Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Rasa Hormat Kami


__ADS_3

Kamui lalu membungkuk ke Mu Won.


"Maaf atas perilaku tidak sopan teman kami. Namun kami mohon, simpan kekuatan anda sehingga pemimpin kami bisa selamat"


Betapa kagetnya Mu Won. Ada apa sebenarnya sehingga mereka memprioritaskan seseorang ketimbang mereka.


"Nak, kau tidak apa-apa?"


Seo Jun khawatir dengan anaknya, Eun Ha. Eun Ha yang ditanya malah diam.


Setelah beberapa saat air matanya seketika keluar.


Hanz lalu menegurnya, seorang kapten tidak boleh cengeng.


Akhirnya Eun Ha melap air matanya dengan tangan, ia lalu tersenyum.


Seo Jun malah tambah heran, apa yang menimpa anaknya. 2 tahun tak bertemu, bukannya melepas rindu dengan bahagia, pertemuan ini seakan menjadi duka.


Eun Ha lalu memulai pembicaraan.


"Apa ayah tahu tentang Anubis?"


Seketika muka ayahnya menjadi pusat. Ia seakan tak kuasa untuk berdiri. Tingkahnya juga menjadi tak karuan, hanya karena mendengar nama Anubis.


"Dari mana kau tahu nama itu?"


Eun Ha tidak menjawab, ia seakan menunggu jawaban dari ayahnya yang menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.


Ayahnya lalu berkomentar.


"Biasanya rahasia dunia selalu diberi tahukan ke pahlawan ranking A. Namun ada pengecualian, yaitu petinggi monster. Hanya ketua guild yang tahu bahwa mereka benar-benar ada"


Mu Won yang merupakan ranking A juga kaget. Baru kali ini ia mendengar tentang petinggi monster.


Seo Jun lalu menambahkan.


"Itulah alasannya kenapa pahlawan ranking S dirahasiakan dari publik. Bahkan banyak dari pahlawan ranking S yang mati melawan mereka. Jika kabar pahlawan terkuat gugur melawan monster, pasti terjadi kepanikan massal"


"Kami bertemu ehh.. tidak. Kami menjadi budak petarung mereka"


Ayah Eun Ha langsung memegang pundak anaknya.


"Apa kalian baik-baik saja?"


"Aku akan bohong jika menjawab ya"


"Aku tak menyangka kau akan bertemu dengan salah satu dari 3 petinggi monster"


Kamui yang sedari tadi diam, mulai membuka mulutnya. Dengan senyum sinis ia mengomentari Seo Jun.


"Apa maksudmu salah satu dari 3 petinggi monster?"


Yang ditanya malah heran.


"Sepuluh, jumlah mereka ada sepuluh. Juga yang bertemu dengan kami bukan satu tetapi tiga"


Seo Jun langsung marah.


"Apa-apaan dengan perkataanmu tadi. Jika satu, aku masih dapat membiarkan kalian berbohong. Tapi jika sudah lebih dari itu, jangan membuatku marah"


Kamui lalu mengangkat kedua tangannya.


"Ketahuan yah. Maaf, kami cuma bercanda"


Dari ekspresi wajah Kamui dan yang lainnya, mereka seakan marah. Bagaimana tidak, apa yang mereka alami malah tidak dipercaya. Tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa, kendati demikian apa keuntungan yang mereka dapatkan jika Seo Jun percaya.


'Apakah mereka serius?' batin Seo Jun mulai bimbang.


Tiba-tiba langit menjadi gelap oleh awan. Terdengar suara monster yang membuat telinga berdenging.


"Bersiap bertempur!"


Seo Jun merasa khawatir dengan sosok monster yang muncul dari atas langit. Pahlawan yang ikut mulai memasang kuda-kuda bersiap untuk bertempur.


'Naga?' batin Seo Jun tak bisa mempercayai apa yang dilihatnya.


"Tenanglah! Dia jinak"

__ADS_1


Hanz hanya memiringkan kepalanya.


'Bukan itu masalahnya. Jika aku tidak tahu pasti juga akan ikutan panik'


Naga itu adalah milik Eun Ha yang dijinakkan.


Dari atas punggung naga, Roy yang merangkul Jarvis kemudian melompat.


Sebuah hantaman keras membuat tanah berkawah. Terlihat Roy sedang terburu-buru menghampiri Charlotte.


"Jarvis sekarang sekarat, kumohon"


Charlotte lalu melihat ke arah pak Mu Won.


Roy langsung tahu bahwa Pak Mu Won adalah seorang Healer yang hebat. Roy lalu menghampirinya kemudian berlutut.


Saat kepalanya hampir menyentuh tanah, pak Mu Won langsung menghentikannya.


"Tak usah sampai segitunya. Akan ku sembuhkan dia"


Mu Won langsung menghampiri Jarvis. Ia lalu mendekatkan tangannya.


"Mustahil, kenapa ada manusia yang masih hidup dari luka seperti ini"


Ternyata Jarvis mengalami luka dalam yang sangat parah.


Seo lalu menghampiri.


"Ada apa?"


"Jantungnya sudah pecah, tapi masih berdetak"


Seo Jun langsung kaget. Dalam ilmu medis, jika jantung rusak maka seseorang akan langsung mati.


Sedangkan semua orang yang melihat pertarungan Jarvis melawan Ibaraki paham apa yang terjadi.


"Dia sempat tertusuk pedang dari petinggi monster tepat di jantungnya" Kamui memperjelas sesuatu.


"Petinggi monster, terus mengapa ia masih hidup?"


"Dia menang"


'Jangan-jangan semua yang dikatakan mereka itu benar'


Mu Won lalu berusaha menyembuhkan Jarvis. Beberapa saat kemudian luka Jarvis mulai mengecil kemudian menghilang.


Namun ia masih belum sadar. Jantungnya masih dalam proses penyembuhan. Saat jantungnya telah normal kembali dan seluruh luka fatal berhasil dihilangkan, jari Jarvis menunjukan pergerakan.


Jarvis lalu bangun sambil teriak.


"Ahhh jangan menelan upilmu di jari yang sudah kau gunakan untuk mengorek telingamu"


Bukannya bahagia, semua orang melihat Jarvis dengan tatapan aneh.


Jarvis lalu tersadar jika ia baru saja terluka parah.


"Apa kalian baik-baik saja?"


Bukannya menghawatirkan lukanya, ia malah memperhatikan orang lain.


Hanz lalu berdiri dengan tegak.


"Semuanya berdiri!"


Teriakan Hanz berhasil mempengaruhi semuanya agar berdiri.


"Beri hormat"


Semua orang langsung membungkuk. Paula dan Roy yang bukan anggota Rashomon juga ikut membungkuk. Bahkan Sebastian serta seluruh bawahannya juga membungkuk memberi hormat.


"TERIMA KASIH" teriak mereka kompak.


Kesan hormat dari semua orang membuat Jarvis merasa senang.


"Angkat kepala kalian, terlalu horor jika kalian membungkuk terlalu lama"


Mereka kemudian mengangkat kepala dan tak membungkuk lagi.

__ADS_1


"Jangan membuat kami khawatir" kata Hanz.


"Haa...haa...haa. sudah kubilang aku akan baik-baik saja"


Hanz lalu menghampiri. Dengan tinjunya ia lalu meninju kepala Jarvis, tapi Jarvis mengelak.


"Tidak kena"


Hanz lalu mencekiknya dari belakang.


"Sakit.. sakit... Tolong"


Hanz lalu melepaskan cekikannya.


"Kau menepati janjimu"


Jarvis hanya tersenyum.


Kamui lalu menghampiri Roy.


"Apa yang terjadi?"


"Kita menang"


"?"


"Anubis telah mati. Jarvis membelah kepalanya, sedangkan aku menikam jantungnya"


Semua orang langsung bersorak, raut wajah bahagia terpancar dari wajah mereka.


Seo Ha sempat kaget, belum pernah ia melihat anaknya dengan senyum semanis itu.


Jarvis lalu menghampiri Roy.


"Apa kau memungut senjataku"


"Tidak"


Raut wajah Jarvis langsung marah.


"Apa kau bodoh. Itu adalah pedang yang kuinginkan dari dulu"


Roy lalu mendorong dorong kepala Jarvis dengan jari telunjuknya.


"Kau kira cuma kau yang rugi, aku bahkan tidak bisa memakan jantung petinggi monster karena memikirkanmu"


Jarvis dan Roy akhirnya bertengkar tentang masalah mereka masing-masing.


Tiba-tiba anggota dari Sebastian langsung pergi tanpa mengucapkan salam. Ratusan orang di bawah perintahnya kini telah menjauh dengan cepat.


Ayah Eun Ha merasa kalah melihat apa yang ada di hadapannya.


"Bahkan aku ragu jika di guild semua orang mau memberikan rasa hormat seperti itu"


"Aku juga setuju. Bahkan anakmu tak bisa menyembunyikan kekagumannya ke Pemuda"


Seo Jun lalu menghampi Jarvis.


"Kalau boleh tahu kau siapa?"


"Kau pasti ayah Eun Ha. Rambut kalian mirip, terlalu mencolok"


Ayah Eun Ha hanya mengangguk. Jarvis lalu mulai memberikan kesempatan Eun Ha menjawab.


"Anakmu tahu jawabannya"


Eun Ha lalu berdiri tegak. Ayah Eun Ha merasa aneh, setahunya anaknya adalah sosok yang selalu tunduk dan pemalu. Tapi di sisi lain ia juga merasa bangga dengan kedewasaan anaknya.


"Lebih mudah jika di sebut sebagai guild bayangan. Guild tak resmi yang anggotanya tak diketahui identitasnya, namanya Rashomon. Juga dia adalah ketuanya"


"Apa mungkin yang kau maksud organisasi hitam?"


"Cukup sampai di situ saja. Selebihnya akan ku jelaskan di rumah"


Senyum hangat Eun Ha membuat ayahnya luluh.


***

__ADS_1


Di tempat bekas pertarungan Jarvis dan Roy melawan Anubis, terlihat seseorang yang memakai mantel hitam. Tubuhnya tertutupi sehingga identitasnya sulit diketahui.


Ia lalu memungut pedang Jarvis serta tombaknya. Ia lalu berjalan pergi.


__ADS_2