Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Jangan Lupa Bahagia


__ADS_3

Sebulan telah berlalu sejak insiden pertarungan melawan Anubis.


Kini setiap anggota telah menjalani kehidupan mereka layaknya manusia normal.


Hanz kini menjadi Porter. Karena ia tidak memiliki keluarga, ia mencari pekerjaan yang bisa membuatnya makan 3 kali sehari. Sebagai Porter, ia berusaha menyembunyikan kekuatannya.


Kamui kembali ke keluarganya. Siapa yang mengira ternyata ia adalah anak seorang mafia. Walaupun baru sebulan, ia telah mendapatkan posisi yang menjanjikan dalam mafia tersebut.


Eun Ha yang merupakan anak seorang ketua guild, mau tak mau ia harus menjadi pahlawan dan bekerja di tempat itu.


Charlotte dan Nagi ternyata tinggal di satu desa. Mereka sempat kaget jika alamat mereka cukup dekat, bahkan dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Charlotte berusaha melanjutkan klinik orang tuanya. Sedangkan Nagi menjadi petani gandum.


Dengan kesempatan yang kembali mereka dapatkan itu membuat mereka bahagia. Namun tidak untuk Jarvis. Di dalam Kafe, ia terlihat marah-marah.


10 menit sebelumnya.


Jarvis yang sedari tadi bertopang dagu memikirkan sesuatu, Roy lalu menghampirinya. Ia lalu menarik lengan topangan dagu Jarvis hingga membuat dagunya terbentur ke meja.


"Brengsek kau, apa yang kau lakukan?"


"Harusnya aku yang berkata begitu, apa kau tidak kasihan melihat Paula melayani pelanggan sendirian"


"Kalau kau kasihan silahkan bantu, dasar tukang tumpang"


"Aku punya prinsip. Melihat orang lain bekerja adalah pekerjaan terbaik"


Jarvis yang jengkel dengan perkataan Roy malah kembali menopang dagunya. Ia kembali berpikir.


"Hey Roy, mengapa julukan kita tidak pernah diberitakan"


"Julukan apa?"


"Joker merah dan Joker hitam. Kan keren jika disebut di televisi atau surat kabar"


Roy lalu menunjukkan perilaku aneh.


"Pasti kau tahu sesuatu kan?"


Roy lalu melirik ke arah lain.


"Tidak"


"Betul?" Jarvis mulai curiga.


Tiba-tiba Paula datang sambil membawa smartphone yang sedang memutar sebuah video.


"Kalian sekarang populer"


Jarvis lalu menonton video itu.


Dalam video itu hanya ada wawancara dengan pahlawan.


Pahlawan itu adalah seorang wanita dengan rambut putih, mukanya cantik, serta tubuh yang membuat para lelaki langsung luluh. Sekali lihat langsung tahu bahwa wanita itu keturunan orang Asia.


"Sepertinya aku pernah melihat wanita ini" kata Jarvis.


Roy yang mendengarnya langsung cekikikan. Walaupun Jarvis tak sadar jika ia sedang diketawai.


Pada wawancara awal tidak ada yang spesial, namun seketika muka Jarvis langsung mengeluarkan urat kepala, tanda bahwa ia marah.


Dalam video itu terlihat seorang reporter bertanya.


"Bisa tolong diulangi maksud anda"


"Sudah kubilang mereka ini bodoh. Apa maksudnya memberi tahu kita bahwa mereka adalah Joker merah dan Joker hitam. Bukankah ini seperti memberi tahu bahwa kita harus memanggilnya seperti itu. Maka dari itu, cukup panggil mereka dengan sebutan seperti biasanya, Penebas dan Pemakan" kata wanita itu.


"Menurut anda, apakah nama itu terdengar bagus"


Seketika wanita itu langsung ketawa terbahak-bahak.


"Maaf, aku sepertinya tak bisa menahan diri" kata wanita itu.

__ADS_1


"Apakah ada yang lucu?"


"Bukan ada tapi sangat. Julukan mereka itu norak, udik, jelek, memalukan, sampah masyarakat, tidak konsisten, banyak menghayal, tidak karuan, bikin mual, ngakak, membosankan, merusak telinga, dan yang terakhir, seorang anak kecil bahkan dapat membuat nama yang ratusan juta kali lebih bagus daripada ini" kata wanita itu.


Gigi Jarvis langsung bergesekan tak karuan. Jarvis akhirnya marah-marah. Segala umpatan ia keluarkan.


"Siapa ini? Apa maksudnya ini?"


"Aku akan jawab jika kau memberikan bonus" Paula lalu datang.


"Iya nanti saat gajian" kata Jarvis terpaksa.


"Setuju" kata Paula yang menjabat tangan Jarvis.


Paula lalu menambahkan.


"Namanya Eun Jie. Dia adalah satu-satunya pahlawan ranking A di kota ini. Dia diberi julukan Ratu Kota T"


"Kenapa julukannya keren?"


Jarvis seakan mengeluh dengan julukan wanita itu yang lebih bagus darinya.


"Wanita ini adalah pahlawan yang bertugas untuk melindungi kota T. Untung kalian belum bertemu dengannya. Dia bisa menyulitkan kalian"


"Terus kemana ia selama ini. Pahlawan apa itu?"


"Katanya ia sedang mencari informasi dari suatu organisasi"


Muka Jarvis lalu serius. Ini bukan masalah sepele lagi.


"Kita harus menghentikannya. Dengan kekuatan seperti itu, ia bisa mati"


Jarvis yakin jika yang diselidiki wanita itu adalah organisasi Unicorn.


Roy lalu menghampiri Jarvis.


"Apa kau tidak mengenalinya?"


"Dia" kata Roy sambil menunjuk gadis yang berada di dalam video.


Jarvis hanya geleng-geleng.


"Masa kau tak ingat"


Jarvis masih kebingungan. Ia benar-benar tak mengingat wanita itu. Roy kembali tertawa cekikikan.


"Dia adalah wanita yang menolakmu"


"Kapan? Dimana?"


"Disini, sekitar setengah tahun yang lalu"


Jarvis langsung kaget. Wajahnya langsung memerah karena malu. Pantas saja mukanya tak asing.


Paula yang mendengar malah ikut ketawa.


"Cinta bertepuk sebelah tangan"


Mendengar itu Jarvis merasa sangat malu.


"Tidak usah di bahas"


Paula dan Roy terus saja tertawa.


Tiba-tiba ada seorang pelanggan masuk ke dalam Kafe. Pria paruh baya yang mengenakan pakaian khusus. Dari penampilannya sudah ketahuan jika ia adalah pahlawan. Dia adalah Mu Won.


"Pak Mu Won, ada apa?" Roy lalu menyapanya.


"Aku ingin memeriksa kesehatan Jarvis"


"Sekarang Jarvis sedang sakit"

__ADS_1


Paula lalu memberi tahukan keadaan Jarvis, tapi anehnya ia malah ketawa. Berbeda dengan Paula, Mu Won menjadi panik.


"Sakit apa?" kata Mu Won.


"Sakit hati karena luka lama yang bersemi kembali"


Jarvis yang mendengar itu menjadi sangat malu. Terlihat jelas jika muka dan telinganya yang memerah.


"Aku kira kenapa"


"Abaikan mereka"


Jarvis seakan sudah menyerah dengan ejekan dari temannya.


"Baiklah. Kalau begitu bisa kita ke kamarmu?" Kata Mu Won.


"Aku bukan homo"


"Aku hanya ingin memeriksa kesehatanmu. Sulit untuk memeriksa jika kau tidak dalam posisi berbaring" Pak Mu Won mulai jengkel.


Akhirnya Jarvis pergi ke kamarnya di lantai dua yang diikuti oleh pria itu. Ia lalu berbaring.


"Luruskan badanmu dan rileks"


Pak Mu Won langsung melakukan tugasnya. Beberapa menit kemudian akhirnya ia telah selesai memeriksa.


"Sekarang sudah jelas, kau sudah sembuh total. Sekarang kau boleh menggunakan kekuatanmu"


Jarvis yang mendengar kata kekuatan mulai waspada. Ia lalu bangkit dari tidurnya dan mengambil posisi berdiri siap bertarung.


"Apa kau tahu aku?"


"Iya. Mulai dari budak gladiator, menjadi buronan yang dicari seluruh pahlawan, hingga saat kau melawan petinggi monster"


Mata Jarvis langsung memerah, tanda bahwa ia siap menggunakan kekuatan manipulasi darah.


"Tak usah khawatir, rahasia kalian aman. Hanya aku, Eun Ha serta ketua guild yang tahu rahasiamu"


Jarvis kembali tenang. Ia lalu duduk di depan pria itu.


"Terima kasih"


"Sama-sama. Tapi aku berharap kau bisa jadi pahlawan. Kekuatanmu sangat dibutuhkan"


"Aku menolak"


"Kenapa?"


"Aku benci pahlawan"


"Benci?"


"Bahkan aku juga sulit menjelaskannya. Hanya Tuhan yang tahu"


Pak Mu Won hanya bisa diam.


Di lantai pertama, Paula dan Roy terus saja tertawa mengejek Jarvis.


"Terus, ketika Jarvis memberikan bunga ke wanita yang duduk tepat dibangku itu"


Roy menunjuk bangku di sisi jendela. Ia juga memperagakan posisi Jarvis yang bertekuk lutut sambil menyerahkan bunga.


"Wanita itu berkata 'Siapa kau?' Bahkan wanita itu tak mengenalnya"


Roy dan Paula langsung tertawa terbahak-bahak.


Seketika muncul Pak Mu Won dari tangga. Ia lalu meminta pamit. Saat pak Mu Won tidak ada, mereka kembali menertawakan Jarvis.


Jarvis kini berbaring di tempat tidurnya. Digunakannya bantal untuk menutupi telinganya agar suara tawa tak lagi kedengaran. Ia sangat malu mengingat kejadian saat mengungkapkan perasaannya. Bahkan tawa temannya membuat ia tak ingin lagi bertemu mereka berdua.


"Dasar teman biadab" kata Jarvis.

__ADS_1


Paula dan Roy masih terus tertawa terbahak-bahak mengejek Jarvis.


__ADS_2