Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Anggota Baru


__ADS_3

Kota T adalah kota yang paling sering di kunjungi. Salah satu kota yang bersentuhan langsung dengan pantai. Hiruk-pikuk pejalan kaki dan kendaraan menambah ramainya suasana perkotaan.


Di sudut jalan terlihat dua pemuda sedang berjalan. Mereka berdua adalah Jarvis dan Roy.


"Baiklah, aku menyerah. Setiap usulan revolusioner yang ku berikan selalu kau tolak" kata Roy kepada Jarvis.


"Itu hanya pemikiranmu seorang. Setiap nama julukan yang kau rekomendasikan malah terdengar Mengerikan" kata Jarvis.


"Jadi julukan kita adalah Joker, Aku menjadi Joker Merah sedangkan kau menjadi Joker Hitam" Roy memperjelas maksud dari Jarvis.


"Ternyata bisa paham juga" ucap Jarvis.


"Padahal lebih bagus jika namanya Joker merah pembawa api dewa raja naga dan Joker Hitam si muka hangus seperti arang" ucap Roy merasa hebat dekan julukannya.


"Aku tarik kembali kata-kataku, kau sangat paham, bahkan terlalu banyak paham. Mengalahkan Albert Einstein" ucap Jarvis.


"Tidak, Albert Einstein punya IQ yang rendah, aku memiliki IQ 560" ucap Roy sombong padahal itu hanyalah karangannya sendiri.


"Tapi Jarvis, bagaimana kita bisa memberitahukan julukan kita ke publik?" Tanya Roy kemudian.


"Aku punya cara, tapi setelah pedangku selesai dibuat" jawab Jarvis.


Selang beberapa lama mereka terus berbicara, mereka akhirnya sampai ke Kafe kembali.


Kafe masih kosong karena sebelum Jarvis pergi, ia membalikkan papan gantung bertuliskan OPEN menjadi CLOSE. Ini penanda bahwa Kafenya telah ditutup.


Jarvis dan Roy pun masuk ke dalam Kafe. Lalu seseorang datang membuka pintu Kafe tersebut.


"Halo, apa kabar? Siapa namamu?" Terlihat Paula duduk di kursi sambil bertolak dagu.


Jarvis dan Roy kaget karena masih ada orang di dalam Kafe. Walaupun Paula ada di dalam Kafe, namun ia hanya sendiri. Seluruh pembeli atau bahkan para pahlawan telah tidak ada.


"Kenapa kau masih ada di sini?" Tanpa menjawab pertanyaan dari Paula, Jarvis malah bertanya balik.


"Hey kalau ada orang yang bertanya harusnya dijawab. Itu adalah pengetahuan umum." Kata Paula.


"Namaku Jarvis Kurtis, sedangkan yang di sampingku namanya Roy Mustang" ucap Jarvis yang agak mengalah.


"Seharusnya begitu kalau ada orang yang bertanya. Namaku Paula Quinne" ucap Paula.


"Ohh Pala Kin" ucap Jarvis.


"Hey, namaku bukan Pala Kin, tapi Paula Quinne." Paula memperjelas.


"Paulus Queen"


"Paula Quinne"


"Vaulag Uin"


"Paula Quinne"


"Paol Kuin"


"Kenapa tidak Pookie saja" kata Paula.


"Pookie, nama yang aneh"


"Telingamu yang aneh"


Paula dan Jarvis terus berkelahi masalah nama.


'Sepertinya pendengarannya bermasalah akibat resonansi suara yang kugunakan tadi' kata Roy sedikit berpikir.


"Terserahlah mau menyebutku apa. Alasan aku ada disini karena aku mewakili seluruh pahlawan tadi" ucap Paula mulai serius tapi dengan nada rendah.


"Maaf" ucap Paula kepada Jarvis.


"Kalian sudah ku maafkan. Sekarang sudah tak ada lagi yang perlu dibahas kan? Jadi silahkan pergi!" Ucap Jarvis.


"Masih ada, untuk semua kerugian, pamanku akan menanggung semuanya" kata Paula.


"Masalah itu sudah tidak apa-apa. Jadi sekarang kau bisa keluar kan?" Kata Jarvis sedikit risih.


"Masih ada satu hal terakhir" ucap Paula.


"Masih ada lagi?" Tanya Jarvis keheranan.


"Apakah kau membutuhkan Pelayan di Kafemu. Aku siap bekerja di sini jika anda mau" ungkap Paula.


"Tidak, terima kasih" kata Jarvis menolak.


"Terima kasih banyak, kami memang mencari seseorang yang mau bekerja di sini" kata Roy.


"Roy ikut denganku!"


Setelah mengucapkan itu, Jarvis pergi ke sudut ruangan. Ia kemudian bertanya kepada Roy.


"Apa maksudnya tadi?"


"Tenanglah sebentar. Kita memang harus berhati-hati dengan seseorang yang akan mengetahui identitas kita. Itu jugalah alasannya kau tidak memperkerjakan orang lain. Namun aku melihat, ia sepertinya bisa menjadi aset bagi kita" Kata Roy.


"Maksudmu?"


"Pertama, tidak ada yang akan mencurigai seseorang buronan yang dekat dengan pahlawan. Kedua, aku melihat ia mirip dengan kita"


"Tambah tidak jelas" kata Jarvis mengeluh.


"Ia memiliki potensi untuk dapat berkembang cepat, namun aku tak tahu bagaimana caranya. Kau pasti tahu kalau kau bisa bertambah kuat tergantung pada senjata yang kau gunakan. Sedangkan aku dapat bertambah kuat tergantung pada monster yang ku makan" jelas Roy.


"Begitu yah"


"Alasan terakhir, akau berfirasat bahwa ia akan berpihak ke kita"


"Apakah kau yakin firasatmu itu benar, jika benar ia ibarat timbunan emas"


"Aku pernah memakan kepala ahli strategi monster sebelumnya, namun ternyata susunan strategi yang digunakannya ternyata mengandalkan firasat yang kuat, itu adalah kemampuannya" Kata Roy.


"Apakah yang kamu maksud itu adalah mereka?" Kata Jarvis dengan ekspresi yang serius sambil mengepalkan tangannya.


"Iya" jawab Roy singkat.


"Mereka memang monster. Baiklah kalau begitu lakukan sesukamu. Rekrut saja ia" Kata Jarvis.


Jarvis kemudian kembali ke tempat Paula berada.

__ADS_1


"Selamat datang anggota ke tiga" kata Jarvis mengulurkan tangannya.


"Terima kasih" kata Paula yang senang sambil menjabat tangan Jarvis.


"Biar ku perkenalkan ulang, namaku Jarvis Kurtis. Aku pemilik tempat ini. Dia adalah saudaraku, Roy Mustang" kata Jarvis menunjuk Roy.


"Tidak mirip" ucap Paula tiba-tiba.


"Saudara angkat" jawab Roy.


"Begitu yah" kata Paula.


"Ia punya pekerjaan lain bukan di sini, cuma terkadang ia tinggal di sini. Apakah kau tahu Taman Hiburan Mustang?" Kata Jarvis.


"Aku tahu, bukannya itu adalah taman bermain terbesar di kota T karena memiliki wahana hiburan raksasa. Apakah kau pekerja di sana?" Ucap Paula bersemangat sambil melihat ke Roy.


"Bukan" kata Roy.


"Ia pemiliknya, buktinya nama Roy dan nama Taman Hiburan tersebut sama-sama memiliki nama Mustang" kata Jarvis.


"Kita seharusnya pergi ke sana" ucap Paula yang bersemangat.


"Tidak sekarang. Tunggu saja, kita pasti ke sana" kata Jarvis.


"Juga untuk gajimu hampir sama seperti gaji pelayan pada umumnya. Waktu gajian terhitung sebulan sekali. Apakah sudah mengerti?" ucap Jarvis.


"Beres" kata Paula sambil mengangkat tangan kanannya setinggi pundak, dengan memposisikan jari membentuk angka 0.


Selang beberapa saat, Paula kemudian mulai berbicara.


"Baiklah akan ku perkenalkan diriku. Namaku Paula Quinne. Aka adalah seorang pahlawan. Tidak, kalau sekarang aku adalah mantan pahlawan. Jadi aku harus bekerja. Aku mudah belajar, jadi mungkin aku bisa menjadi pelayan yang profesional dalam waktu dekat." Katanya sambil tersenyum.


"Kenapa kau berhenti menjadi pahlawan?" Tanya Roy.


"Ssstt, kalau itu rahasia" ucap Paula sambil mendekatkan jari telunjuk di bibirnya.


"Sebelum kau kerja, ada aturan pertama yang harus kau patuhi!" Kata Jarvis serius.


"Namamu terlalu sulit disebut. Jadi namamu sekarang adalah Pookie" Kata Jarvis sambil menunjuk jidat Paula.


"Apa, aku tidak setuju" bantah Paula.


"Terserah kau, masih banyak pekerjaan di luar sana jika kau tidak cocok di sini" ucap Jarvis sambil tersenyum jahat.


"Dasar Iblis" umpat Paula.


***


Di suatu tempat yang gelap di dalam lorong pembuangan air, nampak seorang pahlawan penuh luka bakar dan kesakitan. Ia sedang berlari menjauhi sesuatu. Lalu terlihat orang di belakangnya.


"Pahlawan Kelas B, sungguh membosankan" ucap orang yang mengikuti pahlawan tersebut.


"Apa maumu? Kenapa kau ingin membunuhku?" Kata pahlawan.


"Apakah kau tahu, pemegang pedang terkuat?" Tanya orang itu.


"Aku sungguh tidak tahu" kata pahlawan itu.


Mendengar perkataan pahlawan, orang itu kemudian meninggalkannya. Tapi saat jarak mereka mulai jauh. Orang itu mengarahkan tangannya ke pahlawan.


Sebuah ledakan keluar dari tangannya, tapi di momen itu pahlawan malah tersenyum.


"Kau ceroboh" ucap pahlawan walaupun tidak ada yang mendengarnya.


Ternyata ia telah berhasil menuis sesuatu. Ledakan itu lalu mengenai dirinya.


"Jika ini di tempat terbuka, kau akan mati lebih cepat. Salahkan kebodonmu sendiri." Ucap orang itu.


Ia kemudian pergi ke tempat terbuka di suatu jalan. Saat itu karena sinar mentari yang terang tampilannya jadi terlihat.


Ia adalah seorang pria paruh baya yang memiliki bentuk tubuh dan tinggi yang sama seperti orang pada umumnya. Ia memiliki bekas luka di mata kirinya. Karena ia tak menggunakan pakaian, nampak sebuah tato di punggunnya. Ia memiliki tato monyet yang memeluk salib terbalik.


Saat ia berjalan di teriknya mentari, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya tertuju ke sebua bangunan yang besar. Namun bukan itu yang menjadi hal yang dapat menarik perhatiannya. Di bangunan itu terdapat sebuah layar televisi yang cukup besar.


Dari layar itu, nampak seorang presenter yang sedang mewawancarai seorang.


"Jadi menurut anda, siapa kira-kira pahlawan terkuat sekarang ini?" Kata reporter.


"Jika disebut yang terbaik mungkin aku tidak bisa memberikan jawaban. Namun jika itu menyangkut masalah pengguna pedang, aku mungkin tahu." Kata seorang narasumber.


"Siapa yang anda maksud?" Tanya reporter yang penasaran.


"Menurutku yang menjadi pahlawan pemegang pedang terkuat adalah Ludheer Bashil.


"Ohh begitu yah, memang kemampuannya patut diapresiasi." Kata reporter.


"Sepakat, namun terkadang aku kecewa dengannya."


"Kenapa begitu?"


"Ia pergi ke kota T, namun ia tidak mengajakku" kata narasumber tersebut yang ternyata adalah seorang pahlawan.


Mendengar perkataan mereka, pria itu kemudian tersenyum.


"Akhirnya ketemu" ucapnya.


***


Kembali ke tempat Jarvis, ia sedang membuat kopi, kemudian Paula menghampirinya.


"Apakah sudah jadi?" Katanya.


"Masih belum, tunggu sebentar." Kata Jarvis.


"Dasar lambat" ucap Paula.


"Dasar brengsek, ku pecat kau baru tahu rasa" ucap Jarvis.


Mendengar itu, Paula lalu menghindar dengan berpura-pura melayani pelanggan.


"Ada yang bisa ku bantu?" Kata Paula.


"Coffee latte satu dan Americano dua" kata salah seorang pelanggan.


"Silahkan tunggu sebentar ya"

__ADS_1


Paula lalu kembali ke Jarvis.


"Coffee latte satu dan Americano dua" kata Paula.


"Ok" ucap Jarvis singkat.


Paula melayani setiap pelanggan yang datang. Ia mampu beradaptasi. Walaupun ia seorang pahlawan, ia tidak malu bekerja sebagai seorang pelayan.


Tak terasa kini waktu berjalan dengan cepat. Sekarang sudah mulai gelap, waktu bagi mereka untuk beristirahat.


"Kita istirahat dulu, nanti lanjut lagi setelah makan" ucap Jarvis.


"Apa, sampai malam?" Kata Paula kaget.


"Iy, kita akan bekerja sampai malam. Apa kau sudah capek?"


"Tidaklah, lihat ini" kata Paula sambil menunjukkan otot lengannya yang tidak berbentuk sambil tersenyum.


"Otot itu seperti ini" ejek Jarvis.


"Masa Pahlawan kalah" lanjutnya.


"Iya iya" ucap Paula.


Mereka pun melepaskan celemek kape. Saat itu muncullah Roy, sambil membawa makanan.


"Ayo makan!" Katanya.


"Akhirnya ada orang yang pengertian, ayo kita makan!" Ucap Paula sambil mengangkat tangannya.


Ia kemudian berbalik melihat Jarvis, namun Jarvis malah melihatnya dengan mata melotot. Ia tersinggung akibat perkataan Paula bahwa ia tidak pengertian. Melihat itu Paula malah membalas dengan menjulurkan lidahnya.


Setelah jam menunjukkan pukul 07.00 malam, mereka melanjutkan pekerjaan mereka kembali. Sesekali Jarvis melihat kinerja dari Paula, ia terkadang tercengang. Bagaimana tidak, ia mampu bekerja dengan baik.


Seharusnya seorang pahlawan pasti tidak akan mau untuk menjadi seorang pelayan. Melihat bahwa gajinya yang begitu rendah, juga dapat merusak reputasi. Namun hal tersebut tidak berlaku untuk Paula. Malahan ia mampu beradaptasi, bahkan terlihat jika ia pernah mengerjakannya sebelumnya.


***


Waktu menunjukkan pukul 11.00 malam. Waktunya bagi mereka untuk beristirahat dan menutup Kafe.


"Sudah waktunya istirahat" ucap Jarvis ke Paula.


"Akhirnya selesai juga" kata Paula sambil bersantai di tempat duduk.


Kala itu memang sudah tidak ada lagi pelanggan.


"Kalau begitu aku pulang dulu, besok aku datang lagi. Jam berapa Kafe mulai buka" tanya Paula.


"Jam 8 pagi" ucap Jarvis singkat.


"Baiklah aku duluan. Sampai jumpa" kata Paula.


Mendengar itu Jarvis hanya melambaikan tangan.


"Kenapa kau tidak menyuruhnya untuk membantumu membersihkan Kafe saat sudah tutup" kata Roy.


"Tida apa-apa. Aku bisa sendiri" kata Jarvis sambil sesekali menggosokkan kain ke meja pelanggan.


"Terserah mu lah" ucap Roy.


Setelah beberapa saat, tiba-tiba hujan datang. Derasnya hujan menambah suasana berisik dalam Kafe tersebut.


"Apakah kau lapar?" Kata Jarvis ke Roy.


"Tidak, tapi kalau ada aku mau" jawab Roy.


"Aku keluar dulu mencari makanan" kata Jarvis.


"Di luar hujan deras"


"Tidak apa-apa"


Jarvis kemudian pergi mengambil payung, lalu berangkat ke luar mencari makanan. Terlihat banyak orang yang berlarian karena hujan yang turun tiba-tiba. Ada juga orang yang berjalan santai karena memakai payung.


Ada yang aneh dengan tingkah laku Jarvis. Ketika ia hendak membeli makanan, ia beberapa kali melihat daerah sekitar seperti mencari sesuatu. Saat melihat toko roti masih terbuka ia pun masuk ke dalam untuk membeli roti kukus.


Di perjalanan pulangnya, ia lagi-lagi berjalan sambil menenggak kanan kiri sambil mencari sesuatu. Saat Kafenya sudah dekat, ia malah terus berjalan melewatinya.


Sudah agak lama Jarvis keliling mencari sesuatu. Ia pun sampai di suatu taman. Namun mendadak ia menghentikan langkahnya. Di depannya terlihat seorang gadis yang tertidur di bangku taman sambil menangis.


Jarvis mengingat kejadian saat mereka bekerja di kafe. Nampak Paula begitu bersemangat bahkan selalu tersenyum saat bekerja. Tapi yang dilihatnya kini berbeda. Di depannya nampak gadis rapuh yang menangis sambi tertidur walaupun dilanda hujan.


Melihat hal itu, Jarvis kemudian memayunginya. Seketika itu juga Paula berhenti menangis. Paula kemudian melihat orang yang memayunginya. Ia pun bangun dari tidurnya, walaupun dengan posisi duduk.


"Pergi dari sini, brengsek!" Tutur kata Paula kini berubah menjadi kasar, ia menyingkirkan payung dari atas


"Apa yang kau lakukan disini?" Jarvis mulai bertanya.


"Pergi, kubilang pergi dari sini!" Kata Paula yang mulai menangis kembali.


"Apakah kau tidak apa-apa?"Jarvis kembali bertanya.


Paula yang menangis kemudian mengambil tanah di bawah kakinya.


"Pergi dari sini kataku!" Ucap Paula sambil melemparkan tanah ke baju Jarvis.


"Kalau ada orang yang bertanya harusnya dijawab. Itu adalah pengetahuan umum. Apakah kau akan menelan ludahmu yang jatuh ketanah" Kata Jarvis mengikuti perkataan dari Paula.


Mendengar itu Paula membuang tanah yang diambilnya lagi untuk melempar Jarvis. Ia kini tidak menyuruh Jarvis untuk pergi. Melihat itu, Jarvis kemudian memayunginya kembali.


Beberapa saat kemudian Paula berhenti menangis. Ia kemudian mulai berbicara.


"Lisensi pahlawanku dicabut, sekarang aku bukanlah pahlawan. Bahkan rekeningku tidak bisa dipakai. Sekarang aku sudah tidak punya apa-apa lagi, sekarang aku tidak ada bedanya dengan gelandangan." Kata Paula sambil sesekali mengosok matanya dengan tangan.


"Bahkan apartemen yang ku tempati kini tidak boleh kumasuki" lanjutnya.


"Mau makan?" Tawar Jarvis.


"Boleh"


Paula kemudian melihat plastik yang dipegang Jarvis.


"Apakah kau dari tadi mencariku?" Tanya Paula.


"Tidak, aku pulang mencari makanan" kata Jarvis.

__ADS_1


"Dasar pembohong" kata Paula.


__ADS_2