Aku Bukanlah Pahlawan

Aku Bukanlah Pahlawan
Usaha Keras


__ADS_3

Kota T kini dalam keadaan mencekam. Para pahlawan masih bertarung melawan Roy. Walaupun Ludheer berhasil diselamatkan, namun lengannya telah hancur. Itu merupakan pukulan mental yang berat bagi pengguna pedang jika tangannya telah hancur. Sedangkan Jarvis melawan Orgasheel di dalam gedung.


Jarvis mengangkat tangan kanannya yang di arahkan ke depannya. Sedangkan tangan kirinya ke bawah. Sebuah ledakan kini munuju ujung pedang sebelah kanan. Jarvis ternyata mampu untuk menghisap sebuah ledakan ke dalam ruang dimensi.


"Tingkat lanjut dari ruang penyimpanan, Black Hole"


Jarvis lalu memberi tahu Orgasheel kemampuannya. Seketika itu juga Orgasheel mengingat sesuatu.


"Ini buruk, kukira hanya mitos, ternyata benar adanya. Manusia yang menerima pelatihan dari para petinggi monster. Mereka mampu untuk membuat Gerbang Monster"


Orgasheel yang terkejut tidak bisa berbuat apa-apa. Ledakannya kini bisa diredam. Ia hanya bisa diam saja. Melihat adanya peluang, Jarvis langsung menyerang. Walaupun jarak yang begitu jauh, namun Jarvis melakukan sebuah tebasan ke Orgasheel.


"Tebasan jarak jauh?"


Orgasheel yang kaget di tebas dari jarak jauh, mampu untuk menghindar.


"Tidak, namanya sayatan terbang"


Jarvis kemudian membalas perkataan Orgasheel. Ia kini melakukan beberapa sayatan terbang ke arah Orgasheel. Namun Orgasheel masih mampu untuk menghindari semua serangan yang di tujukan padanya.


"Sepertinya harus dari jarak dekat yah"


Orgasheel kini mengambil keputusan untuk melakukan serangan dari jarak dekat. Betul saja, ketika Orgasheel berusaha meledakkan Jarvis dari jarak dekat, Jarvis tidak sempat untuk membuat Black Hole. Hal ini membuat Orgasheel tertawa lebar.


"Hoi...hoi. ada apa? Bukannya kau bisa meredamkan ledakanku"


Orgasheel terus membuat ledakkan ke arah Jarvis. Jarvis kini tak punya kesempatan untuk membalas, jadi berusaha untuk menghindari serangan Orgasheel.


Jarvis kemudian menebas tempat berpijaknya dengan pedang, yang membuat lantai yang di tempatinya bercelah membentuk sebuah lubang segitiga. Ia lalu melompat ke bawah.


Orgasheel terus saja melakukan ledakan sambil memburu Jarvis. Namun ternyata Jarvis sudah berada tepat di lantai bawah tempat Orgasheel. Jarvis lalu melakukan tebasan dari bawah sambil memancing Orgasheel ke sudut bangunan.


Saat Orgasheel berada di sudut bangunan, Jarvis lalu menebas tepi bangunan yang ada Orgasheel hingga jatuh ke bawah. Saat Orgasheel akan terjatuh, ia masi sempat untuk melompat ke tepi gedung.


Namun Jarvis sudah ada di situ, Orgasheel lalu membuat ledakkan ke depannya. Tapi ledakan kembali diredam. Ternyata Jarvis sudah mengaktifkan Black Hole. Dengan Black Hole di ujung pedangnya, ia berusaha menerjang Orgasheel. Namun Orgasheel malah melompat dari atas gedung.


Di tempat Roy dan para pahlawan, mereka kini tidak memiliki niat untuk bertarung lagi. Di depan mereka nampak sebuah gedung yang terus menerus meledak, juga sebuah tepi bangunan yang jatuh. Penampakan yang memang sangat asing bahkan untuk para pahlawan.


"Jarvis"


Roy sedikit bergumam memanggil nama Jarvis, karena ia merasa khawatir. Saat itu, Roy melihat seseorang terjun dari atas gedung. Sesaat sebelum orang itu sampai ke dasar, ia lalu meledakkan daerah di bawahnya untuk menghindari benturan. Karena jarak yang cukup jauh, ledakan itu tidak sampai ke tempat para pahlawan.


Orgasheel yang berhasil selamat dari kematian, mulai mengambil posisi. Kaki kirinya dilangkahkan ke depan, sedangkan kedua tangannya berada di perut kanan seakan memegang sebuah bola. Selang beberapa waktu, ia memperbesar otot-ototnya. Sebuah ledakan besar keluar dari kedua telapak tangannya. Ia lalu mengarahkannya ke gedung tempat Jarvis.


Sebuah ledakan besar terjadi di gedung tersebut. Bukan hanya lantai bawah tapi juga seluruh lantai kini terbakar. Tak berselang lama, gedung juga mulai mengalami keretakan. Perlahan namun pasti gedung kini mulai terlihat miring.

__ADS_1


Ketika gedung mulai miring kurang dari 70°, gedung tidak bisa lagi mempertahankan kekokohannya. Kini gedung tersebut jatuh disertai dengan api yang membara. Para pahlawan serta Roy yang berada di daerah situ berusaha lari untuk menghindari hempasan gedung yang roboh. Walaupun tidak ada yang jadi korban namun tak sedikit pahlawan yang menerima luka kecil dan sedang akibat hempasan gedung yang roboh.


Di lain sisi, Paula yang mengamati lewat televisi hanya bisa tercengang. Ia yakin, dengan serangan seperti itu Jarvis pasti mati. Ia kemudian berusaha menenangkan dirinya sendiri.


"Hey Paula, dia itu orangnya cerewet.."


Paula mengingat ketika Jarvis memarahinya, sambil tertawa.


"...kurang perhatian, …"


Paula juga mengingat saat Jarvis memayunginya di waktu hujan lebat.


".. bodoh…"


Saat Jarvis memberikan nama yang aneh pada pedangnya.


"...dia seorang penjahat."


Paula masih mengingat dengan jelas punggung Jarvis yang meninggalkannya untuk pergi menyelamatkan ayahnya.


"Sial."


Paula kini menjadi agak temperamen. Ia lalu mengambil kursi dan melemparkannya ke arah televisi, sontak hal ini membuat televisi tersebut langsung rusak. Ia lalu meremas kepalanya beberapa saat, air matanya mengalir membasahi pipinya. Sesaat kemudian ia pun pergi ke luar dari Kafe, pergi ke lokasi kejadian.


"Keluarlah! Aku tahu kau masih hidup"


Orgasheel terus berteriak seakan yakin jika Jarvis masih hidup. Di dalam gedung lain tepat berada di samping gedung yang telah roboh, Jarvis ternyata berhasil menyelamatkan diri. Ia berhasil kabur lewat gerbang monster yang berada tepat di belakangnya.


Jarvis mulai bergerak ke sisi tiang penopang gedung. Ditebasnya setiap tiang bangunan. Ketika gedung mulai miring, ia memakai Gerbang Monster untuk pergi ke gedung yang berhadapan dengan gedung yang ditempatinya. Sekali lagi ia melakukan hal yang sama.


Di luar, Orgasheel yang berdiri mendengar ada suara dentingan pedang dari gedung di depannya. Tak lama suara itu berhenti, namun terdengar lagi suara di belakangnya.


"Haa...haa...haaa. apakah ini yang kau rencanakan"


Orgasheel berkata seperti itu karena ia melihat dua bangunan yang mulai roboh secara perlahan akan menimpanya. Perlahan lahan dua atap bangunan mulai bersentuhan, lalu hancur berkeping-keping kemudian jatuh tepat ke arah Orgasheel. Orgasheel hanya tetap di tempatnya. Ia lalu mengeluarkan ledakannya.


Benturan antara gedung yang jatuh dengan ledakan yang dibuat oleh Orgasheel tak terhindarkan. Suatu ledakan besar terjadi disertai puing-puing menyapu bersih daerah sekitarnya.


Dalam kepulan asap dan debu, kini berdiri dua petarung yang saling berhadapan. Yang satu memegang dua pedang sedangkan yang lainnya di kelilingi oleh nyala api.


Jarvis memang hanya memiliki sedikit luka di tubuhnya, ini karena ia jarang terkena serangan, namun kini tenaganya sudah hampir mencapai batasnya. Hal berbeda terjadi ke Orgasheel, ia masih memiliki tenaga yang meluap-luap walaupun badannya penuh dengan luka akibat benturan 2 gedung. Bahkan hal ini dapat disebut sebagai keajaiban, mengingat 2 bangunan yang baru saja menimpanya.


Tanpa menunggu lama, Jarvis menyerang terlebih dahulu berhubung karena staminanya hampir habis. Seakan menjadi bumerang tindakan terburu buru yang dilakukan Jarvis, ia menerima sebuah serangan balik. Sebuah telapak tangan menghantam muka Jarvis.


Tangan kanan Orgasheel kini menekan Jarvis ke aspal jalan. Masker gas dan aspal hancur dibuatnya. Muka Jarvis kini terlihat akibat hantaman. Tak menunggu lama, Orgasheel lalu bersiap untuk meledakkan Jarvis, tangan kanannya kini mulai memanas. Di lain sisi Jarvis yang nyawanya mulai terancam berusaha untuk melepaskan diri dengan memegang tangan Orgasheel.

__ADS_1


Disaat situasi yang kritis tersebut, Orgasheel tiba-tiba terlempar. Kini di hadapan Jarvis berdiri Roy dengan tubuh Salamandernya.


"Terima kasih"


Jarvis mengutarakan rasa syukurnya ke Roy. Tak membuang kesempatan Jarvis juga ternyata melakukan serangan saat Roy menyerang, di tangannya ia memegang tangan Orgasheel yang terpotong. Jarvis lalu membuang lengan itu dan memungut kedua pedangnya


Orgasheel kemudian berdiri, darah terus bercucuran dari tangannya. Dari tatapan matanya terlihat niat membunuh yang sangat kuat.


Di sisi lain, Paula kini sampai di lokasi kejadian sambil berlari. Ia tidak bisa menggunakan kekuatan teleportasinya. Karena cincin Teleportasinya hanya bisa digunakan 3 kali sehari, ia tidak bisa menggunakannya lagi. Pertama ketika ia pergi ke ruang senjata, kedua ketika ia pergi untuk memberikan pedang ke Jarvis, dan yang terakhir adalah ketika ia mencoba untuk melarikan diri dari pahlawan yang mencegatnya.


Di hadapan Paula terlihat ayah angkatnya dan kakak angkatnya yang diangkut dengan mobil ambulans. Ia berusaha untuk menengok mereka namun ditahan oleh pahlawan. Walaupun begitu ia tetap terlihat Puas karena nyawa mereka masih bisa diselamatkan.


Ia lalu berjalan untuk memasuki daerah pertarungan. Sesaat kemudian, salah satu pahlawan mencegatnya.


"Mohon maaf, anda tidak dibolehkan berada di sini"


Paula lalu memberikan tanda pengenal pahlawannya ke pahlawan yang menegurnya.


"Apakah identitas mereka telah dikenali"


"Belum, karena orang yang memakai pedang selalu memakai masker, sedangkan yang satunya sudah dalam mode perubahan, jadi sulit dikenali"


"Syukurlah"


Pahlawan itu sempat terheran-heran dengan perkataan Paula. Paula menjadi kaget dengan perkataannya sendiri, ia pun lalu membuat alasan lain.


"Aaahh..itu...begini... bagaimana ...ya begitulah.... maksudku jika identitas mereka ketahuan, bisa jadi kalian semua sudah menjadi tumpukan mayat kedepannya"


Paula lalu menghiraukan semua pahlawan yang ada di situ. Sesaat kemudian ia lalu berjalan menuju lokasi tempat Jarvis dan Roy. Dihadapannya kini terlihat Jarvis dan Roy yang siap bertempur.


Di depan Paula tergeletak sebuah tongkat dengan bola sihir. Ia lalu mengambilnya.


"Aku pinjam dulu" kata Paula ke para pahlawan di belakangnya.


Pahlawan hanya bisa diam melihat tingkah Paula yang berani ke lokasi kejadian.


Di depannya kini Roy mulai menyerang, namun Orgasheel menahan serangannya lalu mengarahkan sebuah ledakan ke Jarvis namun tembok tak kasat mata muncul di depan Jarvis. Paula lalu berdiri di samping Jarvis.


Di sisi pahlawan, seorang pahlawan pemilik tongkat yang dipegang Paula nampak kagum.


"Ia hebat, bahkan aku tidak bisa menahan ledakan itu dengan tongkat itu"


Orgasheel yang melihat serangannya ditangkis berusaha menyerang Jarvis, kemudian dia ditahan oleh Roy. Orgasheel lalu menendang perut Roy yang menghadangnya. Jarvis lalu melompat ke arah Orgasheel dan menebasnya tapi Orgasheel berhasil lompat ke belakang. Paula tak membiarkannya, ia lalu membuat dinding tranparan di belakang Orgasheel lalu mendorongnya ke depan.


Sebuah sayatan berhasil mengenai pundak Orgasheel. Jarvis lalu melakukan tebasan kedua, tapi Orgasheel berhasil meninju dada Jarvis yang membuat ia terlempar dan memuntahkan cairan merah. Dua tulang rusuknya telah patah.

__ADS_1


__ADS_2