.


Ketika Jarvis melirik ke arah Hera, ia melihat Hera yang selalu melirik roti di depannya.


"Makan saja"


"Boleh?"


"Iya"


Hera lalu mengambil roti itu lalu memakannya.


"Rasanya aneh, tapi lumayan"


Jarvis yang melihat Hera makan kemudian menegurnya.


"Plastiknya jangan dimakan"


Mendengar itu Hera lalu membuang rotinya.


"Jangan dibuang"


Hera lalu cepat mengambilnya.


"Kenapa malah diambil"


"Kukira kau melarangku membuangnya"


"Buang saja, itu sudah kotor"


Jarvis lalu mengambil roti yang lain. Ia lalu merobek plastiknya.


"Begini yang seharusnya"


Jarvis lalu memberikan roti itu. Hera lalu memakannya.


"Enak"


Jarvis yang melihatnya malah tersenyum.


'Siapa yang mengira jika mantan Petinggi Monster malah memiliki tingkah segokil itu'


Jarvis terus memantau perapian dengan menyusun kayunya agar tidak mati. Tak terasa Hera telah memakan setengah dari jumlah roti yang dibawa Jarvis. Ia kemudian berhenti.


"Kenapa berhenti, makan saja"


"Itu bagianmu"


"Aku sudah makan tadi, kau saja"


Hera lalu memakan roti itu. Jarvis kembali membakar kaleng ikan.


Dari belakang, Hera terus memperhatikan punggung Jarvis.


"Kenapa kau selalu datang kemari?"


Jarvis lalu berbalik, ia menatap Hera dengan jengkel.


"Kau tak suka aku di sini?"


"Tidak, cuma penasaran saja"


"Aku dibully"


"Dibully?"


"Aku selalu diejek jika di rumah"


"Kenapa bisa?" Hera mulai penasaran.


Jarvis yang bercerita mulai tunduk, tanda ia sedang merenung.


"Aku punya orang yang kusukai, setelah mereka tahu, aku selalu di ketawai. Itu karena orang yang kusuka tidak pernah sekalipun melirikku"


Jarvis kemudian mengangkat kembali wajahnya. Saat ia melihat Hera, ternyata Hera bersusah payah menahan tawanya dengan tangan.

__ADS_1


"Aku tak tertawa"


Hera berusaha mengontrol ekspresinya. Ia lalu melepaskan tangan dari mulutnya. Tapi beberapa saat kemudian, muka Hera kemudian memerah, ia lalu tertawa.


Tangannya berusaha menjaganya agar tak tertawa, tapi itu sangat sulit.


"Makanan ini akan ku bawa kembali jika kau tertawa"


"Baiklah aku tak tertawa lagi"


Hera akhirnya tak tertawa lagi.


"Jarvis!"


"Iya"


"Menurutku kau beruntung. Aku yang keturunan darah murni dari raja, tidak boleh menyukai seseorang"


Hera mulai iri dengan Jarvis, Jarvis yang awalnya jengkel mulai bersimpati. Ia lalu berdiri sambil membusungkan dada.


"Kalau begitu mulai sekarang kau boleh menyukaiku"


Sebenarnya Jarvis bercanda karena dari tadi Hera yang terus tertawa disaat Jarvis berbicara serius. Ia yakin Hera tak secuil pun meliriknya.


"Janji"


Kata itu lalu keluar dari mulut Hera. Jarvis jadi heran.


"Apa?"


"Tidak"


Hera lalu memakan roti yang digenggamnya. Mukanya jadi memerah.


Tak berselang lama, akhirnya ikan kaleng mereka matang.


"Sudah matang"


Jarvis lalu memberikan satu kaleng ke Hera.


"Silahkan"


Hera yang bingung diberi ikan kaleng, langsung memakan kaleng itu.


"Keras, tidak enak"


Jarvis lalu mengambil ikan kaleng Hera. Ia lalu membukanya kemudian mengembalikannya.


"Enak"


Hera kemudian makan dengan rakusnya. Tiga kaleng langsung habis dengan cepat.


Jarvis lalu berdiri.


"Aku pulang dulu, lain kali aku akan datang lagi"


"Terserah kau saja"


Jarvis lalu membuat gerbang monster kemudian masuk kedalam. Gerbang monster Jarvis kini terhubung dengan kamarnya.


Saat dia sampai, terlihat Roy telah menunggunya di pintu kamar. Jarvis heran mengapa ia berada di situ.


"Ada apa?"


"Masalah apa yang kau buat?"


Jarvis yang ditanya begitu langsung panik. Ia berusaha menyembunyikan kebenaran tentang Hera yang sering ia kunjungi.


Apa jadinya jika seseorang yang hampir membunuh mereka malah diselamatkan oleh Jarvis. Paling tidak, rasa kekecewaan akan menghantui hubungan mereka.


"Tidak ada"


"Terus kenapa Kepala Sekolah Pahlawan mencarimu"


Dilema kini menggerogoti pikiran Jarvis. Satu sisi ia senang bahwa Roy tidak tahu hubungannya dengan mantan Petinggi Monster. Namun disisi lain ia menjadi panik, ia teringat dengan salah seorang siswa yang pernah diselamatkan.


"Aku pernah menghajar siswanya. Namun aku tak pernah menggunakan kemampuanku"


"Aduh, bisa-bisanya kau. Ya sudah temui dia"


Jarvis lalu hendak turun.


"Jangan dari lantai dua, kau harus masuk dari pintu depan. Aku dan Paula tak menemukanmu tadi, jadi kami memberitahu jika kau sedang keluar"


"Kalau begitu aku akan pergi dulu"


Roy lalu menghentikan Jarvis.

__ADS_1


"Jarvis, mungkin ini agak terlambat, tapi dia salah satu anggota Unicorn. Hati-hatilah"


"Iya"


Roy lalu turun ke lantai pertama. Jarvis lalu mengeluarkan tombaknya, ia lalu mengambil kain pembungkus tombak. Kemudian menaruhnya ke belakang lemari.


Ia lalu menggunakan kemampuannya untuk pindah ke dalam toilet umum di taman.


'Juka benar yang dikatakan oleh Roy, paling tidak aku harus menjaga jarak yang jauh'


Jarvis kini berjalan pulang. Ia sengaja berpindah di tempat yang jauh, sehingga ia tidak tertangkap mata-mata.


Setelah Kafe Jarvis kelihatan, kelihatan pula apa yang dikhawatirkannya.


Ada beberapa orang yang memang mengawasi tempat itu. Ada yang berpura-pura jadi pengemis, tukang mabuk, orang pacaran, dan berbagai penyamaran lainnya.


Jarvis berusaha tidak melihat mereka, namun ia tahu jika mereka adalah pengguna kemampuan.


Ia lalu masuk ke dalam Kafe. Terlihat seorang pria dengan tubuh kekar berotot sedang berdiri tegak menjaga seseorang.


Terlihat pria dengan pakaian rapi sedang mengulurkan tangannya ke Jarvis.


Setelah mereka bertatapan Jarvis mengingat wajah orang di sampingnya.


***


12 tahun lalu.


Di suatu tempat, terlihat 2 pahlawan sedang berlari menuju medan pertempuran.


"Siapa yang melawan monster tersebut?"


"Ludheer Bashil"


"Keadaan sekarang sangat gawat, bahkan kelas A ikut bertarung."


Nampak 2 pahlawan yang berlari sambil berdiskusi.


"Pahlawan dibagi menjadi 5 kelas. Dari kelas E yang terlemah sampai kelas A yang terkuat. Begitupun juga untuk sebuah monster." Tegas pahlawan laki-laki tersebut.


"Memangnya kenapa?" Tanya seorang gadis yang juga merupakan pahlawan.


"Jika monster dan pahlawan dengan kelas yang sama bertarung, salah satu dari mereka pasti akan mati, Ludheer Bashil satu satunya iapahlawan kelas A di kota H. Jika ia mati terpaksa kita yang harus berhadapan dengan monster tersebut." Jawab laki-laki tersebut.


"Mengerikan, padahal kita cuma kelas C." Keluh gadis tersebut.


Mereka kemudian mempercepat langkahnya.


"Tolong. Tolong. Siapa pun kumohon tolong"


Mereka berdua pun berhenti saat mendengar teriakkan seorang anak kecil.


"Kenapa nak?" Tanya gadis tersebut.


"Ayahku" sambil menunjuk ayahnya yang berusaha untuk keluar dari reruntuhan bangunan.


"Dili, pergilah terlebih dahulu! biar aku yang membantunya" ucak pahlawan pria ke rekannya yang bernama Dili.


"Baiklah, aku duluan, Charlie" sahut Dili


Charlie kemudian menghampiri Jarvis.


"Bosan terus-terusan berbohong" keluh Charlie, namun karena suaranya yang pelan sehingga tidak ada yang mendengarnya.


"Hei, ada apa?" Bentak Charlie kepada Jarvis.


"Ayahku, tolong ayahku!" Kata Jarvis.


"Iya...iya...berisik" ucap Charlie sambil mendekati ayah Jarvis.


Charlie kemudian menendang tumpukan beton yang menimpah ayah Jarvis. Beton tersebut langsung terlempar. Charlie pun kemudian pergi meninggalkan Jarvis untuk menyusul Dili.


Melihat kejadian tersebut Jarvis kemudian menghampiri ayahnya. Tiba-tiba Jarvis menjadi diam dan kaku. Ayahnya ternyata telah tiada. Bukan karena pahlawan lambat menolong tetapi pahlawanlah yang membunuh ayahnya.


Ayah Jarvis menerima luka sobekan besar di perutnya. Hal ini terjadi karena Charlie menendang beton secara brutal, bukannya mengangkatnya secara pelan-pelan. Hempasan beton yang menindih perut ayah Jarvis malah menjadi senjata untuk merobek perutnya.


"Hik...hik….hikk…" Jarvis menangis tersedu-sedu.


***


Kembali ke masa sekarang.


Jarvis masih ingat dengan wajah pahlawan yang membunuh ayahnya secara tak bertanggung jawab.


"Aku Charlie, Anda?"


"Jarvis Curtis"

__ADS_1


"Jarvis Curtis sang Penebas" kata Charlie percaya diri.


__ADS_2