Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Dua Terburuk


__ADS_3

Sinar lampu perkotaan menerangi tiap sudut jalanan. Kala itu masih jam 2 subuh. Nampak 2 orang pemuda aneh yang sedang berlari. Yang satu mengenakan jaket bertudung serta masker gas, di tangannya memegang pipa besi. Yang lain berlari hanya menggunakan celana.


"Jarvis, aku duluan" ucap Roy.


"Silahkan!" Balas Jarvis.


Mendengar perkataan Jarvis, Roy langsung berhenti. Kakinya tiba-tiba berubah menjadi kaki cheetah. Roy langsung berlari melewati Jarvis. Kecepatan kakinya sama cepat dengan cheetah. Jarvis pun ditinggalkan jauh.


Jarvis yang tertinggal malah mengambil arah lain. Ia berlari ke gang sempit untuk menghindari pandangan publik. Setelah beberapa saat berlari, Jarvis kemudian berhenti sambil bersembunyi.


"Kemana si bodoh itu pergi? jelas-jelas mosternya ada di sini" kata Jarvis.


Di depan Jarvis ternyata terjadi suatu pertarungan. 3 pahlawan kelas C dan 2 pahlawan kelas D sedang bertarung dengan sesosok monster kelas B.


Monster berperawakan seperti manusia namun sedikit jelek serta punya 6 lengan. Kakinya penuh bulu namun bagian atasnya kulit tanpa bulu berwarna abu-abu. Setiap lengan memegang pedang panjang.


Sedangkan para pahlawan mengenakan pakaian tempur abad pertengahan, seperti baju besi, kulit atau jubah, dan menggunakan senjata seperti pedang atau tombak. Ada juga yang memakai pakaian penyihir.


"Untuk apa ia memakai topi sebesar itu. Juga bajunya, apa tidak menghambatnya?" Kata Jarvis yang melihat pakaian salah satu pahlawan yang seperti penyihir.


Monster tiba-tiba mengayunkan pedangnya, namun ditahan oleh salah satu pahlawan dengan perisai. Monster melancarkan serangan kedua namun kembali ditahan oleh pahlawan yang lainnya, menggunakan pedang.


"Sekarang!" Teriak salah satu pahlawan.


"Bola api" seorang penyihir mengeluarkan bola api dari tongkatnya.


Sang monster melompat ke belakang, kemudian meluruskan ke 3 lengan kanannya ke belakang. Saat bola api hendak mengenai monster, monster kemudian memukul bola api dengan 3 pedang di 3 lengan kanannya.


Ia sengaja memukul dengan sisi pedang bukannya menebas menggunakan mata pedang. Hingga akhirnya bola api kemudian memantul kembali ke arah penyihir. Penyihir kemudian menggunakan sihirnya.


"Perisai" kemudian muncul perisai besar didepannya.


Namun karena perisai tersebut dibentuk tanpa persiapan. Perisai tidak bisa memblokir seluruh serangan bola api.


Krakkk!


Doomm!


Bola api menyambar sang penyihir.


"Hebat juga. Karena waktu yang mepet, dari pada membuat perisai kuat, ia malah membuat perisai yang dapat merubah lintasan sehingga hanya menyambar sang penyihir" ucap Jarvis dari kejauhan.


Penyihir tersebut masih berdiri dengan santainya. Api yang terdapat di pakaiannya tidak dapat membakarnya. Apinya semakin lama semakin padam.


Jarvis kemudian melompat ke penyihir tersebut. Kemudian ia memegang pakaian penyihir.


"Jadi ternyata pakaian pelindung" ucap Jarvis santai.


"Apa yang kau lakukan?" Ucap sang penyihir kaget.


"Maaf, aku cuma heran dengan pakaianmu" jawab Jarvis sambil cengengesan.


Slash!


Sebuah tebasan mengarah ke Jarvis. Jarvis pun refleks menghindar. Yang menebas bukanlah monster, namun seorang pahlawan dengan pedang


"Hati-hati" ucap salah satu pahlawan ke pahlawan penyihir.


"Apa yang kalian lakukan?" Sang penyihir terheran-heran.


"Kau masih pahlawan baru, jadi kau tidak mengenalnya. Ia salah satu buronan" ucap sang pahlawan.


"Apakah itu perlu? Teman kalian sedang terdesak" ucap Jarvis sambil menunjuk pahlawan lain bertarung dengan monster.


Pahlawan yang memegang pedang pun terdiam.


"Apakah orang yang mengeksekusi para monster tanpa izin dan identitas yang jelas perlu jadi buronan. Padahal monster membunuh tidak pernah meminta izin dan menunjukan identitas" ucap Jarvis sambil memutar pipa besi seperti tongkat.


"Apa kemampuannya?" Jarvis menunjuk monster.


"Kemampuan tebasan" ucap penyihir.


"Terima kasih gadis pintar. Kita akan bertemu lagi" ucap Jarvis ke penyihir yang ternyata adalah seorang gadis.


Jarvis kemudian menghampiri monster sambil menggosokkan pipa besi ke aspal. Tiba-tiba pahlawan yang melihat Jarvis malah menyingkir. Sekarang Jarvis dan monster berjarak 2 meter. Jarvis kemudian berhenti melangkah.


"Sepertinya kemampuan tebasanmu cukup…" belum selesai bicara, Jarvis kemudian menunduk dan melompat mundur.


Slash!


"Woii, aku belum selesai bicara" Jarvis kesal karena tiba-tiba di tebas.


Monster melompat maju. Pedang panjang diayunkannya, namun berhasil di tahan dengan pipa besi. Jarvis kemudian mumukul dengan tongkatnya. Monster pun kembali menahannya.


Ting!


Ting!


Ting!


Bentrokan pipa besi dan pedang membuat telinga berdenging. Seharusnya pipa besi itu yang terpotong karena kekuatan monster namun pipa besi itu masih kokoh.


Jarvis melompat kemudian mumukul dari samping, monster dapat menahannya. Amukan monster kemudian menjadi-jadi. Jarvis kemudian memperlebar jarak tapi monster dengan cepat mempersempit jarak. Tiga tebasan dari dari lengan kiri monster, Jarvis melompat ke sisi sebelahnya yang ternyata ada pedang yang siap menusuknya.


Ting!


jlebh!


Tongkat Jarvis terpotong dua, tapi bukan monster yang memotongnya. Potongan satunya dingunakan untuk menangkis tebasan, sedangkan yang lainnya digunakan untuk menghalau tikaman dengan menusukkan pipa besi ke tangan monster.


Monster semakin marah. Jarvis kini memegang 2 pipa besi ditangannya walaupun lebih pendek.


"Kenapa tongkatnya terpotong" ucap gadis penyihir yang menganggap bahwa pipa besi itu adalah tongkat.


"Itu adalah kemampuannya. Kemampuan tebasan" ucap sang pahlawan pemegang pedang.


Jarvis yang mendengar perkataan mereka malah ikut berbicara.


"Hei nyonya, ini bukan tongkat, tapi pedang" kata Jarvis.


Kemudian Jarvis mengangkat kedua pipa besi sejajar dada. Monster langsung melakukan tebasan dengan tangan kiri.


Slash!


Jarvis kemudia menunduk kemudian memukul lengan kiri monster dengan pipa besi di lengan kirinya.


Crush!


Satu lengan kiri monster terpotong.


"Sudah kubilang ini adalah pedang" sambil mengangkat pipa besi.


Monster kemudian berlari menebas Jarvis, tapi Jarvis meluncur di sebelah kaki kanan monster.


Slash!


Kaki kanan berhasil dipotong.

__ADS_1


Kemudian Jarvis cepat berdiri lalu memotong 3 lengan kanan monster. Lalu kepala monster berbalik. Dengan cepat ia menusuk mulut monster dengan pipa besi.


Slash!


Kepala monster terpotong dari mulut. Jarvis kemudian berdiri dalam diam. Ia kemudian membuang ke dua pipa besi tersebut.


"Sayatan Ruang, Dekorasi Ruang Penyimpanan" ucap Jarvis.


Udara disekitar Jarvis mulai berubah. Udara kemudian berubah menjadi padat di ujung jarinya. Seketika itu juga muncul gerbang Monster dalam ukuran kecil, seukuran piring. Hal ini dapat terjadi karena ia mampu untuk menebas ruang dengan kemampuannya.


"Seperti yang dirumorkan, ia dapat membuat gerbang Monster" ucap salah satu pahlawan.


"Itulah yang membuat ia jadi seorang buronan, satu-satunya manusia yang dapat membuat gerbang Monster walaupun cuma ukuran kecil"


Para pahlawan bergidik ngeri melihat hal tersebut. Di sisi Jarvis, ia kemudian memasukkan kedua tangannya ke dalam ruang penyimpanan. Kemudian ia menarik dua pipa besi panjang. Sesaat itulah gerombolan monster sejenis yang dilawannya tadi muncul dalam jumlah belasan.


"Mereka pasti muncul karena bau darah temannya" Jarvis memastikan sesuatu.


Jarvis kemudian berlari ke arah para pahlawan.


"Sayatan Ruang, Gerbang Monster"


Jarvis membuat gerbang Monster di belakang para pahlawan, seluruh pahlawan pun tertarik masuk ke dalam Gerbang Monster.


"Baiklah sekarang tinggal… ahh sial, aku lupa mengambil pakaian gadis itu. Ahh pedang pahlawan itu juga. Padahal kalau dijual pasti mahal." Jarvis mengeluh.


Ia dengan lesu mengambil sikap dalam pertempuran sebelumnya. Kedua pipa besi diangkatnya selayaknya sebuah pedang.


Belasan monster sampai di tempat Jarvis. Pertarungan pun berlangsung.


***


Di tempat lain, Roy sedang berlari dengan kecepatan tinggi. Namun tiba-tiba ia berhenti. Di hadapannya berdiri pedang besar yang menusuk monster. Bentuknya mirip seperti monster yang dilawan Jarvis tapi berwarna merah, mungkin itu adalah bosnya. Namun bukan itu yang membuatnya berhenti.


Di depan Roy, terdapat pria tua yang sedang duduk di atas mayat monster tersebut. Berbadan besar dengan pedang yang juga cukup besar. Pria itu tidak lain adalah Ludheer Bashil.


"Belum apa-apa sudah bertemu dengan pahlawan kelas A" kata Roy.


Tanpa pikir panjang Roy langsung pergi berlari meninggalkan pahlawan tersebut. Mukanya kemudian berubah jadi muka cheetah agar identitasnya tidak terbongkar.


Duarr!


Sebuah pedang menahan pergerakannya.


"Kenapa kau lari? Apakah kau takut melihatku? Atau… kalian itu monster?" Ucap Ludheer menginvestigasi.


Roy langsung berlari ke arah lain. Ludheer pun ikut menyusul, ia pun melempar pedangnya.


Duarr!


Lemparannya meleset, Roy yang melihat kesempatan langsung bergegas ke arah gedung besar. Kemudian kaki cheetah berubah menjadi kaki cecak, tangannya juga ikut berubah. Ia kemudian memanjat gedung.


Ludheer tidak bisa melempar pedangnya jika Roy masih berada di gedung. Takutnya akan menyebabkan serangan tersebut mengenai orang lain.


Ludheer kemudian memegang pedangnya. Ia kemudian memegang dadanya sendiri. Saat itulah Ludheer kehilangan hukum gaya gravitasi bumi. Tubuhnya terangkat ke atas, ia pun menyusul Roy ke atas sambil berlari secara vertikal ke atas gedung. Roy yang tersusul merasa terancam. Ia pun memunculkan sayap di punggungnya dan terbang meninggalkan Ludheer.


Ludheer kemudian turun ke dasar gedung. Ia merasa kesal karena tidak bisa mengejar, ia pun mengambil telepon di sakunya.


"Halo Professor" kata Ludheer.


[Ada apa?] Jawab seseorang dari telepon.


"Bisa kau jelaskan deskripsi tugasnya?"


[Kamu kenapa? baru kali ini kamu bertindak aneh saat tugas]


"Aku merasa dipermalukan, tolong deskripsi tugasnya" Ludheer kemudian duduk di jalan karena frustasi.


"Apa.. Gerbang Monster? Mustahil. Tidak ada manusia yang mampu melakukan hal itu."


[Mau percaya atau tidak, itu adalah faktanya]


"Memang sulit untuk dipercaya"


[Apakah kau melawannya?]


"Tidak, yang aku lawan itu adalah orang yang mampu berubah-ubah"


[Berarti kau sedang sial. Itu adalah target kedua dan yang terkuat, ia setara dengan pahlawan kelas A]


"Berarti ia sama kuat denganku" gumam Ludheer.


[Dengarkan! Kemampuannya adalah Pemakan. Ia dapat merubah tubuhnya berdasarkan makanan yang dikonsumsi olehnya]


"Apakah itu juga berlaku untuk monster?" Tanya Ludheer.


[Iya] jawab professor.


"Berarti aku yang dipermainkan, bukan dia"


"Professor?"


[Ada apa]


"Kirim Marx 7 kesini secepatnya. Aku hanya akan bertarung jika pedang itu sudah ada di tanganku"


***


Di sebuah lapangan sepak bola yang luas. Terbang sesosok manusia bersayap, itu adalah Roy. Roy kemudian mendarat di bangku penonton.


"Kau terlambat" seseorang muncul, menghampiri Roy.


"Apakah kau tahu siapa yang ku lawan" ucap Roy.


"Tidak penting, apa misinya sukses?" Ucap sosok tersebut yang ternyata adalah Jarvis.


"Gagal" Jawab Roy.


"Tidak apa-apa, karena aku juga gagal menjarah barang-barang pahlawan." Ucap Jarvis dengan santainya.


"Jarvis"


"Ada apa lagi?"


"Aku sebenarnya membawa tangkapan besar" kata Roy.


"Apa itu?"


"Tunggu saja"


Beberapa menit kemudian, suatu jatuh ke tengah lapangan. Debu beterbangan di mana-mana. Terlihat seseorang sedang mengangkat pedang besar hanya dengan satu tangan yang kemudian diletakkan di atas pundaknya. Pedang tersebut adalah Marx 7, panjang keseluruhan 9 meter dan berat 3 ton.


"Ludheer Bashil, katamu kau tertarik dengannya." Ucap Roy.


"Tidak juga, hanya saja waktu orang tuaku meninggal, ia ada di sana" jawab Jarvis.


"Ohh begitu ya, jadi siapa yang akan melawannya" tanya Roy.

__ADS_1


"Kau saja, aku tidaklah sepercaya diri itu untuk mengalahkannya"


"Baiklah, bantu aku jika punya kesempatan, misinya tetap berjalan" pinta Roy kepada Jarvis.


"Ok" Jarvis optimis.


Jarvis dan Roy kemudian mendekati Ludheer.


"Sayatan Ruang, Dekorasi Ruang Penyimpanan" ucap Jarvis.


Ia kemudian menarik pisau Kukri dari ruang penyimpanan.


Roy juga ikut bersiap, kakinya berubah menjadi kaki jangkrik, lengannya berubah menjadi sayap dengan bulu besi.


"Monster jangkrik peledak dan monster burung besi, sampai sekarang mayat monster tersebut hilang saat pengiriman. Apakah kau mengejekku?" Ucap Ludheer yang mulai muncul urat di kepalanya.


Boomm!


Roy melakukan sambutan awal dengan meledakkan kakinya kemudian melemparkan tubuhnya ke tempat Ludheer berada. Saat jarak mulai dekat ia kemudian melempar beberapa bulu besi ke Ludheer.


Tring!


Tring!


Tring!


Bulu besi dapat ditahan. Namun ternyata itu hanya pengalihan untuk membuat celah, agar dapat meninju.


Ludheer yang melihat tinjauan Roy hampir bersarang ke tubuhnya, langsung menarik pedangnya untuk menangkis. Pedang besarnya kemudian diayunkan langsung ke arah Roy.


Crying!


Bulu besi dan pedang besar saling bergesekan.


Sring!


Sebuah tebasan mengarah ke Ludheer namun Ludheer masih dapat menghindarinya. Saat itu Jarvis melompat ke atas pedang Ludheer kemudian berlari mempersempit jarak. Melihat hal itu Ludheer kemudian memutar pedangnya tapi ia terlambat karena Jarvis sudah berada di depannya.


Tring!


Dua senjata tajam saling bertemu, belati Jarvis dan pedang besar Ludheer.


"Apakah pedangmu pernah patah?" Tanya Jarvis kepada Ludheer, namun Ludheer tak merespon.


Sring!


Sring!


Sringngngngng!


Jarvis terus menggunakan kekuatannya di bilah pisau Kukri. Lama kelamaan terjadi percikan di pedang. Pedang Ludheer tiba-tiba terkikis beberapa inci, sedangkan pedang Jarvis mulai patah.


"Nihil" ucap Jarvis sambil membuang pisau Kukri dari lengannya.


"Tidak mungkin bisa menang" lanjutnya.


Jarvis kemudian menjauh dari pertarungan. Di sisi lain Ludheer terus diam.


'ini pertama kalinya Mark 7 mengalami kerusakan' batin Ludheer.


Ludheer pun melirik ke arah Jarvis. Ludheer kemudian melepas pegangan Marx 7.


"Marx 5 lepaskan, Marx 6 aktifkan" terlihat pakaian Ludheer mulai berjatuhan, yang mana pakaian tersebut menghancurkan tanah yang dijatuhi.


Sekarang Ludheer telanjang di bagian atasnya. Tiba-tiba muncul sebuah besi yang melapisi kedua lengannya. Ludheer lalu menyerang Jarvis, namun Jarvis tidak bisa bereaksi.


Roy langsung menendang Jarvis.


Buakk!


"Melesetkah?" Ucap Ludheer yang ternyata dengan kecepatan tinggi menyerang Jarvis dengan tinju.


Bommm!


Tempat berpijak Jarvis langsung meledak akibat tinjuan Ludheer. Melihat hal itu Roy menyerang Ludheer dengan api.


Boomm!


Saat itu ternyata Roy telah bertransformasi. Bentuknya seperti kadal tetapi berwarna merah.


"Evolusi total, Salamander, sudah lama aku tidak melihatnya" ucap Jarvis.


Roy berubah menjadi kadal merah yang berdiri dengan dua kaki, di sekujur tubuhnya terlihat seperti bara api, sangat panas.


"Tinjumu dapat meledak begitupun juga untuk tinjuku" ucap Roy mantap, sambiengarhkan tinjunya ke depan.


"Kadal yang baru belajar meninju" ucap Ludheer sombong.


Duarr!


Dua tinju saling berbenturan, ledakan terjadi di mana-mana. Jarvis yang melihat pertarungan brutal mereka kemudian berlari ke arah lain.


Duarr!


Boomm!


Boomm!


Berbagai suara hantaman dan ledakan yang terjadi dari bentrokan mereka. Tinju mereka kini membakar stadion sepakbola. Melihat hal ini Ludheer kemudian mengambil kuda-kuda, bersiap menerobos pertahanan lawan.


"Kembali!" Sebuah perintah keluar dari mulut Ludheer.


Pedang kemudian terbang ke lengan ludher, ia pun menebas Roy. Roy kini terlempar jauh bahkan merusak serta keluar dari stadion sepakbola.


"Ughh". Roy muntah darah.


Melihat itu Ludheer merasa lega.kemudian ia mencari seseorang


"Sekarang tingal…"


"Tinggal siapa?"


Jarvis dengan mantap menghentikan ucapan Ludheer. Di tangan Jarvis terdapat sebuah kain hitam, Marx 5. Kemudian ia menyimpan pakaian pemberat di ruang penyimpanan.


"Kau…" Ludheer yang marah langsung melempar Ludheer dengan pedang besar.


Ludheer kemudian menebas udara di depannya dengan pisau.


Sring!


Pisau besar langsung masuk ke dalam gerbang yang dibuat oleh Jarvis.


"Misi selesai" ucap Jarvis.


"Padahal aku sudah menunggu lama sekali" Roy tiba-tiba muncul dengan santainya, bahkan tanpa bekas luka. Kemampuannya telah dihilangkan kecuali bagian muka yang masih mirip dengan kadal merah.


"Pedang Marx 7 dan baju berat Marx 5 berhasil di dapat" ucap Jarvis.

__ADS_1


Tiba-tiba pahlawan Ludheer kemudian menyerang Jarvis dan Roy namun itu tidak sempat. Karena mereka telah memasuki gerbang monster.


"Ahhh... sial!" Keluh Ludheer Bashil sambil berteriak. Ini rasa kecewa bukan karena kalah bertarung tetapi karena ia berhasil di rampok tanpa bisa berbuat apa-apa.


__ADS_2