
Jarvis lalu menghampiri Orgasheel sambil memperlihatkan belati lipat di tangannya. Ukuran bilahnya memang lebih panjang ketimbang bilah kerambit dan belati pada kusari gama miliknya.
"Senjata ke-lima, ikan Fangtooth memiliki 5 taring bukan empat. Juga ini adalah senjata dengan taring terpanjang"
Orgasheel yang marah lantas ingin menembakkan ledakannya lagi, tetapi tangan kirinya akhirnya dipotong oleh Jarvis sebelum meledak.
"Kudengar kau menyebutnya manipulasi darah, kau salah. Teknik itu digunakan oleh para vampir sedangkan aku manusia, tentu saja namanya berbeda"
Jarvis lalu pergi meninggalkan Orgasheel, ia lalu menghentakkan belati yang dipegangnya.
"Perluasan Tebasan, itu nama tekniknya"
Seketika itu juga leher Orgasheel tertebas tanpa mampu berkata-kata. Jarvis lalu pergi menghampiri Roy. Dari kejauhan ia melihat perubahan Roy yang luar biasa.
'Transformasi baru, jelas sekali ia menerima serangan dari Orgasheel tapi tak membuatnya bergeming. Bahkan ia mampu menahan gedung untuk tidak jatuh seorang diri.'
Batin Jarvis tak bisa berbohong, ia tampak takjub dengan kemampuan Roy, kekuatan serta ketahanannya di luar nalar. Mungkin saja jika Roy yang bertarung dengan Orgasheel dari awal, pertarungan ini mungkin lebih cepat selesai.
"Roy sudah cukup, para pahlawan berhasil melarikan diri"
Ternyata Paula telah sampai di tempat Roy, ia mengintruksikan untuk melepaskan genggamannya. Kini gedung jatuh tak menimpa siapa pun. Jarvis kemudian menghampiri mereka.
"Akhirnya bisa tidur nyenyak"
Paula merasa masalahnya akhirnya selesai namun Jarvis mencegatnya.
"Masalah sebenarnya baru akan dimulai"
"Ada apa?" Tanya Paula.
"Kami akan meninggalkan jejak"
"Jejak?"
"Iya, jejak"
Mendengar ini, Roy mulai paham maksud Jarvis.
"Ohhh, janjimu kemarin"
"Yap benar sekali"
Jarvis lalu mengeluarkan dua buah kartu dari sakunya. Ditaruhnya sebuah kartu ke mayat Orgasheel. Kartu itu berwarna hitam dengan gambar badut memegang sebuah sabit dewa kematian bertuliskan Jack the Ripper.
"Kartu pertama adalah Joker hitam, namanya Jack the Ripper. Memiliki huruf awalan yang sama dengan namaku"
Jarvis lalu memperlihatkan kartu kedua, kartu itu berwarna merah dengan gambar seorang badut yang memakai mahkota bertuliskan Eater Monarch.
"Kartu kedua adalah Joker merah, namanya Eater Monarch. Eater adalah kemampuan Roy sedangkan Monarch itu artinya raja, tetapi dalam bahasa Perancis terjemahan dari Royal atau dalam bahasa tidak bakunya yaitu Roy"
Mendengar itu Roy mengangkat kedua jempolnya ke arah Jarvis sambil tersenyum lebar, Jarvis hanya bisa tersenyum balik. Paula hanya melihat mereka dengan tingkah aneh, bagaimana tidak, mereka baru saja bertarung mempertaruhkan nyawa malah membahas masalah yang dianggapnya tidak penting. Namun ia tidak banyak membantah karena begitulah sifat temannya.
Jarvis lalu menambahkan penjelasannya sambil memberikan kartu Joker merah ke Roy.
"Untukmu sendiri, kau yang bertugas memberikan ke orang lain. Hari ini kedua kartu harus terlihat oleh publik."
Paula yang mendengarnya malah berusaha untuk menutupi telinganya. Ia sangat malu dengan apa yang dibahas oleh Jarvis dan Roy yang terlalu kekanak-kanakan. Jarvis lalu berbicara dengan serius.
"Sebenarnya aku sudah tidak kuat lagi. Tenagaku sudah habis, tulang rusukku ada yang patah bahkan sampai menusuk organ dalam. Aku tidak tahu apa yang tertusuk tapi rasanya sangat parah, sebab darah tidak bisa terus berhenti keluar dari mulutku" kata Jarvis.
"Ayo kita ke rumah sakit!" Paula mengajak Jarvis untuk pergi berobat segera, namun di bantah oleh Roy.
__ADS_1
"Jangan, itu hanya akan memperkeruh keadaan. Identitas kami akan terbongkar"
"Apakah identitas perlu sekarang, Jarvis bisa mati kalau begini terus"
"Paula, yang diucapkan Roy benar, kami tidak boleh mengungkapkan identitas. Orgasheel adalah satu dari banyak orang yang mengincar kami. Mereka dari Unicorn, organisasi paling berbahaya di dunia. Identitas mereka sulit diketahui. Bahkan aku yakin, jika Orgasheel adalah seorang yang dibuang dari organisasi karena kemampuannya sudah tidak memenuhi standar lagi, jika melihat tindakannya yang terang-terangan membuka baju untuk memperlihatkan tato di belakangnya. "
"Lantas mengapa mereka mengejar kalian?"
Mendengar itu, Roy juga mulai menjelaskan akibat melihat Jarvis yang kelelahan bahkan saat berbicara.
"Maaf, untuk masalah itu, kami tidak bisa mengatakannya. Tapi akan kuberi tahu gambarannya. Kami tidak melakukan sesuatu yang jahat atau berbahaya, namun jika pemerintah tahu apa yang kami miliki, seluruh pahlawan dan tentara akan di kerhakan ke sini."
"Sampai sejauh itu?"
"Iya, memang terbilang mustahil atau seperti kebohongan tapi memang benar. Alasan kami untuk tidak melaporkan hal ini ke para pahlawan adalah karena beberapa anggota dari organisasi Unicorn sudah menyusup menjadi pahlawan. Identitas mereka masih belum diketahui"
"Susah juga yah, sekarang bagaimana?"
Jarvis lalu mengutarakan niatnya.
"Aku akan pergi ke tempat temanku, butuh waktu beberapa hari, tapi aku akan pulang jika sudah sembuh" kata Jarvis.
"Baiklah kalau begitu, kapan kau pergi?" kata Roy.
"Sekarang"
Setelah itu keadaan menjadi sunyi. Untuk beberapa alasan mereka tidak bisa memulai percakapan, melihat ini Jarvis mengalihkan topik. Ia lalu menatap Paula.
"Bagaimana sekarang, kau akan dianggap sebagai kriminal jika terus bersama kami"
"Biar aku yang urus" kata Roy.
"Hey Paula, apakah kau mempercayai ku?" lanjut Roy.
Dari kejauhan, pahlawan yang melihat itu menjadi heran.
"Apa yang terjadi?"
"Jangan tanya, aku juga tidak tahu"
Paula merasa aneh melihat Roy yang tiba-tiba menyerangnya. Ia kemudian mendarat di tanah dengan kemampuannya. Roy lalu menyerang lagi, namun Paula berhasil menahannya. Tak tinggal diam Paula lalu menyerang balik tapi berhasil di tahan dengan hanya menggunakan satu tangan. Roy lalu menyerang Paula dengan tendangan namun Paula berhasil menghindar.
Dari pertempuran yang kritis itu, ternyata Paula menyadari maksud dari tindakan Roy. Ia lalu menyerang secara membabi buta, namun Roy masih dapat menahannya. Roy lalu melakukan serangan tipuan, ia hendak menendang kaki Paula tapi Paula berhasil melompat namun ternyata Roy berhasil menangkap kaki Paula yang sudah direncanakannya dari tadi. Seketika itu juga Paula dilemparkan ke arah para pahlawan.
Pahlawan yang melihat tubuh Paula terbang ke arah mereka berhasil menangkapnya dengan tiga orang. Dalam sekejap semua pahlawan kini menyerang Roy secara bersamaan namun Roy menggetarkan udara di sekitarnya. Hal ini membuat semua pahlawan menjadi pesimis untuk maju.
Melihat pahlawan yang mulai kehilangan semangat bertarungnya, Roy kemudian berbalik lalu mengambil kartu yang diberikan oleh Jarvis. Ia lalu membuang kartu tersebut ke arah para pahlawan, ia pun langsung berlari hingga tak terlihat lagi.
Di atas gedung tempat Jarvis beristirahat, Jarvis kini tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. Ia lalu membuka gerbang monster kemudian memasukinya.
Sedangkan Paula yang sulit untuk berjalan kini digotong oleh para pahlawan yang ada di situ, namun Paula merasa tidak perlu. Melihat hal itu para pahlawan hanya bisa melihatnya pergi dengan sempoyongan.
***
3 jam berlalu setelah pertarungan Jarvis dan Orgasheel.
Di Sebuah ruangan medis, nampak seorang wanita yang membuka pintu untuk masuk. Ia memiliki penampilan seperti dokter pada umumnya ditambah kacamata serta warna rambutnya yang merah mencirikan bahwa ia adalah seorang yang tegas.
Di depannya kini terbaring para pasien. Diantara banyaknya pasien, ada persamaan yang mendasar dari mereka semua. Tubuh mereka penuh luka seperti bekas dari pertarungan. Sesaat kemudian seseorang menghampirinya.
"Nona Charlotte, pasien mana yang akan anda sembuhkan terlebih dahulu?"
__ADS_1
"Sepertinya lelaki tersebut"
Charlotte menunjuk salah seorang pemuda berambut panjang yang dari tadi selalu muntah darah. Sesaat kemudian ia merasa ada yang janggal.
"Apakah tadi ada petarung yang menggunakan kemampuan api atau sejenisnya?"
"Tidak ada nona"
Charlotte kemudian berpikir sejenak.
'Luka di tubuhnya memang cukup parah, tetapi yang aneh adalah luka bakar di beberapa bagian tubuhnya mengingat tidak ada orang yang bertarung tadi menggunakan kekuatan api' batin Charlotte yang penasaran.
Dihampirinya lelaki tersebut, namun sesaat sebelum ia melihat rupanya lelaki tersebut menolak untuk dirawat pertama.
"Aku nanti saja, dahulukan yang lain"
Charlotte langsung terbelalak, ia serasa mengetahui sesuatu. Namun ia tetap bertindak profesional dengan menyembuhkan pasien yang lain. Dikeluarkannya kemampuannya, sebuah suhu ruangan kini semakin tinggi. Setiap pasien yang dipegangnya perlahan namun pasti tubuhnya mulai membaik.
Tiba saatnya untuk menyembuhkan pemuda itu, Charlotte lalu mendekat untuk menyembuhkan, saat itulah terdengar suara yang sangat familiar di telinganya.
"Kemampuanmu semakin hebat saja"
Charlotte tidak merespon perkataan pemuda itu. Ia langsung memegang pundak pemuda itu dan mengalirkan kekuatan penyembuhan. Untuk beberapa alasan, ternyata ada orang yang risih dengan cara bicara pemuda itu.
"Siapa kau? Jangan sok akrab dengan ketua kami"
"Dia temanku, namanya Jarvis"
Bukannya pemuda itu yang menjawab melainkan Charlotte langsung. Sontak hal ini membuat yang lain kebingungan. Ditambah argumen bahwa ia adalah teman Charlotte. Charlotte terus mengobati Jarvis, kini luka tulang rusuk, organ dalam, pendarahan, serta luka yang diterima Jarvis telah sembuh.
Kini Charlotte bertingkah aneh, Jarvis yang sudah sembuh terus saja dialirkan kekuatan penyembuh. Pundak Jarvis kemudian basah, Jarvis lalu berbalik melihat apa yang terjadi. Ternyata Charlotte telah menangis, air matanya tak kuasa dibendungnya. Jarvis lalu menyapanya, walaupun sudah terlambat.
"Lama tak bertemu, gadis cengeng"
Charlotte tak berbicara apa-apa, ia lalu memeluk Jarvis dengan erat.
"Aduh, ahhhgh, bisakah kau melepaskanku? Pelukanmu terlalu kuat"
Charlotte mengabaikan perkataan Jarvis, ia terus memeluknya. Para pasien lainnya dan juga asisten Charlotte tampak kebingungan dengan apa yang dilihatnya. Setelah merasa cukup puas memeluk Jarvis, ia lalu melepaskan pelukannya.
"Akhirnya kau melepaskanku"
"Memangnya kenapa?"
"Kau hampir saja membunuhku"
"Bagaimana bisa?"
"Seharusnya pelukan itu lembut, tapi aku merasa tubuhku seperti diremas"
Charlotte lalu meninju kepala Jarvis.
"Ahhgggh, sakit bodoh, kalau kepalaku kenapa-kenapa, kau mau tanggung jawab?"
"Yah tinggal disembuhkan lagi kan"
"Dasar cewek bar-bar"
Mendengar itu Charlotte bukannya marah, ia malah Tersenyum sambil menyapu air matanya dengan kedua tangannya. Setelah merasa cukup, ia pun berkata.
"Selamat datang"
__ADS_1
"Aku pulang"