Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Terkadang Egois Itu Baik


__ADS_3

Kini adalah pertarungan Anubis dan Roy.


Roy yang melihat Anubis memasuki arena mulai ikut memasuki arena. Sebelum ia melangkah, ia melihat ke arah Jarvis.


"Bersiaplah"


Jarvis lalu memegang kedua pedangnya.


"Seharusnya aku yang bilang begitu"


Tiba-tiba aura disekitar Jarvis bergetar.


'Aku tidak bisa menggunakan petir hitam dengan pedang ini'


Jarvis yang merasa  tak mampu menggunakan petir hitam, akhirnya memutuskan untuk mengambil pedang hitam dari taring Hidra, Primera.


Seketika itu juga petir hitam akhirnya bisa digunakan. Semua orang heran, bukankah Jarvis telah selesai bertarung. Mengapa ia menggunakan kekuatannya lagi.


Jarvis lalu meluncur ke arah Anubis.


"Percuma saja, semua rencanamu dapat kuketahui"


Anubis yang melihat kedatangan Jarvis lalu memunculkan sebuah buku. Buku itu adalah buku yang dapat memanggil pasukan arwah.


Seketika itu juga muncul pasukan dari 5 orang peringkat teratas dari para gladiator generasi pertama. Mereka inilah yang berhasil mengalahkan Jarvis waktu itu.


Jarvis yang dikepung malah tertawa sinis.


"Apa kau kira akan sama seperti dulu"


Jarvis lalu menebas mereka berlima dengan kecepatan petir. Tubuh mereka berserakan.


Dari arah Anubis, ia merasa jengkel. Seharusnya ini adalah pertarungan satu lawan satu, mengapa ia ikut campur.


"Kau melihat ke arah mana?"


Ternyata Roy sudah berada di samping Anubis. Ia lalu meninju rusuk Anubis. Anubis pun akhirnya terlempar.


Walaupun terlempar jauh, namun ia mampu untuk mempertahankan keseimbangannya. Ia mampu membuat dirinya tetap berdiri dari serangan Roy. Bahkan ia tak menerima luka sedikitpun.


'Kenapa bisa ia mendekatiku tanpa berpikir'


Anubis mulai heran dengan kemampuan Roy. Padahal ia mampu untuk membaca pikiran siapapun.


Tiba-tiba Jarvis sudah berada di atas Anubis, ia lalu mengayunkan pedangnya. Sebuah tebasan kilat hitam menghantam tubuh Anubis, namun Anubis masih dapat menahannya dengan buku arwahnya.


Tebasan itu tak mampu untuk melukai Anubis. Sebaliknya, Anubis malah menciptakan serangan yang serupa dari buku tersebut untuk menyerang Jarvis.


'Gawat'


Tebasan petir hitam menerjang Jarvis, namun karena refleks yang hebat Jarvis dapat menahannya.


Di sisi lain Anubis kembali merasa heran.


'Bukan cuma satu, tetapi ada dua orang yang tidak bisa ku baca pikirannya'


Anubis lalu mencoba membaca pikiran siapapun.


'Bukan cuma mereka berdua, ada apa ini?'


Anubis hanya berusaha menghindar dari serangan membabi-buta Roy dan Jarvis.


Saat Anubis melihat Paula, semua pertanyaannya terjawab.


'Mahkota Fir'aun'


Paula memakai mahkota emas yang ternyata dipakai oleh setiap raja Fir'aun di Mesir dulu.


***


Kembali ke hari yang sama ketika Jarvis berhasil mengalahkan Jarvis.


Jarvis dan Roy mengambil rute berbeda dengan Paula agar hubungan mereka tak dicurigai.


Jarvis kala itu berhasil pergi ke Mesir, untuk bertemu dengan para gladiator Colosseum. Sedangkan Roy menyendiri sejenak, setelah merasa cukup lama, ia kembali ke Kafe milik Jarvis yang ternyata ada Paula yang sedang menunggu di dalam.


Paula yang menunggu dengan rasa cemas malah dibuat takut oleh Roy. Roy yang telah berada di dalam Kafe berubah menjadi sosok monster Salamander.


Karena toko yang tutup maka tak ada yang melihat perubahan itu kecuali Paula. Roy lalu menghampirinya.


Roy lalu mendekatkan kuku panjang yang berbalut api ke leher Paula.


"Apa yang kau inginkan?"


"Apa maksudmu Roy, jangan bercanda Roy. Ini sudah kelewatan"

__ADS_1


Roy yang dianggap bercanda, kemudian mencengkeram leher Paula. Panas dari tangan Roy membuat leher Paula melepuh.


"Aku benar-benar tidak tahu apa maksudmu Roy"


"Kau sudah tahu identitas kami, kenapa kau tidak pergi"


"Kenapa lagi lagi kauenyakan hal yang aneh"


Paula mulai tersulut amarahnya. Ia lalu mencengkeram balik tangan Roy.


"Bukankah kita ini teman?"


"Kalau begitu, jika nanti Ludheer sudah sadar. Terus ia bertanya siapa identitas kami nanti, apakah kau akan membocorkannya"


"Tidak akan"


"Bagaimana jika ia membuangmu sebagai anaknya?"


Paula terdiam sejenak. Roy yang marah seakan ingin memutus leher Paula.


"Sudah ku duga, kau  akan …"


"Bahkan jika ia membunuhku"


" ? "


"Bahkan jika ayahku membunuhku. Aku akan tetap diam"


Suara Paula sangat pelan namun tulus.


Mendengar itu Roy lalu melepas tubuh Paula. Paula kini memiliki bekas kulit melepuh akibat perbuatan Roy.


"Kau sudah tidak bisa mundur sekarang"


Roy lalu pergi ke sudut ruangan. Di situ terdapat sebuah lemari dengan tumpukan piring dan gelas. Roy lalu menggeser lemari tersebut.


Sebuah pintu masuk dengan tangga kebawah tanah menuju ruangan tersembunyi berhasil membuat Paula kaget. Roy lalu masuk ke dalam.


"Ikut aku"


Mendengar itu, Paula lalu mengikutinya. Diperjalanan Roy mulai menceritakan tujuan Jarvis.


"Jarvis sebenarnya adalah seorang gladiator. Setiap hari harus berusaha untuk tetap hidup bagaimanapun caranya. Saat ini Jarvis telah berhasil kabur namun ia berusaha untuk membebaskan semua gladiator yang masih terjebak dalam pertarungan konyol tersebut"


Sesampainya di ujung tangga terdapat sebuah pintu besi, Roy lalu membukanya.


Roy lalu menyalakan lampu. Di dalam ruangan tersebut merupakan ruangan kosong dengan dinding besi. Tempat latihan yang sangat bagus, kedap suara dan tahan benturan.


Di salah satu sisi ruangan terdapat sebuah peti yang dari tadi terus bergetar. Roy lalu menghampiri peti itu.


"Ini adalah kelemahan dari salah satu petinggi monster"


"Petinggi monster?"


"Aku juga tidak terlalu paham, lebih baik jika Jarvis yang menjelaskannya"


Roy membuka peti tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah mahkota.


"Mahkota Fir'aun, mahkota yang dapat menghilangkan  kemampuan dari salah satu petinggi monster. Mahkota ini terus saja bergetar saat kau berada di sini"


"Apa maksudmu?"


"Mungkin saja mahkota ini telah menunggumu dari dulu"


***


Kembali ke masa sekarang.


Jarvis yang melihat Anubis terus saja bertahan kemudian menghentikan serangannya.


"Roy, apa yang terjadi?"


"Mahkota itu sudah punya pemilik"


Roy lalu melirik ke Paula, terlihat Paula sedang memakai mahkota.


"Apa maksudmu Paula bisa menggunakannya. Bukankah kemampuannya adalah sihir"


"Salah, kemampuannya adalah dapat menggunakan semua jenis item secara maksimal. Termasuk mahkota Fir'aun"


Dengan mahkota yang dipakai oleh Paula, kini ia dapat menghilangkan kemampuan pembaca pikiran milik Anubis.


Jarvis lalu mengangkat pedangnya dengan tinggi.


"Ini bukanlah pertandingan, namun pertarungan. Siapa kalah maka ia mati."

__ADS_1


Semua kapten divisi di bawah perintah Jarvis mulai paham situasinya. Ini adalah perang, mereka harus maju.


Jarvis kembali berteriak.


"Bahkan jika kita memenangkan lima pertarungan, tidak ada jaminan bahwa kita akan dibiarkan hidup. Maka dari itu, …"


Jarvis lalu menarik nafasnya.


"SERANG!!"


Semua gladiator langsung menyerang, tak tinggal diam para monster juga menyerang. Bentrokan gladiator dan para monster tak terhindari.


Dengan kemampuan para gladiator, kumpulan monster dapat dipukul mundur.


Tak terima dengan itu, Anubis lalu membuka bukunya. 


"Keluarlah!"


Tiba-tiba pasukan kematian dari bawah tanah muncul. Tubuh mereka hanyalah sebatas kerangka, namun dengan energi yang besar, tubuh pasukan kematian memiliki kemampuan layaknya sebelum mereka mati.


Pasukan itu lalu menerjang setiap orang yang ada di situ.


Ada beberapa gladiator yang merasa putus asa. Di depannya berdiri sesosok monster naga dengan tubuh tengkorak yang hendak menyemburkan apinya.


"Chen Chao tahan"


Yang memerintah adalah Park Eun Ha, kapten divisi ketiga. Mendengar itu, Chen Chao langsung membuat perisai di hadapan naga itu. Semburan itu berhasil di tahan.


Melihat adanya kesempatan, Eun Ha lalu memukul kerangka naga tersebut dengan tinju api. Kerangka naga itu langsung berantakan.


Setelah beberapa saat kemudian, kumpulan kerangka naga mulai berdatangan mengelilingi Eun Ha. Ia lalu mengangkat tangannya.


"Jawablah panggilanku, Tiamat"


Seketika itu juga awan menjadi merah dengan hembusan hawa panas. Tiba-tiba dari awan itu muncul sosok monster dengan sayap besar, kulit seperti ular, serta tubuh yang mirip kadal.


Ternyata yang dipanggil oleh Eun Ha adalah seekor naga.


"Inilah yang menyebabkan ia menjadi peringkat pertama di generasinya" kata Kamui sambil tersenyum.


Naga yang muncul itu lalu menyerang semua monster dan semua pasukan kematian yang berada di sekitar Eun Ha. Hanya beberapa detik, jumlah pasukan kematian mulai berkurang.


Di sisi lain Kamui mulai menghabisi semua pasukan kematian milik Anubis dengan wujud ekor ketiga. Kecepatan Kamui sangat tinggi sehingga tak ada monster yang dapat menyerangnya. Tak terhitung lagi jumlah kerangka monster yang berserakan oleh perbuatan Kamui.


Lain halnya dengan Nagi, kapten divisi keempat. Ia langsung menerobos pertahanan monster. Saat situasi mulai terkendali, ia lalu berteriak.


"Berhenti!"


Semua monster yang mendengarnya kemudian berhenti.


"Hancurkan mereka!"


Perintah yang Nagi berikan adalah untuk menghancurkan pasukan kematian milik Anubis. Seketika itu juga para monster langsung menyerang pasukan kematian.


Ada beberapa monster yang mati, ada juga pasukan kematian yang berhasil dihancurkan. Namun itu semua tak membuat Nagi merasa kecewa. Ia merasa bahwa monster yang diperintahnya hanyalah pasukan siap mati.


Melihat semua petarung berusaha untuk menahan para monster, Hanz hanya diam tak bersuara.


Ia lalu pergi meninggalkan Colosseum. Tempat yang ditempatinya adalah bekas pertarungan Jarvis dan gurunya.


Di situ terlihat mayat Diablo serta monster Chimera yang mulai bangkit menjadi tulang belulang yang hidup. Monster itu kemudian menyerang Hanz.


Merasa terancam, Hanz lalu meningkatkan kekuatannya. Ia lalu menarik meteor dari langit kemudian menjatuhkannya tepat mengenai kedua monster tersebut. 


Monster tersebut langsung hancur. Tapi belum juga meteor itu padam karena hawa panas, monster itu bangkit lagi. 


"Sepertinya ini akan melelahkan"


Hanz mulai serius, tubuhnya kini berwarna hitam besi. Itu adalah lapisan batu meteor.


Hanz lalu menyerang Diablo  dengan tinjunya namun sebelum pukulan itu sampai ke target, Hanz terhempas karena sebuah ledakan.


Ternyata ledakan itu dari monster Chimera yang berubah wujud menjadi lebih besar dari pada ketika ia melawan Kamui. Hanz yang terkulai di tanah akibat sebuah serangan,  berusaha untuk berdiri.


Tubuh Hanz tak memiliki luka sedikitpun dari serangan tersebut. Ia lalu menghampiri mereka.


"Apa cuma segini"


Monster itu lalu mengaum tanda marah dengan Hanz. 


Diablo yang belum pernah mengeluarkan kekuatannya akhirnya mulai serius. Gumpalan aura api dan petir menyatu di kedua tangannya. Terciptalah sebuah bola energi besar dengan api dan petir. 


Hanz yang melihatnya berusaha untuk menjauh. Namun saat ia baru hendak melangkah, ternyata serangan itu sudah mengenainya.


Hanz tak kuasa menghindar. Hanz terus terdorong jauh entah kemana. Dari kejauhan nampak serangan tersebut akhirnya meledak. Ledakan itu ternyata sangat besar.

__ADS_1


Serangan secepat petir dan ledakan seperti bom. Kemampuan Diablo yang tidak sempat muncul karena berhasil dibunuh oleh Hanz ternyata sangat mengerikan.


__ADS_2