Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Di Bawah Jembatan


__ADS_3

Di bawah kolong jembatan terlihat banyak orang yang sedang berlari berhamburan. Mereka sedang ketakutan. Nampak di sana seorang yang patah lengannya, ada yang pingsan dengan memar biru di lehernya, pria besar yang terlilit tali, dan ada juga yang sedang menggigil bukan karena kedinginan tetapi karena *********** sedang sakit.


Jarvis kemudian menghampiri orang yang berkacamata.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Jarvis ke pria yang memakai kacamata.


Pria yang ditanya hanya bisa menganggukan kepalanya. Selang beberapa saat Jarvis mengamati sekitar, ia kemudian melihat Alex.


"Pergi! Jika aku masih melihatmu, aku tidak bisa menjamin nyawamu" ucap Jarvis sambil melihat ke arah Alex.


Alex yang mendengarnya bergidik ngeri. Ia sangat ketakutan terhadap Jarvis. Bagaimana tidak? Bahkan tanpa kemampuan khusus, mereka dapat dikalahkan. Alex kemudian berusaha untuk berdiri. Dengan kemampuannya ia dapat memanipulasi tali sehingga temannya yang besar dapat melepaskan lilitan tali. Ia kemudian membantu seseorang yang lengannya patah, sedangkan temannya yang besar kemudian mengangkat seseorang yang pingsan.


Jarvis kemudian menghampiri pria yang berkacamata. Walaupun sudah tahu nama Aland, ia malah menanyakan namanya. Hanya sekedar basa-basi.


"Siapa namamu?"


"Aland"


"Kenapa mereka mengganggumu?"


"Itu bukan urusanmu"


Mendengar itu, Jarvis lalu pergi.


"Hei kau" kata Aland.


Jarvis kemudian melirik ke belakang.


"Terima kasih" ucap Aland.


Jarvis kemudian tersenyum, ia kemudian pergi meninggalkan Aland. Saat ia mulai jauh, terlihat Aland sedang memungut beberapa kertas. Kebetulan saat Itu ada sebuah kertas terbang di kaki Jarvis karena tertiup angin. Jarvis lalu mengambil kertas itu.


Betapa terkejutnya Jarvis melihat kertas tersebut.


"Apa kau yang menulis ini?"


Aland yang ditanya tidak menjawab, ia kemudian menghampiri Jarvis lalu mengambil kertas yang dipegang Jarvis.


"Kau pasti heran melihatnya?" Kata Aland.


"Lumayan" jawab Jarvis.


"Ini adalah hasil penelitianku. Tak berdasar tapi perlu dipertimbangkan." Kata Aland.


"Bisa kau jelaskan" Jarvis heran.


"Terdapat 2 buronan yang dianggap penjahat, tapi anehnya mereka tidak pernah membunuh orang lain ketika mereka beraksi. Di saat yang sama, ternyata banyak monster yang telah mati. Hal ini membuatku penasaran, jadi aku mengamati mereka dengan kemampuanku" Kata Aland.


"Memangnya kemampuanmu apa? Apakah kau yakin bisa menyelidiki mereka?" Tanya Jarvis.


"Dengan kemampuan yang ku miliki, hal itu masuk akal. Aku memiliki kemampuan pemetaan, jadi aku membuat wilayahku sendiri. Siapapun yang berada di dalamnya akan bisa terdeteksi olehku. Cara kerja kemampuanku tak akan kuberi tahu. Namun yang menjadi perhatianku sekarang ini adalah mereka berdua. Tapi aku selalu gagal mengetahui identitas mereka. Kalau mau jujur, mereka itu idolaku." Kata Aland.


"Idolamu adalah seorang buronan. Otakmu pasti tergeser waktu dipukuli tadi" Kata Jarvis yang menindak lanjuti perkataan Aland.


"Terserah kau mau bilang apa. Ini sudah menjadi hal yang biasa bila dianggap aneh. " Kata Aland.


"Begitu yah. Aku merasa idola mu Itu yang Terburuk. Kau harus hati-hati, sebab banyak yang mengincar mereka, ditambah kau memiliki kemampuan unik" ucap Jarvis


"Tentu" kata Aland.


"Aku pergi dulu, senang berjumpa denganmu"


"Sampai jumpa" Aland membalas sapaan dari Jarvis.


Kini mereka berpisah, Jarvis kembali ke Taman hiburan sedangkan Aland pergi ke arah sebaliknya.


Saat Jarvis sampai ke pohon tempat sebelumnya ia beristirahat, nampak Roy dan Paula ternyata sedang menunggu.


"Kau dari mana?" Tanya Roy yang agak kesal.


"Jalan-jalan" Jawab Jarvis singkat.


"Ohh begitu, karena Paula telah selesai membeli pakaian, saatnya pulang" ajak Roy.

__ADS_1


Mereka kemudian bergegas kembali. Satu menit, dua menit, dan beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai di Kafe. Saat itu Roy lalu menarik lengan Jarvis sambil berteriak ke Paula.


"Kau masuklah terlebih dahulu, kami masih ada urusan" kata Roy ke Paula.


Roy dan Jarvis lalu pergi. Di jalan mereka sesekali mengobrol, tetapi jika berpapasan dengan seseorang mereka kembali diam.


"Dari mana kau tadi" bertanya Roy ke Jarvis.


"Aku barusan melihat seseorang yang ditindas, jadi aku bantu" jawabnya.


"Begitu kah" kata Roy sambil menghela nafas. Ia kemudian menatap serius ke arah Jarvis.


"Sepertinya mereka sudah bergerak" lanjutnya.


"Maksudmu Unicorn" ucap Jarvis.


"Iya" kata Roy.


Mendengar itu, Jarvis lalu terbelalak matanya.


"Unicorn adalah organisasi paling berbahaya yang aku tahu, kita bahkan hampir mati dulu. Ku tahu bahwa kau tidak ingin menjadi pahlawan karena kau membenci pahlawan, namun alasanku berbeda. Aku takut jika mereka mengetahui identitas kita." Kata Roy yang menjelaskan tentang Unicorn.


"Walaupun tak kau jelaskan, aku tahu itu. Tapi yang ku ingin kau perjelas adalah alibimu, dari mana kau tahu informasi mereka" tanya Jarvis.


"Aku berpapasan dengan seseorang yang hanya memakai celana jeans saat berbelanja pakaian. Saat aku dan Paula meninggalkan toko, aku baru menyadari bahwa ia memiliki tato di punggung yang bergambar kera dan salib terbalik." Kata Roy.


"Apakah salah satu matanya terdapat bekas luka?" Tanya Jarvis.


"Iya, memangnya kenapa?"


"Aku mengenalnya, bahkan aku meninggalkan warisan di matanya." Jarvis sedikit bercanda tentang orang itu, karena ia pernah menusuk mata orang yang dimaksud, namun melihat Roy yang serius ia pun menjadi serius juga.


"Kode namanya adalah Kera Sakti. Ia salah satu anggota Unicorn yang mengejar kita waktu itu. Aku tidak tahu namanya, karena mereka hanya menggunakan kode nama. Kemampuannya adalah ledakan. Tanpa Saber aku tidak mungkin menang." Jarvis kemudian menjelaskan apa-apa saja yang yang perlu diketahui oleh saudaranya itu.


"Saber?"


"Maksudku pedang Odachi. Jenis pedang dari Timur. Walaupun biasanya terbuat dari besi, namun pedang ini bahannya terbuat dari batu meteor. Aku menamakannya Saber." Kata Jarvis.


"Ohh begitu. Jadi kita bisa lega sekarang karena ada pedang itu." Ucap Roy yang tampak lega.


"Saber, brengsek" kata Roy sambil menggertakkan giginya yang bergemeretak.


"Sudah ku gadaikan" Kata Jarvis sambil tersenyum.


"Kau memang cari mati yah" kata Roy sambil melotot melihat Jarvis.


Jarvis pun juga ikut melotot sambil mengadu kepalanya dengan kepala milik Roy "kalau iya, kau mau apa hah?"


Kepala mereka kemudian saling bergesekan beberapa saat sampai Roy melanjutkan percakapannya " sepertinya tidak ada pilihan lain"


Jarvis yang agak bingung karena sikap Roy akhirnya bertanya ke Roy "Ada apa?".


"Kita harus menempa pedangmu sekarang juga" kata Roy ke Jarvis.


Mendengar itu Jarvis hanya bisa diam. Tak berselang lama mereka kemudian kembali ke kediaman mereka. Sesampainya di sana, mereka disambut oleh Paula. Namun ekspresi wajah mereka berdua yang tegang menimbulkan kesan seakan menjadi benteng untuk tidak di ajak berbicara.


Keadaan ini tak berselang lama, Roy menyampaikan keinginannya kepada Paula untuk pergi bersama Jarvis dengan alasan bisnis. Paula diberi perintah untuk tetap berada di rumah sambil menjaga Kafe seorang diri.


***


Di sebuah jembatan dekat taman, tempat Jarvis berkelahi dengan para siswa bermasalah. Terlihat seorang pria tak berbaju sedang berdiam diri di bawah jembatan. Ia memposisikan dirinya yang jongkok, di depannya terlihat sebuah bercak darah.


"Sepertinya disini baru saja terjadi pertarungan para pengguna Kemampuan. Tapi jika melihat bekas pertarungan ini, tidak ada bekas kemampuan yang spesial. Apakah mungkin ini dilakukan oleh seseorang yang tidak memiliki kemampuan." pikir orang itu.


Tanpa di sadari ternyata orang itu telah dikepung oleh para pahlawan dengan jumlah belasan. Pria itu kemudian berdiri dengan kedua tangannya yang dikepalkannya. Ia lalu melirik ke arah orang orang yang mengelilinginya.


"Belum apa-apa, malah dapat hidangan pembuka".


Tanpa menunggu aba-aba, para pahlawan yang sudah bersiap, mulai menyerang. Melihat hal itu, pemuda yang di serang dari segalah arah merentangkan kedua tangannya.


BOOMM!


Ledakan besar terjadi yang mengarah ke seluruh pahlawan. Banyak pahlawan yang berhasil selamat, namun beberapa berhasil terkena ledakan. Nampak salah seorang pahlawan maju ke depan.

__ADS_1


"Sesuai dengan informasi, pembunuh pahlawan dengan tatto kera memeluk salib terbalik, dikabarkan mempunyai kemampuan ledakan"


Salah seorang dari pahlawan yang mengidentifikasi musuhnya kemudian memunculkan api di lengannya.


"Mungkin kita adalah musuh yang ditakdirkan, ledakan dan api. Dua kemampuan yang membakar target" lanjutnya.


Keduanya kemudian mempersempit jarak, ledakan dan api kemudian berbenturan. Para pahlawan yang lain berusaha menghindar agar tak terkena dampaknya.


Setelah ledakan terjadi, nampak sang pahlawan terhuyung-huyung sebab lengannya yang hancur terbakar sedangkan lawannya hanya menerima luka bakar pada Celananya.


"Bolehkah aku tahu siapa namamu?"


"Salah satu anggota Unicorn, kode name: Kera Sakti, Orgasheel"


"Terima kasih, namaku Steven, Pahlawan kelas B dari kota T"


"Jangan berterima kasih pada orang yang akan membunuhmu!"


Orgasheel kemudian melangkah maju ke depan Steven dengan santainya. Melihat hal itu semua pahlawan kemudian menyebar secara bersamaan.


Nampak tanah yang tergali mengeluarkan banyak rantai. Setiap ujung rantai di pegang oleh seluruh pahlawan. Orgasheel kemudian terlilit. Tanpa menunggu aba-aba, Steven kemudian maju dengan kedua tangan yang saling menggenggam, ia.pun menghantam lawannya yang diikuti oleh ledakan.


Tapi yang membuat ini menjadi aneh, Orgasheel yang seharusnya ketakutan malah tersenyum lebar sehingga nampak giginya yang penuh darah. Kemudian ia melemaskan seluruh tubuhnya.


Walaupun rantai yang mengekang tubuhnya cukup banyak, Orgasheel berusaha untuk tetap melemaskan tubuhnya.


"Buka!"


Sebuah perintah muncul dari mulut Orgasheel. Ia pun dapat bebas dari jeratan rantai. Namun bukan karena ia memerintah untuk dilepaskan sehingga rantai yang digunakannya lepas, tetapi karena jumlah kekuatan yang keluar dari tubuhnya kini berubah menjadi sangat panas. Rantai yang melilit tubuhnya kini meleleh.


***


Di suatu sudut ruangan tampak seorang melapor ke atasannya.


"Bos. Sepertinya Orgasheel berusaha membangkang"


"Tidak, dia pergi berburu"


"Berburu?"


"Orang yang melukai matanya"


"Begitu kah. Tapi apakah ini dapat merusak rencana kita?"


"Alat yang rusak tidak perlu dipakai lagi"


"Maaf atas kelancangan saya"


Tanpa menjawab, orang yang dipanggil bos itu hanya terdiam sambil mempersilahkan bawahannya untuk keluar. Di luar pintu, sang bawahan hanya tersenyum.


"Alat yang rusak, sungguh menarik"


"Siapa?"


Tanpa adanya orang, tiba-tiba kedengaran suara orang berbicara.


"Orgasheel"


"Haaa… haa...haaa. benarkah itu, padahal aku pernah sekali melihatnya bertarung. Kami hampir terluka waktu itu, karena pilarnya"


"Jika bos bilang alat yang rusak, itu pasti"


"Benar sekali"


***


Kembali ke tempat pertempuran Orgasheel dan para pahlawan.


"Tidak mungkin"


"Ini mustahil"


"Apakah ada orang yang bisa sampai sejauh ini"

__ADS_1


"Tetap tenang kalian"


Steven memberi arahan kepada yang lainnya agar tetap tenang dan tidak panik. Di depan mereka nampak seorang manusia bertubuh api, dengan aura berbentuk pilar.


__ADS_2