Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Hanya Ingin Melindungi


__ADS_3

Kamui yang merupakan orang Asia paham apa yang telah ia lihat.


"Ternyata legenda itu benar, Nyi Roro Kidul benar-benar ada"


Hanz yang melihatnya malah heran.


"Kenapa telinganya panjang sekali?"


Eun Ha yang mendengar kata Hanz kemudian menatap tajam ke telinga wanita itu. Ia lalu menyadari sesuatu.


"Ras elf"


Semua orang langsung kaget. Ras elf hanyalah mitos yang sering mereka dengar. Mereka takk menyangka jika elf benar adanya.


Wanita itu lalu menghampiri Anubis.


"Tak kusangka kau bisa menjebakku"


Anubis lalu membuat aura merah di atas bukunya. Seketika itu juga wanita itu langsung terbakar.


"Kau kira bisa membakarku"


Anubis hanya melihatnya dengan tatapan biasa. Walaupun Anubis tak bisa membakarnya, namun tak bisa dipungkiri jika wanita itu adalah makhluk yang dipanggilnya.


'Dari seluruh pasukan kematian yang ku panggil, hanya dia sendiri yang tidak menjadi tulang belulang. Bahkan tubuhnya serta kulitnya masih halus. Hanya warna pakaiannya yang berubah menjadi hitam'


Anubis lalu memuntahkan darah tiba-tiba.


"Apa yang kau lakukan?"


"Aku hanya berniat membunuh siapapun yang mengurungku"


"Dasar kau Kidul brengsek"


"Hanya bawahanku yang boleh memanggilku seperti itu. Namaku Hera"


Tubuh Anubis lalu dilemparkan. Kini ia bersimbah darah.


Semua gladiator tampak ketakutan.


***


Di tempat Athos dan Ibaraki.


Sesaat sebelum Athos hendak pergi, ia lalu berbalik melihat Ibaraki.


"Yang menjadi masalah nantinya adalah Hera, sang mantan Petinggi Monster. Bukan Anubis yang menjabat sekarang. Dulu Anubis mengambil posisi itu karena kekuatan Hera melemah setelah bertarung dengan raja ras Elf"


"Kalau begitu kau harus …"


"Tak ada negosiasi. Aku akan membunuh mereka semua"


"Terserahmu saja"


***


Di tempat Hera berdiri, terlihat air yang muncul dari balik tanah.


"Anubis, kau meremehkan kekuatan Petinggi Monster. Apakah kau tidak sadar jika disebut sebagai petinggi terlemah. Kekuatan seorang Petinggi Monster tidaklah selemah itu. Waktu itu kau bisa mengurungku di buku jelekmu itu karena kekalahanku melawan raja elf"

__ADS_1


Hera lalu memusatkan air itu menjadi tombak bermata tiga. Tombak emas bermata tiga akhirnya muncul.


"Apa kau tahu, aku menghilangkan emosiku agar kau berpikir bisa mengendalikan tubuhku. Sekarang kau berpikir seperti itukan"


Tawa penuh ejekan muncul di muka Hera. Ia lalu mengangkat tombaknya dan mengarahkannya ke Jarvis.


'Anak ini berbahaya. Ia dapat menciptakan ilusi ke Anubis. Bahkan hanya aku saja yang bisa melihat ilusinya'


Di mata Hera, terlihat luka lebar di leher Anubis. Tebasan yang dikira tak mempan ternya mempan. Sebaliknya tangan Jarvis yang berdarah ternyata hanyalah ilusi semata, tangannya tak luka sama sekali.


'Bahkan Anubis yakin jika aku yang melukainya'


Batin Hera seakan bertanya-tanya dari mana sumbernya kekuatan Jarvis.


'Kemampuan manipulasi darah serta salah satu dari 12 senjata terkutuk. Hasilnya adalah sebuah petir hitam kemerahan. Pantas saja Anubis bisa terluka'


Jarvis yang terus ditatap oleh Hera merasa jengkel.


"Maaf, aku tidak bisa membalas perasaanmu"


"Apa maksudmu?"


"Kau menyukaiku kan? Dari tadi kau melihatku terus"


Urat kepala Hera langsung muncul diikuti dengan suara gigi yang bergemeretak. Ia lalu mengambil posisi untuk mengayunkan pedangnya.


Tiba-tiba lengannya putus terkena tebasan terbang.


'Teknik seperti ini tak akan mempan'


Ternyata Hera terkena teknik ilusi Jarvis. Namun ia langsung dapat melepaskannya.


"Aku tahu jika ini asli"


Hera menangkisnya dengan tombak bermata tiga.


"Kau kira cuma kau yang memiliki senjata terkutuk, biar ku perlihatkan. Tombak Poseidon dengan tiga mata, Trisula"


Hera lalu mengangkat tombaknya, semua air dari tanah, sungai, dan danau kini berkumpul di satu tempat. Kini langit diselimuti oleh air yang sangat besar.


"Karena laut jauh, jadi hanya segini"


Hera merasa bisa membuat yang lebih besar lagi, padahal ukuran yang dibuatnya sudah sebesar gunung.


Air bah seukuran gunung kini berada di atas kepala Hera. Ia lalu menjatuhkan air bah tersebut.


Ibarat sebuah tsunami, air yang cukup banyak menyapu semua yang dilaluinya. Bahkan Colosseum kini telah rata akibat sapuan air.


Jarvis yang melihat air laut datang langsung bersiap, digigitnya sarung pedangnya, kemudian memegang pedang dengan dua tangan.


Air yang besar langsung menerjang Jarvis, ia lalu memutar pedangnya seperti baling-baling. Dengan kekuatan petir hitam, air itu dapat di tangkis. Namun hanya beberapa saat saja, mengingat sifat air yang deras dan padat, Jarvis akhirnya terbawa arus.


Di sisi lain, semua petarung berusaha menyelamatkan diri mereka. Berbagai kekuatan diwujudkan agar mereka dapat selamat.


Kelompok Sebastian, generasi pertama yang memimpin generasi ketiga berusaha untuk menahan gelombang air.


"Semua kemampuan tipe padat, buat benteng sekarang"


Mendengar itu banyak yang langsung mengeluarkan kekuatannya. Ada tanah, kayu, batu, dan berbagai kekuatan diwujudkan untuk membuat sebuah tembok raksasa.

__ADS_1


Sebastian yang melihat Paula hanyut, langsung menangkapnya.


"Kau tidak apa-apa?"


"Iya, terima kasih"


"Sama-sa.."


Belum juga selesai membalas perkataan Paula Sebastian langsung berhenti. Bukan karena serangan kedua atau kepanikan karena monster hendak menyerang.


Paula yang heran lalu melihat Sebastian agak dekat.


"Ada apa?"


Sebastian tak dapat berbicara, walaupun dalam benaknya ia terpingkal-pingkal.


'Gawat, apa yang harus kujawab. Baru pertama kali aku melihat sosok bidadari. Apakah aku sudah mati'


Paula yang melihat Sebastian diam tak bergerak kemudian melambaikan tangan tepat di depan matanya.


"Apa yang terjadi" kata Paula mulai panik.


Dalam imajinasi Sebastian, terlihat Paula sedang melap air di muka Sebastian lalu merapikan rambutnya.


Sontak saja hal ini membuat Sebastian memberanikan diri.


"Aku menyukaimu"


Ternyata Sebastian masih melamun sehingga ia berpikir sudah menyampaikan perasaannya.


Tiba-tiba ada batu besar menerjang mereka.


Sebastian langsung sadar, ia memposisikan dirinya sambil melindungi Paula dengan cara memeluk. Dengan wajah lebai, Paula bertanya.


"Mengapa kau melindungiku?"


"Tubuhku seketika bergerak sendiri. Aku hanya ingin melindungimu"


"Ohh Sebastian"


"Ohh bidadariku"


"My Honey"


Namun sayang, lagi-lagi itu hanya imajinasinya.


Batu besar tepat mengenai kepala Sebastian. Sebastian hanya berdiri sambil bertatapan dengan Paula namun tanpa memeluk.


Paula yang melihatnya malah heran.


'Apa ia bodoh. Dengan posisi seperti tadi, ia bisa menangkisnya dengan tangan. Kenapa malah ditahan dengan kepalanya'


Seketika muncul Hanz dari samping, dari derasnya air mengalir. Ia seakan tak bergeming, dengan kemampuannya air seakan seperti hembusan angin sepoi-sepoi.


"Sebastian, apa kau punya senjata? Bisakah kau pinjamkan ke Paula. Dia bisa memakai semua senjatanya"


Yang dikatakan oleh Hanz memang benar, Paula mampu untuk menggunakan setiap item yang dibuat, bahkan senjata sekalipun.


Tanpa mengeluh, Sebastian langsung memberikan 5 jenis tongkat berbeda, dengan kemampuan berbeda pula.

__ADS_1


Ini karena Sebastian adalah seorang Penempa, jadi wajar jika ia memiliki berbagai senjata yang cukup bagus.


__ADS_2