Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Lima Terpilih


__ADS_3

Setahun sebelumnya.


Para generasi kedua berhasil menyelesaikan pertarungan mereka. Tak ada lagi yang akan melakukan pertarungan selanjutnya. Suasana bahagia muncul dari wajah mereka, namun tidak bagi para pemenang.


Para gladiator yang berhasil menjadi puncak akan menerima sebuah hadiah dari salah satu petinggi monster, mereka berhak memilih hadiah. Saat 3 gladiator terkuat akan memilih hadiah, 2 laki-laki dan seorang perempuan, mereka malah menolaknya dan pergi meninggalkan arena.


"Kewajiban bertarung telah dihilangkan namun hak kebebasan belum diberikan, mereka benar-benar Biadab."


Salah satu perempuan terlihat sangat marah. Ia adalah peringkat pertama segenerasinya. Jelas saja ia marah sebab mereka tidak dipulangkan, mengingat tempat gladiator berada di daerah monster, kawasan yang telah lama tidak dihuni oleh manusia. Tidak ada jalan bagi mereka untuk kembali.


Mereka kini keluar dari arena, beberapa gladiator yang melihatnya akhirnya mengikutinya. Mereka kini sampai di sebuah danau, berhubung karena tempat itu memang dekat dengan Colosseum jika berjalan kaki 10 menit.


Di pinggir danau tersebut terlihat seorang pria yang sedang memancing. Ia akhirnya berhasil menangkap ikan seukuran telapak tangan, sesaat kemudian seekor piranha raksasa seukuran hiu berhasil memakan ikannya.


"Akhirnya dapat ikan besar"


Pria itu lalu berbalik ke belakang, dihadapannya kini berdiri para gladiator, hampir setengah dari jumlah gladiator generasi kedua. 


"Ada apa?"


Para gladiator termasuk 3 orang terkuat merapatkan salah satu lututnya ke tanah, sebagai tindakan penghormatan. Perempuan yang di depan berbicara mewakili semuanya.


"Kami …"


Baru mau mulai berbicara, ia tiba-tiba berhenti. Pria yang memancing itu lalu berbalik karena merasakan sesuatu, akhirnya ikan piranha besar yang ditangkapnya ternyata dimakan oleh buaya raksasa.


Pria itu lalu menendang buaya itu ke atas, saat buaya itu jatuh ke bawah, ia lalu meninju perut buaya. Sebuah tekanan udara serta nyala api di tangan menyebabkan perut buaya itu berlubang. Pria itu lalu menunjuk perempuan yang memimpin kelompok dihadapannya.


"Kemampuanmu api kan, apa kau bisa memanggangnya?"


Pria itu kemudian menunjuk buaya yang berlubang perutnya.


"Iya bisa" kata wanita itu agak terpaksa.


Beberapa jam kemudian akhirnya buaya itu berhasil di panggang.


"Lebih lama dari yang ku kira"


Semua orang yang berada di situ sudah siap untuk makan. Sedangkan perempuan itu merasa sedikit jengkel.


"Silahkan ambil sendiri"


Mereka pun menyantap buaya tersebut. Walaupun sebua aligator pemangsa, mereka tetap memakannya dengan lahap. Ini karena mereka kini berada dalam keadaan yang tidak boleh memilih makan, jika tidak mereka akan mati kelaparan. Setelah selesai makan pria itu kembali bertanya.


"Ada keperluan apa kalian kesini?"


Mendengar pertanyaan si pria, perempuan yang memanggang buaya tadi kemudian memberi hormat.


"Kamui Murakashi, salah satu dari empat generasi pertama. Kami ingin anda menjadi pemimpin kami."


"Kenapa kalian memilihku"


"Kami merasa, sesama keturunan Asia, mungkin kita bisa saling menjaga"


"Begitu kah, perkenalkan nama kalian, peringkat, serta kemampuan kalian satu persatu"


Mendengar itu para gladiator merasa ada secercah harapan di mata mereka. Mereka lalu memperkenalkan diri.


"Aku Park Eun Ha, peringkat pertama, kemampuan Api" 

__ADS_1


Perempuan yang memimpin mereka memperkenalkan dirinya terlebih dahulu, lalu disusul oleh pria dengan tubuh kekar.


"Aku Liu Chen Chao, peringkat kedua, kemampuanku adalah perisai. Sedangkan yang di sampingku namanya Yanagi Kuritsuga. Peringkat ketiga. Dia punya kemampuan suara, namun ia tidak bisa berbicara, sekali berbicara maka itu adalah suatu serangan." Kata Chen Chao sambil memperkenalkan seorang pria kurus disampingnya.


Semua yang ada di situ kemudian memperkenalkan diri, Kamui melihat dan mendengarkan perkenalan diri mereka. Ketika semua orang telah memperkenalkan dirinya, Kamui kemudian berdiri.


"Aku akan memperkenalkan diriku sekali lagi, namaku adalah Kamui Murakashi, aku tidak ingin menjadi pemimpin kalian"


Dengan argumen itu, para gladiator merasa kecewa, bahkan ada beberapa yang marah. Namun apalah daya, jika mereka melawan, mereka akan dilibas habis, walaupun jumlah mereka sangat banyak. Kamui lalu melanjutkan perkataannya.


"Seorang pemimpin tidak boleh memiliki pemimpin. Itu yang diajarkan seseorang padaku. Namun aku akan memberikan kalian pilihan"


Secercah harapan mulai muncul dari wajah para gladiator tersebut.


"Aku memiliki seorang yang ku ikuti, dia adalah seorang yang terburuk di antara kami generasi pertama. Setahun yang lalu ia menghilang, seluruh arena kini di tutup akibat ketidak hadirannya. Itulah sebabnya dibutuhkan generasi kedua." Kata Kamui.


"Jadi bisa dibilang ia adalah biang kerok kami ada di sini" kata Eun Ha sambil memegang kepala, antara bercanda dengan serius.


"Menurutku tidak juga, karena setahuku, pertarungan generasi pertama saling bunuh, sedangkan sekarang di generasi kita sudah tidak diberlakukan peraturan itu lagi. Sangat jauh berbeda" bantah Chen Chao.


"Kalau masalah itu adalah rahasia, kami tidak boleh membocorkannya. Walaupun ada orang yang akan membocorkannya suatu saat" kata Kamui.


"Apakah orang itu adalah orang yang sama yang kau maksud"


"Ya. Juga masalah pilihan yang tadi kuberi tahu, kalian harus memilih, akan mengikutinya jika dia kembali atau kalian bisa pergi jika tidak ingin menjadikannya sebagai pemimpin. Namun ada satu hal yang akan kuberi tahu, jika kalian tidak ingin mengikutinya jika dia kembali, aku akan membunuh kalian"


Kamui langsung mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat, para gladiator yang ada di situ merasa tertekan. 


"Silahkan pergi jika kalian berubah pikiran"


Mendengar ucapan Kamui, para gladiator yang harusnya pergi, malah berusaha untuk tetap berada di sana. Mereka kini teguh dalam pendirian. Kamui merasa puas dengan sikap mereka. Setelah beberapa saat Eun Ha maju ke depan untuk memperjelas rasa penasarannya.


"Sebenarnya siapa orang yang kau maksud, maksudku siapa ketua kira sebenarnya"


"Orang bodoh mana yang akan melakukan itu"


Semua orang yang mendengarnya malah tertawa, termasuk Kamui sendiri.


***


Kembali ke masa sekarang.


Di atas bangku penonton Colosseum, seorang wanita terbelalak matanya. Ia adalah Eun Ha.


"Ia benar-benar menantangnya"


"Apa ku bilang"


Semua anggota dalam kelompok Kamui kini berdiri. Sebagian dari mereka tersenyum lebar. 


Setelah kesepakatan terjalin, Jarvis dan Hanz pun pergi meninggalkan arena Colosseum. Saat akan sampai di pintu keluar, mereka dicegat oleh para gladiator. Mereka terlihat kecewa bercampur marah terhadap Jarvis. Jarvis yang melihat itu tampak jengkel, ia pu mengeluarkan 2 pedang yang digunakannya tadi. Salah seorang dari gladiator yang mencegatnya mulai berbicara.


"Siapa kau? Apakah kau tahu apa yang kau perbuat?"


"Tidak, memangnya kenapa?"


"Dasar bedebah"


Salah seorang dari mereka kemudian menerjang Jarvis dengan pedang tulang yang besar. Jarvis hanya menahan serangan itu dengan pedang di tangan kirinya, kemudian ia mengacungkan pedang di tangan kanannya ke arah leher lawannya.

__ADS_1


Lawannya kini bergidik ngeri, hampir saja lehernya terpotong. 


"Minggir!"


Jarvis memerintahkan semua orang untuk minggir, karena tidak ada yang mampu untuk menahan Jarvis, mereka akhirnya membuka jalan. Namun di hadapannya kini berdiri ratusan orang.


"Terpeleset"


Sebuah suara keras datang dari atas, ia adalah Yanagi Kuritsuga. Seketika itu juga para gladiator terpeleset dan jatuh tanpa sebab. Yanagi kemudian melompat di dekat Jarvis, namun Jarvis langsung mencengkeram lehernya.


"Nagi, sudah kubilang bahwa ia adalah orang yang brutal, hati-hati di dekatnya"


Seseorang datang menghampiri mereka, ia adalah Kamui yang diikuti oleh para gladiator di belakangnya. Jarvis lalu melepaskan Nagi.


"Maaf"


"Tidak apa-apa"


Nagi yang hampir kehabisan napas ternyata tidak menaruh rasa benci ke Jarvis, walaupun ia sedikit batuk-batuk.


Jarvis yang melihat Kamui datang menghampirinya kemudian tersenyum jahat, Hanz yang melihat kamui juga ikut tersenyum jahat. Kamui yang mulai merasa aneh dengan sikap Jarvis dan Hanz mendekati mereka.


"Ada apa?" Kamui yang penasaran mulai bertanya maksud Jarvis.


"Kau yang ketiga"


"Hey Jarvis, apa maksudmu"


"Seperti yang diucapkan Jarvis, kami memilihmu sebagai perwakilan ketiga"


"Dasar kau selalu saja seenaknya"


"He he"


Setelah tertawa, para gladiator yang berada di belakang Kamui melihatnya agak aneh. Kamui kini berpikir sejenak.


'Selain aku, Jarvis sudah pasti ia akan ikut, berarti Hanz sudah terhitung. Masih ada dua lagi'  batin Kamui.


"Sekarang kita membutuhkan 2 orang lagi, siapa yang akan kita masukkan?"


"Semuanya sudah lengkap, orang keempat adalah dia"


Jarvis lalu menunjuk ke arah Nagi, sontak yang lainnya merasa heran. Akan masuk akal jika yang ditunjuk adalah Chen Chao atau Eun Ha. Bahkan Nagi sendiri seakan tak percaya dengan keputusan Jarvis.


Seseorang maju ke depan pas di sebelah Nagi, kemudian Nagi mulai berbahasa isyarat dengan tangannya, lalu orang yang di samping Nagi mulai berbicara.


"Maaf, sepertinya anda salah paham, masih ada Chen Chao atau Eun Ha yang lebih kuat dariku. begitu katanya"


Serasa sudah memaklumi keadaan Nagi, Jarvis tidak mempermasalahkan situasi tersebut. Ia hanya memperkuat keputusannya.


"Aku tahu dari sepintas saja melihat ada 3 sampai 5 orang yang berpotensi mengalahkanmu. Namun aku memilihmu bukan karena tanpa alasan. Kemampuan yang kau miliki masih belum terasa, aku akan mengajarimu cara menggunakannya"


Dengan argumen tersebut sontak membuat yang lain tercengang. Pelatihan langsung dari orang yang mereka anggap sebagai pemimpin adalah sesuatu yang tidak terbayangkan bagi para gladiator generasi kedua kala itu. Walaupun Jarvis tidak tahu bahwa ia telah dijadikan pemimpin. Jarvis lalu memberi tahu siapa orang ke-lima.


"Selanjutnya untuk orang ke-lima adalah temanku. Kemampuannya jauh di atasku. Walaupun dia bukan gladiator, tetapi tidak ada peraturan yang memberlakukan para petarung nantinya hanyalah dari para gladiator"


Suasana kembali tegang akibat Jarvis, petarung ke-lima ternyata bukan seorang gladiator. Kebanyakan orang akan menganggap hal ini pasti akan sulit diterima, termasuk Eun Ha. Ia merasa ini akan sia-sia.


"Apakah ini bisa dilakukan, karena ini merupakan suatu tindakan kecurangan mereka pasti tidak akan membiarkannya"

__ADS_1


"Dalam perang tidak ada yang namanya kecurangan, yang ada itu strategi. Lagipula suatu kecurangan tidak akan disebut sebagai kecurangan jika tak ada seorangpun yang mengetahuinya"


Semua orang jadi tertegun oleh Jarvis. Di sisi lain, Eun Ha yang mendengar penjelasan dari Jarvis mulai terlihat aneh. Biasanya ia hanya mengabaikan pendapat Jarvis, namun sekarang agak berbeda. Ia mulai serius olehnya, bahkan sesekali Eun Ha tersenyum walaupun tidak ada orang yang menyadarinya.


__ADS_2