
High orc adalah salah satu monster yang sangat kuat. Butuh beberapa orang untuk mengalahkannya. Di tambah dengan pedang suci, kemampuan monster itu kini hampir setara dengan pahlawan kelas S.
Saat semua pahlawan kelas A menyerang, hanya satu orang yang berlari ke arah lain. Ia adalah Gustave, Penembak jitu yang mencoba mencari stan bidik terbaik.
Hanya dengan sekali lompatan, ia berhasil meraih ranting pohon yang cukup tinggi. Dengan kelincahannya ia telah berada di atas pohonyang sangat tinggi. Dibukanya sebuah tas panjang, sebuah senapan modifikasi dikeluarkannya dari dalam tasnya. Ia siap menembak.
Gustave terus menembak ketika ada kesempatan. Namun tembakannya selalu di halau dengan pedang suci.
Sang Penempa Darien, berusaha membuat celah. Ia mengambil sebuah peti kayu dari bawahannya.
Dilemparkannya kotak kayu tersebut kearah monster yang memegang pedang suci. Tapi sayang monster itu lalu menghalaunya.
Saat peti itu hancur bertaburan. Puluhan pedang tanpa gagang bertaburan di langit.
Puluhan pedang itu lalu menyerang tubuh monster. Namun monster itu masih dapat menahannya menggunakan pedang suci.
Tiba-tiba monster itu menebaskan pedangnya. Sebuah hantaman keras membuat sebuah tebasan jarak jauh. Tebasan itu mengarah ke Darien.
Isaac Berton dengan benangnya, ia lalu menarik tubuh Darien.
Tanpa ada yang melihat, ternyata sesosok goblin mengintai beberapa calon guru yang mengikuti ujian.
Saat goblin itu menyerang, hanya Jarvis yang melihatnya. Ia lalu menendang goblin itu dengan santai tanpa dilihat oleh seorang pun.
"Sungguh membuat frustasi"
Jarvis merasa tidak nyaman. Disaat para pahlawan bertarung setengah mati, ia harus diam menonton mereka tanpa melakukan apa-apa.
Kembali ke pertarungan pahlawan Kelas A.
Disaat monster itu melakukan serangan ke Darien, sebuah bilah pedang yang panjang dan lentur hampir menyobek kaki monster itu. Pedang miliknya patah akibat tebasan dari monster.
"Serang dia ketika ia melakukan serangan"
Pengguna pedang lentur itu berusaha memberi tahu celah serangan ke monster. Ia adalah Patrick.
Mendengar itu, Eun Jie lalu membekukan pedang itu, tapi ia tahu bahwa serangan es tak akan mempan untuk monster itu. Namun bukan itu saja yang diincarnya.
Dalam jeda waktu yang singkat, sebelum monster itu melepaskan diri, hanya butuh waktu 5 detik, petinju terkuat di kelas A berhasil melompat ke atas kepalanya.
Bartolomeo lalu meninju monster itu. Monster itu akhirnya terjatuh.
Saat monster itu terjatuh, tak sengaja ia juga menjatuhkan senjatanya.
Di momen itu, serangan pertama yang berhasil tembus adalah tinjuan keras dari Bartolomeo.
Dengan pedang suci, semua serangan berhasil di cegat bahkan sang monster harus memaksakan dirinya. Tapi kini serangan mereka akhirnya tembus.
Jarvis yang melihat pertarungan mereka langsung gelisah.
"Apa yang terjadi?" Kata Jarvis.
__ADS_1
"Monster itu berhasil dirobohkan oleh Bartolomeo, petinju terkuat" jawab Jacob.
Namun jawaban itu malah tidak menghilangkan kegelisahan Jarvis.
'Monster itu berhasil dikalahkan sebab ada campur tangan orang lain' batin Jarvis.
Jarvis melihat ke kanan dan kiri, seakan mencari seseorang.
'Siapa dia'
Jarvis terus mencari.
'Siapa dia, orang yang menggunakan teknik manipulasi darah'
Ternyata ada seorang diantara mereka yang memiliki kemampuan mirip dengan Jarvis dan gurunya.
Jarvis dapat mengetahuinya sebab ia juga bisa memanipulasi darah.
'Aku harus memastikan sesuatu'
Jarvis lalu berlari mendekati monster itu. Saat ia sudah sangat dekat, ia menyadari sesuatu.
'Pergerakan monster ini sengaja diperlambat, jika dugaanku benar. Berarti sekarang berbahaya. Aku harus mencobanya'
Jarvis lalu berlari ke atas pohon. Terlihat para pahlawan berusaha untuk mengalahkan monster itu.
Kini beberapa serangan berhasil tembus, itulah yang dikhawatirkan oleh Jarvis. Saat bertarung tadi, Jarvis sadar jika monster itu tak bisa ditembus. Bahkan dengan kecepatan yang dimiliki oleh Jarvis saat menggunakan teknik Petir Hitam.
'Ini bukan karena kerja sama. Sekuat apapun kalian, tak akan mampu menembusnya. Aku yang kewelahan menggunakan petir hitam melawan monster itu, yakin jika monster itu dapat mencederai sebagian dari kalian yang merupakan pahlawan kelas A. Tapi mereka masih baik-baik saja, ini sungguh aneh'
Jarvis sudah tak mampu untuk mencerna apa yang terjadi. Ia lalu melakukan serangan dadakan.
'Sekarang atau tidak sama sekali'
Para pahlawan kaget melihat salah seorang yang bukan pahlawan kelas A melemparkan tombak dari pohon. Tombak itu berhasil melukai salah satu mata monster.
Jarvis lalu mengaktifkan mata merahnya.
'Mengamuklah!' sugesti Jarvis ke monster tersebut.
Monster itu akhirnya mengamuk setelah matanya terluka, itulah yang dipikirkan oleh pahlawan. Tetapi Jarvis yang membuatnya mengamuk.
Sesaat kemudian monster itu langsung berhenti mengamuk.
'Monster itu kembali dikendalikan oleh seseorang. Jadi benar dugaanku, salah satu dari mereka adalah kelas S'
Jarvis lalu berpura-pura berlari ketakutan. Ia berusaha menjauh sambil membiarkan beberapa dahan melukai tubuhnya.
Kini posisi Jarvis telah aman dari jarak serangan monster tersebut.
'Kenapa ia menyembunyikan kekuatannya. Seorang pahlawan terkenal tak seharusnya seperti ini. Jika disembunyikan maka harus disembunyikan secara menyeluruh. Jika memang ditunjukan, maka sebaiknya ditunjukan'
__ADS_1
Jarvis yang penasaran terus saja memutar otaknya untuk berpikir.
Bagaimana bisa seorang pahlawan bisa memanipulasi darah?
Juga sejak kapan ia memiliki kemampuan kelas S?
Mengapa ia menyembunyikan kekuatannya?
Yang terpikirkan oleh Jarvis adalah apa yang dilakukannya sekarang.
'Mencoba menyusup'
Jarvis yakin jika orang tersebut melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan. Berusaha menyusup dan menyamar menjadi pahlawan.
Tiba-tiba satu kata terbersit dipikirannya.
'Unicorn'
Tak habis pikir, organisasi paling berbahaya malah berhasil menyusupkan anggotanya sebagai pahlawan.
Kini Jarvis yakin, bukan cuma Carlie yang merupakan kepala sekolah yang harus ia waspadai, tetapi orang yang bahkan identitasnya tak bisa Jarvis ketahui.
Mungkin karena emosi atau merasa ditekan, bahkan identitasnya bisa diketahui. Orang yang memiliki kemampuan manipulasi darah lalu membuat keputusan beresiko.
Ia lalu membuat monster high orc berteriak sekeras mungkin.
Seketika kawanan orc datang dengan jumlah yang sangat banyak menyerang para pahlawan kelas A. Bahkan calon guru sekolah pahlawan juga ikut diserang.
Terjadilah pertarungan pahlawan skala besar. Gerombolan orc dan para pahlawan saling bertarung.
Tujuan orang ini sangat jelas, untuk mencari tahu siapa pahlawan yang mampu menguasai manipulasi darah. Jika pahlawan terdesak, mau tak mau orang yang mengganggunya akan menunjukan kekuatannya.
Begitulah yang dipikirkannya. Namun Jarvis berpikiran lain.
'Jadi ini menjadi permainan tebak-tebakan' batin Jarvis.
Jarvis berusaha menahan kekuatannya, walaupun ia terdesak karena tak memiliki tombak dan hanya berusaha menghindar tanpa bisa memukul balik.
Tiba-tiba sebuah tombak mengarah ke samping Jarvis, Jarvis lalu mengambilnya. Itu adalah tombaknya.
Saat ia melihat arahnya, ternyata Ludheer berhasil mengalahkan monster High Orc seorang diri.
Sebenarnya ini adalah kelalaian pengguna manipulasi darah, ia memanggil sejumlah orc tanpa mempertimbangkan melepaskan belenggu manipulasi darah di tubuh High Orc. Tubuh monster itu tak bisa bergerak.
Ludheer akhirnya bisa mengalahkannya dengan melubangi dada monster itu. Tapi tiba-tiba dari belakang Ludheer muncul tangan raksasa dari darah yang menghantam tubuh Ludheer.
Ludheer akhirnya terpental ke bilah pedang suci. Tubuhnya teriris.
Jarvis akhirnya memikirkan salah satu poin terpenting.
'Pantas saja kami tak bisa saling mengenal. Dia … , apa kami memiliki teknik manipulasi darah yang berbeda?' batin Jarvis.
__ADS_1