Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Dua Menit Terlama


__ADS_3

Jarvis lalu melempar orc itu dengan tombaknya. Kepala orc itu langsung tembus dengan mata tombak, ia lalu jatuh bersimbah darah.


"Mustahil, kukira kau tak memiliki kemampuan layaknya pahlawan?" Jacob takjub dengan kemampuan Jarvis.


"Memang benar, terus kenapa?" Jarvis membalasnya dengan percaya diri.


"Ahh tidak"


Secuil rasa takut kepada Jarvis muncul di benak Jacob.


'Mungkun inilah sosok yang kami cari'


Jacob terus memperhatikan Jarvis yang ternyata pergi mengambil tombaknya lagi.


Ketika dia menarik tombaknya di kepala orc itu, ia lalu berteriak.


"Lari!"


Jarvis memperingati dua orang di samping kirinya.


Peringatan Jarvis ternyata sudah terlambat. Dua calon guru di hadapan Jarvis terkena jeratan tali, mereka lalu terlilit ke atas.


Jarvis lalu berbalik ke samping kanannya. Di hadapannya kini berdatangan orc dengan jumlah sekitar delapan.


Jacob yang melihat keadaan ini memutuskan untuk membantu. Ia lalu melompat berdampingan dengan Jarvis.


"Apa kau bisa menahan mereka semua?" tanya Jarvis.


"Aku ragu jika menghadapi mereka"


"Satu menit, tidak, dua menit. Aku bisa menahannya seorang diri selama dua menit. Selamatkan mereka dan kaburlah"


Setelah berkata begitu Jarvis lalu melompat menerjang kerumunan orc.


Ditusukkannya tombak itu ke kepala salah satu monster itu, tapi temannya berusaha memukuli kepala Jarvis.


Tombak Jarvis yang hendak mengenai kepala monster ia tarik kembali, kemudian menjadikan itu sebagai perisai untuk menahan gala besar dari orc yang memukul kepalanya.


Itulah yang dilihat oleh Jacob dengan kedua matanya.


Jarvis ternyata tidak bergerak dari tempatnya. Terlihat ia membangkitkan mata merahnya.


Teknik ilusi diberikan kepada semua orang yang ada di sekitarnya.


Mereka melihat Jarvis bertarung tanpa kekuatan.


Sebenarnya Jarvis hanya melihat monster itu dengan tatapan ketakutan kepadanya.


Yang menjadi masalah Jarvis adalah sosok yang berada di belakang monster itu.


Jarvis sengaja mengacaukan indra setiap orang sehingga mereka tidak melihat monster yang dilihat Jarvis.


Monster itu mirip seperti orc, namun memiliki badan yang lebih besar dan berwarna merah. Tingginya hampir 10 meter.


Terlihat Jacob telah selesai melepaskan jeratan tali yang melilit tubuh dua orang yang menjadi calon guru. Ia lalu membawa lari kedua orang itu.


Jarvis lalu bersiap bertarung.

__ADS_1


"Ayo kita uji tombak ini" kata Jarvis.


Jarvis lalu menyerang monster itu, tapi didahului karena Jarvis tak mengira, dengan tubuh sebesar itu dapat bergerak sangat cepat.


Jarvis lalu melepaskan kekuatan tebasannya.


Hantaman tombak berbalut teknik tebasan berhasil mengenai gala sang monster. Gala itu langsung terpotong. Padahal gala itu terbuat dari bahan logam.


"Kekuatan yang dihasilkan lebih kuat dari dua pedang itu"


Maksud Jarvis adalah pedang yang digunakannya melawan Orgasheel. Padahal ia memiliki senjata yang lebih kuat dari dua pedang itu.


Jarvis lalu menyerang kepala monster itu, tapi monster itu dapat menghindar dengan cepat.


Hantaman kosong dari teknik tombak membuat beberapa pohon tumbang akibat terpotong.


Tiba-tiba tanah bergejolak dari kejauhan. Retakan tanah semakin lama semakin mendekat. Dari tanah itu terlihat sebuah pedang besar dengan ukuran yang lebih panjang dan lebih lebar dari tubuh monster itu.


***


Diwaktu yang sama.


Di dalam Guild Squadron, terjadi kepanikan.


"Tak kusangka pedang itu akan muncul" kata Seo Jun yang sedang memijat kepalanya.


"Pedang suci yang memiliki dua fungsi dalam satu bentuk, pedang dan perisai, Rebellion" kata Mu Won.


Tiba-tiba seorang wanita berambut panjang putih masuk ke dalam.


"Izinkan aku yang pergi" kata wanita itu.


Ia adalah orang yang menempati posisi sebagai wanita ranking A di kota T. Sekaligus sebagai wanita yang di sukai oleh Jarvis.


Tak disangka ia adalah kakak dari Eun Ha.


"Ayah, aku akan pergi" kata Park Eun Jie.


"Silahkan"


Park Eun Jie lalu meninggalkan ruangan tersebut. Ketika di koridor ruangan, ia berjumpa dengan Eun Ha.


Eun Ha lalu menyapa kakaknya. Tapi sebelum ia memanggilnya, kakaknya malah melewatinya. Rasa kecut di wajah Eun Ha tak bisa disembunyikan.


***


Orc raksasa itu mengangkat pedangnya, seketika tanah juga ikut bergejolak.


Rebellion, pedang suci berwarna hitam pekat. Sepintas mirip seperti besi berkarat, namun siapa yang mengira itu adalah pedang yang diincar oleh beberapa guild sekarang.


Jarvis mendapatkan firasat buruk, ia lalu menjauh.


"Terlalu berbahaya jika menggunakan pedang Primera. Bekas pertarungan akan terlihat."


Ujung tombak diarahkan diagonal ke tanah. Kaki kanan di tekuk, kaki kiri diluruskan dengan posisi miring.


Jarvis lalu mengambil posisi kuda-kuda bersiap menghadapi monster itu dengan tombaknya.

__ADS_1


"Untuk membunuh Kepala sekolah brengsek itu, aku harus bisa menyembunyikan jejak pertarungan seminimal mungkin"


Jarvis lalu menyerang, pedang sang monster dijadikan perisai.


"Bahkan tak tergores"


Pedang yang digunakan oleh monster itu sangat kuat, bahkan dengan menggabungkan teknik tombak serta kemampuan tebasannya, masihlah belum bisa menahan serangan tersebut.


"Gerhana Petir"


Seketika tubuh Jarvis mengeluarkan kekuatan petir.


"Jadi begitu, kekuatan ini sekarang bisa ku kendalikan setelah mata ini sudah ku kuasai"


Jarvis lalu melompat menerjang tubuh monster itu.


Pertama kaki, Jarvis menghantam engsel kaki monster itu tapi ditahan,Jarvis melompat ke sisi pohon kemudian menerjang tangan monster itu tapi tetap ditahan, serangan berikutnya ke kepala tapi masih dapat ditahan.


Jarvis yang jengkel sebab serangannya terus sja berhasil di tahan, mulai serius. Kilatan petir terus menyambar dari segala arah.


Tiba-tiba lengan monster itu terluka, tapi bukan luka dari Jarvis.


'Bukan pemegangnya yang hebat, melainkan pedang itu yang mampu menangkal setiap seranganku. Karena tubuhnya tak mampu menyamai kecepatanku, tubuhnya terluka dari beban yang diberikan pedang itu'


Jarvis lalu mempercepat serangannya. Ia berusaha menyerang tubuh monster itu tapi selalu saja ditahan. Namun bukan itu yang diincar Jarvis.


Monster itu malah menerima beban yang berat dari pedangnya. Seketika tangan kanannya patah dari tulangnya.


Jarvis lalu menyerang tangan yang patah itu, namun masih bisa dihalau.


Jarvis menghentikan serangannya.


"Sampai sejauh mana kau menahanku"


Tiba-tiba monster itu merobek tangan kanannya hingga putus. Ia lalu memegang pedang itu dengan tangan kirinya.


Diangkatnya pedang itu, seketika Jarvis teringat sesuatu. Pedang itu mirip dengan milik gurunya.


Ketika monster itu menebas, Jarvis dapat menghindar. Tapi ini membuatnya frustasi.


'Kekuatan ini mirip dengan kekuatan guru'


Jarvis lalu berusaha melarikan diri.


'Dua menit telah lama berlalu. Aku harus kabur, jika terus dibiarkan. Pedang itu bisa mencederaiku'


Tak perlu membuang waktu, Jarvis berusaha untuk lari. Jika ia terus meladeninya, ia takut jika seseorang melihatnya bertarung. Misinya lebih penting daripada pertarungannya.


Tiba-tiba pedang milik monster itu bercahaya. Jarvis sangat ingat jelas, kekuatan itu adalah teknik tebasan pedang suci.


'Mustahil, itu pedang suci'


Monster yang memiliki pedang suci tak mampu menggunakannya semaksimal mungkin, namun ia dapat mengeluarkan kekuatan yang cukup besar.


Serangan yang membuat tanah terbelah dua. Jarvis masih dapat menghindar.


Serangan kedua dilancarkan ke Jarvis yang mencoba melarikan diri. Jarvis masih saja menghindar dengan aura petirnya, namun serangan tersebut membuat sebuah kawah panjang.

__ADS_1


Monster itu lalu menebaskan serangan ketiga tapi tangannya langsung hancur, serangan ketiga gagal akibat tak mampu menahan kekuatan pedang tersebut.


Jarvis yang merasa aman langsung menuju ke gerbang monster yang dibuat oleh pahlawan.


__ADS_2