
Jarvis dan yang lainnya akhirnya beristirahat di atas gunung, mereka akhirnya memperkenalkan dirinya masing-masing. Namun yang mencengangkan adalah Kamui yang sedari awal ternyata memiliki kemampuan layaknya manusia evolusi.
"Aku Kamui Murakashi, kalau berbicara tentang kemampuan, mungkin ini bisa sepertinya"
Kamui lalu memajukan tangannya, tangannya kemudian mengeluarkan hawa panas.
"Kata ayahku, aku memiliki kemampuan Rubah Api Berekor Sembilan, jadi aku bisa menciptakan hawa panas dan juga tenaga yang besar. Walaupun sebenarnya tingkat lanjutan dari kemampuan ini adalah evolusi rubah berselimut api"
Jarvis lalu bertanya.
"Apakah kau sudah menguasai kemampuanmu"
"Kata ayahku, ini baru kekuatan awal, bahkan aku tak bisa memunculkan satu ekor dari sembilan ekor"
Hanz yang penasaran juga bertanya.
"Apakah kau bisa berkelahi"
"Tidak, bahkan aku sering di-bully di sekolah"
Mendengar itu, Jarvis dan Hanz tertawa lebar seperti iblis. Kamui yang melihatnya merasa khawatir, ia lalu mengambil jarak namun terlanjur dipengang lengannya oleh Jarvis.
"Mau pergi kemana" Kata Jarvis dengan senyum lebarnya.
Jelas saja Kamui akhirnya dipukuli oleh Hanz dan Jarvis. Mukanya akhirnya bonyok bahkan ada darah keluar dari hidungnya.
"Kau memiliki kemampuan ini tapi kau tak bilang sejak awal"
"Tidak ada yang bertanya"
"Padahal kalau kau bilang dari awal kita tidak perlu makan makanan mentah"
Kamui menangis karena tubuhnya kini penuh luka, ia lalu menyembuhkannya. Beberapa saat kemudian lukanya membaik namun tidak sembuh sepenuhnya.
"Bahkan ia bisa menyembuhkan diri"
Hanz kaget melihat kemampuan Kamui, untuk beberapa alasan ia merasa bersalah.
"Apa kami terlalu berlebihan?"
"Tidak apa-apa, bahkan ini masih belum bisa dibandingkan saat aku dibully. Juga kalian adalah teman pertamaku"
Jarvis dan Hanz termenung sejenak, saat itulah Hanz kemudian mencairkan suasana dengan caranya sendiri.
Sebuah pukulan dari Hanz tepat mengenai hidung Jarvis hingga berdarah.
"Apa yang kau lakukan?"
"Tidak adil jika seseorang yang terluka, satu terluka maka semuanya kena"
Jarvis langsung mengambil batu lalu menggunakan batu itu untuk memukul kepala Hanz, Hanz akhirnya menerima luka di kepalanya.
"Sial, kenapa pakai batu, rasanya sakit tahu"
"Tinjuku tidak sekuat kau, jadi aku pakai batu"
Hanz hanya bisa mengeluh, Kamui hanya bisa tertawa melihat tingkah konyol mereka, Jarvis dan Hanz juga ikut tertawa. Jarvis lalu bertanya kepada Kamui.
"Apakah kau bisa menyembuhkan kami?"
"Tidak bisa"
Ternyata kemampuan penyembuhan hanya berlaku untuk dirinya sendiri, Jarvis hanya bisa terdiam. Hanz juga yang merasa bisa disembuhkan kini pupus sudah harapannya.
Sementara itu anak-anak yang lain hanya bisa melihat mereka dengan jengkel, bisa-bisanya mereka tertawa dengan situasi yang seperti neraka ini.
__ADS_1
"Kurasa sudah waktunya kita mulai memungut batu"
Hanz kemudian mengambil inisiatif untuk cepat bergegas melakukan perintah dari monster.
Jarvis dan yang lainnya akhirnya memulai pekerjaannya, mereka kemudian mencari batu yang lebih besar dari kepala mereka lalu membawanya.
Dalam perjalanan pulang, Jarvis merasa kelelahan mengangkat batu. Ia lalu beristirahat, temannya kemudian menunggunya beristirahat.
Matahari sudah mulai malu menampakkan diri, keadaan sudah mulai gelap, sesekali jarvis beristirahat lalu melanjutkan perjalanannya. Sedangkan temannya tidak terlalu bermasalah.
Kamui yang memiliki kemampuan sejak awal sudah mampu untuk membawa batu dengan mudah. Sedangkan Hanz yang memiliki kemampuan fisik yang lebih dar yang lainnya membuat ia dapat mengangkat batu itu dengan mudah. Yang menjadi masalah hanyalah Jarvis.
Untuk sesaat Jarvis memikirkan sesuatu, ia lalu bertanya ke Kamui.
"Apakah tidak apa-apa kita mati bersama"
Bukannya ragu, Kamui malah menjawab dengan cepat.
"Kalau begitu apa boleh buat"
"Lalu begitu aku juga ikut"
Tanpa menunggu lama, ternyata Hanz juga mulai menaruh kepercayaan kepada temannya sehingga kepekaan tenggang rasanya mulai muncul.
"Bisakah kau bawakan batuku"
Jarvis menyuruh Kamui membawa batunya. Namun ternyata Kamui tidak menolak, ia lalu mengambil batu Jarvis dan menagangkatnya. Batu Jarvis di lengan kirinya sedangkan batunya sendiri ia letakkan di lengan kanannya.
Mereka pun pergi ke tempat berkumpul. Sesampainya di sana, mereka hanya menaruh batu itu. Walaupun Jarvis tak mengangkat batunya, ia tak menerima sebuah tindakan kekerasan dari monster.
Jarvis lalu menyingkir dari kerumunan, melihat ada yang aneh dari tingkah Jarvis, Kamui dan Hanz kemudian mengikutinya. Sesampainya di tempat sepi, Jarvis lalu berhenti sambil duduk di batu yang agak besar. Sesekali ia melihat sekitar.
"Ada apa?"
"Sepertinya dugaanku benar"
"Dugaan?"
"Jika kita ingin selamat, kita harus berpikir layaknya monster. Lihat aku yang diabaikan oleh para monster, padahal aku tidak membawa batu"
"Iya, monster itu seakan menganggap kalau kita tidak ada"
"Bukannya tidak ada, namun mereka membolehkan kita karena kita telah lulus tesnya. Ingat kita harus berpikiran kayaknya monster. Mungkin mereka menganggap aku memperbudakmu."
Jarvis seakan menunjuk Kamui, ini membuat yang lainnya tercengang.
"Karena aku membawa budak yang membawa batuku, berarti aku membawa batu jadi aku lolos. Ini juga berlaku ke yang lainnya. Coba perhatikan! Banyak yang mati sebelum kita sampai. Aku yakin ini karena mereka tidak lolos karena batu mereka dicuri. Sebab sebelum kepala mereka pecah, tubuh mereka memar, juga ada beberapa anak yang selamat namun tubuh mereka penuh luka , pasti mereka sudah berkelahi"
Mendengar itu, bukan main kagetnya teman Jarvis. Jarvis melanjutkan.
"Kita selamat berkat kita beristirahat dan tidak tergesa-gesa sehingga batu kita aman dari pencurian. Keputusanmu sempurna Hanz"
Hanz yang mendengarnya merasa bangga dan senang dipuji. Jarvis lalu berbalik memperhatikan daerah di sekitarnya.
"Ternyata bukan cuma Kamui"
Kamui dan Hanz yang bingung maksud Jarvis lalu menengok ke arah bukit. Sekali lagi mereka terkejut dengan peristiwa yang dilihatnya. Di hadapan mereka ternyata banyak pengguna kekuatan.
Ada yang menumbuhkan sayap, ada yang merubah sayapnya, ada yang memerintah monster, dan berbagai kemampuan lainnya. Mereka menggunakan kemampuannya untuk mengangkat batu. Dan ternyata tindakan yang mereka lakukan tidak melanggar peraturan apapun, sehingga mereka dibiarkan tetap hidup.
Jarvis dan lainnya mulai berpikir pentingnya kekuatan yang harus mereka dapatkan.
Hari demi hari mereka lewati dengan makan makanan yang disajikan oleh monster, atas bantuan dari Kamui mereka tidak perlu lagi makan daging mentah.
Untuk masalah mengangkat batu, mereka selalu diperintahkan untuk mengambilnya setiap hari. Namun untuk setiap minggunya, batu yang diangkat harus lebih besar dari batu yang diangkat pekan sebelumnya.
__ADS_1
Setahun telah berlalu.
Kini Jarvis dan kamui mulai muncul perubahan pada diri mereka. Walaupun masih anak-anak, tapi sikap mereka seperti seorang tentara.
Batu yang diangkat anak-anak semakin besar, ukuran batu setinggi tubuh mereka. Untuk beberapa anak, mereka menggunakan kayu sebagai pengungkit untuk menggelindingkan batu.
Jarvis dan yang lainnya akhirnya beristirahat setelah menangkut batu. Jarvis kemudian mengeluh pertama.
"Kukira aku sudah tak kuat lagi, batunya semakin besar"
"Aku juga, kalau bukan karena Kamui yang membawa 2 batu, mungkin kita telah lama mati."
Ternyata 2 batu diangkut oleh Kamui seorang diri, sedangkan batu yang lainnya di gulingkan oleh Jarvis dan Hanz.
Kamui lalu memanggil mereka berdua.
"Sudah mengeluhkannya, kalian kesini, saatnya makan"
Ternyata Kamui telah selesai memanggang 3 ekor ikan. Kini mereka harus mencari makanan sendiri setelah para monster tidak memberikan makanan lagi. Mereka akhirnya makan dan tertidur pulas.
Keesokan harinya, seperti biasa mereka selalu dikumpulkan. Mereka lalu berbaris dengan cepat. Saat itulah suasana menjadi aneh, ada beberapa monster yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Salah satu dari mereka kemudian maju ke depan, ia adalah seorang monster dengan kepala anjing berwarna hitam.
"Namaku adalah Anubis, Sang Pengantar Jiwa, salah satu dari 10 petinggi monster. Kecuali aku, kalian harus memilih siapa yang akan melatih kalian dari sembilan petinggi monster di sampingku"
Anubis inilah yang nantinya akan menyetujui deklarasi pertarungan dari Jarvis.
Semua anak langsung paham, kini mereka akan menjalani pelatihan yang lebih keras lagi. Juga mereka harus memilih salah satu petinggi monster yang akan mereka pilih.
Anubis kemudian memperkenalkan 9 petinggi lainnya, sehingga anak-anak bisa memilih siapa yang akan mereka ikuti.
Monster kedua adalah satu satunya monster yang duduk dilantai sambil menopang dagu sedangkan yang lainnya berdiri, Athos, raja raksasa. Walaupun raja raksasa, ia hanya memiliki tinggi badan sekitar 2 setengah meter. Dengan kulit merahnya, ia hampir mirip seperti orc.
Petinggi yang ketiga adalah seorang Oni (iblis) dengan pedang di tangan kanannya. Namanya Ibaraki Doji, oni penjaga gerbang Rashomon. Walaupun demikian banyak yang menyebut dirinya sebagai vampir oleh orang barat. Hampir mirip seperti manusia pada umumnya namun dengan kulit putih pucat serta mata merah. Pedang di tangan kanannya nantinya adalah pedang yang diambil oleh Hanz kemudian diberikan ke Jarvis.
Petinggi yang keempat adalah seorang ratu semut, Peerothy. Ia memiliki tubuh yang besar identik dengan tubuh semutnya. Ia adalah monster yang memerintah para monster semut pekerja.
Petinggi kelima berperawakan seperti singa, Holdem, Sang raja binatang buas. Monster inilah yang diajak gelut oleh Jarvis saat mendeklarasikan pertarungan dengan monster.
Petinggi keenam adalah seekor anjing yang dapat berdiri dengan kedua kaki, Lumiter, si anjing gila. Walaupun disebut anjing, tetapi tubuhnya cukup besar, seukuran dengan Holdem.
Petinggi ketujuh adalah seekor Chimera, Tessere. Ia memiliki ekor berbentuk ular serta sayap di pundaknya. Memiliki kepala singa, dengan kemampuannya, ia bisa merubah tangannya menjadi kaki sehingga ia dapat berdiri empat kaki atau dua kaki tergantung dari keinginannya.
Petinggi kedelapan adalah seorang kesatria. Ia memiliki tubuh besar dengan baju dan helm perang, jadi tubuh dan wajahnya sulit dikenali. Memiliki gala pemukul yang ukurannya sangat besar. Namanya adalah Behemoth.
Petinggi kesembilan adalah monster dengan tubuh seperti anak kecil, memiliki mantel bertudung. Kalau bukan tanduk merahnya serta muka yang penuh bulu, mungkin ia akan mirip dengan anak-anak yang berbaris. Namanya adalah Diablo.
Petinggi kesepuluh adalah seorang petinggi monster berjenis kelamin betina kedua. Semua anak terbelalak melihat kecantikan yang belum pernah ia lihat, sebab yang menjadi petinggi monster malah memiliki perawakan seperti manusia. Ia adalah Siren, Ratu Ilusi.
***
SEDIKIT CATATAN DARI AUTHOR:
Ada beberapa nama yang memang ada dalam Mitologi Yunani, Legenda Mesir, dan Mitos dari negara Jepang. Dan akan ada beberapa nama lagi yang menjadi rahasia author.
Apakah ini penjiplak?
Tidak.
Author berusaha mengaitkan atau menjadikan legenda itu sebagai sesuatu yang nyata di dalam cerita yang dibuat. Sehingga pembaca dapat berimajinasi dengan lebih mudah.
Terakhir, terima kasih ke para pembaca, tanpa kalian author bukanlah apa-apa.
Terima kasih juga ke Noveltoon yang mendukung cerita ini.
__ADS_1