Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Hanz dan Sebastian


__ADS_3

[Monolog Hanz]


Namaku Hanz. Aku hanyalah seorang anak yatim-piatu, tunawisma, dan mmhhh Ahh pokoknya miskinlah.


Waktu itu aku hanyalah seorang penyendiri. Tak terasa telah setahun Jarvis di kurung dalam penjarah.


Di saat yang lain sibuk memperkuat Kemampuannya, aku lebih sibuk lagi menyembunyikan kekuatanku.


Saat aku sedang berjalan, perhatianku tertuju ke seorang pemuda yang sedang membuat alat pendeteksi kemampuan. Karena penasaran aku ikut mencobanya.


Saat itulah aku tahu bahwa ia adalah orang kedua yang tahu kemampuan milikku setelah Jarvis disaat aku sendiri tak mampu untuk menjelaskan kemampuan yang kumiliki.


Saat itulah aku mulai memperhatikannya. Namanya Sebastian.


Tahun kedua.


Segala upaya kulakukan agar bisa dekat dengannya namun ternyata ia adalah sosok penyendiri, lebih penyendiri dariku.


Tahun ketiga.


Aku sekarang tahu Kemampuannya yang bahkan orang lain tak tahu. Spesialisasi dalam membuat barang dengan sihir, senjata yang menjanjikan, serta berbagai item khusus lainnya. Hal ini hanya bisa dilakukan jika ia memiliki kemampuan Penempa.


Tak lupa, sekarang kami berteman. Mungkin.


Tahun keempat.


Saat itulah kami akhirnya menjadi sahabat. Segala hal tak ada lagi menjadi rahasia di antara kami. Tahun ini pula Jarvis berhasil meloloskan diri.


Aku mengajaknya ikut dalam kelompokku, namun ia menolak.


Alasannya sederhana, ia tidak suka hirarki yang kuat diperintah oleh yang lemah.


Tahun demi tahun akhirnya tak ada respon, ia tetap konsisten dengan keputusannya. Tak ada yang dapat merubah egonya.


Bahkan setelah bertarung dan mengalahkannya, keputusannya tetap sama.


Harusnya begitu.


Namun yang kulihat sekarang malah sebaliknya.


Di hadapan Paula, tangannya gemetaran, keluar keringat dingin, ditambah mukanya yang memerah.


Tidak salah lagi. Dia pasti sakit.


Mungkin demam.


[Monolog Berakhir]


***


"Sebastian, apa kau punya senjata? Bisakah kau pinjamkan ke Paula. Dia bisa memakai semua senjatanya"


Yang dikatakan oleh Hanz memang benar, Paula mampu untuk menggunakan setiap item yang dibuat, bahkan senjata sekalipun.


Tanpa mengeluh, Sebastian langsung memberikan 5 jenis tongkat berbeda, dengan kemampuan berbeda pula.


Tongkat pertama dari kayu dengan gantung lonceng di ujungnya yang melengkung, Tongkat Teleportasi.


Tongkat kedua berwarna biru bening dengan bentuk kerucut di ujungnya, Tingkat Es.


Tongkat ketiga berwarna merah menyala dengan bentuk yang sama dengan Tongkat Es, itu adalah Tongkat Api.


Tongkat keempat berwarna putih dengan kumpulan bulu burung berwarna putih di ujungnya, Tongkat Healer.


Yang kelima bentuknya biasa saja dan terbuat dari batu meteor, hanya saja beratnya yang sampai berton-ton. Ruyi Jingu Bang.


Ini karena Sebastian adalah seorang penempa, jadi wajar jika ia memiliki berbagai senjata yang cukup bagus.


"Aku tak bisa memegang semuanya, yang kubutuhkan hanya satu untuk menjaga diri"

__ADS_1


Paula yang mengeluh dihadapan Sebastian malah membuat Sebastian frustasi. Ia lalu memberikan cincin.


"Ini adalah cincin penyimpanan, kau bisa menyimpan barang apapun di sini"


Paula yang melihat cincin itu membuat matanya berbinar.


'Sepertinya aku ketularan penyakitnya Jarvis dan Roy. Semua senjata ini tak akan ku kembalikan'


Paula lalu tersenyum menerima pemberian dari Sebastian.


Sebastian lalu mengambil tangan Paula, ia lalu memasukkan cincin itu ke dalam jari manisnya.


"Ini adalah cincin lamaran untukmu"


"Terima kasih"


Namun lagi-lagi itu hanya imajinasi Sebastian.


Cincin itu langsung diambil secara sepihak oleh Paula, sebab Sebastian hanya berdiri diam.


Ia lalu memasukkan cincin itu di jari tengahnya sebab sudah ada cincin teleportasi di jari manisnya.


Ia lalu memperlihatkan jari tengahnya ke hadapan Sebastian.


"Terima kasih"


Sebastian malah tambah bahagia.


Namun Hanz melihatnya sedikit berbeda.


"Bukankah itu artinya F**k Y*u"


"Ssssttt"


Paula langsung mendekatkan jari di bibirnya, sebagai tanda jika Hanz harus diam.


Ia lalu menghampiri Sebastian.


"Sebas, bisakah kau bertarung bersama denganku"


Sebastian langsung meletakkan tangannya di tanah.


"Tentu, namun sebelum itu ada yang ingin kuberi tahu"


Sebastian lalu menunjuk senjata yang dipegang oleh Paula.


"Yang lain bisa kau gunakan jika sudah mampu, namun untuk sekarang kau gunakan itu"


Sebastian menunjuk tongkat Teleportasi yang dipegang oleh Paula.


Mendengar itu Paula lalu menyimpan keempat tongkat yang lain.


Tiba-tiba tanah mulai bergetar. Terlihat sosok Lipan Besi Raksasa keluar dari tanah. Ukuran kepala, badan, serta panjangnya seperti kereta api. Itu adalah hasil tempaan dari Sebastian.


Sebastian lalu naik di kepala monster itu, lalu diikuti oleh Hanz. Monster itu lalu bergerak.


Hera yang melihat ada lipan raksasa mendekatinya, malah jijik.


"Kenapa ada serangga yang datang"


Ia lalu merapatkan kedua tangannya.


"Paus"


Tiba-tiba muncul seekor paus raksasa yang memiliki ukuran yang sangat besar.


Paus itu lalu menerkam badan lipan itu, hampir seluruh tubuh lipan termakan.


Hanz dan Sebastian berhasil meloloskan diri.

__ADS_1


Sebastian lalu melompat menjauh. Seketika muncul sayap besi dari pundak Sebastian, ditambah dengan panah di tangannya.


Sebastian lalu memanah tubuh lipan itu.


DUARRR!!


Ledakan besar menyebabkan kepala paus itu hancur.


Hera hanya tersenyum.


"Jadikan tanah menjadi lautan"


Seketika genangan air dan tanah berubah menjadi hitam.


Semua monster laut tiba-tiba muncul.


Karena panik Hanz melihat ke belakang, ternyata Paula telah berhasil menguasainya.


Paula mengalami kelelahan luar biasa. Napasnya sudah tidak teratur. Tapi ia malah ketawa melihat tongkat di tangannya.


Semua orang yang terseret air ternyata berhasil diselamatkan semua. Ia menteleportasikan semua yang terjebak air ke satu tempat yang aman, tempat anggota Sebastian yang membuat dinding besar.


Ketika Paula hendak jatuh, Eun Ha langsung menangkapnya.


"Kerja bagus"


***


Di daerah lain, terlihat sosok raksasa berlari dengan sangat cepat. Ia terus berlari hingga menghancurkan segala apapun yang dilaluinya.


Tibalah ia di daerah Padang pasir, perbatasan Mesir.


***


Kembali ke pertarungan Hanz dan Sebastian.


Karena merasa lega, Hanz langsung menyerang tanpa khawatir.


Seluruh tubuhnya kini berubah menjadi hitam, sosok manusia sekeras meteor.


Hanz lalu meninju Hera namun ditangkap oleh sebuah tentakel, Hanz lalu di banting ke tanah.


Tiba-tiba dari atas langit muncul sebuah meteor yang langsung menyerang monster yang menjerat Hanz. Tubuh monster itu langsung hancur oleh meteor.


Di sisi lain, Sebastian menyiapkan lipan kedua. Sebuah lipan besi raksasa keluar dari tanah.


Lipan itu lalu terbang ke atas langit. Seketika tubuhnya terbelah banyak. Itu bukan karena telah diserang namun karena memisahkan diri.


Dari bagian itu membentuk bola dengan jumlah ratusan. Bola besi itu kemudian menjatuhi semua monster yang berada di bawah.


Seketika ledakan beruntun skala besar tercipta. Banyak monster yang mati berserakan.


Hanz lalu berusaha mendekati Hera, namun dengan keahlian yang dimiliki oleh Hera, ia juga akhirnya mendekat.


Benturan tombak terkutuk dengan tubuh terkeras tak terhindarkan. Suara dentingan senjata membahana di seluruh tempat.


Hera yang merasa jengkel lalu membuat air laut berbentuk jaring laba-laba. Jaring itu lalu menangkap Hanz.


Dengan sekuat tenaga Hanz berusaha menyelamatkan diri.


"Percuma saja, air yang dikendalikan oleh senjata terkutuk akan merubah esensinya. Dari sifat membasahi menjadi melukai"


Tubuh Jarvis tiba-tiba terluka oleh jaring air yang dibuat oleh Hera. Namun dengan sekuat tenaga Hanz akhirnya bisa menghancurkan jeratan air.


Tak membiarkan kesempatan, Sebastian langsung memanah Hera. Namun Hera dapat menahannya dengan trisula tanpa melirik ke Sebastian.


"Hey gadis terkutuk, ini bukan pertarungan satu lawan satu"


Hera lalu melirik ke Sebastian dengan niat membunuh.

__ADS_1


__ADS_2