
Butiran debu kini beterbangan, kontras dengan hawa panas yang menyelimuti. Kawah besar dengan tanah yang terbakar bagaikan arang. Di dalam kawah tersebut, terlihat 2 sosok pria yang selesai bertarung.
Terlihat sosok Hanz yang berdiri dengan gagahnya. Di depannya membungkuk Sebastian. Kini badan Sebastian penuh dengan luka, seluruh senjata juga dan baju besi kini hancur. Hanya beberapa baju besi yang tinggal di beberapa bagian tubuh Sebastian.
"Sudah ku duga, kau Ranking S. Hanz"
Hanz tidak menggubris perkataan Sebastian, ia lalu berbalik meninggalkan Sebastian.
"Kau mau pergi ke mana?"
"Bukan urusanmu"
"Aku belum kalah"
Hanz yang merasa telah menang kemudian memegang bilah pedang di tangan Sebastian. Ia lalu menghancurkan pedang itu dengan genggaman yang sangat kuat.
"Kuberi tahu, jangan menghalangi kami"
Hanz lalu menyingkir dari kawah yang membara. Sesampainya di atas kawah, ia lalu di cegat ratusan bawahan Sebastian.
"Jangan halangi dia"
Mendengar teriakkan Sebastian, semua orang kemudian membukakan jalan untuk Hanz.
"Apakah kau yakin ingin berada di bawah perintahnya"
Yang dimaksud Sebastian adalah Jarvis, namun Hanz tetap acuh pergi meninggalkan Sebastian. Sebastian lalu berteriak.
"Jawab aku Hanz"
Hanz masih tetap melangkah pergi.
"Seharusnya kau lebih kuat, mengapa kau mengikutinya?"
Hanz lalu berhenti.
"Apakah perlu alasan untuk mengikuti orang yang membuatmu takjub dan berani menjamin hidupmu"
Hanz lalu pergi meninggalkan Sebastian. Sebastian yang sendiri merasa kesal.
"Sial, apakah ini pilihanmu"
***
Hari yang dijanjikan telah tiba. Di dalam Colosseum terbagi dalam 2 berkerumun yaitu para monster dan gladiator. Jumlah keduanya hampir sama. Namun karena ukuran para monster yang sangat besar, ia menempati lebih dari setengah Colosseum.
Dari kelompok manusia, hanya Jarvis dan Nagi yang belum datang. Bahkan kelompok Sebastian ikut berkumpul, walaupun lokasi mereka agak memisahkan diri dari kelompok Jarvis. Tubuh Sebastian kini penuh perban di mana-mana.
Eun Ha yang melihat Sebastian terluka mulai bertanya ke Charlotte disampingnya.
"Kenapa dia terluka. Apakah ketua yang melakukannya?"
"Tidak mungkin, sebab ia pergi melatih Nagi sampai sekarang. Kalau Kamui dan Roy, mereka dari kemarin bersama kita"
"Bagaimana dengan Hanz"
"Tidak mungkin, sebab ia kalah dengan Kamui. Bahkan Kamui sampai kesulitan untuk mengalahkan Sebastian. Bagaimana mungkin Hanz mengalahkannya tanpa terluka sedikitpun. Tidak masuk akal"
"Berarti yang menyerangnya adalah monster"
"Aku juga berpikiran begitu"
Hanz yang mendengar pembicaraan Charlotte dan Eun Ha merasa canggung, sebab ia yang telah mengalahkan Sebastian. Ini terjadi karena Jarvis telah mengizinkan Hanz untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya.
Di sisi lain, ternyata Anubis telah sampai. Ia lalu memberikan pidato singkat.
"Seperti yang telah kalian ketahui. Hari ini akan diadakan pertarungan antara para gladiator dan makhluk yang kalian sebut sebagai monster. Jika kalian bisa memenangkan 5 pertarungan, kalian bebas"
Anubis kemudian serius.
"Yang menang dapat melakukan apapun ke yang kalah, itulah peraturannya."
Tanpa memperlama waktu, Anubis lalu mengangkat tangannya, tanda pertarungan pertama dimulai.
Sesosok monster lompat dari atas podium ke arena Colosseum, Holdem, Sang raja binatang buas. Monster inilah yang diajak gelut oleh Jarvis saat mendeklarasikan pertarungan dengan monster.
Tubuh Holdem berbentuk seperti singa, tetapi dengan ukuran yang sangat besar, juga memiliki kebiasaan berdiri dengan kedua kakinya. Tawa Holdem kemudian membuat ngeri gladiator seisi Colosseum.
"Ha..ha..ha. siapa yang berani mati, turunlah sekarang juga. Ha...ha...ha.."
__ADS_1
Tiba-tiba di dalam arena muncul sebuah gerbang monster, Jarvis dan Nagi lalu keluar dari situ.
Jarvis hanya mengenakan baju singlet. Sebab bajunya telah robek dari pertarungan melawan Orgasheel.
Yang mencolok dari Jarvis adalah pedangnya. Pedang Shirasaya lurus berwarna hitam dengan simpul Sageo berwarna merah di sarung pedangnya. Tak ketinggalan beberapa bulu berwarna merah merumbai dari simpul tersebut. Jarvis ternyata menghias pedangnya.
Sedangkan Nagi tidak banyak berubah. Ia memakai masker yang mirip seperti yang biasa dipakai Jarvis, sedangkan ditangannya terdapat sebuah bendera dengan gambar 3 helai bulu.
Jarvis lalu melompat ke kerumunan, dekat denga para ketua divisinya.
"Bendera apa itu?"
Hanz yang penasaran mulai bertanya ke Jarvis.
"Ahhh, kau melihatnya. Itu adalah simbol Organisasi kita, 3 helai bulu. Bulu melambangkan kebebasan sedangkan 3 itu mewakili 3 generasi yang akan kita bebaskan. Bagusan?"
"Aneh"
"Bodoh"
"Idiot"
"Dasar kekanak-kanakan"
Berbagai sindiran diberikan ke Jarvis. Namun hanya Roy yang melihatnya berbeda.
"Kau jenius Jarvis"
"Siapa dulu ketuanya"
Eun Ha lalu bertanya ke Paula perihal keanehan Jarvis dan Roy.
"Apa mereka memang seperti itu?"
"Biarkan saja, otak mereka memang sudah tergeser"
Jarvis yang mendengarnya malah melihat Paula dengan muka sangar.
"Apa yang kau maksud"
Kata Jarvis sambil mengarahkan pedang tak terhunys ke arah Paula.
"Kau salah paham, maksudku tergeser itu adalah kau memiliki sesuatu yang lebih dari orang lain, pola pikir yang hebat"
"Memang harus begitu"
Jarvis agak berbangga hati.
Paula lalu berbisik ke telinga Eun Ha.
"Pola pikir yang hebat, lebih hebat dari anak kecil pada umumnya"
Eun Ha berusaha menahan tawanya sambil menutup mulutnya dengan tangan. Ia tahu bahwa Jarvis sangat kekanak-kanakan. Selalu menamai sesuatu yang seharusnya tidak perlu.
Di sisi Nagi, ia juga ternyata malu membawa bendera.
'Kalau bukan ketua, aku akan menolaknya. Bahkan yang lain menertawakanku'
Nagi lalu menancapkan bendera itu ketanah.
Colosseum adalah arena tempat para gladiator bertarung tanpa wasit. Jika kalah pasti mati, pertarungan dimulai tanpa wasit, juga tak ada peraturan apapun dalam arena.
Dari awal Nagi telah menunggu Holdem untuk menyerang terlebih dahulu. Namun karena Holdem belum menyerang juga, Nagi mengambil keputusan untuk menyerang terlebih dahulu.
"Jatuh"
Dengan suara keras dari Nagi, Holdem akhirnya jatuh dengan benturan yang sangat keras. Suara Nagi juga mengeras, ternyata masker yang digunakan oleh Nagi adalah masker khusus pengeras suara.
Holdem tang jatuh berusaha untuk bangkit.
"Jatuh"
"Jatuh"
"Jatuh"
Beberapa kali Holdem berusaha untuk menahannya, namun Nagi kemudian memberi sugesti lain.
"Terhempas"
__ADS_1
Tiba-tiba tubuh Holdem yang berada di tanah terhempas keluar arena dan menimpa beberapa monster yang berada di podium.
Holdem lalu melompat turun dengan santainya.
"Apa juma segini?"
Tubuh Holdem ternyata tidak apa-apa.
Sebuah kuku besar keluar dan menerjang Nagi. Tapi Nagi berhasil menghindar.
Nagi lalu memberi sugesti berbeda.
"Tangkap dia"
Ternyata inilah yang diinginkan Nagi dan Jarvis. Dengan kemampuan Manipulasi Darah yang dipelajari Nagi oleh Jarvis, serta perpaduan antara Sugesti milik Nagi, Nagi mampu mengendalikan monster.
Ratusan monster yang mengisi podium akhirnya turun ke arena menyerang Holdem. Namun Holdem memiliki kemampuan tersembunyi.
Sebuah ledakan besar meledakkan sebagian monster yang menyerangnya.
Jarvis yang melihatnya mulai tersenyum.
"Jadi nostalgia"
Ucapan Jarvis ini hanya ia sendiri yang tahu, sebab 12 tahun lalu ketika orang tuanya meninggal. Monster yang menjadi sumber masalah adalah monster dengan wujud yang sama dengan yang dihadapi oleh Nagi sekarang ini.
Monster yang dihadapi Nagi dan yang membuat ibunya Jarvis meninggal adalah monster singa yang dapat menciptakan ledakan.
Satu persatu monster kemudian menyerang Holdem, namun Holdem taj tinggal diam. Ia meledakkan setiap monster yang menyerangnya.
Tak tinggal diam, Nagi lalu menyerang kembali. Ia lalu berlari mengambil bendera yang ditancapkan ke tanah. Ternyata tiang bendera itu adalah sebuah tombak. Tombak itu lalu dilemparkan ke arah Holdem.
Melihat itu, Holdem dapat menangkalnya dengan mudah. Sebuah ledakan kini diarahkan ke Nagi, tapi dengan sigap Nagi langsung berlari menjauhi Holdem.
Tak terima dengan pertarungan kejar-kejaran, Holdem langsung memburu dengan cepat. Kini jaraknya telah dekat dengan Nagi. Holdem lalu meledakkan tanah yang ditempati oleh Nagi berdiri.
Sebuah ledakan berhasil meluluhlantakan tanah di sekitarnya. Nagi berhasil melarikan diri dengan memegang kaki seekor monster burung raksasa. Burung itu lalu terbang tepat di atas kepala Holdem.
Melihat adanya kesempatan, Nagi lalu melepaskan genggamannya dari kaki burung. Iya lalu menarik nafas kemudian berteriak.
Sebuah resonansi teriakan berhasil membuat musuh kehilangan kesadaran sementara. Tak tinggal diam, Nagi lalu menyerangnya. Sesaat sebelum tendangan Nagi sampai ke Holdem, Holdem lalu menangkap kaki Nagi.
Holdem lalu membanting tubuh Nagi beberapa kali kemudian melemparkannya ke podium dekat Jarvis. Sebuah hantaman keras membuat Nagi terluka parah baik itu luka luar maupun luka dalam.
"Apakah cuma segini kemampuanmu? Lebih baik kau yang maju Jarvis, sebelum dia kubunuh"
Jarvis tak menggubris perkataan Holdem, sebaliknya ia malah tertarik dengan Nagi.
"Apakah kau berhasil"
Nagi tak mampu berbicara, lehernya terluka, sehingga sulit untuk berbicara. Apalagi jika menggunakan kekuatannya. Ia hanya menjawab Jarvis dengan anggukan.
Selagi menjawab Jarvis, Nagi memperlihatkan kerambit milik Jarvis. Di kerambit tersebut terdapat bercak darah, bukti bahwa ia telah melukai Holdem walaupun dengan luka kecil.
Holdem di arena sebenarnya masih belum menerima luka sedikitpun. Ia merasa belum mengeluarkan kekuatan penuhnya. Lawannya terasa sangat lemah.
Nagi yang diremehkan tak bisa berbuat apa-apa. Ia lalu pergi dari podium menuju ke arena dengan tertatih-tatih. Saat ia turun dengan cara melompat dari podium, kakinya langsung patah, ia benar-benar telah terluka parah. Kondisi yang memungkinkan untuk dianggap sebagai suatu kekalahan.
Namun di dalam Colosseum, yang kalah hanya bisa diputuskan jika seseorang mati atau lawannya membiarkannya hidup. Jika melihat keagresifan Holdem, tidak mungkin ia akan membiarkan Nagi hidup.
Holdem lalu membuat ancang-ancang, kuku besarnya mulai siap menerjang. Cukup satu lompatan yang cukup jauh, kuku Holdem berhasil mendarat di perut Nagi.
Semua gladiator yang melihatnya tak bisa berbuat apa-apa. Kekuatan mereka tak cukup untuk menolong Nagi. Beberapa orang melihat Jarvis, namun mereka heran dengan tingkah Jarvis. Jarvis tersenyum melihat Nagi tertusuk kuku Holdem.
Di sisi Nagi, ia lalu memegang dada Holdem. Walaupun sekujur tubuhnya terluka ditambah lagi dengan tusukan kuku panjang di bagian perut, Nagi masih belum putus semangat.
"BERHENTI"
Teriak Nagi walaupun tenggorokannya masih sakit. Jadi dia tak bisa berbicara tanpa berteriak.
Tiba-tiba sebuah tebasan memotong tangan Holdem yang menusuk perut Nagi. Jarvis lalu cepat merangkul Nagi lalu melompat membawanya ke Charlotte.
"Cepat sembuhkan dia"
"Apa yang kau lakukan Jarvis"
Charlotte sangat kaget dengan tindakan Jarvis. Walaupun banyak yang ingin menolong Nagi, namun mereka tidak bisa sebab pertarungan belum selesai.
Jarvis hanya bisa menjawab santai.
__ADS_1
"Pertarungan telah selesai. Nagi menang"
Benar saja apa yang dikatakan oleh Jarvis, tubuh Holdem kini tak bergerak.