Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Pemegang Pedang Suci


__ADS_3

Tubuh Ludheer terluka, ia kini bersimbah darah dari serangan manipulasi darah yang membentuk tangan besar.


Tak bisa diketahui siapa penggunanya sebab tangan itu muncul dari balik tanah.


Menyerah bukanlah hal yang diinginkan Ludheer.


"Jangan lagi"


Ludheer teringat ketika ia dikalahkan secara brutal oleh Orgasheel. Tangan kanannya seakan tak membiarkannya lupa akan peristiwa tersebut.


Saat ia mencoba berdiri tak sengaja ia memegang bilah pedang suci, pedang itu malah merobek lengan kiri Ludheer. Namun ia tak melepaskannya.


Jarvis kini dikepung oleh beberapa orc. Ia masih bisa menghadapinya. Namun jika melihat jumlah yang terlalu banyak, Jarvis merasa dikalahkan.


"Tak kusangka kau akan berbuat seperti ini"


Keluh Jarvis tak terbendung lagi melihat perbuatan seorang pemanipulasi darah.


Jarvis hanya bisa berusaha semaksimal mungkin, ia tak mungkin mengalahkan orc lebih banyak lagi tanpa menggunakan kemampuan tebasan atau manipulasi darahnya. Terpaksa ia harus bertahan semaksimal mungkin.


Ini adalah kontes siapa pengguna manipulasi darah yang akan ketahuan terlebih dahulu.


Sejenak Jarvis mengingat ketika melakukan kontrak dengan Hera menggunakan buku milik Anubis. Setengah umurnya habis saat menggunakan kontrak.


Jarvis lalu menemukan ide.


'Kau pikir aku akan membocorkan identitasku, jangan harap' batin Jarvis.


Ia lalu berlari ke arah Ludheer yang terkapar.


"Apa kau tidak masalah jika setengah dari hidupmu diberikan ke dewa kematian"


Jarvis mencoba merayu Ludheer dengan alasan ambigu. Jelas saja Ludheer malah heran.


'Apa yang kukatakan, bahkan aku sendiri malu mengatakannya' batin Jarvis.


Jarvis lalu berteriak sekali lagi.


"Apa kau tidak masalah jika setengah dari hidupmu diberikan ke dewa kematian"


"Apa maksudmu?" Ludheer penasaran.


"Aku berbohong. Aku pengguna kekuatan. Kekuatanku adalah kontrak. Ini masih belum pasti, tapi bisa saja kau mampu menguasai pedang ini"


Jarvis lalu menunjuk pedang besar milik monster yang sudah mati.


"Aku belum pernah mencobanya. Ayo lakukan kontrak dengan pedang ini"


"Jadi setengah hidupku akan kuberikan ke dewa kematian?"


"Ya"


Jarvis yang terus saja berbohong agar Ludheer percaya jika itu kemampuannya.


Buku milik Anubis adalah buku yang dapat dimiliki dan digunakan oleh siapapun. Sebab Jarvis yang mencurinya dapat menggunakannya.


Jarvis lalu menunggu keputusan Ludheer.


"Ayo lakukan"


Secercah harapan muncul dari wajah Jarvis atas keinginan Ludheer.


Jarvis lalu memberikan arahan agar Ludheer mengikutinya.


"Pegang bukunya"


Ludheer lalu memegang buku itu.


"Ikuti kataku"


Ludheer bersiap mengikutinya.


Sebenarnya Jarvis tidak terlalu ingat apa yang di ucapkan saat menjalin kontak dengan Hera.


Ia lalu mengarang kontrak tersebut.

__ADS_1


"Namaku adalah Ludheer Bashil"


"Namaku adalah Ludheer Bashil"


"Dengan ini.."


"Dengan ini.."


"Jadikan aku sebagai tuanmu"


"Jadikan aku sebagai tuanmu"


Tak terjadi apa-apa. Jarvis hanya bisa diam, bagaimana jika ia gagal.


Ludheer sebenarnya menaruh kepercayaan kepada Jarvis. Ia lalu memegang pedang suci itu.


"Jadilah pedangku"


Suara Ludheer sangat lembut, sangat berbeda dengan kondisinya yang terluka parah.


"Apa yang akan kau serahkan?"


Ludheer kaget, suara apa barusan.


"Apa yang akan kau serahkan?"


Ludheer yang ketakutan, langsung bertanya kejarvis, tetapi saat ia memegang tubuh Jarvis. Jarvis tidak bergerak sedikitpun.


Bahkan semua orang dan para monster tak bergerak. Seakan waktu berhenti.


"Apa yang akan kau serahkan?"


Ludheer yakin jika ini adalah kontrak dewa kematian yang diucapkan oleh Jarvis.


Ludheer lalu memegang dadanya.


"Hidupku"


Tiba-tiba semuanya kembali normal. Ludheer merasa baikan sekarang.


Ludheer berusaha menariknya kembali. Namun saat ia menariknya, sensasi yang pernah ia rasakan kini kembali lagi. Rasa sakit dari tangan kanannya.


Kini ia yakin, tangan kanannya mulai utuh. Ia lalu membiarkan pedang itu melakukan apapun padanya.


Pedang besar itu lalu menciut seukuran pedang yang biasa di gunakan Ludheer. Tangan kanannya pun juga telah utuh digantikan dengan tangan besi dari pedang suci.


"Rebellion"


Saat Ludheer mengucapkan kata itu, ia melihat sekeliling tampak aneh. Semuanya bergerak lambat


***


Di tempat Ibaraki Doji, ia terus melihat pedangnya.


"Ada apa?"


Athos menghampiri Ibaraki yang terus memegang pedangnya. Pedang itu terus bergetar.


"Rebellion kini memiliki tuan"


"Memang apa masalahnya?"


"Sudah lama pedang itu tak memiliki tuan. Pedang serpihan dari Excalibur, pedang sekaligus perisai dengan kecepatan cahaya"


"Ini sepertinya menarik" kata Athos.


***


Ludheer merasa daerah sekitarnya menjadi lebih lambat. Bahkan monster juga menjadi sangat lambat.


Sekarang pedang Rebellion seukuran dengan pedang besar pada umumnya. Tak lagi berukuran raksasa.


Ludheer lalu menghampiri salah satu orc yang hendak menyerang leher salah satu pahlawan.


Ludheer lalu menebasnya. Pedang itu lalu membelah monster itu.

__ADS_1


Ia lalu pergi melangkah ke arah monster lainnya, kemudian menebasnya. Monster itu langsung terpenggal.


Banyak monster yang dibunuhnya, padahal Ludheer hanya berjalan sebab lukanya sangat parah. Ia tak bisa berlari.


Satu persatu monster berhasil ditebasnya tanpa bisa melakukan perlawanan. Namun bukan karena para monster itu yang bergerak lambat, tetapi Ludheer yang terlalu cepat.


Dalam kondisi normal, ternyata Jarvis tertawa terbahak-bahak.


'Pantas saja monster itu dapat menahan seranganku, padahal aku menggunakan kecepatan petir'


Jarvis teringat dengan monster yang menyerang menggunakan pedang Rebellion. Ia tak bisa memberikan bekas luka. Sebab monster itu memiliki kecepatan cahaya.


Serta alasan seseorang berusaha menggunakan kekuatan manipulasi darah ke monster itu. Monster itu tak bisa dikalahkan dari serangan luar, hanya serangan dari dalam yang mampu mengalahkannya.


Dihadapan Jarvis, Ludheer bergerak bagaikan cahaya. Semua orc langsung terbelah hanya dalam waktu sebentar.


Itu adalah kemampuan Ludheer ketika menggunakan pedang Rebellion. Kecepatan cahaya sudah ada di genggamannya.


Seberkas cahaya yang bergerak sangat cepat menabrak semua monster yang ada di situ. Seketika monster itu langsung terbelah.


Jarvis lalu melirik setiap pengguna kemampuan, jikalau bisa, ia ingin menciduk orang yang menggunakan manipulasi darah.


'Sebenarnya aku enggan memberikan kesempatan kepada Ludheer, tapi tak ada yang lebih pantas memegang pedang itu selain dia'


Kini Ludheer berhasil mengalahkan semua monster yang ada disitu. Ia lalu menghampiri Jarvis, kemudian menormalkan kekuatannya.


"Terima kasih, berkat kemampuanmu, aku bisa memiliki kekuatan sebesar ini"


Ludheer merasa senang dengan kesempatan yang dibuat Jarvis. Ia tak menyangka kekuatan pedang Rebellion akan sebesar itu. Namun tubuhnya sudah tak kuat lagi, sebab lukanya belum sembuh.


"Jangan sok kuat"


Jarvis menimpali maksud Ludheer. Ludheer akhirnya pingsang, Jarvis lalu menangkap dan merebahkan tubuhnya.


Tiba-tiba datang Bartolomeo di samping Jarvis, ia lalu menahan sesuatu di belakang Jarvis. Jarvis langsung kaget.


Di belakangnya ternyata terdapat sebuah gumpalan darah berbentuk pedang yang berusaha menusuk Jarvis.


'Tidak, ini tak mungkin. Sehebat apapun pemanipulasi darah, seharusnya aku bisa mendeteksinya. Bagaimana bisa?"


Jarvis tak bisa berpikir jernih, ia yang ahli dalam manipulasi darah tak bisa mengetahui serangan tersebut.


"Hei anak muda, angkat dia lalu bawa lari"


Jarvis lalu mengangkat Ludheer beserta pedangnya, disamping itu ia juga harus membawa tombaknya.


Ludheer ditaruh di pundak kanan sedangkan pedang dan tombak dipegangnya sekaligus. Ia lalu berlari ke gerbang monster untuk keluar.


"Semuanya, misi kita telah selesai, saatnya kembali"


Mereka semua langsung berlari ke arah gerbang monster.


Seketika sebuah darah padat berbentuk tombak berhasil menembus tubuh Ludheer.


'Jadi yang diincarnya adalah Ludheer'


Identitas Jarvis sebagai pemanipulasi darah masih belum ketahuan oleh seorang yang juga memiliki teknik manipulasi darah.


Sejak awal Ludheer lah yang diincar.


Seketika sebuah tombak darah dengan jumlah yang banyak menyebar di udara. Tombak itu lalu menukik ke arah Ludheer.


Puluhan tombak menerjang Ludheer.


Eun Jie lalu membekukan udara tepat di lintasan serangan tombak darah itu. Namun karena terlalu kuat, tombak itu dapat menghancurkan bongkahan es yang sangat besar.


Patrick dengan pedang panjang lenturnya berusaha menyelamatkan Ludheer. Beberapa tombak akhirnya berhasil dihalau.


"Selamatkan Ludheer, ia adalah pahlawan kelas S yang baru"


Sebuah perisai besar di bawah oleh Darien untuk menyelamatkan Ludheer.


Darien berhasil menahan semua serangan tombak darah, namun sekarang perisai itu tak bisa digunakan lagi karena telah rusak parah akibat benturan.


Jarvis sekarang tahu, nyawa Ludheer sangat penting. Ia sekarang adalah pahlawan kelas S.

__ADS_1


__ADS_2