
"Pertarungan telah selesai. Nagi menang"
Benar saja apa yang dikatakan oleh Jarvis, tubuh Holdem kini tak bergerak.
"Menang?"
"Benar, Nagi telah berhasil membuat seluruh organ tubuh Holdem berhenti bekerja. Tekniknya yang digabungkan dengan manipulasi darah"
"Jadi begitu. Kau sudah mengaturnya dari awal"
"Tepat sekali. Saat pertama kali melihat Nagi, aku langsung yakin jika ia bisa menang. Namun aku tak menyangka dia akan menerima luka separah ini"
Jarvis kemudian merobek pakaian Nagi, ia berusaha mengeluarkan tangan Holdem yang masih menancap di perut Nagi.
Di sudut arena, ternyata Kamui telah masuk. Suara gemuruh penonton mengisi Colosseum. Tiba-tiba kepala ular yang sangat besar menerjangnya. Semua penonton kaget, pertarungan kedua dimulai bahkan sebelum mereka menyadarinya.
Di podium, karena penasaran Jarvis mencari Eun Ha. Dengan melambaikan tangan, Eun Ha akhirnya melihatnya.
"Kau sering bersama Kamui kan?"
"Iya"
"Tahu Kemampuannya"
"Lumayan"
"Apa kau tahu, dia sudah menguasai berapa ekor?"
Pertanyaan yang sangat ambigu. Eun Ha sama sekali tak mengerti maksud Jarvis. Yang ia ketahui adalah kemampuan Kamui itu api, namun mengapa Jarvis menanyakan ekor.
'Apa hubungannya?'
Benak Eun Ha tak mampu menerkanya.
Tapi sebelum ia berbicara, ia di dahului oleh Charlotte.
"Sekarang dia telah menguasai 4 ekor"
Jarvis yang mendengarnya malah merasa lesuh. Ia berharap jika Kamui dapat menguasai ekor lebih dari itu.
Eun Ha yang awalnya merasa bingung, kini menjadi penasaran. Kamui belum pernah ia lihat dengan serius saat bertarung, jadi bisa saja ia menyembunyikan kekuatannya.
Tak berselang lama, mata Eun Ha menangkap sosok yang belum pernah ia lihat.
Sesosok tubuh menusia berbalut api dengan ekor rubah di belakangnya. Sosok itu adalah Kamui, ia kini berada dalam mode evolusinya.
Satu hantaman tinju berhasil membuat kepala ular terpental. Kini tubuh ular berlubang dan terbakar.
Seketika itu juga tanah mulai berguncang, sesosok monster mengerikan muncul dari bawah tanah.
Monster itu memiliki ekor berbentuk ular serta sayap di pundaknya. Memiliki kepala singa, dengan kemampuannya, ia bisa merubah tangannya menjadi kaki sehingga ia dapat berdiri empat kaki atau dua kaki tergantung dari keinginannya. Seekor Chimera, Tessere.
Awalnya ukurannya seperti monster pada umumnya, namun sekarang ukurannya lebih besar dari ukuran dinosaurus.
Ternyata yang ditinju oleh Kamui adalah ekor Chimera yang berwujud ular. Kini ekornya telah beregenerasi seperti sedia kala, seluruh luka telah hilang.
Auman seekor Chimera membahana di telinga siapapun. Tak terkecuali Kamui.
Kamui yang mulai merasa lawannya akan sulit dikalahkan, ia lalu menambah perubahan ekornya. Jumlah ekornya sekarang ada dua.
Ketika ia mengaktifkan kekuatan ekor keduanya, sekarang Kamui dapat terbang, bahkan tanpa sayap. Ia seakan-akan berpijak di udara.
Tak terima dilihat dari atas, Chimera tersebut lalu membentangkan sayapnya. Namun inilah yang diinginkan oleh Kamui.
Kamui lalu pergi keluar Colosseum, menjauh dari kerumunan banyak orang. Takutnya dampak pertarungan mereka akan menimpa orang lain.
Kamui terus terbang dengan kecepatan tinggi, sedangkan Chimera tersebut terus mengikutinya. Ketika monster Chimera itu sudah dekat, bukannya monster itu yang menyerang duluan, melainkan Kamui yang berbalik lalu menyerang kepalanya.
Ledakan besar terjadi di atas langit. Namun dengan serangan sekuat itu tak mampu untuk menjatuhkan lawannya.
Monster itu lalu membuka mulutnya, sebuah pecahan energi berkumpul menjadi satu titik. Tembakan energi yang besar kini menerjang Kamui.
__ADS_1
Kamui berusaha untuk menghindari serangan tersebut. Ledakan besar, mirip bom atom meledak di tempat Kamui.
Hempasan angin panas menerjang siapa saja yang menonton pertarungan mereka. Kini di depan mereka berkobar api yang sangat besar.
Kamui kini tak terlihat lagi. Suara tawa para monster memecah kesunyian di tempat itu. Lain halnya dengan para gladiator di tempat itu, mereka semua berharap bahwa Kamui belum kalah.
Di sisi monster yang dilawan Kamui, ia merasa aneh. Bukannya senang, ia malah gelisah. Dari kobaran api, muncul sosok pria. Ia adalah Kamui. Tubuhnya kini penuh dengan luka.
Bukannya takut, Kamui malah tertawa. Kini ia menambah jumlah ekornya. Sekarang ekornya menjadi tiga. Ia lalu melihat ke arah monster yang menyerangnya.
"Apa cuma segini, ini hanya menggelitik"
Ucapan sombong Kamui tak sejalan dengan perkataannya sebab tubuhnya menerima luka yang sangat parah di mana-mana.
Kamui lalu mengambil ancang-ancang untuk berlari. Sebuah ledakan kecil menciptakan dorongan yang kuat hingga membuat akselerasi yang konstan.
Kemampuan ekor ketiga adalah kecepatan. Dengan kecepatan yang sangat hebat, ia sudah berada di pupil mata kiri monster. Sebuah tendangan membuat mata monster itu pecah.
Walaupun tahu akan sia-sia, Kamui hanya berusaha memancing kemarahan lawannya. Benar saja, mata monster tersebut kembali seperti semula.
Walaupun matanya kembali utuh, tapi emosinya memuncak. Ia seakan mulai merubah bentuk kakinya. Yang awalnya besar berlemak kini kurus berotot serta ukuran kaki yang agak panjang.
Roy yang melihat ini menjadi khawatir.
"Mustahil"
Jarvis yang juga mendapat firasat aneh mulai melihat tingkah Roy.
"Ada apa?"
"Aku yang paling tahu perubahan itu. Kaki itu adalah kaki hewan tercepat di bumi. Jika tidak ada yang namanya monster, mungkin saja hewan itu sudah menjadi makhluk tercepat di bumi"
"Maksudnya?"
"Cheetah. Kakinya berubah menjadi kaki cheetah"
Semua orang yang mendengarnya menjadi panik. Kawatirnya kecepatan monster itu akan meningkat.
Kecepatan mereka sangat luar biasa. Bahkan untuk para penonton, mereka hanya dapat melihat bayangan monster Chimera tersebut walaupun ukurannya sangat besar.
Tanah padat dan keras kini beterbangan tak karuan. Pepohonan yang kokoh bagaikan sebuah lumut, sekali injak langsung hancur terurai.
Kini pertarungan mereka membuat merinding para gladiator. Ada beberapa gladiator yang berusaha menutupi telinganya. Ada yang berusaha untuk mencari tempat perlindungan. Ada yang terus menerus berdoa.
Pertarungan mereka kini diluar kendali. Tak bisa dihentikan. Bahkan hanya untuk melihat pertarungan mereka, seseorang harus siap mempertaruhkan nyawa.
Beberapa bongkahan batu besar seukuran mobil bus terhempas acak ke arah para gladiator yang menonton.
"Hati-hati"
Yang berbicara adalah Jarvis, disampingnya sedang melompat seorang pria dengan perisai di tangannya, Chen Chao.
Chen Chao lalu berusah untuk mengaktifkan skillnya. Sebuah perisai transparan raksasa muncul di hadapannya. Perisai itu berhasil menahan serangan belasan batu nyasar.
Di sisi lain Kamui berusaha untuk mendapatkan celah saat ia sedang diburu. Berbagai serangan berhasil dihindari. Salah satu kaki monster berusaha menerjang Kamui.
Bukannya menghindari serangan tersebut, Kamui malah memanfaatkannya. Digunakannya kaki tersebut untuk berlari ke atas kepala, tak tinggal diam monster itu hendak menembakkan ledakan energi.
Melihat dirinya sedang terancam, Kamui lalu melompat keleher monster. Leher monster adalah titik buta.
Kamui lalu menyerang dengan tinju apinya, tapi tak bisa menembus kulitnya. Sekarang kulit monster itu berubah menjadi seperti cangkang kura-kura yang lentur.
"Tak bisa ditembus, kalau begitu bagaimana dengan ini"
Kamui lalu menambah jumlah ekornya, hawa panas terbungkus di kedua tangannya. Ia lalu merapatkan kedua tangannya. Sebuah pedang panjang yang terbuat dari api yang memadat siap menusuk leher monster itu.
"JLEBB!"
Ceceran darah segar membanjiri leher monster itu. Darah itu bukan keluar dari leher monster melainkan dari punggung Kamui.
Kamui menerima luka tusukan dari belakang oleh lawannya sebelum sempat menusuk lawannya terlebih dahulu.
__ADS_1
Sebuah tulang panjang berlendir keluar dari mulut ular yang merupakan ekor Chimera. Tulang itu adalah bentuk padat dari lidah yang berubah bentuk.
Kamui akhirnya terjatuh. Tubuhnya yang mulai memunculkan ekor keempat akhirnya harus terbujur kaku di tanah. Semua aura apinya kini padam yang diikuti dengan jumlah ekornya yang hilang satu demi satu.
Tubuh monster Chimera tersebut kini berubah menjadi kecil, seukuran tubuh singa pada umumnya. Namun dengan sayap serta ekor ular. Kakinya yang tadinya kaki cheetah berubah kembali menjadi kaki singa.
Ia lalu menghampiri Kamui. Diangkatnya tubuh Kamui lalu dibanting ke tanah. Hal itu dilakukan terus-menerus sampai dia bosan. Ia lalu mencengkeram leher Kamui.
"Apa cuma segini? Dasar manusia rendahan"
Monster itu memandang rendah kemampuan Kamui.
Di alam bawah sadar Kamui, Kamui kini berada di suatu tempat yang belum pernah ia lihat. Tempat itu adalah sebuah ruang hampa yang gelap, tanpa apapun di dalamnya.
"Di mana ini. Bukankah aku sedang bertarung."
Ia lalu melihat sebuah titik cahaya putih. Ia lalu pergi untuk memastikan apa itu. Cahaya itu kemudian berubah menjadi serpihan ingatan. Dilihatnya seseorang yang mirip dengan guru Jarvis, Ibaraki Doji.
Guru Jarvis sedang membungkuk terhadap sesosok pria misterius di hadapannya. Sekali lihat ia langsung paham jika orang itu lebih kuat dari guru Jarvis.
Orang itu tidak menghadap ke arah Ibaraki, melainkan membelakanginya. Di depan pria tersebut berdiri sesosok monster rubah berekor sembilan yang sangat besar.
"Shuten Doji, mengapa kau menghalangiku"
"Jangan pergi, kau akan dibunuh"
Shuten Doji memperingati monster rubah untuk tidak pergi ke suatu tempat, agar nyawa terselamatkan.
"Tidak ada yang mampu membunuhku"
Ucapan monster itu terlihat sombong. Shuten Doji lalu pergi diikuti oleh Ibaraki Doji di belakangnya, sambil memberi hormat ke arah monster rubah berekor sembilan.
"Aku sudah memperingatkan"
Kamui lalu tiba-tiba perpindah tempat. Kini ia berada di sebuah Lava panas dengan api yang menyala sangat besar.
Dihadapannya berdiri sesosok monster yang sangat besar, rubah berekor sembilan. Rubah itu lalu menegurnya.
"Kau belum siap"
***
Saat ini Kamui yang tak sadar dicekik oleh monster Chimera. Sebuah aura kini menyelimuti tubuh Kamui. Seketika itu juga mata Kamui terbuka. Tapi anehnya pupil matanya kini lebih mirip hewan.
Melihat adanya ancaman, monster itu melompat mundur, juga wujud monster itu berubah menjadi besar kembali.
"Apa yang kau lakukan, ayo maju"
Kamui kini menjadi sombong.
Tak tinggal diam, monster itu lalu memusatkan kekuatan di mulutnya untuk melakukan serangan ledakan yang tadi ia lakukan.
Kamui lalu mengambil posisi kuda-kuda, bersiap untuk meninju. Sebuah ledakan mengarah ke arahnya. Kamui lalu meninjunya.
Sebuah hantaman tinju yang berbalut dengan api bertabrakan dengan semburan ledakan yang dilakukan monster itu. Benturan hebat itu berhasil menghancurkan seluruh wilayah disekitarnya.
Ledakan tersebut berhasil menimbulkan udara yang sangat panas, hingga merubah cuaca, yang tadinya cerah kini menjadi mendung. Setelah beberapa saat, pertempuran tak terjadi lagi.
Kamui tak menerima luka tambahan dari serangan tersebut. Sebaliknya, monster yang sangat besar tersebut kini telah kalah. Kepala sampai dadanya hancur tak bersisa.
Setelah pertarungan tersebut, tetesan hujan mulai turun sedikit demi sedikit. Dari hujan rintik-rintik hingga menjadi hujan yang deras.
Kamui lalu melihat lengannya.
"Tubuh anak ini masih lemah. Hanya menggunakan satu tinjuan, aku sudah tidak bisa mempertahankan kesadaranku"
Ternyata yang mengendalikan tubuh Kamui adalah monster rubah berekor sembilan. Ia lalu rebah karena kesadarannya mulai memudar.
"Sial"
Tubuh itu akhirnya menutup mata.
__ADS_1